"Maaf, soal yang tadi,,, itu,,, mnnnn,,," Ucap Doni sembari mengaduk panci yang sudah berbuih.
"Lho, bukannya aku yang jahilin kamu, kok kamu yang minta maaf." Kataku sembari mendekatinya. Entah kenapa? Aku ingin selalu mendekatinya. Kini buah dadaku yang tak terbungkus Bra hampir menyentuh pundaknya.
"Bukan, itu. Soal,,,mnnnn,,, biologis tadi." Doni terbata-bata. Lalu ia berbalik ke arahku, jarak kami terlalu dekat sehingga ujung hidungnya menyentuh buah dadaku yang tak hanya terlindung oleh kaos tipis dan kemeja tipis. Aku sedikit bergidik karena hidung tajamnya tepat mengenai p****g susuku.
"Oh, iya, itu gimana ya?" Aku melepaskan tanganku dan bersandar di buffet. Salah satu tanganku berada di pinggangku sehingga kemejaku terbuka begitu saja. Aku tak sadar, jakun Doni bergerak karena melihat buah d**a mengembang di tepat didepan wajahnya. Apalagi, hawa dingin membuat p****g susuku mengeras dan mencuat menantangnya.
"Iya, itu biologis. Setiap pria pasti akan seperti ketika didekati oleh wanita." Ucapnya menjelaskan.
"Hmn,,, jadi kamu jadi... mnnnn,,, ehhh,, tunggu dulu!" Aku kembali berpikir tentang hal kemarin. Tentang cowok-cowok yang melihatku latihan lagi, serta Doni yang menempelkan selangkangannya di bongkahan pantatku ketika aku Back-Up. "Eh, kamu ngaceng ya." Ujarku mencengkeram kerah baju Doni yang terpojok.
"Sudah kubilang, itu biologis. Salah siapa kamu dekat-dekat denganku. Apalagi, saat kamu mendekap wajahku. Itu tepat di area payudaramu. p******a itu punya Areola yang sensitif jika tersentuh. Kenapa kamu malah mendekapku disitu!?" Doni sepertinya menggiringku ke arah yang lebih ilmiah. Namun aku juga sadar bahwa semua itu bukan serta merta salahnya. Aku melepaskan cengkeramanku.
"Eh, emang kalau cowok didekap kayak gitu bisa,,, mmnnnn,,, ngaceng, gitu?" Tanyaku.
"Tergantung, kalau aku sih. Enggak begitu?" Jawab Doni yang menyibukan diri menuangkan air sisa rebusan ke wastafel. "Awas panas!"
"Kok, nggak begitu. Tadi itu kamu berdiri." Padahal seharusnya aku kesal, namun aku malah mendekatinya dan kini sesekali aku menyentuhkan buahku ke pundaknya.
"Itu karena kamu mendekat pinggangku." Jawab Doni sekenanya. Ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya lagi. "Kamu mau yang pedas atau tidak?"
"Eh, bukannya ketika aku mendekapmu, kamu jadi ngaceng gitu!" Ungkapku sembari mengalungkan tanganku ke leher Doni yang menumpahkan spaghetti ke atas piring. Taktis buah dadaku yang kenyal menyentuh pundaknya. Rasa itu kembali menggelegar keseluruh tubuhku. Apalagi tangan Doni yang bergerak-gerak kerena sedang mengaduk bumbu membuat buah dadaku seperti dipijat-pijat.
"Oh, kalau itu! Kamu yang ngaceng." Aku cukup tercengang dengan perkataan Doni. Ia berkata seolah ia adalah dokter psikologi yang mengatasi soal kegiatan malam jumat. "Soalnya wajahku menyentuh bagian sensitif itu. Ingat bagian p******a terdapat jutaan syaraf, apalagi bagian Areola super sensitif yang dapat mendeteksi gerakan sekecil apapun."
Aku menatap Doni yang membawa dua piring ke meja makan. Lalu meletakannya berhadapan. "Eh, Areola itu apaan?" Tanyaku.
Ia mendekatiku dan menunjuk sesuatu di dadaku. Ujung jarinya mengenai bagian sensitif itu. Sesaat aku bergetar, setelah Doni berkata. "p****g susu."
"Auhhh,,," aku ingin menepisnya namun Doni sudah menjauhkan tangannya.
"Ayok, makan dulu!" Ajaknya.
Aku makan dalam diam karena kepikiran dan perutku yang sudah sangat lapar. Setelah makan nanti, kita harus meneruskan pekerjaan menulis Essai yang tertunda. Aku selesei kami berdua kembali ke lantai dua untuk mengerjakan Essai. "Huuahhh,,, aku kenyang." Entah kenapa, aku tak asing dengan rumah Doni. Aku berani melompat dan membaringkan tubuhku ke kasur Doni yang empuk. Kuregangkan kedua tangan dan kaki agar tubuhku kembali segar.
"Sini, kamu baca!" Perintah Doni yang mulai serius dengan keyboard yang sudah berada ditangannya.
"Huaahhh,,, ngantuk aku." Ungkapku seraya menguap.
"Eh, nanti dulu tidurnya!" Tegasnya. Aku dengan enggan melangkah kearah meja belajar Doni. Lalu menyandarkan pantatku disana, lebih tepatnya duduk di tepian karena tubuhku terlalu tinggi untuk meja itu.
"Huaaammmnn,,, Eh, aku mau tanya satu hal lagi." Tanyaku padanya.
"Iya, tanya aja." Ucapnya sembari menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Kemarinkan, ketika kamu bantu aku Back-Up,,," aku kembali mengingat serpihan ingatan yang kupulihkan. "Ada sesuatu yang keras menempel di pantatku."
Kulihat wajah Doni berubah memerah padam, sama seperti tadi. Kurasa ia sedang menyembunyikan sesuatu. "Oh, itu ikat pinggangku." Jawabnya cepat.
"Mana mungkin ikat pinggang dibawah situ!" Aku sontak tak percaya dan mencecarnya.
"Eh, nggak percaya. Soalnya kamu nggak lihat." Ia tetap mengelak.
"Bohong, ngaku deh." Aku kembali mencecar.
"Iya, aku nggak bohong." Ucapnya meyakinkan.
"Kau pasti ngaceng ya karena itumu menyentuh pantatku. Terus kamu lari karena malu, iyakan?" Ujarku karena aku sudah mengingat setiap kejadian itu.
"Ah, itu karena aku ingin buang air kecil. Jadi aku buru-buru." Ucapnya menyela seakan ia tak ingin disalahkan.
Lalu, entah kenapa aku melangkah ke hadapannya dan duduk di pangkuannya. Kakiku menahan pinggulnya dan tanganku menahan pergelangan tangannya agar ia tak bergerak.
"Jujur, apa yang kamu rasakan ketika dalam posisi ini?" Posisiku menunggangi tubuhnya di atas kursinya. Buah dadaku begitu menggoda apalagi aku sengaja menyingkap kemejaku. p****g susuku yang kemerahan mencuat menantang bibirnya. Entah kenapa? Aku penasaran dengan rasa ini.
"Sakit tau kakiku,,, kau menindihku!" Ucapnya sembari meronta. Karena tangan dan kakinya terkunci, wajahnya bergerak kesana kemari secara acak. Sehingga wajahnya menyentuh buah dadaku yang hanya terbungkus kaos tipis. Sensasi itu kembali kurasakan, gelitikan walau hanya sepersekian detik yang selalu membuatku penasaran.
"Jawab!" Cecarku sembari menekan buah dadaku menimpa wajahnya.
"Hummmpppffttt!" Ia tak mampu bernapas karena hidungnya tepat tertekan buah dadaku.
"Auuuffff!" Aku mendesis sembari mengigiti bagian bawah bibirku. Entah rasa itu semakin menjadi-jadi. Doni mencoba mengatakan sesuatu, namun bibirnya tertekan oleh buah dadaku. Wajahku meremang, bulu kudukku berdiri, rambutku mengeras, dan jantungku berdebar kencang. Nafasku mendesau berat ketika bibirnya mengguncang bagian sensitif itu. Aku tak mencoba untuk mendengarkan perkataan Doni. Aku mencoba meraih sensasi geli dibagian buah dadaku itu.
"Baannayk woowwokkk maangeenngg pikaaahhh, iyaaattt neeeekkkeenkkmujj! Pepaaassssiiinn! Suara itu terdengar walau tidak kumengerti. Aku merasa buah dadaku bergetar-getar seperti dipijat ringan. Lalu aku merasakan sesuatu menyedot bagian p****g susuku, semakin lama semakin kencang dan membuatku mabuk kepayang. Wajahku mendongak dan bibirku terbuka lebar.
Kemudian,
"Aaaaaaahhhhhhhhh!"
"Aaaahhhhhh!" Aku menjerit karena merasakan gigitan di buah dadaku, terutama dibagian p****g susuku. Aku sejenak melepaskan Doni dari bekapanku. Doni terlihat gelagapan mengatur nafasnya.
"Kau, gigit aku!" Ungkapku sembari melihat kausku yang sudah basah melingkar di bagian p****g susuku yang mencuat. Aku menepuk-nepuk kepalanya namun ia menutupinya dengan tangan. "Dasar kau ini! cowok m***m. Kau juga ngaceng kareng melihatku ya?"
"Tidak, salah kau sendiri." Ungkap Doni yang sepertinya pasrah karena pergelangan tangannya kuraih dan tangannya kurentangkan.
"Emang, salahku kenapa?" Tanyaku serius.
"Salahmu,,, mnnnn,,," aku merasakan sesuatu ketika Doni menggerakan pinggulnya. Rasa itu semakin kental terasa karena saat itu aku lupa bahwa aku tak mengenakan celana dalam. Celana dalamku basah karena berenang. Tonjolan itu menggesek panjang mengikuti alur selangkanganku.
"Mnnnnhhhhh,,," aku mendesis perlahan merasakan rasa asyik yang tak pernah kurasakan. Tubuhku semakin meliuk ke depan sehingga buah dadaku mengenai wajah Doni. Seakan aku mempersilahkan Doni mengenyot p****g s**u yang satunya. Namun Doni tidak melakukannya, hidungnya saja yang tak sengaja tersentuh oleh buah dadaku.
"Salahmu sendiri karena menindihku seperti ini! Lihat, aku jadi..." Suara Doni menyadarkanku sebelum ia menyeleseikan kalimatnya. Aku tersadar dan menatap wajah Doni yang memerah padam. Aku juga masih merasakan benda keras dibawah sana. Disaat itulah aku berdiri dari pangkuan Doni.
"Kita lanjutkan Essainya kapan-kapan!? Aku permisi dulu." Aku geram dengan Doni. Entah geram karena apa? Aku juga tak tahu. Sepanjang perjalananku dari lantai dua ke lantai satu. Ia menyusulku.
"Eh, gimana Essay-nya!? Kalau mau pulang mau kupesankan Maxim?" Ia bertanya khawatir ketika aku bersiap memakai sepatu.
"Tidak usah, aku jalan saja. Permisi!" Ucapku.
"Oh, ya, hati-hati dijalan." Ungkapnya tanpa sekalipun aku menoleh ke wajahnya.
Di perjalanan, aku menutup rapat kemejaku yang hilang kancingnya. Aku masih berpikir, aku marah dengannya karena apa? Padahal sedari tadi aku yang menjahilinya. Sekarang malah aku yang marah sendiri. Ditengah perjalanan, aku melihat kaleng minuman yang tergeletak di pinggirnya jalan. Dengan kekuatan penuh aku menendangnya.
"Dasar cowok kerdil nggak punya nafsu!" Bisikku sembari menggeram. Disitulah aku sadar bahwa seharusnya dia yang marah denganku. Aku marah karena merasa godaanku sia-sia terhadapnya. Dalam perjalananku, aku menekan buah dadaku yang masih nyeri, terutama bagian gigitan tadi. Sebelum digigit, rasanya sungguh nikmat dan membuatku melayang. Namun Doni malah melihat ini sebagai main-main belaka. Ia mengira aku tukang bully yang menyiksanya, sehingga ia berpikir tubuhku tak merasakan getaran itu. Atau mungkin bibirku terlalu malu untuk berkata "peluklah aku, Doni!" Atau dia juga merasakan hal yang sama, namun enggan untuk mengatakan karena selisih tinggi badan antara kita berdua.
Langkah kakiku sudah hampir mendekati rumah ketika aku menangkap tiga hal yang menjadi kesalahpahamanku. Aku marah bukan karena Doni menggigit buah dadaku, tetapi justru ia tak melakukan apapun padaku. Aku sedikit menyesal karena melakukan hal itu. Aku yakin ia juga berpikir soal itu.
Desauan angin meniupkan sampah plastik ketika langit sudah menggelap. "Gluuuuddduuuukkkkk!" Dari kejauhan mendengar getaran langit yang meraung. Aku menengadah keatas untuk memastikan langit sedang bergurau lalu menangis, dan tangisan itu menciptakan petir yang meraung. Petir yang meraung dapat membuat Doni ketakutan. Entah kenapa, kakiku berbalik kembali kerumah Doni. Jantungku berdegup mengkhawatirkan Doni yang sedang dirumah sendirian dan hujan deras. Namun ketika aku melewati belokan.
"Mira!" Ibuku berjalan tergopoh-gopoh. Jika aku tidak mengerem, mungkin aku sudah bertabrakan dengan ibu. "Kamu mau kemana!?"
Aku linglung ketika ingin menjawab, "eh, aku nyari ibu? mmnn,,,pintunya di kunci."
"Pintunya gak dikunci. Cepat pulang! Mau hujan! angkat jemurannya!" Ibu memerintahku dengan sekali ucapan. Aku masih memikirkan Doni dan tentu saja aku tak diijinkan lagi untuk keluar rumah karena hujan akan segera turun.
Setelah selesei mengangkat jemuran. Tiba-tiba listrik padam. Suasana menjadi gelap gulita. "Pakai mati lampu segala! Ibu baru mau masak, kamu sudah makan!" Ungkap ibu.
"Mnnn,,, aku masih kenyang bu." Aku berlari ke kamarku lalu membuka smartphoneku. Pikiranku kalang kabut, aku ingin kembali ke rumah Doni. Namun hujan meniupkan segala jenis harapan. Coba saja, aku disana lebih lama dan tidak ngambek seperti ini. Sudah pasti Doni akan memelukku erat karena ia takut dengan hujan dan petir. Ahh,,, bodohnya aku sampai kepikiran seperti itu.
Di layar smartphoneku, terlihat foto diriku yang sedang berpose layaknya seorang foto model. Lalu kualihkan ke aplikasi WA, lalu aku melihat chat teratas adalah Doni yang memesankan Maxim untukku tadi pagi.
"Duaaaarrrrrrr!!!" Petir menyambar dan membuat jantungku berdegub kencang. Sejak kapan aku terkejut karena petir, namun kejutan itu bukan untukku. Tetapi untuk Doni yang mungkin sedang ketakutan meringkuk disudut ruangan sembari menikmati kegelapan karena listrik sedang padam.
Aku lalu menelponnya. Nada langsung berdering namun Doni tak mengangkat. "Ayoohhh,,, angkat!" Ungkapku.
Beberapa kali aku menelpon ditengah guyuran hujan deras dan angin kencang. Ditambah dengan dentuman petir yang meraung di atas udara.
"Ha—halooo! Ada apa Mmmiiirr?" Terdengar suara Doni diujung sana.
"Don, kamu nggak apa?" Tanyaku penuh perhatian.
Duaaarrrrr!!!! Suara petir kembali terdengar. Terdengar suara benturan entah suara apa.
Duaaarrrrr!!!! Suara petir kembali terdengar. Terdengar suara benturan entah suara apa.
"Don, doni. Kau tak apa? Hujan petir lho." Kataku khawatir.
"Halo, sudah disini aman." Ucap Doni.
"Eh, emangnya kamu dimana?" Tanyaku penasaran karena ia mengatakan bahwa disini aman.
"Mnnn,,, dikolong tempat tidur." Ungkapnya dengan suara sengau.
Aku terbahak dan bangkit dari tidurku. Aku mengaktifkan Video Call dan ia langsung membukanya. Dikamarku tak gelap karena aku punya lampu emergency yang hidup ketika listrik mati. Namun di kamera Doni gelap gulita.
"Ngapain kamu nelpon aku? Bukannya kamu marah tadi." Ujarnya sengau.
"Nggak ah, aku nggak marah." Kataku pura-pura lupa.
"Mnnn,, yaudah kalau nggak marah." Ucapnya santai.
"Kamu nggak takut hujan petir begini, mana mati lampu." Aku menatap layar yang gelap itu. Mungkin yang terlihat hanyalah hidung Doni yang mancung.
"Hmn,,, Takutlah, makanya kamu tadi nggak nemenin aku." Perkataannya membuatku terperangah. Udara dingin membuatku kembali meringkuk di kasur dan menarik selimutku sembari bertelpon dengan Doni. Tak lupa aku menutup pintu agar Ibu tak masuk ke kamarku. Lalu kututup seluruh tubuhku dengan selimut dan membawa smartphoneku kedalam sana.
"Mnnn,,,nggak ah, nanti kamu peluk aku!?" Bisikku.
"Bukannya enak dipeluk kek gitu." Ucap Doni.
"Yeee,,, ngarep!" Aku mengelak. "Eh, kok gelap, nggak pakai lampu emergency."
"Ada genset dirumah, tapi males hidupin. Paling bentar lagi hidup." Ucap Doni. Sejenak kami terdiam karena entah apalagi yang akan dibicarakan.
"Eh, aku mau tanya?" Cetus sembari memikirkan pertanyaan apakah pertanyaan ini pantas kulontarkan atau tidak.
"Ya, tanya aja." Jawabnya.
"Kenapa kamu tahu kalau,,, mnnnn,,, aku keenakan ketika dipeluk?" Kataku canggung, namun aku masih penasaran dengan hal itu.
"Kamu ingat pas ditaman kemarin pas hujan seperti ini." Ujar Doni.
"Ya, aku ingat." Ungkapku.
"Bukannya kamu meronta, malah kamu menekan kepalaku dan membelai rambutku. Apalagi, mnnnn,,,maaf, ketika wajahku mengenai payudaramu. Kamu seperti mendesis kesakitan, namun kamu enggan untuk melepaskannya." Perkataan Doni yang jujur seakan menampar wajahku beberapa kali. Ia yang kuanggap lugu malah lebih pintar dariku. Malah aku yang terlihat lugu seperti ini. "Bukankah itu yang namannya keenakan?"
"Mnnnn,,, aduh gimana yaaa?" Ucapku canggung, apakah aku ingin mengakuinya atau tidak. Tetapi seperti itulah yang kurasakan. "Tapi untunglah aku pulang sebelum hujan ini!?"
"Kenapa emang?" Tanyanya pura-pura nggak tahu.
"Kamu pasti peluk-peluk aku,kan?" Ucapku.
"Eh,,, itu—mnnnn, itu refleks ajah sihhh." Ungkapnya malu. "Tapi kamu malah suka-kan?"
"Ah, basi, masa' nanya itu lagi." Aku mengelak.
"Soalnya tadi belum dijawab." Ia mencela.
"Ahhh,,, nanya yang lain aja." Utusku karena aku masih terlalu malu untuk mengakuinya.
"Tadi sakit nggak?" Tanyanya.
"Sakit apa?" Aku kembali bertanya kebingungan.
"Gigitan tadi, maaf,,, aku nggak bisa nafas jadinya kugigit aja." Pertanyaan itu membuat darahku berdesir apalagi dibagian p****g susuku bekas gigitan tadi. Walau pelan namun masih terasa ngilu apabila diingat.
"Ih,,, sakit tahu! Aku sampai menjerit tadi." Keluhku manja.
"Makanya, jangan suka nyiksa aku kayak gitu." Ungkapnya.
"Oke, siap." Jawabku. "Eh, Essainya gimana. Mau lanjut besok atau gimana?"
"Mnnnn,,, besok kamu ada acara?" Tanyanya.
Aku bangkit dari pembaringanku, aku berpikir sejenak apa yang ingin kukatakan. "Mnnn,,,tidak. Kalau kamu?"
"Oke, kita ketemu di Grand Mall Square jam 11 siang. Essainya biar kukerjakan malam ini. Tinggal diketik aja." Ajaknya. Tetapi aku masih ragu dalam hal apa ia mengajakku.
"Eh,,, ngapain ketemu di GrandMall?" Tanyaku dengan memberanikan diriku, "kau mau mengajakku kencan?"
"Mnnnn,,, bisa dibilang seperti itu. Jangan lupa, kupesankan Maxim pukul setengah sebelas. Oke?" Ucapan Doni terputus sebelum aku menyetujuinya. Akupun berteriak girang entah karena apa. Cowok sok pintar itu malah mengajakku berkencan. Sekarang aku salah tingkah sendiri.
Hujan telah reda dan listrik hidup dengan sendirinya. Aku membuka celanaku dan terkaget karena aku tak mengenakan celana dalam. Kuraba buah dadaku ternyata Bra dan celana dalamku tertinggal di rumah Doni.
Dalam keadaan telanjang bulat, aku tertunduk lesu di depan lemari baju. Aku melihat p****g s**u sebelah kanan yang digigit oleh Doni. Kuraba sesaat, desir darahku kembali bergerak. Lalu tanganku mengarah ke perut dan berlanjut ke area selangkanganku. Rasanya hangat karena aku merasakan tonjolan itu. "Oh,,, Doni,,, kenapa kau buat aku seperti ini!?" Bisikku lirih. Aku juga memikirkan jika Doni menemukan Bra dan celana dalamku di pintu dekat kolam renang. Betapa malunya ketika ia melihat bentuk pakaian dalam itu yang begitu menggoda. Apalagi, besok kita akan bertemu. Akhirnya aku menarik handuk dan bersiap untuk membasuh tubuhku.
Pagi itu, aku memakai pakaian yang serba tertutup. Aku memakai rok panjang dan baju kemeja oversize yang berbeda warna dengan kemarin. Dibagian dalam aku mengenakan tangtop dan sportbra untuk menyembunyikan buah dadakh agar ia tak tergoda. Tak lupa tas selempang untuk menyimpan smartphoneku.
Nada deringku berbunyi ketika Doni sudah memberi tahu bahwa driver ojol sudah siap menjemput. Aku berpamitan dengan alasan pergi bersama Agnes dan Rosa untuk menonton film horror di bioskop.
"Sejak kapan kamu suka film Horror, awas nanti kalau nggak bisa tidur!" Ejek Ibuku seakan tak percaya bahwa aku akan nonton film horror. Padahal gadisnya yang penakut diajak kencan untuk pertama kalinya.
Ditengah perjalanan, jantungku berdegub kencang. Aku memikirkan beberapa pertanyaan yang akan kulontarkan, terkadang terkesan basi seperti, "sudah makan belum?", "kamu suka film apa?", "biasanya kamu kesini ngapain dan sama siapa?" Pertanyaan itu membuat tubuhku bergelayut dan pak driver protes.
"Non, duduk yang bener non. Jangan goyang-goyang." Ujar abang Driver yang berusaha mengimbangi tubuhku yang jangkung. Apalagi dudukku yang miring membuat motor matic buntutnya tidak seimbang.
"I—iya pak maaf." Ujarku.
Tak sampai setengah jam, aku sampai di depan GrandMall Square. Aku berjalan ke pintu sembari meraih smartphone untuk menghubungi Doni. Namun lagi-lagi suara Doni mengejutkanku. "Ayohhh, masuk!" Ungkapnya.
Entah kenapa, suasana Mall di minggu pagi cukup sepi karena mungkin terlalu pagi untuk sebuah Mall. "Eh, kamu kok pakai Rok!?" Tanyanya.
"Kenapa emang!?" Tanyaku balik.
"Aku mau ajak main trampolin. Tapi nggak mungkin kamu lepas rokmu terus pakai celana dalam G-String aja kayak kemarin." Ucapan Doni seakan membuatku geram. Kulingkarkan tanganku ke lehernya dan bermaksud mencekiknya.
"Eeeekkkhhh,,, ampun,,, ampunnnn!" Ia memohon ampun. Namun aku teringat dengan pakaian dalamku yang masih tertinggal di rumah Doni. "Mnnn,,, itu pakaian dalammu ada di tasku. Nanti aja pulangnya, ambilah!"
"Eh, Iya aku lupa kemarin. Nanti aja kalau mau pulang ingetin?" Timpalku.
"Sudah kucuci kok, kalau mau pakai, pakai aja di kamar mandi." Ucapan Doni makin lama makin kurang ajar. Namun bukannya marah, aku malah menggertak bercanda dengannya.
"Dasar kau ini! Kau apakan Bra-ku itu." Aku juga terpancing dengan perkataannya.
"Kalau Bra-nya sih nggak masalah, yang aku heran,,,mnnn,,, celananya?" Ungkapnya keheranan. Wajahku memerah malu ketika mendengar perkataan itu.
Aku kembali merangkul dan mencekik lehernya. Kini pergelangan tanganku tepat di lehernya sehingga mau tak mau tubuhku begitu dekat dengannya. Suasana Mall yang sepi membuatku leluasa bercanda dengannya tanpa ada yang memperhatikan.
"Kau pasti berpikiran macam-macam?" Gerutuku.
"Tidak, auugggghhhh! Ampun, aku mau nanya aja?" Ucapnya memohon ampun. "Kalau talinya sejari seperti itu, apa tidak takut nyelip apa?"
"Apa kau bilang!?" ia berlari menjauh dariku.
"Eh, aku ini nanya serius. Dijawab donk!" Ungkapnya cengengesan.
"Itu namanya G-Strings." Jawabku pelan karena takut terdengar orang.
"Eh, apa?" Ucapnya memintaku mengulangi.
"G-String." Ulangku, "eh itu sebenarnya barang onlineku tertukar. Karena cukup bagus jadi kusimpan."
"Hmn,,, gitu, bagus juga bahan dan modelnya. Terutama model bagian belakangnya." Perkataan Doni semakin ngawur seperti itu.
"Apa kau bilang?" Geramku sembari mencekik lehernya.
"Emang nggak risih apa, ada yang nyelip-nyelip kayak gitu." Ia semakin menjadi-jadi.
Aku merasa, sudah tak ada lagi kecanggungan diantara kita. Lalu aku berbisik ditelinganya, "ya nggaklah, paling bulunya aja yang kelihatan."
"Hahahaha,,, masa' sih!" ia terkekeh sembari meronta agar aku melepaskan lehernya. Tingginya hanya sebahuku. Sehingga banyak orang mengira aku sedang bercanda dengan adikku.
"Kamu mau lihat nggak!?" Tantangku karena sedari tadi ia memancingku.
"Hmn,,, pasti bulunya lebat, hahahaha!" Godanya. Perkataan Doni membuat jantungku berdetak kencang dan darahku berdesir melewati leherku.
"Seriusan ini. Kemarinkan aku udah lihat punya kamu yang tegak. Sekarang kamu harus lihat punyaku!?" Bisikku tepat ditelinganya. Aku merasa tubuhku memanas ketika mengatakan itu. Darahku berdesir melewati ubun-ubun lalu mengalir cepat dan meleleh di selangkanganku. Rasa hangat dan gatal kini terngiang ngeri di selangkanganku.
"Gila kau, nanti dilihat orang!" Ucapnya gemetaran. Dari kalimatnya, ia sebenarnya ingin melihat, namun ia malu seseorang melihat kami. Suaranya juga bergetar seakan memendam sesuatu.
"Iya kita cari tempat yang sepi donk!" Bisikku lagi. Entah aku yang jahil atau apa? Tetapi pada dasarnya perkataan itu terungkap begitu saja, tanpa kusadari. Lalu kutarik Doni ketempat lorong pertokoan yang kosong, lalu terdapat sebuah pintu yang tertulis 'Pintu Darurat!'
"Eh, kamu mau ngapain?" Ujarnya meronta-ronta.
"Sudah dicucikan celana dalamku itu?" Tanyaku sembari mencekik lehernya agar ia menurut padaku.
"Arrrgghhh,,, su—sudah." Jawab Doni sekenanya karena ia harus mengikutiku. Sejenak kuperhatikan sekitar, tak ada seorangpun yang melihat. Lalu aku memasuki pintu yang langsung terhubung dengan tangga ke atas dan sebuah pintu disebelah pintu masuk yang bertuliskan Jonitor, atau tempat biasa para cleaning servis menaruh perlengkapan kebersihannya.
"Cepat, mana celana dalamku!" Tegasku menerka. Doni seperti ketakutan melihatku seperti ini. Aku juga tak tahu, kenapa aku berkata seperti itu padanya. Aku seperti bukan diriku yang selalu tertutup dan tak tahu menahu soal hal tabu. Namun kini aku berubah menjadi diriku yang berbeda.
Tangan Doni bergetar ketika mengeluarkan sebuah kantung dari tas ranselnya. Aku sempat ragu, namun hasratku ingin sekali memakainya sekali lagi. Padahal Doni tepat berada di hadapanku. Aku memakai rok sebatas lutut bermodel airflow sehingga mudah saja aku menyingkapnya.
"Cepat pakailah!" Ungkapnya sembari membalikan tubuhnya.
Aku langsung menurunkan celana dalamku. Lalu, "bukannya kamu ingin melihat bulu-buluku?" Ungkapku sembari menyampirkan celana dalamku ke pundaknya.
"Idih,,, apa ini!?" Doni terkejut dan menyingkirkan celana dalamku sehingga terjatuh di lantai.
"Hihihihi,,," aku terkekeh pelan karena takut ada yang mendengar kami. "Makanya sini dong!" Godaku sembari menepuk pundak dan menariknya agar ia menghadap ke aku. Iapun menurut saja, namun wajahnya tetap berpaling dariku.
"Eh, ayok, lihat!" Godaku. Perlahan ia menatapku, namun tidak dibagian bawah. Wajahnya memerah padam karena malu. Namun tatapan itu membuat darahku berdesir. Seakan tubuhku menginginkan sesuatu.
Perlahan aku mengalungkan celana dalam G-String itu ke salah satu kakiku. Lagi-lagi Doni memalingkan wajahnya karena sebenarnya tak pantas ia melihatku. "Ihhh,,, kamu ini! Katanya kamu mau lihat!" Geramku sembari mendorong pundaknya ke bawah, sehingga ia terjongkok lesu.
Lalu aku mengalungkan kedua kakiku ke lubang celana dalam G-String berwarna merah dengan bagian belakang berupa tali sejari. Sensasi itu kembali muncul ketika aku melihat tatapannya mulai terpana menatap kedua kakiku. Kunaikkan perlahan agar ia lebih tergoda—apalagi aku melihat jakunnya yang bergerak keatas, serta keringat tipis dikeningnya.
Tiba-tiba,
Pintu lantai diatas kami terdengar suara. Terdengar dua orang yang sedang bersenda gurau sembari sembari menuruni tangga.
"Lewat sini saja! Lebih cepat!" Suara pria terdengar dari atas. Kami kebingungan, aku melihat sebuah pintu dibelakang Doni. Dipintu itu terdapat jendela kaca yang terlihat gelap karena tak ada pencahayaan di dalamnya. Kuangkat lengan Doni sembari membuka pintu itu. Ternyata pintu itu tak terkunci. Kulihat ruangannya cukup sempit karena terdapat beberapa peralatan kebersihan di dalamnya. Aku kini masuk duluan. Doni yang panik tidak sempat berdiri. Alhasil ia terduduk dilantai dan aku berdiri tegak tepat didepannya.
Kucondongkan tubuh kedepan agar tak terlihat dari jendela kaca bening yang tertempel di pintu. Condong kedepan karena aku takut mengenai sesuatu dibelakang dan terjatuh sehingga keberadaan kami ketahuan.
Lalu,
Derap langkah kaki itu terhenti. Jantungku seakan berhenti berdetak dan nafasku tertunda untuk beberapa saat.
"Ini, punya siapa!?" Ungkap salah satu dari mereka. Aku teringat celana dalamku yang kupakai tadi terjatuh dilantai, sedangkan G-String masuk berada di pergelangan salah satu kakiku.
"Eh, mungkin punya tennant yang ketinggalan." Jawab pria lainnya.
"Tu—tunggu dulu, kalau ini punya tennant, kok kayaknya bukan barang baru. Mana basah lagi," ungkapnya. Aku mendengar suara dengusan dari mereka.
"Ini bau, tempat yang basah kok enak banget ya? Jangan-jangan ini," kata mereka. Telingaku terasa sensitif karena mendengarkan percakapan dua pria yang tepat berada di depan pintu tempat Aku dan Doni sembunyi.
"Iya bener, pasti ada yang m***m disini!" Ungkapnya. "Ini untukku aja!"
"Eit, aku dulu yang nemuin." Pria satunya merebut. Aku sempat geli karena mendengar mereka memperebutkan celana dalamku. Namun pendengarkanku seakan menghilang berganti dengan suara detak jantung. Pandanganku memburam dan nafasku menghangat. Kedua kakiku bergetar dan pinggangku terasa gatal. Yang benar saja, aku merasakan wajah Doni—terutama bagian hidungnya sedang menekan selangkanganku. Walau tertutup oleh rok, tetapi rok itu terlalu tipis untuk menahan tekanan itu. Tanpa sadar, kedua kakiku agar melebar dan pinggulku menekan mendekati wajah Doni.
Doni sepertinya juga melakukan hal yang sama. Ia seperti terbius oleh aroma yang menguar disana. Wajahnya menekan dan bergerak kekiri dan kekanan seakan mengikuti gerak pinggulku. "Mnnnnnn,,," aku mendesah lirih dan panjang mengikuti aliran darahku yang menaiki ubun-ubun, lalu mengalir menuju bagian sensitif itu.
Tiba-tiba,
"Mira!"