“Sayang, selama dua hari ini aku ada syuting di luar kota. Kamu mau ikut?” tanya Dimas yang sedang menyetir mobil, di sampingnya Aiva duduk di kursi penumpang sambil bermain ponsel. Mereka baru pulang dari aktivitas masing-masing, Dimas dengan proyek filmnya dan Aiva dengan kegiatan modelingnya. Akan tetapi, perawatan Aiva baru saja akan dimulai bersamaan dengan tujuan mereka kali ini.
“Di mana?”
“Di Probolinggo.”
Aiva berdecak lalu berkata sinis, “Jauh banget.” Ups! Dia ingat pesan Mbah Surya untuk selalu memperhatikan Dimas dan jangan mengabaikannya lagi. Alhasil, wanita itu menyimpan ponselnya dan menyender pada Dimas. “Kamu ‘kan baru sembuh. Gak bisa apa syutingnya di Jakarta aja?”
Dimas tersenyum simpul. “Gak bisa, Sayang. Latarnya emang udah survei jauh-jauh hari dan cocok di sana.”
“Ya udah, aku gak bakal ikut,” ujar Aiva menjauhkan diri. Probolinggo? Ya kali dia mau ikut. Jauh, itu artinya semua kegiatannya di sini akan terkendala dalam waktu cukup lama.
“Nanti aku kangen kamu, gimana coba?” balas Dimas. Bibirnya mencebik.
“Kamu gak usah pergi, gampang.”
“Gak bisa, sayang. Kamu inget ‘kan aku udah dapat sp terakhir? Kemarin aja masih untung mereka toleransi aku sakit. Nanti yang ada aku dikeluarin dari proyek ini.”
“Ya kamu tinggal minta proyek baru lagi ke Papa kamu, kok ribet?”
Dimas mengelus kepala Aiva dengan sebelah tangannya. “Cuma dua hari, kok.”
“Iya di sananya dua hari, pulang perginya? Aku gak mau ya perawatan, jadwal pemotretan, sama urusan-urusan aku di sini terkendala cuma karena ikut kamu.” Itulah Aiva yang sebenarnya, sudah berubah banyak dari dirinya yang dulu. Dia akan lebih mementingkan diri sendiri meski bukan hal penting dibanding orang lain.
“Yahh ...,” desah Dimas menghela napas. “Ya udah, kamu gak usah ikut.”
Tanpa Dimas ketahui, Aiva bersorak pelan. Tentu saja yang ditampilkannya raut tak enak. “Tapi aku gak mau sendirian.” Dia kembali menyender pada Dimas, manja.
“Nginep di rumah Mama mau?”
“Tapi ada Papa kamu. Dia ‘kan gak suka sama aku,” keluh Aiva cemberut. Ingat ‘kan soal Adam yang datang ke rumah tempo hari? Mulai hari itu, mertuanya resmi menjadi musuhnya. Salah satu kubu yang harus diwaspadai karena mulai memihak Diana.
“Nanti aku bilangin Papa biar gak gangguin kamu,” ujar Dimas mengambil sebelah tangan Aiva dan mengecupnya.
“Hm. Makas—Mas, awas!”
Dimas sontak banting stir ke kanan dan rem mendadak, untung saja tidak sampai menabrak anak kecil itu atau pengendara lain. Tadi Aiva berseru karena Dimas tidak fokus ke depan dan nyaris menabrak anak kecil yang menyeberang jalan.
“Kamu gak apa-apa?” Dimas dan Aiva sontak menanyakan hal yang sama berbarengan, pun menggeleng bersamaan.
“Duh, siapa sih? Sembarangan aja nyebrang.” Dimas menggerutu, lalu melepas sabuk pengamannya dan keluar mobil. Dia mengomeli anak kecil tadi, “Heh, anak kecil, lu gak liat apa mobil gue mau lewat? Untung masih sempet gue nge-rem.”
Bocah perempuan itu menangis disentak Dimas. Tangisnya semakin keras mengundang tatapan orang-orang. Tak ada yang melerai Dimas memarahi bocah itu, mungkin karena Dimas si sutradara terkenal atau takut nantinya berurusan dengan polisi.
“Ya ampun, Ica!!” Seorang wanita merangsek dari keramaian dan berlari menghampiri bocah itu dan langsung memeluknya. Matanya liar mencari apakah putrinya terluka atau tidak. “Sayang, kamu gak apa-apa?”
Bocah itu menggeleng, tangisnya semakin menjadi-jadi.
Dimas berdecak jengah menyaksikan drama ibu-anak yang dramatis itu. “Woy, lu gimana sih? Jaga anak aja gak becus.”
“Maafin—” Wanita mendongak, tersentak begitu tahu siapa yang nyaris saja menabrak putrinya. “Dimas ....”
***
Sebelumnya ....
Diana dan Disha belajar di depan rumah sederhananya. Diana merasa perlu mempersiapkan Disha untuk masuk sekolah dasar dan mengenalkannya pelajaran dasar agar nanti tidak kesulitan belajar di sekolah. Hanya bermodalkan buku hitung yang dibelinya di pasar dekat sini. “Tiga ditambah lima ....”
Jari-jari mungil Disha menghitung sesuai pertanyaan Diana. “Satu, dua, tiga, empat, lima ..., sepuluh!”
“Eh! Kok jadi sepuluh, Ca?” tanya Diana terkekeh atas jawaban penjumlahan Disha.
“Iya, Bun, ‘kan tiga ditambah lima.” Disha mengacungkan ke sepuluh jarinya, sontak Diana geleng-geleng.
“Bener hitungannya?”
Bocah itu mulai meragukan sendiri hasil hitungannya, melihat bingung jari-jarinya kemudian menggaruk kepala. “Salah ya, Bun?”
“Hm.” Diana sadar usia Disha masih belia, maka wajar sering keliru. Diana juga tidak begitu piawai mengajarkannya. Wanita itu mengacak-acak rambut Disha gemas. “Hitung lagi, Nak. Nanti kalau Ica salah terus gak bisa masuk SD lohh.”
“Ica mau, Bunnn! ‘Kan Ica udah gak sakit,” protes Disha.
“Tapi Ica ‘kan belum punya alat tulis.”
Disha terdiam sejenak, lalu menggumam, “Iya ya, Ica ‘kan belum punya.” Wajahnya berubah sendu, mengingat teman-temannya yang lain sudah punya alat tulis. Terlintas kesimpulan bahwa dia tidak bisa sekolah karena belum punya alat tulis.
Bukannya merasa sedih anaknya demikian, Diana malah tersenyum dan terkekeh. “Ya sudah, yuk. Kita beli.”
Sontak Disha mendongak dan berseru tak percaya, “Beli alat tulis, Bun?! Sekarang!?”
Diana mengangguk semangat. “Ke pasar.”
“Jadi Ica beneran ke sekolah ‘kan, Bun? Ica beneran masuk SD, ‘kan?!”
“Iya.”
“Horeee! Aku sekolah!” Bocah kecil itu berdiri dan berlari-lari mengitari Diana yang tak henti tertawa.
“Ntar lagi teriak-teriaknya. Sekarang kita ke pasar dulu,” kata Diana menggendong Disha, lalu mengunci pintu setelah keduanya siap. Mereka berjalan bergandengan menyusuri jalan setapak menuju pasar. Tidak, Diana tidak mengambil jalan trotoar, terlalu berbahaya karena dia membawa Disha. Jadi mereka menyusuri jalan tikus dan melewati pemukiman warga.
Warga di sini cukup banyak yang mengenal Diana karena jasa jahitnya dan dia juga tak jarang ikut di kegiatan masyarakat. Apalagi wajahnya tergolong mencolok dengan keadaan finansialnya, tak jarang berondong mendekatinya sampai Diana sendiri yang menolaknya.
“Bunda, Ica gak sabar nanti masuk sekolah. Nanti kalau Ica ....”
