“Lho, kamu berangkat kerja?” Dimas mengangguk, tampak sudah siap dengan pakaian formalnya. Wajahnya tampak lesu dan lelah untuk berangkat. “Katanya mau kerjanya di rumah aja.” “Ya aku harus laporan dulu, Di. Ada masalah juga sama film terakhir aku, jadinya belum bisa sekarang. Lagian ‘kan Papa belum kasih aku kerjaannya.” Meski tak mengerti, Diana mengiyakan saja. Kasihan, kemarin kayaknya Dimas semangat sekali bisa kerja dari rumah. “Ya udah. Hati-hati.” Sepeninggal Dimas, Diana termenung. Mungkin memang benar, Dimas butuh liburan. Diana tak tahu banyak tentang kerjaan Dimas, tapi melihatnya sekali saja dia paham kalau menjadi sutradara itu tak mudah. Ibarat dia ketua yang mengatur semuanya, jalannya syuting bergantung pada pria itu. Sekejap Diana merasa bersalah sering membuat Dima

