bc

Skandal Kotor dengan Tuan Miliarder

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
contract marriage
HE
forced
friends to lovers
arrogant
confident
boss
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
bxg
lighthearted
kicking
bold
genius
city
office/work place
lies
office lady
assistant
like
intro-logo
Uraian

[Warning Area 21+⚠️]

"Aku bukan milik kamu atau siapapun. Kamu yang menjebakku, sialan!" Sentak Misty, mendorong d**a Leon dengan geram.

"Katakan itu lagi setelah aku membuatmu berteriak, menyebut namaku sepanjang malam, sayang." Leon menekan tubuh Misty ke dinding kamar.

***

Satu skandal. Satu Jebakan. Dan kini, Misty tak bisa lari.

Saat foto dirinya dengan Leonhart Vossen tersebar, dunia Misty berubah 180°. Anehnya, CEO tampan itu tidak membantah, justru mempermainkannya. Seakan... dia telah mengatur segalanya sejak awal.

Leon selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan, kali ini dia menginginkan Misty.

chap-preview
Pratinjau gratis
01| Kacau (Awal Skandal)
Kacau. Situasinya mulai tak terkendali, wartawan dari berbagai media menelpon tanpa henti dan email masuk bertubi-tubi. Semua ingin mendapatkan konfirmasi langsung dari perusahaan tentang skandal yang menjerat aktor mereka yang sedang naik daun. Ini adalah mimpi buruk, terlebih untuk Public Relation Team (PR team) Spectra Ent. Ditengah kekacauan itu, ada satu orang yang menarik perhatian lebih dibandingkan skandal bintang mereka. Dia, Misty. Benar, Misty yang merupakan bagian Media Relations Officer di PR team. Bagian yang memang berhubungan dengan media, termasuk menjawab para wartawan. "Aku khawatir, Misty terlalu maksain diri." Bisik Amanda seraya meletakan gagang telpon, salah satu tim PR yang duduk di seberang meja Misty. "Aku juga, baru kemarin sore ibunya meninggal, aku gak nyangka dia bakalan langsung balik kerja, dan si Ashel sialan malah bikin skandal." Sahut Marsha dari meja sebelah. "Aku juga denger kalau ibunya itu keluarga dia satu-satunya, sekarang dia sendirian." Perasaan iba mereka kembali teralihkan ketika telpon di meja masing-masing kembali berdering. Di koridor kantor pun beberapa orang dari tim lain tampak berdiri, melihat ke dalam ruang PR team sambil berbisik-bisik dengan terus menatap Misty yang tenggelam dalam sikap profesional hingga lupa untuk memvalidasi perasaannya sendiri. Atau bahkan dia sengaja menyibukkan diri untuk menekan rasa duka atas kehilangan. "Seseorang harus menghentikan dia, iya kan? Dia bisa tumbang kapan aja, itu gak baik." Kata dia yang mengintip dari dinding kaca, kemudian kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. Mereka semua menatap Misty dengan khawatir, melihat bagaimana dia menjawab panggilan telepon dengan cepat dan efisien. Misty tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan atau kelelahan, tapi teman-temannya tahu bahwa dia pasti sedang memaksakan diri. "Temen-temen, kepala tim kita, kak Yena kan gak bisa masuk hari ini, jadi dia minta aku buat gantiin. Kalian bisa tanya ke aku kalau ada yang kebingungan, jangan kasih konfirmasi apapun tentang skandalnya Ashel. Surat pernyataannya masih diurus." Ucap Misty pada rekan satu timnya. Amanda menatap Misty dengan intens, "Mist, kamu... Gak pa-pa?" Misty menoleh padanya, "Yeah, aku gak pa-pa, kita kan pernah lebih sibuk dari ini." Katanya dengan enteng. "Nggak, maksud aku bukan situasi kerjaan kita. Aku tanya kamu, perasaan kamu. Kamu beneran gak pa-pa? Kenapa gak ambil cuti aja, kamu butuh itu," ucap Amanda. "Kami semua bisa tanganin ini kok." Karyawan satu tim lainnya mengangguk setuju. Misty yang terlihat baik-baik saja setelah baru saja kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa membuat mereka semua khawatir bukan main. "Aku gak pa-pa." Ucap Misty, lalu terdiam untuk beberapa saat sebelum lanjut berkata, "Aku ke kamar kecil dulu. Kalau telpon di meja aku bunyi, tolong angkatin ya," "Okay, santai aja. Kita ada di sini, kok." Kata Marsha. Namun, belum sempat dia meninggalkan meja, tiba-tiba saja telpon kembali berdering. Misty menahan langkahnya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum berkata, "Selamat siang, Public relations team di sini, apa ada yang bisa saya bantu?" "Datang ke ruangan saya, sekarang." Hanya itu yang diucapkan pria di seberang telpon sana. Misty yang kurang fokus langsung melihat display LCD dan menampilkan nomor internal kantor serta nama. CEO Spectra Ent. Misty menghela nafas, niatnya pergi ke kamar kecil pun harus ia urungkan. "Aku dipanggil ke ruang pak CEO," kata Misty memberitahu rekannya agar tidak kebingungan mencari. "Pak Leonhart?" "Emangnya siapa lagi?" Misty tersenyum tipis. "Bentar lagi kan istirahat makan siang, kalian duluan aja ya." Amanda dan Marsha mengangguk, dua orang itulah yang dekat dengannya selain kepala tim, Yena. Jika bukan karena mereka, Misty tidak akan bertahan sampai 2 tahun bekerja di perusahaan itu. Terlebih lagi ketika dia masih di divisi umum, ada beberapa orang yang menargetkannya untuk dibully. Ia berterima kasih karena Yena menariknya ke dalam tim PR dan bertemu orang-orang baik lain. Misty berjalan menyusuri lorong menuju lifr untuk memenuhi panggilan Leonhart Vossen, CEO mereka yang terkenal akan sikap tegas dan juga disiplinnya. Tak sedikit karyawan yang membencinya semenjak dia mulai menjabat. Dengan tatapan kosong, Misty berjalan masuk ke dalam lift yang untung saja tidak ada siapa-siapa. Dia tak perlu memberikan senyum pura-pura ketika tidak ada siapapun disekitarnya. "Lantai 20?" Misty terkejut, tersadar dari lamunan. Ia tidak sadar ada orang lain yang masuk setelahnya. Misty mengangguk tanpa menoleh, "Saya lupa menekan tombolnya, terima kasih." "Saya?" Orang itu tertawa pelan, memaksa Misty untuk menoleh dan memastikan siapa yang menertawakan kesopanannya. "Oh? Kevin, kamu? Ish! Aku kira siapa," Misty memukul pelan lengan kenalannya. Dia, Kevin Prawira, teman kantor Misty yang belum lama ini menjadi manager untuk divisi marketing dan promosi. "Dipanggil Pak Leon?" Tanya Kevin. Misty mengangguk, "Iya, kamu?" "CMO kita, Pak Wisnu." Jawab Kevin dengan tatapan yang tidak lepas dari Misty. Hening. Setelahnya tak ada yang mengatakan satu kata pun. Misty tenggelam dalam pikiran yang entah seberantakan apa isinya, dan Kevin sibuk menebak isi kepala Misty. Pria itu tahu benar bahwa gadis di sampingnya ini sedang tidak baik-baik saja. "Kamu gak pa-pa?" Misty menoleh, "Hm?" "Aku turut berduka. Maaf karena kemarin gak bisa datang. Gak seharusnya aku ngebiarin kamu sendirian." Ucap Kevin dengan tulus. Berduka. Pikiran Misty langsung terlempar pada kejadian kemarin, dimana dia mengantarkan mendiang ibunya ke tempat peristirahatan terakhir. "Kamu bener, aku... aku lagi berduka." Gumam Misty, "Harusnya aku berduka." Lirihnya. "Hey, kamu--" "Tapi kenapa aku gak ngerasain apa-apa?" Misty mendongak, menatap pantulan diri di pintu lift. "Kevin, harusnya aku berduka, kan?" Belum sempat Kevin mengatakan apa-apa, pintu lift terbuka di lantai tujuan mereka, lantai 20. Misty melenggang keluar terlebih dahulu, dan Kevin bergegas menyusulnya. "Misty, mending kamu pulang deh. Gak bisa kamu maksain kerja dalam kondisi kayak gini. Biar aku yang izin, aku anter kamu pulang, okay?" Kevin menahan lengan Misty yang tiba-tiba saja menjadi pucat dan tatapannya kosong. "Kamu denger aku, kan?" Misty melepaskan genggaman Kevin, "Aku gak pa-pa." Setelah mengatakan itu, Misty berjalan menuju ruangan CEO dengan langkah gontai. Saat itu pikirannya mulai memutar ulang kejadian-kejadian buruk dalam hidupnya. Misty kesulitan untuk merapikan isi pikiran yang kusut itu. Dia memutuskan untuk terus berjalan tanpa membawa pikiran apapun. Kosong. Cklek. Seseorang membuka pintu dari dalam sebelum Misty sempat mengetuk. Seorang pria tinggi dengan tatapan tajam berdiri tepat di depannya, tapi sesaat kemudian tatapan itu berubah menjadi kebingungan. "Saya belum sempat mengatakan apa-apa dan kamu udah nangis kayak gini, seriously?" Ucap pria itu tak habis pikir. Dialah orangnya, Leonhart Vossen, CEO yang diam-diam ditakuti karyawannya. Misty mendongak, menatap pria jangkung itu dengan berurai air mata. "Saya..." "Berhenti menangis, kita harus bicara." "Sa-saya... Saya gak bisa berhenti nangis, Pak. Maaf..." Racau Misty disela tangisannya. "Air matanya gak mau berhenti, Pak. Saya... Saya harus gimana ini...?" Leonhart tambah kebingungan ketika tangisan Misty semakin pecah setiap kali diminta untuk tenang. Pada akhirnya, mereka berakhir dengan hanya berdiri diambang pintu. Leon yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa pun hanya bisa diam, memandangi Misty yang menangis pilu. "Memangnya sesakit apa sampe dia nangis kayak gini?" Gumam Leonhart bertanya-tanya. Tangisannya sangat pilu, siapapun yang mendengarnya pasti akan ikut bersedih tanpa harus tahu apa yang menjadi penyebabnya. Leonhart menghela nafas panjang, lalu berkata, "Mau peluk?" Singkat, padat, dan hug. Misty mengambil satu langkah lebih dekat, kemudian tanpa mengatakan apa-apa, Leonhart merangkul tubuh mungil gadis malang itu ke dalam pelukannya. Dengan menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang sang atasan, tangisan Misty semakin tidak terkendali. Misty histeris, mengeluarkan semua rasa sesak yang sudah menggunung terlalu lama. "Ibu... Kenapa Ibu pergi?? Aku takut, Bu... Aku ta-takut." Racaunya disela tangisan. "Ba--bahkan setelah berkorban banyak, Ibu tetep pergi... Pulang Bu, kembali..." Leonhart terdiam, membeku. Dia tahu ada orang tua dari karyawannya yang meninggal kemarin, tapi siapa sangka jika karyawan itu tetap masuk dan turut membereskan kekacauan salah satu talent perusahaan padahal dirinya sendiri sedang hancur. "Sssh... Gak pa-pa, hari ini kamu boleh nangis sepuasnya." Ucap Leonhart seraya mengelus kepala Misty yang pelukannya semakin mengerat. Jika ada orang yang mengerti arti kehilangan seorang Ibu, maka Leonhart orangnya. Dia tahu persis sesakit apa kehilangan rumah yang semenjak lahir telah melindunginya dari banyak bahaya dan kejamnya dunia. Tanpa mereka sadari, Kevin dan Pak Wisnu memandangi mereka dalam diam dari kejauhan dengan sebuah ponsel yang ragu-ragu mengambil gambar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.4K
bc

Kali kedua

read
220.0K
bc

TERNODA

read
200.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
81.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook