"Kak?" panggil Intan. "Ya, Sayang?" jawab Arga dengan netra masih fokus menatap jalanan aspal, tapi tangan kirinya setia menggenggam tangan kanan Intan. "Kakak yakin mau nikah sama aku? Aku kan--," kalimat Intan terpotong oleh Arga. "Sssh ... udah yah, Sayang, stop! Kamu nggak perlu nanya itu terus karena kamu sebenernya udah tahu jawabannya. Oke?" Intan menghela napas, Arga mengusap kepala kekasihnya. "Sekarang yang harus kita bahas dan lakuin adalah minta restu papa kamu, terus nentuin hari H lamaran kita, nentuin hari H nikahan kita, beli seserahan, pilih-pilih undangan, venue, catering, terus apa lagi yah?" Arga tampak berpikir. Bukan Intan tak seantusias Arga, jujur gadis berambut panjang itu pun begitu bahagia saat masalah hukum yang sempat menyeretnya telah selesai, kemudian d
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