Sementara Disha berceloteh, Diana hanya menanggapi beberapa topik. Belakangan ini, Diana kepikiran untuk menjadikan menjahit pekerjaan sambinya dan mencari pekerjaan utama. Pikirannya tersita dengan pertanyaan, akan kerja apa dia nanti? Bagaimana kalau kerjaannya nanti tidak bisa memenuhi kebutuhannya? Atau parahnya, bagaimana jika dia tidak mendapat pekerjaan?
“Bun, Ica boleh gak minta kotak pensil yang gambarnya barbie?”
“Emang ada?” sahut Diana. Hanya sekadar tanggapan agar Disha tidak merasa diabaikan.
“Ada, Bun. Kania punya.”
“Nanti kalau ada kita beli ya.”
“Yee! Makasih, Bunda.”
Mereka sudah dihadapkan pada keramaian pasar tempat transaksi jual beli terjadi. Mungkin karena kesiangan, penjualnya sudah tidak sebanyak kalau Diana pagi-pagi ke sini. Di dekat trotoar saja penjualnya tinggal yang menyewa lapak, pedagang gerobakan sudah tidak terlihat.
“Ca, sebelum beli buku, Bunda mau beli sayur dulu ya?” ajak Diana melihat lapak sayur yang masih tersisa. Lumayan lihat-lihat dulu untuk menu makan siang nanti. Toh toko alat tulis jarang kehabisan kok, kalau tukang sayur ‘kan siapa cepat dia dapat yang segar.
Disha memberengut. “Ck. Berarti kita makan sayur lagi, Bun?” protesnya yang sangat tidak suka tanaman hasil tani itu. Bahkan mereka sering bertengkar hanya karena Diana memaksa Disha makan sayur.
“Ica ‘kan udah janji mau coba makan sayur.”
Sambil mengikuti Diana memilah sayuran, Disha pasrah. “Ya udah, tapi bikin sup aja ya.”
Setelah itu, Diana larut dalam fokusnya memilih bahan masakan dan sesekali bertukar obrolan dengan tukang sayur yang ditimpali pembeli lainnya. Tahu ‘kan ibu-ibu kalau sudah belanja waktunya habis ngapain? Ngerumpi. Biasanya juga Diana bukan tipe orang begitu, apalagi kalau di keramaian pasar. Namun, kali ini suasananya tidak seramai biasanya sehingga dia bisa bebas belanja dan bertukar gosip.
Bosan diacuhkan bundanya, Disha mengedarkan pandangan. Ada banyak jajanan anak yang menarik matanya, tapi dia lebih menginginkan balon gas yang bisa mengapung. Dia ingat Nina pernah memamerkannya dulu. Disha menarik-narik ujung baju Diana. “Bun, Bunda! Ica pengen itu, Bun!” pintanya menunjuk penjual balon gas.
“Iya, sebentar, Ca.”
“Nanti keburu pergi.”
“Sebentar, sayang.”
Disha gusar ketika penjual balon itu hendak pergi. Akhirnya nekat berlari ke arahnya tanpa bilang pada bundanya. Bahkan dia tidak sadar ketika sebuah mobil melaju ke arahnya ....
Sadar anaknya tak lagi merengek, Diana berbalik. Seketika panik tak mendapati Disha di dekatnya. Tak ada satu pun anak kecil terlihat di sekitarnya. “Ca? Ica?” Perasaannya mendadak tak enak ketika kerumunan memadat di jalan raya di dekatnya. “Ica!” Dilihatnya ke sana-sini, pandangannya terpaku pada sesosok bocah yang terduduk di tengah jalan.
“Ya ampun, Ica!!” Dia menepis kerumunan dan berlari tunggang langgang ke arah Disha yang menangis tersedu-sedu, sontak langsung memeluknya. Matanya liar mencari apakah putrinya terluka atau tidak. “Sayang, kamu gak apa-apa?”
Disha menggeleng, tangisnya semakin menjadi-jadi.
Seorang pri yang berdiri di depan mobil yang nyaris menabrak Disha berdecak jengah menyaksikan drama ibu-anak yang dramatis itu. “Woy, lu gimana sih? Jaga anak aja gak becus.”
“Maafin—” Diana mendongak, tersentak begitu tahu siapa yang nyaris saja menabrak putrinya. “Dimas ...,” gumamnya.
Dimas mendengus. “Jadi ini anak lo? Gak becus banget sih lo jaga anak. Liat, kalau tadi gue gak fokus, anak lo pasti ketabrak tau!”
Mendengar bagaimana Dimas memarahi anaknya sendiri menjadi pukulan telak bagi Diana sehingga wanita itu hanya diam dengan luka yang semakin menganga. Hatinya luar biasa sakit dicap tidak bisa jaga anak, sedang pria itu malah sibuk bersenang-senang dengan wanita lain. Sebenci itukah Dimas sampai tidak mau mengakui Disha, anaknya sendiri?
Mungkin Disha sadar paman ini memarahi bundanya, dia balas memeluk Diana seolah ingin melindunginya. “Om, kalau mau marah ke Ica aja, jangan ke Bunda. Bunda gak salah apa-apa, Om. Maafin Ica.”
“Heh lo, anak kecil. Lain kali jangan asal nyebrang, liat-liat dulu! Lo kira lo aja yang rugi kalau ada kecelakaan? Gue juga!”
“Cukup!” sentak Diana. Matanya memerah karena marah dan menampik kesedihan yang membuncah. Dia berdiri, berhadapan langsung dengan mantan suaminya seraya menarik Disha agar berdiri di belakang tubuhnya. “Anda bisa menghina saya, tapi saya tidak terima jika Anda memarahi anak saya.”
“Oh, lo gak terima? Kenapa? Anak lo salah, masih aja dibela. Ngelunjak entar tau rasa lo.”
Rahang Diana mengeras. “Anak saya ... dia tanggung jawab saya. Tidak peduli becus atau tidaknya saya membesarkan dia, Anda tidak berhak sama sekali memarahi darah daging saya.”
Mereka berdua berbalik hendak pergi, tapi perkataan Dimas kembali menghunjam dadanya. “Miskin aja belagu, sok mentingin harga diri.” Ada kenangan menyakitkan yang turut bangkit sejurus dengan terdengarnya kalimat itu. Itu ... persis sekali dengan sindiran Mamanya Dimas seusai keluarga Diana jatuh miskin. Langkah awal dari keretakan hubungan mereka.
Sekarang Diana semakin sadar, pria ini ... bukan lagi Radimas Aditya yang dicintainya dulu. Mereka jelas dua orang yang berbeda. Artinya tidak ada lagi peluang mereka rujuk.
Diana menoleh, tapi tidak memalingkan wajahnya. “Setidaknya saya tidak miskin tatakrama.”
“Sayang ...!” Genggaman Diana pada Disha mengetat. Tepat dari arah kanannya, seorang wanita menyembul dari jendela mobil. Dari suaranya saja, Diana benci mengetahui Aiva tidak merasa bersalah sedikit pun padanya. “Ayo dong, ntar aku makin lama di salonnya.”
“Iya, Sayang. Ini tadi ada pengganggu.” Dimas beranjak, lalu terdengar suara pintu mobil dibuka lalu ditutup. Diana juga tidak tuli untuk mendengar klakson pria itu berkali-kali, tapi dia bungkam dan mematung di tempat. Air matanya perlahan bergumul, lututnya terasa goyah.
Bertemu dua orang itu hanya membangkitkan sakit hati terbesarnya dan masa yang mati-matian ingin dilupakan. Semua masa lalu itu begitu mudahnya kembali di saat Diana susah payah menguburnya. Lukanya seketika terbuka kembali dan menjerit menyakitinya.
“Kalian berdua ... aku gak akan pernah maafin kalian,” gumamnya sarat akan emosi.
***
Huhuu, kalau aku ada di posisi Diana, pengen jambak rambut si Aiva terus lemparin Dimas pakai sayuran yang tadi. Kalau bisa mobilnya tak jual :’)
Nyesek gaes, aku nulisnya aja ini gak kuat suer. Gak kebayang kalau beneran ada yang kayak begini