Arga masih memasang senyum tertampan, sedangkan Intan malah merasa melayang. Kehadiran Arga di depan matanya justru membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat, kakinya terasa dingin mendadak.
"Halo, Intan? Are you oke?" Arga khawatir karena melihat Intan yang berdiri mematung tanpa reaksi.
"Intan? halo? kamu nggak apa-apa, kan?"
Arga semakin was-was karena melihat Intan tetap bergeming dengan tatapan kosong.
"Intan? kamu kenapa? Kok diem gitu?"
Intan semakin merasa lemas dan pandangannya mulai menggelap. Sejurus kemudian gadis berambut panjang itu lalu ambruk di lantai.
"INTAN!" seru Arga.
Polisi tampan itu gegas berlari keluar dari kamar Semeru dan menuruni tangga. Seisi rumah kebingungan melihat Arga yang seperti kesetanan.
"Arga? Kamu mau kemana?" tanya Ibun.
Polisi tampan itu bahkan tak menoleh saat menjawab pertanyaan sang ibu. Segera Arga menyeberang jalan dan mengetuk pintu rumah Om Hasan dengan terburu-buru.
"Lho, Mas Arga? Ada apa, Mas?" Yudith keheranan melihat Arga yang panik dan ngos-ngosan.
"Intan, Dith. Intan pingsan," jawab Arga dengan terengah.
"Pingsan? Kak Intan lagi di kamar kok." Yudith semakin tak mengerti dengan maksud Arga.
"Iya, di kamar, dia pingsan di balkon. Boleh saya kesana?"
"Masa sih? Oh, ya boleh-boleh."
Arga lalu mengikuti Yudith ke lantai dua. Tak terlihat Om Hasan dan Tante Fitri.
"Om Hasan kemana?"
"Oh, Papa sama Mama lagi di kamar."
Sesampai di depan kamar Intan, Yudith coba mengetuk pintu dan memanggil sepupunya, tapi tak ada jawaban. Maka anak Om Hasan itu lalu membuka pintu yang tak terkunci.
"Kak? Kak Intan?"
"Itu!" pekik Arga saat melihat ke arah balkon.
"Astaghfirullah!"
Arga segera berlari menghampiri Intan yang masih tergeletak di lantai balkon. Dengan sigap, polisi tegap itu membopong gadis cantik incarannya ke atas pembaringan.
"Kok Mas Arga bisa tahu Kak Intan pingsan?" tanya Yudith heran.
"Oh, itu, tadi kami lagi ngobrol di telepon. Terus tiba-tiba Intan pingsan."
"Jadi kalian udah kenal?"
Arga hanya mengangguk sambil mengipasi Intan dengan buku yang ada di nakas.
"Dith, boleh ambilin minum sama minyak kayu putih?"
"Ok, bentar. Sekalian saya panggil Mama yah."
Arga menanggapi dengan senyum dan mengangguk. Polisi tampan itu lalu menyelimuti kaki Intan yang terasa dingin. Sejenak, ia menikmati wajah cantik natural yang terlihat pucat.
Reflek Arga menyibak rambut yang menutupi wajah Intan. Lelaki tegap itu tersenyum penuh makna. Kini ia yakin siapa perempuan yang pantas ia perjuangkan dan halalkan.
"Astaghfirullah! Intan kenapa bisa begini?" Tante Fitri dan Om Hasan datang dengan wajah panik.
Yudith menyusul membawa segelas air putih dan botol minyak kayu putih, kemudian menyerahkan pada ibunya.
"Maaf Tante, tadi Intan lagi ngobrol sama Arga di telepon. Terus tiba-tiba dia pingsan," terang Arga.
"Intan emang punya darah rendah, dulu waktu sekolah juga sering pingsan kalau lagi upacara atau pelajaran olahraga, apalagi kalau lagi kecapean atau banyak pikiran," ucap Tante Fitri sambil sibuk mengusap minyak kayu putih di kening, hidung, tangan dan kaki Intan.
Tak berselang lama, mata Intan perlahan terbuka. Seisi ruangan mengucap hamdalah. Sementara Intan mengerjap sembari menahan kepala yang masih terasa berat dan berputar. Ia sempat terkejut melihat banyak orang yang menatapnya dengan binar bahagia. Terutama saat melihat wajah Arga yang tersenyum merekah.
"Minum dulu, Ntan," tawar Tante Fitri.
"Biar Arga bantu." Tanpa diminta Arga lalu membantu Intan untuk duduk.
Kembali Intan hanya bisa pasrah dengan perlakuan manis Arga. Gadis berponi itu berusaha untuk bersikap biasa meski kini hati dan tubuhnya sedang tak baik-baik saja.
"Kamu ada yang sakit nggak?" Arga tampak khawatir mengingat bagaimana tubuh Intan terjatuh di lantai.
Intan hanya menggeleng sambil menunduk.
"Mas Arga, kalau besok Intan masih sakit apa boleh izin dulu magangnya?" tanya Om Hasan.
"Oh, boleh kok, Om. Nanti Arga sampein ke Kapten Fendi."
"Eh, nggak usah, Om. Intan udah baikan kok, udah nggak apa-apa," bantah Intan.
"Tapi kamu masih pucet gitu, Ntan. Kamu juga pasti masih lemes, kan?" Tante Fitri memastikan.
"Udah nggak apa-apa kok, Tante."
"Ya sudah, kalau besok Intan masih mau masuk magang, biar berangkat bareng Arga aja Om, Tante. Jadi nanti bisa Arga jagain," ucap Arga tegas.
Mata Intan langsung membulat, ternyata dia salah langkah lagi.
"Wah boleh deh, kalau gitu Om titip Intan ya."
Intan menggeleng samar.
"Siap, Om! Kalau gitu Arga pamit dulu ya, Om, Tante, Yudith. Biar Intan istirahat," Arga beranjak dari duduknya.
Om Hasan dan Tante Fitri mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Saya pulang dulu yah, kamu istirahat aja. Besok kita ke kantor bareng." Lagi, Arga mengusap kepala Intan.
Kembali Intan membeku, sedangkan Om Hasan, Tante Fitri dan Yudith saling melirik dan mengulum senyum. Arga lalu berpamitan. Intan pun baru merasa lebih lega saat tubuh tegap polisi tampan itu menghilang di balik pintu kamar.
"Intan, Arga perhatian banget sama kamu. Kayaknya dia suka sama kamu deh," goda Tante Fitri.
"Iya, Kak. Tadi juga pas tahu Kakak pingsan, muka Mas Arga juga panik banget," imbuh Yudith.
Om Hasan mengangguk-angguk, "pantesan tadi sore Arga kelihatan seneng banget pas tahu kamu nginep di sini." Om Hasan ikut menyimpulkan.
"Ha? maksudnya, Om? Jadi Om yang bilang Intan ada di sini?"
"Yah, tadi Om cuma bilang kalau ponakan Om yang lagi magang di Polres nginep di sini, sapa tahu Arga kenal kan bisa bantuin kamu. Eh, ternyata kalian satu ruangan."
Semua tertawa menggoda, tidak dengan Intan. Esok ia harus menyiapkan hati lebih kuat lagi karena otomatis akan berangkat dan pulang bersama Arga selama tinggal di rumah Om Hasan.
Keluarga Om Hasan lalu pamit dari kamar Intan dan mempersilahkannya untuk istirahat. Gadis berponi itu belum berniat untuk tidur, degup jantungnya masih belum normal, matanya pun tak jadi mengantuk.
Ia memutuskan untuk mengambil gawai dan mulai berselancar di dunia maya. Entah bisikan setan dari mana, jemari Intan justru mengetik nama Arga Sena Rahadian di kolom pencarian media sosial. Tapi hatinya sedikit kecewa karena tak menemukan jejak Arga di media sosial. Intan lalu memilih untuk mengunci layar gawainya dan meletakkannya di nakas.
Baru saja akan memejamkan mata, nada dering ponselnya kembali berdering. Intan lalu mengambil benda pipih nan canggih itu dari nakas, seketika jantungnya kembali kembang kempis melihat nomor asing yang tadi meneleponnya.
"Duh! kenapa telepon lagi, sih?"
Intan lalu mengusap layar tapi tak bersuara.
"Hey, saya tahu kamu pasti belum bisa tidur, kan?" sapa suara dari ujung telepon.
Intan mengernyit, ia heran mengapa Arga selalu saja tahu apa yang dia lakukan.
'Apa dia cenayang?'
"Halo, Intan? Kamu nggak pingsan lagi, kan?" tanya Arga memastikan.
"Ck, nggak!" Intan mencebik.
Arga malah terbahak, Ia semakin gemas dengan Intan. Polisi tampan itu yakin sebenarnya Intan punya rasa yang sama dengannya, hanya gadis itu mencoba menutupi dan menepisnya.
"Jadi besok kita berangkat jam berapa? Kan, di sini lebih deket ke kantor dari pada dari rumah kakek kamu," ucap Arga dengan nada meledek.
"Terserah Kakak aja!" Intan masih kesal.
"Oke, kalau gitu jam tujuh kurang lima belas aku jemput yah. Mau jemput di depan pintu atau depan balkon, hmm?"
"Depan gerbang perumahan aja, Kak!" jawab Intan asal.
Arga kembali terbahak, rasanya ia sudah lama tak merasakan euforia bertelepon dan bercanda dengan perempuan kesayangan di malam hari seperti ini.
"Oke, kalau gitu aku jemput depan kamar aja gimana?"
"Terserah Kakak deh!" Intan semakin kesal, tapi Arga justru semakin senang.
"Oya, sabtu besok kita jalan, yuk."
Arga memulai aksi pendekatannya. Ia merasa Intan sudah cukup umur untuk diajak berkencan.
"Jalan? Nggak mau ah, capek! Silahkan Kakak aja yang jalan. Saya mending naik ojek aja."
Kembali Arga tertawa, rasanya semua kata yang keluar dari mulut Intan begitu lucu dan membuatnya semakin gemas. Jika saja jarak mereka dekat, mungkin Arga sudah mengacak rambut, mencolek hidung, mencubit pipi atau memeluknya.
"Maksudnya, sabtu besok kita jalan-jalan berdua, ke dufan, ancol, nonton atau makan bareng gitu."
Sebenarnya Intan sudah paham arah pembicaraan Arga, hanya saja ia tak mau gede rasa dan berharap lebih. Intan takut kecewa dan patah hati, ia belum siap mental untuk itu.
"Intan? Gimana? mau, kan?"
"Eh, nggak bisa kayaknya, Kak. Saya mau pulang ke rumah kakek. Biasanya kalau sabtu nenek ngajak ke pasar."
"Eumm, ya udah kalau gitu sekalian ajak kakek sama nenek kamu aja. Kita berempat jalan-jalan ke pasar, terus siangnya makan bareng. Gimana?"
Intan menepuk jidat. Ia bingung mencari alasan apa lagi.
"Intan?"
"Ya?"
"Saya tahu kok kamu lagi berusaha menghindari saya."
Deg!
Mata Intan membulat, tubuhnya bangkit dari rebah dan terduduk tegak.
'Fixed! Dia cenayang!' duga Intan.