Cahaya matahari masuk melalui sela tirai kamar, jatuh tepat di sisi wajah Rayna. Ia mengerjap pelan sebelum akhirnya membuka mata sepenuhnya. Di sebelahnya, Sandy masih terlelap, satu lengannya terulur seolah semalam tak pernah dilepaskan.
Rayna tersenyum kecil. Ia bangun pelan, berhati-hati agar tidak membangunkan Sandy.
“Mas,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Tidak ada reaksi.
Rayna bangkit, merapikan selimut Sandy sebisanya, lalu melangkah ke kamar mandi. Suara air mengalir menjadi satu-satunya bunyi pagi itu.
Saat Rayna keluar, Sandy sudah duduk di tepi ranjang, rambutnya sedikit acak-acakan.
“Kamu ke mana?” tanyanya, suara masih berat oleh kantuk.
“Mandi,” jawab Rayna sambil mengeringkan rambut. “Kupikir kamu masih tidur.”
Sandy mengangguk, mengusap wajahnya. “Aku mimpi aneh.”
Rayna menoleh. “Tentang apa?”
Sandy menggeleng. “Nggak jelas. Kayak dikejar sesuatu.”
Rayna tertawa kecil. “Kamu kebanyakan mikir.”
“Mungkin,” sahut Sandy sambil berdiri. “Hari ini kamu ke butik, Sayang?”
“Iya. Ada jadwal biasa,” jawab Rayna. “Kamu?”
“Kantor.”
Rayna memperhatikan Sandy sekilas. Tidak ada yang berubah, cara bicaranya sama, suaranya sama. Tapi Rayna tidak tahu kenapa, ada jeda kecil di antara kalimat-kalimatnya.
Sarapan berjalan seperti biasa. Ijah menata meja, Mirna menuangkan teh.
“Pak, Bu, mau telur dadar atau omelet?” tanya Mirna.
“Omelet,” jawab Rayna.
“Telur dadar aja,” sahut Sandy.
Mirna tersenyum. “Siap.”
Rayna mengaduk tehnya. “Mas, nanti pulang jam berapa?”
“Kayaknya agak sore,” jawab Sandy. “Ada meeting.”
Rayna mengangguk. “Aku nunggu.”
Sandy menoleh. “Jangan nunggu. Kalau capek, tidur dulu.”
Rayna tersenyum. “Aku nunggu kalau aku mau.”
Sandy tertawa kecil. “Iya, Sayang.”
Di mobil, suasana hening tapi nyaman. Arman menyetir seperti biasa.
“Pak,” kata Arman setelah beberapa saat. “Macet agak padat hari ini.”
“Iya, Man. Santai saja,” jawab Sandy.
Rayna melihat ponselnya sebentar, lalu menyimpannya kembali. “Aku kepikiran buat ganti etalase butik.”
Sandy menoleh. “Kenapa?”
“Biar kelihatan segar,” jawab Rayna. “Kadang yang datang cuma perlu lihat sesuatu yang baru.”
Sandy mengangguk. “Kamu selalu ngerti itu.”
Rayna tersenyum. “Belajar.”
Setelah Rayna turun di butik, Sandy melanjutkan perjalanan ke kantor. Senyum di wajahnya memudar perlahan ketika mobil mulai menjauh.
***
Di kantor, Sandy duduk di kursinya, membuka laptop. Pekerjaan menumpuk, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Ponselnya bergetar. Ia melirik lagi.
**JOKO (3 missed calls)**
Sandy menghela napas pelan, lalu meletakkan ponsel itu menghadap meja. Ia memilih membuka berkas, mencoba fokus.
“Pak Sandy?” seorang staf mengetuk pintu. “Meeting sepuluh menit lagi.”
“Iya,” jawab Sandy cepat. “Aku menyusul.”
Meeting berjalan normal. Angka, rencana, target. Sandy berbicara seperlunya, mengangguk, memberi arahan singkat. Tidak ada yang menyadari bahwa pikirannya sesekali melayang.
Saat meeting selesai, Sandy kembali ke ruangannya. Ponselnya kembali bergetar.
**JOKO**
Kali ini Sandy mengangkat.
‘Iya,’ katanya singkat.
Hening sebentar.
‘Jangan sekarang,’ Sandy menekan suaranya. ‘Aku di kantor.’
Ia berdiri, berjalan ke jendela. ‘Aku tahu. Tapi aku juga punya hidup.’
Sandy menutup mata. ‘Aku nggak kabur.’
Telepon ditutup.
Sandy berdiri lama di sana sebelum akhirnya duduk kembali. Ia menatap layar laptop tanpa benar-benar melihat isinya.
Sementara itu, di butik, Rayna sedang berdiri bersama Juju.
“Kamu kelihatan capek,” kata Juju sambil melipat kain.
Rayna menggeleng. “Nggak. Cuma kepikiran desain.”
Juju menyeringai. “Atau, kepikiran suami?”
Rayna tertawa kecil. “Kamu ini.”
“Jawabannya tidak menyangkal,” sahut Juju.
Rayna menghela napas pelan. “Dia kerja keras.”
“Dan, kamu nunggu di rumah dengan sabar,” Juju menimpali.
Rayna tersenyum tipis. “Kami saling.”
Sore hari, Rayna pulang lebih dulu. Rumah terasa tenang. Ia mengganti baju, lalu duduk di ruang keluarga dengan buku di tangan. Namun, beberapa halaman berlalu tanpa benar-benar dibaca.
Ponselnya berbunyi.
Sandy: Pulang agak telat. Jangan tunggu.
Rayna membaca pesan itu dua kali.
Rayna: Hati-hati di jalan. Aku di rumah.
Rayna meletakkan ponsel, lalu memeluk bantal di sofa. Tidak ada rasa marah. Hanya perasaan… kosong yang belum punya nama.
Malam turun. Lampu-lampu rumah menyala.
Saat Sandy akhirnya pulang, Rayna sudah duduk di meja makan. Rayna masih menunggu Sandy, ia seolah ingin tahu Sandy kenapa, dan kenapa sibuk sekali, di hubungi pun tidak bisa, selalu tak aktif atau tidak terhubung.
“Kamu belum tidur?” tanya Sandy.
Ternyata Sandy sudah di rumah, Rayna mendesah napas halus.
“Nunggu kamu,” jawab Rayna.
“Kamu capek,” kata Sandy.
“Sedikit,” jawab Rayna jujur.
Mereka makan dengan tenang.
“Kerjaannya berat?” tanya Rayna.
Sandy mengangguk. “Lumayan.”
Rayna tidak bertanya lebih jauh.
Di kamar, Sandy duduk di tepi ranjang, membuka dasinya. Rayna berdiri di depan cermin.
“Kamu mau cerita?” tanya Rayna pelan.
Sandy terdiam sejenak. “Nanti.”
Rayna mengangguk. “Aku tunggu.”
Sandy menatap Rayna lama. “Kamu baik banget sama aku.”
Rayna tersenyum. “Kamu suamiku, Mas.”
“Terima kasih,” ucap Sandy.
“Kamu sudah makan malam? Kalau nggak, aku siapin.”
“Udah, Sayang, aku tadi udah makan. Kita tidur aja ya malam ini, aku lelah.”
Lampu dimatikan. Mereka berbaring berdampingan. Rayna menatap langit-langit gelap. Sandy menatap ke arah lain. Dua orang di ranjang yang sama, dengan jarak yang belum terlihat, tapi mulai terasa.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Rayna tertidur, Sandy mengambil kesempatan itu untuk ke ruang kerjanya.
Sandy duduk sendirian di ruang kerjanya, lampu meja menyala setengah. Ponsel di tangannya terasa lebih berat dari biasanya.
**JOKO**
Nama itu muncul lagi. Dan, kali ini, Sandy tahu betul, bukan sekadar nama.
Ia menelan ludah sebelum mengangkat. “Iya.”
Suara perempuan di seberang terdengar tegang, tertahan, seperti menahan tangis yang tak jadi keluar.
‘Kamu janji,’ katanya. ‘Aku capek nunggu.’
Sandy memejamkan mata. Kepalanya berdenyut. ‘Aku nggak janji hari ini.’
‘Kamu selalu bilang nanti,’ suara itu meninggi. ‘Aku butuh kepastian.’
Sandy berdiri, berjalan mendekat ke jendela. Kota di bawah tampak biasa saja, terlalu tenang untuk kekacauan di dadanya.
‘Ras,’ katanya lirih, menyebut panggilan yang hanya mereka gunakan. ‘Jangan seperti ini.’
‘Aku harus bagaimana lagi?’ suara itu bergetar. ‘Kamu hilang, kamu diam, kamu—'
‘Cukup,’ potong Sandy pelan, tapi tegas.
Hening. Lalu napas pendek terdengar.
‘Aku cuma mau kamu jujur,’ katanya. ‘Aku bukan orang lain. Setiap aku telepon, jawabanmu selalu begitu. Kalau nggak langsung di matiin.’
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari teriakan. Sandy mengusap wajahnya, lelah.
Telepon ditutup. Bukan oleh Sandy.
Ia menatap layar yang kembali gelap. Jari-jarinya gemetar sedikit sebelum akhirnya ia meletakkan ponsel di meja, layar menghadap bawah—seolah dengan begitu, suara itu tak bisa kembali.
Teror itu bukan dalam bentuk ancaman, teror itu hadir sebagai tuntutan untuk diakui.
Sebagai suara yang mengingatkan bahwa ada hidup lain yang menunggu dan tidak mau lagi disembunyikan.
Sandy duduk kembali. Bahunya merosot. Ia tahu, setiap panggilan dari Joko bukan sekadar panggilan. Itu pengingat. Tentang pilihan yang ditunda. Tentang kejujuran yang belum berani ia buka.
Yang paling menyesakkan adalah tentang Rayna.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan.
JOKO : Aku cuma minta kamu datang. Sekali ini saja.
Sandy tidak membalas.
Ia menyandarkan kepala ke kursi, menarik napas panjang. Di kepalanya, dua dunia saling bertabrakan. Satu menuntut kehadiran. Satu lagi menuntut kesetiaan dan di antara keduanya, Sandy terjebak lelah, takut, dan semakin kehilangan tempat untuk bersembunyi.