bc

Cahaya di Ujung Kekuasaan

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
goodgirl
single mother
heir/heiress
sweet
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

Khalisa harus menerima kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya ketika ayah kandungnya sendiri menjadikannya sebagai penebus utang sebesar seratus juta rupiah kepada seorang penguasa dunia gelap bernama Aditya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam hinaan dan kebencian ayahnya, Khalisa akhirnya memilih menyerahkan dirinya demi menyelamatkan lelaki yang tetap ia sebut sebagai ayah. Namun, pertemuannya dengan Aditya justru membuka awal dari mimpi buruk baru. Di tengah ketakutan dan ancaman maut, Khalisa tetap mempertahankan iman, harga diri, serta prinsip hidupnya meski nyawanya berada di ujung bahaya. 🖤🥀✨

#CahayaDiUjungKekuasaan #DarkRomance #NovelIndonesia #MafiaStory #RomanceIndonesia #WanitaBercadar #PenguasaGelap #SadStory #EmotionalStory #NovelViral #Daoistovzdb

chap-preview
Pratinjau gratis
Di Balik Cadar Sang Penebus Utang
“Lepaskan ayahku!" Teriakan itu memecah keheningan sore, beriringan dengan langkah cepat seorang gadis bercadar yang berlari sekuat tenaga yang tersisa. Tubuhnya menabrak satu per satu pria berperawakan besar yang sedang menghujani pukulan ke arah sosok paruh baya di teras rumah kontrakan sempit itu. Pukulan terakhir mendarat dengan telak, sebelum akhirnya mereka berhenti. Di sekeliling mereka, orang-orang berkerumun. Tetangga, pejalan kaki, hingga pemilik warung di ujung gang. Banyak mata yang memandang, namun tak satu pun tangan yang terulur. Semua memilih diam, seolah hanya menonton sebuah tontonan di kala senja. “Ayah!" jerit gadis itu lagi. Ia menjatuhkan dirinya, lalu memeluk tubuh yang lelah terkulai di atas lantai semen. Darah mulai merembes dari sudut bibir pria itu, napasnya terdengar berat, sementara matanya terpejam setengah. Salah satu pria melangkah maju. Lengan kanannya tertato gambar naga yang melilit hingga ke pergelangan tangan. “Ayahmu memiliki utang pada bos kami," ucapnya dengan nada dingin. “Dan hari ini adalah tanggal jatuh temponya." Khalisa mendongak. Matanya bergetar menatap pria itu. “Berapa… Berapa besar utang ayahku?” “Seratus juta.” “Seratus juta?” suara Khalisa nyaris tak terdengar. Dadanya terasa sesak, seolah diremas kuat. Angka itu terlalu besar, terlalu mustahil bagi kehidupan mereka yang bahkan sering kali kesulitan untuk sekadar makan. Untuk apa ayahnya berutang sebanyak itu? Pria paruh baya itu bergerak, memaksakan dirinya untuk bangkit. Tubuhnya terhuyung goyah, namun ia menepis pelukan tangan Khalisa. “Aku sudah bilang,” ucapnya dengan napas tersengal. “Aku akan membayarnya. Berikan aku waktu lagi!” “Waktu?” Pria bertato itu terkekeh sinis. “Bos Aditya sudah terlalu baik memberimu kesempatan. Hari ini harus lunas. Atau…” Ia melirik ke arah mobil hitam yang terparkir di ujung gang. “…kau ikut kami menghadap Bos.” “Tidak!” Pria itu menggeleng keras. Lalu, tanpa peringatan, ia menoleh ke arah Khalisa. Ada jeda sepersekian detik. Detik yang membuat jantung Khalisa berdegup kencang tak beraturan. Dan di detik berikutnya, tangan kasar itu mendorong tubuh Khalisa ke depan. “Bawa putriku saja!” serunya dengan tergesa, seolah sedang menawar sebuah barang dagangan. “Dia anak yang baik, penurut! Dia sanggup melakukan apa saja untuk Bos Aditya!” Waktu seakan berhenti berputar. “Ayah…?” suara Khalisa terdengar pecah. Matanya membelalak, dan dunia di sekelilingnya seolah runtuh seketika. “Ayah?!” Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan semua pukulan yang tadi menghantam tubuh pria itu. Selama ini, Khalisa sadar betul bahwa ayahnya bukanlah lelaki yang baik. Perjudian, mabuk-mabukan, hingga kekerasan tangan, semuanya sudah sering ia terima dalam diam dan kesabaran. Ia tetap berbakti, tetap memanggil lelaki itu dengan sebutan ayah, dan selalu berdoa agar suatu hari hatinya berubah. Namun hari ini… Hari ini ayahnya menjualnya. Tatapan pria itu berpaling, tak sanggup menatap mata putrinya sendiri. Seolah wajah Khalisa adalah cermin yang menelanjangi segala keburukan dan kebusukan dirinya. “Ikutilah mereka, Khalisa,” ucapnya lirih, namun terdengar begitu kejam. “Jadilah anak yang berbakti.” Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada dingin yang menusuk kalbu. “Atau kau ingin melihat ayahmu mati mengenaskan di depan matamu sendiri?” Khalisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air matanya jatuh tak sanggup lagi dibendung. “Aku tidak mau ikut mereka, Ayah,” suaranya bergetar hebat. “Aku ini putri Ayah…” Kata ‘putri’ terlontar sebagai permohonan terakhir. Namun, pria itu justru memejamkan matanya. Rahangnya mengeras, seolah ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya — atau mungkin memang sudah lama hancur dan tak terselamatkan. “Aku tak sudi memiliki anak sepertimu yang tak berguna!” bentaknya tiba-tiba. Khalisa tersentak kaget. “Kau itu hanya anak pembawa sial!” lanjutnya, suaranya menggema di antara dinding kontrakan yang sempit itu. “Istriku meninggal saat melahirkanmu! Sejak hari itu, hidupku hancur lebur! Aku membencimu, Khalisa. Aku sangat membencimu!” Setiap kata yang terlontar melayang laksana belati tajam. Menancap satu per satu tepat di jantung hati Khalisa. Ia terhuyung mundur, seolah baru saja ditampar oleh kenyataan yang paling kejam. Kalimat itu bukan hal baru baginya. Pembawa sial. Anak yang merenggut nyawa ibunya sendiri. Sejak kecil, Khalisa seolah tak pernah benar-benar memiliki sosok ayah. Ia tumbuh besar di bawah asuhan neneknya — satu-satunya orang yang selalu memeluknya dengan kasih sayang tulus tanpa syarat. Hingga akhirnya nenek itu pun pergi untuk selamanya, meninggalkan Khalisa sendirian menghadapi dunia yang kejam dan seorang ayah yang tak pernah menginginkan kehadirannya. Hari-harinya diisi dengan bentakan, tamparan, dan cacian. Namun Khalisa tak pernah membalas sedikit pun. Ia selalu percaya, bahwa suatu hari nanti hati ayahnya akan luluh. Bahwa ikatan darah tak mungkin sepenuhnya berubah menjadi kebencian. Konon katanya, seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Dan bagi Khalisa, cinta pertama itu tetaplah ayahnya, meski cinta itu hanya bisa ia simpan seorang diri, tanpa pernah sekalipun ia rasakan balasannya. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Matanya sembab, namun suaranya tiba-tiba terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihancurkan hatinya. “Baiklah, Ayah…” Semua mata yang ada di sana tertuju kepadanya. “Khalisa akan ikut bersama mereka,” lanjutnya dengan suara lirih. “Khalisa akan menjadi penebus utang Ayah.” * * “Kenapa kalian membawa makhluk aneh ini ke hadapanku?!” Pekikan itu menggema memenuhi ruangan luas berlantai marmer yang dingin dan mengkilap. Seorang pria berdiri tegak di sana, menatap tajam ke arah bawah. Sebuah bekas luka panjang membelah pipi kanannya, sementara ikat kepala berwarna hitam melingkar di kepalanya, memberikan kesan tegas dan mengintimidasi — seolah memberi tahu siapa saja bahwa pria ini bukanlah sosok yang bisa ditawar dengan belas kasihan. Dialah Aditya. Sosok yang dikenal sebagai “Hantu Gang”, nama yang membuat banyak orang gemetar ketakutan sekadar mendengarnya. Di hadapannya, Khalisa hanya bisa menggigil di balik cadarnya. Tangannya meremas kuat ujung kerudung panjang yang dikenakannya, seolah kain tipis itu adalah satu-satunya tameng terakhir yang tersisa untuk melindunginya dari dunia yang kejam ini. “Ma—maaf, Bos…” suara salah satu pria yang membawanya terdengar bergetar, nyaris tak terdengar. “Kami sudah menagih uang itu pada Bayu, tapi dia sama sekali tidak punya apa-apa untuk dibayar. Dia malah memaksa kami membawa putrinya ini. Katanya… putrinya sanggup melakukan pekerjaan apa saja.” Alis Aditya terangkat sebelah. Sudut bibirnya melengkung tipis membentuk senyum yang sama sekali tak ramah. “Termasuk menjual diri?” potongnya dengan nada santai, terlalu santai untuk sebuah kalimat yang begitu kejam dan merendahkan. Khalisa menggelengkan kepalanya dengan cepat dan keras. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah, jatuh membasahi kain cadar yang menutupi wajahnya. “T—tidak, Tuan.” Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa, memaksa suaranya terdengar jelas meski seluruh tubuhnya gemetar hebat. “Tuan boleh mempekerjakan saya apa saja… Selama itu tidak melanggar syariat agama yang selama ini saya junjung tinggi.” Ruangan besar itu mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara napas pelan dari orang-orang yang ada di sana. “Saya bisa memasak. Saya bisa mencuci. Saya bisa membersihkan rumah besar ini,” lanjut Khalisa dengan suara lirih namun tegas. “Apa saja… Asalkan halal.” Aditya tergelak rendah. Tawanya berat, membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya seketika berdiri. Ia mulai melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Khalisa secara refleks mundur selangkah. Ketakutan di matanya terlalu jelas untuk disembunyikan. “Hm?” Aditya berhenti tepat di hadapannya, jarak keduanya begitu dekat hingga Khalisa bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh pria itu. “Kenapa?” tanyanya, senyum sinis masih tercetak jelas di wajahnya. “Kau takut padaku?” Khalisa kembali menggeleng cepat. “Tidak… hanya saja—” “Hanya saja apa?” potong Aditya cepat. Tangan kanan Aditya terangkat perlahan. Gerakannya lambat, penuh rasa ingin tahu. Jemarinya yang kasar perlahan bergerak mendekat, nyaris menyentuh kain cadar yang menutupi wajah Khalisa. Rasa penasaran terhadap rupa di balik kain itu begitu jelas terbaca di matanya. “Jangan, Tuan!” Tanpa sadar, Khalisa menepis tangan itu dengan gerakan cepat. Plak! Suara tepisan kecil itu terdengar begitu keras di ruangan yang hening. Seketika itu juga, suasana membeku. Anak buah Aditya tersentak kaget. Mata mereka membelalak tak percaya. Tak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras. Menepis tangan sang bos adalah hal yang sama artinya dengan mengundang maut. Aditya menunduk, menatap punggung tangannya sendiri yang baru saja disentuh, lalu mendongak perlahan. Tatapannya berubah drastis, dari rasa penasaran menjadi amarah yang dingin dan mengerikan. “Berani sekali kau menentangku,” ucapnya pelan, namun nada bicaranya mengandung ancaman yang mematikan. “Apa kau tidak tahu siapa aku sebenarnya?” Ia melangkah maju lagi, semakin dekat, dan— Cekrek! Tanpa peringatan, tangan Aditya mencengkeram leher Khalisa dengan kuat dan kasar, tak memberi celah sedikit pun untuk bernapas. “Kalau aku mau,” desisnya tepat di dekat telinga gadis itu, “aku bisa menghabisimu detik ini juga.” Napas Khalisa tersengal-sengal, namun tak ada udara yang masuk. Tangannya gemetar berusaha mencengkeram pergelangan tangan Aditya, berusaha melepaskan cengkeraman yang begitu kuat itu, namun sia-sia. Pandangannya mulai berkunang-kunang, dadanya terasa semakin sesak seolah akan meledak.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
704.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
944.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
338.8K
bc

Not just, the Beta

read
337.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook