Chap six

2348 Kata
Di part ini, kita bakal menyaksikan kesusahan versi mbak ular alias Aiva. Kalian gedek gak sih? Aku aja yang nulis kesel beud, pengennya kayak film-film azab terus Dimas dan Diana hidup bahagia.  Sayangnya kalau berkaca ke kehidupan nyata, ending kayak gitu sedikit banget huhuu. *** Di kantornya, Adam sama sekali tidak bisa fokus dan terganggu akan dugaannya terhadap sikap Dimas yang berbeda 180° menjadi orang yang menggilai seorang wanita bernama Aiva. Tumpukan dokumen yang menunggu tanda tangannya tak sedikit pun Adam sentuh. Dia tidak sedang dalam kondisi baik untuk menandatangani semuanya. Persetan dengan profesional, kewarasannya lebih penting. Dia berpikir, ke mana aja dia selama ini? Dimas sudah menikah selama 3 tahun, dan selama itu baru sekarang Adam sadar kondisi putranya yang terkesan janggal itu. Dimas seolah diperbudak dan dibutakan oleh Aiva. Adam mulai menyesali keputusannya dulu yang membiarkan menantu sebaik Diana pergi. Dahulu, dia dan istrinya sama-sama tak suka pada Diana yang berhasil memonopoli Dimas dan mengajaknya hidup susah di saat harta keluarganya begitu melimpah. Padahal jika dikaji lebih lanjut, tidak ada yang salah dari hal itu.  Tok! Tok! Sebelum Adam sempat mempersilahkan orang itu masuk, pintu sudah didorong dari luar. Sekretarisnya ... bagus, Adam bahkan tidak sedang dalam kondisi bagus untuk menegur orang. “Permisi, Pak Adam. Rapat dengan investornya akan dimulai sebentar lagi, Pak,” lapor Erina. “Baik.” Adam mengangguk, tapi dia tidak ingat dengan investor mana rapat kali ini berlangsung. “Emm, Rina?” Rina yang hendak ke luar berbalik. “Iya, Pak.”  “Kamu tau Dimas?”  “Tau, Pak.” “Menurut kamu, sikap dia gimana?” Wanita itu terdiam sebentar. Jelas saja semua orang tahu kabar miring yang menyambangi anak Dirut perusahaan itu, terutama tentang kinerjanya sekarang. Rina berdeham. “Pak Dimas itu berbakat jadi sutradara, baik, pernah waktu itu nolongin saya juga. Terus—” Adam memotong, “Saya tanya Dimas yang sekarang.” Rina mengelus canggung tengkuknya. “Eum, saya belum ketemu Pak Dimas lagi, Pak. Tapi dari yang saya denger, Pak Dimas ... ” Ucapannya menggantung. “Teruskan saja. Saya memang butuh jawaban jujur.” “ ... Ya gitu, Pak, lebih mentingin Bu Aiva. Teman saya bilang sering pulang larut soalnya ngejar take adegan karena Pak Dimasnya digangguin Bu Aiva. Terus Pak Dimas jadi agak tempramen, beda banget sama Pak Dimas yang dulu.” “Saya juga tidak mengerti kenapa Dimas berubah jadi seperti ini.” Pria paruh baya itu mengurut keningnya merasa lelah. “Menurut kamu, ini ada hubungannya dengan pengaruh dari Aiva.” “Eum, bisa jadi, Pak. Mungkin karena pengaruh yang dihantarkan bu Diana sama Bu Aiva berbeda, jadinya Pak Dimas tanpa sadar ikut menyesuaikan. Saya enggak bilang Bu Aiva bawa pengaruh buruk, cuma mungkin karena perilaku keduanya berbeda jadi ya Pak Dimas ... gitu deh, Pak.” Kepala Adam terasa semakin pening. Ada begitu banyak hal yang mengganggu pikirannya. Perusahaan, Dimas, dan permasalahan lain yang datang di saat bersamaan. “Tapi ... Bapak musti hati-hati. Siapa tau ini ada hubungannya sama sihir, Pak,” sambung Rina. Adam mendongak. “Sihir?” Di zaman modern kayak begini, apa iya ilmu kayak begitu masih dipercaya?  Rina mengangguk. “Iya, Pak, guna-guna.” “Memangnya di zaman seperti ini, masih ada yang pakai ilmu hitam?” “Banyak, Pak. Cuma ya kalau di kota begini sedikit. Banyaknya di pedesaan, di tempat-tempat yang belum terjamah teknologi. Katanya, di tempat-tempat begitu sihirnya ampuh banget.” Mendengarnya, Adam jadi ingat kalau Aiva memang sering keluar rumah dan tidak pulang seharian. Kemarin saja wanita itu baru pulang sore hari dan kata Inah berangkat sejak pagi. Jika berangkat di saat belum macet, cukup untuk mengakses kota sebelah.   “Kamu tau ciri-ciri orang yang terkena sihir?” tanya Adam mulai menarik benang merah dari sana. Tidak menutup kemungkinan putranya memang diguna-guna. “Secara spesifiknya saya gak tau, tapi di internet kayaknya banyak. Atau coba tanya aja Pak sama ustadz.”   “Nanti coba saya cari tau,” balas Adam hendak mencari di internet, tetapi kembali melirik Rina yang masih ada di ruangannya. “Kenapa kamu masih di sini?” Rina menunjuk sebuah kertas berpapan d**a yang dibawanya sejak tadi. “Sekarang jadwalnya rapat, Pak.” “Oh, sudah waktunya ternyata.” *** Entah ke berapa kalinya Aiva terus-terusan berdecak dan mengeluh atas sikap Dimas yang manja dan merepotkan. Kalau bukan karena saran orang-orang spiritual itu untuk selalu mengawasi Dimas agar mencegah sihirnya memudar, Aiva akan menyelinap pergi ke mana saja, yang penting jauh-jauh dari pria manja ini. “Sayang!” “Anjir! Gak bisa apa biarin gue cari angin bentar doang?” gerutu Aiva sebelum menghela napas panjang dan kembali masuk ke dalam. Dia harus bertahan beberapa hari lagi bersikap manis sampai Dimas sembuh seperti sedia kala. Dimas bersandar di kepala ranjang, terlihat lemah bahkan hanya untuk membuka matanya. Sebenarnya Aiva heran dengan penyebab sakit Dimas. Kata dokter dia hanya kelelahan, tapi ini bukan hal yang biasa terjadi. Pria itu sering memforsir diri secara berlebihan, nyatanya berujung sakit bisa dihitung jari. Dia juga ‘kan hanya sibuk selama hari, mana bisa langsung sakit? Apa karena malamnya mabuk? Ah, masa bodoh. Yang penting lebih cepat Dimas sembuh lebih baik. “Kenapa?” tanya Aiva lesu, berusaha tersenyum meski kentara itu senyum yang dipaksakan. Dimas menoleh lemas sebelum terbatuk-batuk. Mau tak mau Aiva harus menghampirinya dan memberinya air putih. Tangan hangat Dimas menggenggam tangan Aiva. “Aku pengen bubur, tapi kamu yang bikin,” pintanya dengan suara lirih. Aiva mendengus. Pria ini benar-benar ahli membuatnya kesal dan memanfaatkan situasi untuk berbuat semaunya. Mentang-mentang lagi sakit, semua permintaan menjengkelkan dilayangkannya yang hanya mendengarnya saja membuat Aiva ingin membenturkan kepala ke dinding. “Gue—eh, aku mana bisa masak, sa-sayang.” Bibir pucat Dimas mencebik. “Ya makanya kamu belajar.” “Dulu ‘kan aku udah bilang gak bisa masak, kata kamu gak papa,” dusta Aiva. Wanita itu seolah-olah membohongi Dimas bahwa mereka pernah dekat dan baik-baik saja. “Sekarang aja, sayang. Supaya aku cepet sembuh,” ujar Dimas semakin memelas. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Aiva tanpa tahu istrinya berdecak sebal. Aiva memikirkan cara untuk membungkam Dimas, tapi dia tidak perlu memasak. Ayolah, nyonya besar sepertinya tidak pantas menyentuh alat dapur di saat pembantu ada. Namun, suaminya ini jelas tidak akan menyerah begitu saja sampai Aiva memasakkannya bubur. Atau minimal, pria itu berpikir demikian. Alhasil, Aiva mengangguk, masih dengan senyum terpaksa di wajahnya. “Ya udah, nanti aku minta Inah ajarin, ya.” Dimas sudah seperti anak kecil yang diberi permen, tersenyum lebar dan terlihat ceria. “Jangan lama-lama ya, aku pengen banget makan masakan kamu.” “Iya. Terus lagi gih, nanti pas kamu bangun buburnya udah jadi.” Seraya membaringkan tubuhnya, Dimas berkata, “Aku gak sabar mau coba masakan kamu.” bahkan sampai dia memejamkan mata, senyumnya belum luntur. Sekejap timbul rasa iba dan bersalah. Semua ini karena Aiva, perangai Dimas berubah karenanya dan sihir putus asanya itu. Hanya untuk memuaskan hasrat pemenangnya dan menginjak-injak Diana, Aiva mengorbankan banyak hal. Masa depan, perasaan ..., sahabat. Akan tetapi, rasa bersalahnya tidak bertahan lama. Dia malah gondok pada Mbah Surya. Apa tidak bisa dukun itu menghilangkan sifat posesif dan manja Dimas? Dulu awal nikah sih Aiva senang-senang saja, sekarang rasanya malah menyebalkan.  Ya sudahlah, ada hal penting yang harus dilakukannya. Membuat bubur ... ah, tidak. Aiva tidak akan mau menurut untuk membuatkan bubur. Dia hanya akan menyuruh Inah. Sambil menuruni tangga, Aiva berseru, “Inah!” “Iya, Nya?” saut Inah muncul dari bawah tangga. “Dimas mau bubur, lo buatin sana.” “Bukannya den Dimas pengennya Nyonya yang buat sendiri?” Inah sekejap langsung membungkam mulutnya sendiri. Aiva melotot, lalu mempercepat gerak kakinya mendekati Inah sementara wanita paruh baya itu menunduk ketakutan. “Berani ya lu nguping, hah?!” Inah tergagap, “Sa-saya gak sengaja denger, Nya.” Napas. “Awas lu ulangin lagi,” “Gih lo buatin. Kalau udah jadi panggil gue.” Sesudah memberi perintah itu, seperti biasa Aiva menonton teve dan meletakkan kakinya ke kursi kecil di dekat meja. Beberapa katalog majalah baru juga sudah disiapkan di bawah meja kalau-kalau tontonan teve membosankan semua. Duh ... tipe nyonya bos ya begitu. Inah geleng-geleng. “Kasian den Dimas. Cerai sama non Diana, malah dapetnya ular kayak gitu,” gumamnya lekas pergi sebelum nyonya besar itu menyusahkannya lagi. Sementara itu entah karena keadaannya yang kurang sehat, Dimas melindur. Dia bangun walau jelas terlihat kantuknya masih merajalela. Dimas terhuyung-huyung menuruni tangga. Begitu di dapur, dia mengernyit bingung karena bukannya Aiva, malah Inah yang membuatkannya bubur. “Loh, kok kamu yang masak?” tanyanya. “Anu, nyonya yang suruh, Den.” “Terus sekarang dia di mana?” Inah menunjuk ke arah depan dapur yang terbuka. Dalam hati mensyukuri tuannya terbangun, ‘Mampus ketahuan ‘kan, Nya.’ Dimas menghampiri ruang keluarga di mana terdapat Aiva di depan teve yang menyala, tapi nyatanya wanita itu malah main hape dan tidak menonton teve sama sekali. Bahkan saat Dimas duduk di sampingnya, Aiva tidak merasa ke-gap karena tidak membuatkan bubur seperti yang Dimas minta. “Sayang, kok jadi Inah yang masak?” rengek Dimas menatap Aiva kecewa. Aiva berdecak seraya mengerang. “Duh, aku capek, Mas. Lagian gak bisalah orang belajar sekali langsung bisa. Nantinya gak enak,” alibinya. “Aku gak peduli itu enak atau enggak, yang aku mau itu buatan kamu, orang yang aku cinta.”  Gerakan jarinya di layar ponsel terhenti, bersamaan dengan perasaannya yang berubah bad mood. Cinta katanya? Cih, apa Dimas masih merasakannya kalau Aiva melepasnya dari jeratan jampi-jampi? Keterdiaman Aiva menimbulkan kernyitan di kening Dimas. “Kamu cinta gak sih sama aku?” tanyanya menatap Aiva intens. Wajah Aiva dirangkumnya dan memintanya balas menatap. “Apaan sih?” Aiva meronta ingin melepaskan sampai Dimas sendiri yang melonggarkannya. Dimas tidak akan tahu betapa dahulu Aiva menginginkan pernyataan cinta darinya sampai-sampai menghalalkan segala cara. Lebih dari sekadar pengakuan diri dan membuktikan pada Diana, Aiva telah kehilangan kepercayaan diri semenjak Dimas menolaknya, bahkan sesudah cara menjijikkan dilakoni Aiva. Pria itu ... pria yang rusak dalam jeratannya adalah pria yang setia. Tipe pasangan yang tidak akan didapatkan Aiva jika bukan dengan cara ini. “Kamu enggak cinta aku ya?” Dimas kembali bertanya dengan nada menyedihkan. Aiva mendengkus. “Tau apa kamu soal cinta? Kamu gak pernah tau gimana perasaan aku ke kamu dan gimana rasanya ditolak terus-menerus hanya karena cinta.” Tak kuasa menahan ledakan emosinya, Aiva berlalu menuju kamar. Dia tahu Dimas mengikutinya, tapi tak sedikit pun kepalanya menoleh atau langkah kakinya berhenti. Aiva menyusup ke dalam selimut, mati-matian menahan tangisnya ketika Dimas memeluknya dari belakang dan berbisik, “Maaf, Sayang.” “Maafin aku. Aku janji gak akan minta macam-macam atau apa pun itu yang buat kamu kesel.” Tangis yang ditahannya sedemikian rupa akhirnya lolos sudah saat merasakan napas teratur Dimas. Dia merasa jadi wanita paling jahat karena merebut suami orang, sahabat paling jahat karena menghancurkan rumah tangga sahabatnya, dan istri paling jahat karena tidak pernah mengedepankan suaminya. Dia tidak menjalankan tugas apa pun sebagai seorang istri. ‘Kak Dimas, maafin gue.’ *** Untuk menebus rasa bersalahnya setelah seharian mengabaikan Dimas yang sedang sakit, Aiva menjelma jadi baby sitter yang melaksanakan apa pun keinginan Dimas. Mengambilkan air berkali-kali, mengantarnya ke kamar mandi, memapahnya jalan-jalan, dan melayani hal-hal kecil seperti meniupkan bubur yang masih panas. Semuanya dilakukan setengah terpaksa, setengahnya merasa bersalah.  Inah sekali pun tidak boleh melayaninya saat Aiva ingin bersantai sejenak. Dimas benar-benar menyita waktunya seharian. “Kamu abis dari mana?” todong Dimas ketika Aiva keluar untuk menghirup udara segar di balkon—sambil menyumpahi Dimas tentu saja. Aiva mengambil tempat di samping Dimas, di tepi ranjang. “Gak dari mana-mana. Cuma cari angin.” “Kamu jangan tinggalin aku lama-lama, Sayang. Aku sakit, butuh kasih sayang.” Ingin rasanya Aiva memuntahkan isi perutnya, tapi bahkan dia tidak ingat terakhir kali apa yang dimakannya. Jadi yang dilakukan wanita itu hanya mendelik galak. “Iya, gak lagi.” Dimas meletakkan dagunya di bahu Aiva, kemudian memeluknya dan menciumi kulitnya. “Kalau aku butuh kamu, kamu mau ngasih?” Dari caranya berbicara dan napas beratnya saja Aiva paham apa yang Dimas inginkan. Haknya sebagai suami. Tak bisa dipungkiri bahwa Aiva juga menginginkannya, tetapi gairah masih bisa dikesampingkan saat ini. Mbah Surya memang menganjurkan seringnya berhubungan suami-istri, tapi dia selalu dilanda perasaan tak enak setiap kali melakukannya. Dia selalu merasa bersalah atas semua yang terjadi. “Nanti aja. Kamu lagi sakit,” balas Aiva. “Kamu yang gerak.” “Gak. Kalau kamu mau, kamu yang harus gerak. Lagian aku gak mau makein kamu pengaman.” Dimas mendongak. “Kenapa kamu gak mau anak dari aku?” Aiva memalingkan kepalanya, menjauhi tatapan Dimas. “Ya karena aku belum mau.” Lama terdiam dalam posisi begitu, Dimas menarik Aiva untuk bersandar di kepala ranjang sementara dia menjadikan lengan Aiva sebagai bantal lalu serta merta memeluknya. “Mas, kamu tidurnya jangan gini dong. Pegel nih,” protes Aiva melirik Dimas yang sudah memejamkan matanya. Mungkin Dimas sudah terjatuh ke alam mimpi sehingga tidak menggubris panggilan Aiva.  “Kalau bukan karena si Diana, mana mau gue melet lu,” gumamnya memperhatikan wajah tampan Dimas. Untuk kali ini saja, Aiva ingin menikmati sepenuhnya menjadi istri seorang Dimas tanpa mengingat dendamnya di masa lalu atau figurnya sebagai wanita jahat. Terlepas dari semuanya, Aiva hanyalah seorang wanita yang ingin mendapatkan balasan dari pria yang dicintainya. “Kalau lo langsung nolak gue waktu itu, Kak, mungkin gue akan nyerah dan gak akan berbuat sejauh ini. semuanya salah lo dan si jalang itu, kalian semua yang buat gue jadi begini.” Banyak keluhan yang dilontarkan Aiva sampai wanita itu tertidur karena kelelahan. Untuk beberapa saat dia merasa lega telah menyatakan semuanya walau sepihak. Aiva belum siap ditendang dan mengungkapkan semuanya pada Dimas. Kelopak mata Dimas terbuka setelah tak lagi terdengar suara dari Aiva. Pria itu menatap tak percaya. “Apa maksudnya?” *** Pengennya bikin banyak part menyaksikan Aiva nih ngeluh mulu, tapi aku ngejar bagian cerita yang masuk ke inti. Gak papa lah ya, nanti ada saatnya Aiva dapat karma sendiri. Eh kalian tau kan jam updatenya 19.30
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN