03

4140 Kata
[Silahkan follow dulu untuk membuka seluruh bab yang tersedia] "Bisa aja, colokan USB itu dengan kabel data." Aku segera meraih smartphone dan memasang USB. Setelah selesei, aku kembali melihat foto diriku layaknya model majalah. Setelah kulihat, memang benar tubuhku sudah menyerupai wanita dewasa. Bahkan wanita dewasa saja lebih seksi daripada aku. Pipiku memerah ketika menatap foto diriku sendiri. "Ok, sekarang kita mulai bekerja!" Sejenak ucapan Doni mengalihkan perhatianku. Doni berdiri dari kursinya. Lalu, "sini! Kamu duduk disini." Aku langsung berdiri dan duduk di kursi empuk milik Doni. Aku rasa meja itu terlalu pendek atau aku yang terlalu tinggi. Dilayar tertampil dokument MS Word yang susah kumengerti. Asal kamu tahu, nilai akademisku selalu buruk karena aku selalu ketiduran dikelas. Doni berdiri dan bersandar di mejanya sembari memegang beberapa lembar kertas berisi coretan Essai kami. "Nah, sekarang aku yang baca kamu yang ketik." Tanganku bergetar ketika mulai memeganh mouse dan keyboard. Tak ada komputer dirumahku, hanya laptop usang milik ayah yang tak pernah digunakan. "Essai ini berisi." Doni mulai mengeja. Tanganku mulai bergerak. Namun, "mnnn,,, huruf I nya dimana ya?" Tangan Doni menekan tombol I dengan cekatan. "Hehehe,,, aku jarang pegang komputer soalnya." Aku cengengesan. "Tapikan, smartphone-mu menggunakan keyboard Querty, sama kok dengan keyboard komputer." Kata Doni yang keheranan karena ke-gaptek-an diriku. "Punyaku kusetel dengan model lama." Ucapku sembari menunjukan angka satu sampai sembilan. Dengan begitu aku lebih mudah mengetik daripada menggunakan keyboard Querty. "Hmn,,, baguslah, jadi bisa sambil belajar mengetik juga." Ucap Doni menjelaskan. Lalu Doni kini duduk disamping kursi. Ia mengeja pelan sembari menahan emosinya karena aku terlalu lama mengetik. Jemariku yang panjang membuatku kesusahan mencari huruf-huruf yang membuatku pusing. "Huruf Q-nya mana ya?" Gumamku sembari memutar mataku menyusuri keyboars yang membuatku pusing lima belas menit terakhir. Doni menjulurkan tangannya melewati ketiakku. Karena huruf itu terletak di ujung paling kiri. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh buah dadaku. Cukup kencang karena aku sampai menjerit walau pelan, "auuuhhh!" "Eh, maaf!" Kali ini Doni meminta maaf. Padahal kemarin dia memelukku erat dan menanamkan wajahnya di belahan dadaku. Apalagi ketika wajahnya tepat menekan buah dadaku, saat itu kesadaranku seakan menghilang begitu saja. Tubuh seakan ingin pingsan dan pandanganku memburam. "Gimana kalau kamu yang baca." Ujarnya sembari berdiri disebelahku. "Huaaahhh,,, capek banget!" Kataku sembari meregangkan tanganku keatas. Sebenarnya, aku lebih suka duduk di kursi seperti ini. Apalagi kursinya empuk dan nyaman. "Apaan, belum setengah jam udah capek. Awas minggir!" Ungkapnya. "Bentar donk, ngelurusin tanganku dulu. Huaahhhh,,, lagian kursimu enak banget, empuk, pasti harganya mahal." Kuregangkan tangan ke samping agar otot bahuku nyaman. Namun, Doni tiba-tiba duduk diatas pangkuanku. "Yaudah duduk aja disini!" "Auggghhh,,, iiihhh,,, berat tauuu!" Keluhku. Namun sebenarnya Doni tak terlalu berat. Badannya yang kurus dan kecil membuatku seperti memangku adikku. "Ini, baca teksnya." Ungkapnya sembari memberikan kertas berisi coret-coretan yang sulit k****a. "Tunggu, berdiri sebentar." Aku meminta Doni untuk berdiri sebentar, lalu kuregangkan kedua kakiku. Kursi kerja Doni cukup lebar sehingga cukup untuk kita berdua, walau Doni duduk di bagian paling ujung. Yang paling kusuka adalah sandarannya yang empuk dan terdapat bantalan seperti telinga, layaknya kursi pengemudi mobil balap. Aku mulai membaca. Namun aku kesulitan karena tulisan Doni sangatlah buruk. Seharusnya cowok pintar seperti Doni mempunyai tulisan yang bagus. Ini hampir tidak bisa membaca. Aku mencoba menerka dan menebak setiap huruf yang membentuk kata di lembaran itu. "Eh,,, ink bacanya apa!" Aku menyodorkan kertas itu ke Doni yang duduk tepat di depanku. Untuk itu, aku harus maju kedepan. Tanpa sadar, aku menyentuhkan buah dadaku yang kelihatan lebih besar dari sebelumnya ke punggung bagian atasnya. Ditambah lagi, aku mencium aroma tubuh Doni yang tak pernah berubah. Aroma lemon mint yang menyegarkan hidungku. Daguku menyentuh rambut belakang Doni karena perbedaan tinggi antara kami berdua yang sangat signifikan. "Mnnn,,, ituhhh,,, Kidal." Ucap Doni dengan nada bergetar. Entah kenapa, suara Doni berubah secepat itu. Apakah mungkin? Ah, tak mungkin ia memikirkan hal seperti itu disaat seperti ini. Batinku merapal. "Kidal, maksudnya?" Tanyaku. "Ya, kamukan Kidal! Kamu sering berada di sebelah kanan, sehingga lebih mudah memukul bola silang dengan tangan kiri." Ungkap Doni. Aku barutahu, selama ini aku tak begitu memperhatikan posisiku. Aku hanya melihat bola yang melambung dari jemari Tosser, lalu berlari, melompat, dan memukul bola sekeras mungkin. Padahal dengan tangan kanan juga bisa kulakukan. "Eh, kamu kok tauu aku kidal!?" Tanyaku penasaran karena Doni bisa memperhatikanku sedetail itu. Apakah ia termasuk cowok-cowok sekolah yang memperhatikanku ketika latihan pagi. "Heeh, Ayo teruskan! Sudah siang ini, aku sudah lapar!" Doni menyentakan punggungnya kebelakang. Ia tak sadar bahwa posisi punggungku tegak, sehingga mau tak mau punggungnya kembali menyentuh buah dadaku lagi. Entah kenapa, setelah itu aku menjadi sering-sering menegakkan tubuhku. Aku penasaran dengan lima jemari Doni yang dapat bergerak bersamaan. Belum lagi, aroma tubuhnya membuatku betah. "Don, kamu pintar ngetik ya?" Pujiku. "Iyalah, akukan belajar." Ucapnya singkat. "Eh, ajarin aku donk." Aku tak sadar bahwa tanganku memeluk leher Doni dari belakang. Daguku tepat berada di sebelah kiri kepalanya. Doni bagaikan adik kecilku yang sedang kutimang. "I—iya nanti, se—selesin dulu." Suara Doni bergetar lagi. Aku kembali menghenyakan punggungku ke sandaran kursi. Aku terpikir dengan suara Doni yang bergetar itu. Apakah yang dipikirkannya? Tetapi ketika aku menyentuhkan buah dadaku kepunggungnya, ia seperti salah tingkah. Sepertinya, rasa penasaran membuat pikiranku terasa janggal. Apalagi aku masih belum menemukan jawaban atas segala pertanyaanku kemarin. Untuk membuktikannya, punggungku kembali tegak dan sengaja menyentuhkan buah dadaku ke punggungku Doni. "Eh, ini bacanya apa ya!?" Aku semakin berani mengalungkan tanganku dan menyodorkan kertas itu di hadapan Doni. Buah dadaku semakin tertekan oleh punggungnya. "Mnnn,,, ituh,,,otot trisep." Ujarnya dengan suara bergetar. Beberapa kali juga aku pura-pura bertanya dengannya. Bahkan sesekali kusandarkan daguku di pundaknya. Getaran suaranyapun semakin menjadi-jadi. Bukannya risih atau apa? Aku malah semakin mendekati tubuh Doni. Terkadang ia menghentakan tubuhnya ke arahku. Sehingga aku harus menahan jeritanku. Satu lagi yang tidak aku mengerti, tubuhku bergerak ke kanan dan kekiri—seakan mencoba untuk menggesekan buah dadaku ke punggungnya. Wajahku memerah dan kini suaraku yang bergetar karena sentuhan itu. Oh, tidak! Aku merasakan hal yang sama ketika ditaman itu. Wajahku seakan mengeras, tubuhku memanas, dan pandanganku memburam. Mataku sayu menatap kertas teksnya yang tulisannya mendadak kabur. Tiba-tiba, "Aku ke toilet dulu!" Ia berdiri dan berlari meninggalkanku. "Eh,,, Mnnn,,, iyah!" Ujarku dengan getaran suara. Fuhhh! Apa yang terjadi padaku. Ucapku sembari memajukan posisi tubuhku dan menekuk kedua tanganku dimeja. Sejenak aku menutup wajahku dengan kedua lenganku yang tertelungkup. Tanpa sadar, aku menekan tombol Keyboard. Lalu, layar komputer berubah menjadi sebuah foto yang mengejutkanku. Aku melihat beberapa foto di dalam folder. Kusentuh mouse dan mulai menggerakkannya. Ternyata, itu foto-fotoku yang diambilnya kemarin. Beberapa diantaranya disaat aku membusungkan buah dadaku, menungging seksi. Kulihat secara detail gambar-gambar diriku itu. Aku laksana seorang model majalah yang sedang naik daun. Apalagi aktingku sangat natural. Seperti kata Doni kemarin, aku cukup natural juga tak berpose. Lalu betapa terkejutnya aku ketika aku berhujan-hujan. Waktu itu, aku membuka bajuku dan terlihatlah sportbra milikku. Sportbra sebenarnya bukanlah pakaian dalam saja—diluar negeri biasanya cewek berolahraga hanya menggunakan sportbra saja. Doni mengambil gambar ketika aku membuka bajuku, dan gambar selanjutnya aku mengibaskan rambutku, lalu berputar-putar seakan air hujan sedang menari denganku. Cukup lama aku memperhatikan foto-fotoku, lalu lamunanku tersentak. "Mira!" Entah kapan Doni sudah berada di sampingku. Wajahnya memerah padam entah karena apa. Lalu, ia berkata. "Maaf, aku memotretmu diam-diam. Kamu bisa hapus foto-foto itu. Terutama ketika kamu hujan-hujan itu." Aku keheranan dengan tingkahnya. "Lho, jangan dihapus. Foto bagus seperti ini. Sayang sekali kalau dihapus. Bisakah dikirim lagi ke smartphoneku." "Eh kok, kamu nggak,,, mmnnnn,,, marah." Kini Doni yang kelihatan heran padaku. "Ya enggaklah. Kamu berbakat banget jadi fotografer, belajar dimana? Lihat tuh, foto-fotoku natural banget. Aku cantik nggak?" Aku masih terkagum dengan foto diriku sendiri. "Cantik Mir," ucap Doni yang kini tersenyum padaku. Aduh! Apa yang kukatakan. Aku semakin salah tinggah dengan keadaan ini. Aku masih perlu belajar dalam menjalin hubungan. Selain Rosa, Agnes dan kawan-kawan cewekku yang lain, hanya Doni yang mengatakan aku cantik. Aku jadi terpaku dan kualihkan pandanganku ke layar Smartphone. Lalu aku mengalihkan pembicaraan. "Eh, terusin nanti aja ngetiknya!" Ujarku sembari melirik waktu yang menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. "Eh, terus." Doni keheranan dan wajahnya masih memerah padam. "Berenang dulu yuk, nanti siang panas." Ajakku. Entah apa yang kupikirkan, aku seperti lebih bersemangat dalam menggerakan tubuhku. "Ta—tapi." Doni terdiam. "Ayook donk, pleeasssee!" Rayuku sembari menangkupkan kedua tanganku. "Mnnn,, tapi nanti lanjut lagi ya?" Cetus Doni dengan syarat kita akan melanjutkan ngetiknya nanti. "Siaappp!" Kakiku terlalu cepat berlari keluar ketika kulihat Doni masih berdiri terdiam di tempatnya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun aku tak peduli, tubuhku perlu berolahraga karena entah kenapa aku bersemangat seperti ini. Bahkan, rasa yang kurasakan saat ini lebih meriah ketimbang disaat tim memenangkan kejuaran propinsi dan kebetulan aku terpilih menjadi MVP di turnamen Piala Gubernur saat itu. Kedua kakiku dengan cepat dan cekatan mulai menuruni tangga. Aku tak berpikir lagi, ketika aku membuka pintu kaca itu dan mulai menanggalkan pakaianku. Tubuhku sudah sangat panas ketika aku membuka celana jeansku dan kaus putihku. Sekarang aku melompat ke air bagaikan seorang atlit renang profesional. Sudah cukup lama aku berputar, lalu aku melompat keluar untuk sekedar beristirahat di bibir kolam. Lalu lagi-lagi Doni mengejutkanku. "Mira!" Ucapnya. "Eh, kaget aku. Kenapa?" Doni datang dengan membawa selembar handuk dan beberapa lembar pakaian. "Kenapa kamu langsung nyebur! Ini pakaian renangnya." Doni sepertinya enggan untuk menatap diriku. Ia mengalihkan pandannya ke arah lain. Saat itulah aku baru sadar bahwa aku mengenakan BeHa merah berenda dan celana dalam dengan bagian belakang sejari. "Aduhhh,,," aku malu setengah mati karena secara harfiah Doni sudah melihat isi tubuhku. Apalagi bagian buah dadaku yang menyembul keluar setengahnya. Ya, Bra seksi itu seakan hanya menyembunyikan p****g susuku dan bagian bawah buah dadaku saja. Selain itu terekspor sempurna. Aku benar-benar lupa, karen biasanya aku mengenakan sportbra dan celana spandek baru celana dalam. Kini badanku yang tinggi dan seksi terlihat sangat terbuka. "Aku tidak tahu dimana Melly menyimpan baju renangnya, lagipula pasti nggak akan muat di kamu. Jadi pakailah ini!" Perintahnya sembari menjulurkan kaus putih polos dan celana spandek hitam yang sepertinya kekecilan untukku. Aku melangkah keluar kolam dan menyahut pakaian itu. Dengan wajah memerah malu aku memakainya. Kini, moodku sudah hancur karena diriku sendiri. Apalagi, Doni memarahiku karena langsung nyebur tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Benarkan, kaus itu terlalu kecil dan terkesan ketat untukku. Buah dadaku tercetak jelas dengan Bra yang sudah basah. Lalu kupakai bagian celananya yang hanya sebatas paha bagian atas. Kakiku yang jenjang dan putih terlihat sempurna. Aku kembali duduk di bibir kolam dengan kaki terendam di bagian bawah. Lalu dari belakangku, Doni melempar bola Voli ketengah kolam. Ia lalu melepas baju dan melompat ke air tanpa melepas celana pendeknya. Doni sepertinya ingin menghiburku, namun moodku sudah hancur karena kecerobohanku. "Eh, kamu tahu olahraga polo air?" Tanya Doni yang memegang bola di atas air dan seperti ingin melemparkannya ke arahku. Aku masih merenung dan terdiam melihat Doni yang sepertinya tahu apa yang ada dipikiranku. Ia lalu meletakam bola Voli itu di atas air, bola itu bergerak kesana kemari mengikuti riak air kolam yang bergelombang. "Kamu kenapa Mir?" Tanyanya. Aku hanya terdiam membisu. "Mir,,," tambah Doni yang mendekatkan wajahnya tepat di lututku. Mungkin jika aku meregangkan kaki, wajahnya akan tepat di selangkanganku. "Hmn,,, maaf Don, aku salah tadi. Aku seharusnya pakai baju renang. Bukan pakai baju dalam saja. Aku lupa kalau—," Perkataanku terhenti karena Doni menyela. "Oh, itu. Kamu kira aku sudah lihat bagian dalammu, terus kamu kecewa." Sela Doni. "Gini aja, kalau mungkin kamu kira aku sudah lihat tubuhmu, sekarang kamu yang lihat tubuhku, jadi impasan kita." Doni menurunkan tangannya dan sepertinya ingin membuka celana pendeknya. Jadi apa yang harus kulakukan. "Gila kau Don, ngapain aku lihat punyamu!" Aku kembali bersuara. "Nah, itu makanya. Ayo donk! Semangat kayak tadi." Ajaknya yang mulai berenang ke tengah. "Kamu tahu olah raga polo air." "Tahu, tapi nggak bisalah disini. Kolamnya terlalu dangkal. Lagipula itu bola Voli, polo air bolanya lebih ringan." Ucapku karena Polo air adalah olahraga yang memperagakan gaya berenang dan melompat dari dalam air sambil memainkan bola. "Oh, jadi olahraga apa yang cocok disini?" Doni kembali meletakan bola voli itu di permukaan air. Aku rasa moodku telah kembali, sehingga aku melompat dari bibir kolam seraya mengatakan, "Bersiaplah, Gulat dalam air!" Aku melompat ke dalam air dan melihat Doni yang masih berenang kesana kemari. Lalu, ketika ia mulai mendekat. Aku langsung melompat ke atas tubuhnya dan menekan kedua pundaknya dengan kedua tanganku. Dalam sekejap, Doni hilang dari permukaan air. Kulihat Doni meronta, namun tanpa disangka. Ia mampu melawanku dari bawah sana. Tubuhku kini terangkat karena beratku berkurang jika didalam air. Hal itu, membuat tanganku terpeleset dan kini aku memelok kepalanya yang mulai timbul dari dalam air. Lalu,,, "Ahhhhh!" Jeritanku senyap tanpa ada yang mendengar. Itulah kesalahanku karena aku tidak memakai sportbra. Aku kegirangan ketika melihat kolam renang di rumah Doni, sehingga aku tak kepikiran mau pakai apa pulang nanti. Salah satu cup Bra-ku terlepas karena tersangkut hidung Doni. Tak hanya itu, Wajah Doni tertekan di salah satu buah dadaku yang hanya tertutupi kaos tipis. Kemudian, rasa itu kembali kurasakan. Wajahku mengeras dengan mataku mulai membias. Seakan seluruh pandanganku memburam. Aku mencoba untuk meronta, namun kedua tangan Doni menahanku tubuhku. Lagipula, kedua tanganku malah menekan wajah Doni agar tetap berada disana. Oh, apa yang terjadi padaku. Tubuhku seperti tak dapat diperintah lagi. Rasa itu semakin menjadi-jadi ketika gelitikan ringan terasa di bagian buah dadaku. Rasanya menggelitik aneh namun menjadi candu. Sama seperti yang kurasakan kemarin ketika Doni ketakutan akan petir yang meronta. Kedua kakiku terangkat tak menyentuh dasar kolam karena ia mengangkatku. "Ssshhhh,,," entah kenapa, aku mendesis aneh seperti itu. Rasanya aku terkekeh ringan karena geli yang kurasakan. "Huuupppffttt,,, kau tak bisa melawanku didalam air!" Kata-kata Doni seakan mengembalikan kesadaranku. Pandanganku kembali terang setelah meremang untuk beberapa saat. Aku langsung menjauhkan tubuhku dan merendam badanku ke dalan air untuk menyamarkan pandanganku. Aku segera membenahi Bra-ku yang tersingkap karena tersangkut hidung Doni. "Eh,,, aku belum siap tadi!?" Aku segera mengalihkan perbicaraan. "Sssrrruuuuppp!!!" Doni dengan kurang ajarnya menyemburkan air ke arahku dengan mulutnya. Air itu tersiram diwajahku apalagi tadi bibirku sedang setengah terbuka. "Buaahhh!!! Dasar jorok kau ini!" Geramku sembari mengejar Doni yang berenang mundur menjauhiku. Namun kurasa ia benar, tubuhnya yang kecil terlihat cukup lincah di dalam air. Ketika aku ingin menangkapnya, ia masuk ke dalam air. Aku juga menenggelamkan diriku. Ia berenang cepat melalui kedua kakiku. Aku yang meronta mencoba ingin menangkap salah satu kakinya. Namun sesuatu lebih memalukan terjadi. Karena kakinya meronta, ujung jarinya malah tersangkut di celana pendekku. Semakin ia meronta akhirnya, celanaku melorot sebatas lutut. Aku yang tak berdaya hanya dapat menarik lagi celanaku keatas. Aku yakin, Doni melihatnya karena posisinya masih dibawah air. Wajahku memerah padam karena malu dengan kejadian itu. "Hahahaha, kau tak akan bisa melawanku di dalam air. Dulu aku selalu bermain polo air dengan ibuku, ia atlit polo air." Ungkapnya mengejekku. "Grrrr,,," bisa-bisanya ia mengejekku dengan kata-kata seperti itu. Tapi aku tak gentar, aku berenang cepat ke arahnya dan ingin menangkapnya lagi. "Eit, kamu mau kemana!" Ucapku ketika ia terpojok di ujung kolam. Ia ingin menyelam namun tak memungkinkan. Alhasil ia berbalik badan dan ingin keluar dari kolam. Posisinya yang membelakangiku membuatku lebih mudah untuk menangkapnya. Ke kunci lehernya dengan tanganku, lalu kedua kakiku melingkar di perutnya. Namun karena kolam terlalu dangkal, Doni hanya bisa berdiri tegak dengan tubuhku yang bergelantung di punggungnya. "Huahhhh,,, ampun." Ia berkata demikian karena Doni sudah tak mampu kemana-mana lagi. "Kau jadi lebih ringan jika di dalam air. Hukum Archimedes." Aku mengusap kasar rambutnya yang basah. "Eh,,, kau bilang kau suka polo air. Kenapa nggak masuk Klub polo air di sekolah." "Auukhhh,,, lepasin dulu, berat tahu!" Keluhnya. Namun aku tak serta merta melepaskannya. Entah kenapa, aku betah dalam posisi itu. "Katanya aku lebih ringan jika di dalam air." Ucapku. "Aku biasa bermain polo air dengan ibuku waktu kecil. Tapi sekarang, ibuku terlalu sibuk untuk bermain denganku." Doni kini kembali berenang dengan aku dipunggungnya—atau lebih tepatnya ia berjalan dengan kaki yang menapak di dasar kolam. Dihidungku tercium aroma yang sama, namun kini lebih menyegarkan karena pengaruh aroma kolam air yang sengau. Apalagi, tubuhnya begitu hangat terasa di tubuhku. "Hmn,,, kau bisa bermain denganku sekarang!?" Gumamku ringan. "Benarkah!?" Ujarnya bersemangat. "Tapi lepasin dulu!" Aku lalu mendorong tubuhnya masuk ke dalam air. Ia terbebas dan berenang cepat menuju sebuah bola yang mengapung di permukaan air. Doni mengambilnya dan memantulkannya ke dinding yang sudah diberi target. Siapa yang cepat mengambilnya, itulah pemenangnya. Namun aku harus melakukan blokade agar ia tak serta merta mengenai targetnya. Mudah menurutku. "Sekarang giliranku!" Doni melemparkan bola itu dan mengenai target. Aku harus cepat mengambil bolanya. Namun aku tak sadar bahwa Doni menekan pundakku untuk mencari momentum kecepatan di dalam air. Alhasil, aku ketinggalan dan Doni berhasil mengambil bolanya. "Sudah kubilang, kamu tidak bisa melawanku di atas air." Doni semakin bersemangat ketika melempar bola itu ke arahku. "Sekarang, giliranmu!" Aku mencoba melempar, namun Doni melompat kearahku. Tak kusangka, ia dapat memblokadeku seperti itu. Bolanya mengenai tangannya dan terpantul di permukaan air. "Hmn,,, kamu belum mengerti caranya?" Ucap Doni yang tak semangat karena aku tak menunjukan perlawanan yang berarti. "Ya terus, gimana?" Kataku canggung. "Polo air, itu perpaduan antara berenang, dan memainkan bola. Kamu pernah bermain basket, biasanya pemain basket menggunakan punggungnya untuk memblokade kejaran lawan. Lalu, kamukam atlit voli, masa' nggak bisa pakai tipuan." Ucapan Doni panjang lebar. Dipikiranku, terlintas seorang pemain basket yang mendribble bola membelakangi lawan, lalu berbalik sesaat sebelum melempar bola, terkadang ia menipu lawan yang melompat duluan. Dan melempar setelah lawan melompat. "Begitu ya? Sepertinya tak terlalu sulit buatku." Ucapku sembari membawa bola itu kearahku. Kini posisiku membelakangi Doni. Ia berenang tepat berada di belakangku. Lalu aku membalikan badan dan dia melompat kearahku. Namun aku berhasil melakukan tipuan itu. Bola itu memantul kencang, dan sepertinya akan kembali ke arah kami. Aku yang pertama melihat itu langsung melompat dan berhasil menangkap bolanya. Namun lagi-lagi, aku menabrak tubuh Doni yang belum sempat berbalik. Alhasil, aku memenangkan ronde kali ini. "Bisakan? Ibuku yang mengajarkan. Polo air seperti gulat di dalam air. Kita harus kuat melompat dari dalam air. Kau pandai melompat di darat, tetapi belum tentu kamu bisa melompat di air. "Eh, katanya ibumu jarang bermain denganmu lagi." Tanyaku mengalihkan perhatian. "Yah,,, tapi nggak apa. Sekarangkan ada kamu." Ucapnya sembari merebut bola itu. Aku mengangkat bola itu ke udara karena ia ingin meraihnya. Lalu aku berbalik membelakangi tubuhnya. Tanpa sadar, aku merasakan sesuatu menyentuh pantatku. Sesuatu yang cukup keras dari pinggul Doni yang berusaha merebut bola dariku. Oh,,, apa ini! Batinku meronta karena aku penasaran dengan bentuk itu. Lalu aku berbalik dan ingin melompat, namun Doni berhasil menangkap tubuhku yang mengayunkan bola ke udara. Tiba-tiba,,, Tubuh Doni menimpa tubuhku. Ia yang tak cukup tinggi melompat kearahku. "Auhhhhh!" Doni menabrak tubuhku dan kami terhempas di dalam air. Lagi-lagi, tubuhnya yang pendek membuat wajahnya terbenyuk di antara kedua buah dadaku. Tangannya melingkar dipinggangku. Seakan pandanganku kabur karena rasa itu kembali terasa. Namun Doni yang sadar melepas tubuhku dan mengambil bola yang melayang diatas air. "Uhhhhuuukkk!" Aku terbatuk karena tersedak. Mataku memerah karena iritasi. Ingusku keluar karena hidungku kemasukan air. "Kau tak apa!? Maaf." Katanya. "Huah,,, tak apa? Kau menabrakku." Keluhku. "Iya, aku terlalu bersemangat." Ucap Doni. "Sekarang, giliranku!" Doni mengambil bolanya, kini ia membelakangiku dan mencoba untuk melempar. Aku yang dalam posisi bertahan masih siap, lalu ia melompat. Kini lompatanku yang tinggi membuat bola itu mengenai tanganku. Namun tabrakan itu terjadi kembali. Doni tidak terlalu melompat. Dan lagi-lagi, buah dadaku menampar wajahnya karena tubuhku menimpa tubuhnya. Kedua kakiku melingkar pinggangnya dan wajah Doni terhempas di sela-sela buah dadaku. "Yes aku berhasil!" Ujarku dalam hati. Namun entah kenapa? Rasa itu kembali melanda pikiranku. Rasa yang membuatku kecanduan untuk berdekatan seperti ini. Apalagi, wajah Doni kini menatapku. Namun anehnya, ia tak meronta untuk dilepaskan dan aku juga tak ingin melepaskan dirinya. Ia malah melingkarkan tangannya di pinggangku. Sehingga kini tubuhku tak menapak di dasar kolam. "Tinggi banget, lompatanmu, Mira!" Ucapan Doni membangunkan lamunanku. Ia melepaskan tangannya, namun anehnya kedua kakiku masih terkangkang melingkar di pinggulnya. "Ya iyalah, akukan atlit Voli." Ungkapku sembari membelai rambut Doni. "Eh, lepasin, berat tahu!" Doni meronta. Namun entah kenapa kedekatan kami semakin menjadi-jadi. "Nggg—nggak ah. Gendong aku!" Paksaku sembari melingkarkan tanganku ke lehernya. "Hmmmpppffttt!" Aku mendengar Doni yang sesak nafas karena wajahnya tertekan oleh buah dadaku. Kali ini, aku salah. Wajahnya tepat berada di buah dadaku, bukan di belahannya. Sehingga ia sulit bernafas karena tekanan yang kenyal itu. Namun rasa di tubuhku lain. Tubuhku memanas merasakan getaran yang menggelitik di sekujur tubuhku. Doni yang nurut langsung melingkarkan tangannya lagi ke pinggangku, lalu melangkah ke arah tepian. Wajahku memerah padam, entah karena apa? Rasa itu kembali kurasakan seakan aku ingin menuntaskan sesuatu. Rasa seperti aku ingin buang air kecil yang sudah kutahan. Rasa seperti ingin tertawa tapi takada yang lucu. Rasa seperti ingin muntah tetapi aku tak makan sesuatu. Rasanya, aku ingin berlama-lama dipelukannya. Walau sebenarnya kita sedang bermain berdua layaknya dua anak kecil yang bermain bersama. Setelah sampai ditepian, Ia menyandarkan tubuhku di tepian. Namun anehnya lagi, kakiku enggan untuk melepaskannya. Doni menatapku dan aku juga menatapnya. Wajahnya sendu dengan mata sayu, mungkin aku juga kelihatan sama dengannya. "Kamu suka?" ungkapnya pelan. Entah, aku suka dengan posisi ini. Tubuhku serasa ringan dengan kedua kaki mengangkang tertekan oleh pinggul Doni. "Mmmnnhhh,,, iyaaahhh!" Getaran suaraku berbeda dari biasanya. Entah karena apa? "Iya, kamu bisa belajar Polo Air dan ikut klub Polo air. Aku bisa mengajarkanmu strategi-strategi yang bermanfaat nantinya." Ujarnya sembari melepaskan tangannya dari tubuhku. Lalu tubuhku agak sedikit turun. Namun sesuatu mengenai selangkanganku. Sesuatu yang keras yang pernah kurasakan di bongkahan pantatku ketika aku Back-Up. Sungguh kini rasanya lebih asyik ketika mengenai selangkanganku. Dalam sesaat, bagianku menjadi hangat seakan aku ingin buang air kecil. Apalagi, celana yang berikan Doni cukup tipis dan celana dalamku terbuat dari bahan satin yang hampir tidak terasa di kulitku. Aku kembali menahan tubuhku dengan melingkarkan kedua kakiku ke pinggulnya. "Eh, lepasin!" Ucapnya. Aku yang tersadar melepaskan ikatan itu. Namun aku masih sangat penasaran ketika selangkanganku tersentuh sesuatu. "Udah yuk, aku lapar. Kita buat makanan dulu!?" Ucapnya. Namun entah kenapa? Tanganku berubah jahil, aku menarik celana Doni ketika ia menopang tubuhnya di tepian kolam. Lalu, aku melihat sesuatu. Tak sadar jemariku menarik celana berikut celana dalamnya. Aku melihat sebuah batang yang bewarna hitam kemerahan mencuat dari celana. Sangat tegang dengan bulu halus di pangkalnya. "Anjriiiittt!" Doni mengurungkan niatnya untuk keluar dan masuk lagi ke kolam. "Hahahahahaha,,, maaf!" Aku tertawa untuk mengalihkan perhatianku tentang barang itu. Walaupun dalam pelajaran biologi aku mengetahui fungsi dan bentuknya, tetapi aku tak pernah melihatnya secara langsung. Karena itu merupakan hal tabu jika dilihat oleh lawan jenis. "Ihhh,,, dasar kau ini!" Ucapnya geram sembari menghempaskan air ke arahku. "Eh,,, kok tegang kayak gitu ya!?" Aku mencoba untuk menggodanya. Aku lebih nyaman jika Doni yang kukenal adalah Doni yang ketus dan suka marah-marah, bukan Doni yang ramah dan ceria seperti ini. "Itu, mnnnn,,, biologis. Mana ngerti kalau kujelaskan." Doni menggeram. "Eh, coba jelasin. Siapa tahu aku mengerti?" Ungkapku penasaran. "Iya nanti, aku mau mandi!" Doni cukup malu pertatapan denganku. Ia keluar kolam sembari menunjukan sebuah handuk. "Kamu mandi di kamar mandi itu." Ia lalu masuk kedalam dengan perasaan malu. Aku cukup menyesal melakukan hal itu. Lagian sekarang, aku harus bagaimana. Pakaian dalamku basah dan tak mungkin aku memakainya. Aduh, bodoh sekali kamu Mira. Kenapa aku pakai pakaian dalam ketika berenang tadi. Aku coba untuk memerasnya, namun sayang karena terdapat sedikit busa yang tak mudah kering. Apalagi, celana dalam satin menyerap air. Alhasil, aku memakai celana panjangku dan kaus yang kukenakan tadi. Lalu kubungkus dengan kemeja oversize. Betapa terkejutnya aku ketika kancing kemeja itu terlepas semua. Aku mencoba mengingatnya, ternyata kemeja dua kancing di bagian atas sudah terlepas dari dulu, tiga kancing bagian bawah mungkin terlepas ketika aku tak sabar ingin berenang tadi. Oh, aku menjadi gadis terbodoh di dunia. Memakai kaos putih tanpa Bra dibalut dengan kemeja yang tak kukancingkan. Akhirnya aku keluar kamar mandi dengan menenteng Bra serta celana dalam yang basah serta handuk yang kuikat di rambut. Lalu salah satu tanganku menahan kemejaku agar tidak terbuka. "Kamu punya kantung plastik!?" Tanyaku padanya yang sedang membuat sesuatu di dapur. "Itu, di sebelah mesin cuci." Jawabnya sembari menunjuk kearah mesin cuci tanpa melihatku. Setelah memasukan Bra dan Celana dalamku ke kantung plastik. Aku melepas handuk dari rambutku, rambutku cepat kering karena hanya sebatas leher. Aku kembali ke dapur dengan Doni yang sedang memasak sesuatu. "Kamu buat apa?" Aku melangkah ke sebelahnya dan bertanya. Kulihat wajahnya masih memerah padam karena malu. "Bisa ambilkan saus di atas lemari itu!" Ucap Doni sembari menunjuk lemari yang tepat di atasku. Aku membukanya dan mengambil sebotol saus. "Kita buat spaghetti?" "Hmn,,, mie instant lebih enak." Ucapku. "Mie instan tidak sehat." Ungkapnya. "Emangnya Spaghetti nggak instant apa?" Bantahku sembari menunjukan bungkus spaghetti dari sebelah kompor. "Ya,,,deh. Sekali-kali boleh donk!?" Ucapnya membantah. Ya begitulah Doni, ia tak mau kalah apalagi soal teori. Aku malah suka dia yang seperti itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN