Bab 9

2565 Kata
Cinta itu tidak hanya tentang sebuah kebahagiaan saja, dimana kita bisa sepenuhnya memiliki hati orang yang kita cintai. Namun cinta juga tentang apa itu artinya sebuah patah hati.                                                                                          * * * *     BUGH! Dengan tiba-tiba Keano menghajar wajah Gara hingga babak belur, dia mencekal krah baju seragam cowok itu dan langsung meninju Gara dengan membabi buta. Keano tidak takut dengan Gara---cowok bad boy dengan tampang dingin dan sekaligus menyandang status kakak kelasnya dan juga ketua OSIS tersebut, yang hanya ada dipikirannya kenapa Gara membuat isu bodoh dirinya dengan Tasya yang tengah berjalan beriringan disebuah arena balapan dan berita itu langsung saja menggemparkan satu sekolah dan menyebutkan bahwa sekarang Tasya dan Keano resmi pacaran. Dan di arena balapan itu rumor yang beredar, Keano tengah merebutkan Tasya. Hellow, Keano saja masih susah move on gimana mau dekat dengan Tasya?! "Apa maksud lo buat berita murahan ples hoax kayak gitu ha?!" bentak Keano dengan menatap tajam wajah Gara yang berada di depannya. Gara malah tersenyum sinis, "Kenapa? Takut kedok lo kebongkar karena selama ini lo diem-diem suka ikut balapan dan geng?" tanyanya dengan seringai. Keano mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menonjok wajah Gara tapi hal itu ditangkis cepat oleh Gara dan laki-laki itu gantian menghantam pelipis wajah Keano. Keano jatuh terjungkal ke belakang, dia memegang pelipisnya yang sedikit berubah warna menjadi ungu dan memar. "b*****t lo anjing!" umpat Keano. Tanpa banyak bicara Keano bangun dan langsung memukuli Gara tanpa ampun sampai-sampai lelaki itu tidak bisa berkutik lagi. "Hehh apa-apaan ini?! Berhenti!!!" kepala sekolah yang sekaligus menjabat sebagai guru olah raga itu langsung menghentikan aksi perkelahian antara Keano dan Gara. Wajah kedua laki-laki itu sama, babak belur dan sedikit berdarah. Pak Alifi langsung menjewer telinga Keano dan Gara seketika dua cowok itu mengaduh kesakitan. "Dijewer saja bisa mengaduh! Kenapa berantem nggak mengaduh?!" bentaknya. Tatapan kepala sekolah itu berpindah ke arah Gara, "Gara! Kamu itu ketua OSIS! Apa ini contoh yang kamu berikan ha?!" tanya Pak Alifi dengan nada yang membentak pada Gara. Lelaki itu hanya diam, sedangkan Keano menatap sinis laki-laki itu. Ingin sekali dia menempeleng kepala Gara! Kenapa ada modelan cowok seperti Gara di sekolah ini. "Kamu juga Keano! Kamu itu masih murid baru! Kenapa udah bikin ulah. Apa kayak gini kelakuan kamu di sekolah yang lama?!" cecar Pak Alifi. "Iya." Pak Alifi geleng-geleng kepala mendengar jawaban Keano yang kelewat santai itu, kemudian dia melepaskan jeweran yang berada ditelinganya. "Saya permisi Pak," pamit Keano kepada Pak Alifi. Keano berjalan menjauh dari tempat itu dengan memegangi wajahnya. Semua orang yang melihat Keano langsung menghindar dan menatap cowok itu ingin membantu. Tapi Keano malah menatap mereka dingin. Keano berjalan melewati semua murid yang menatapnya, dia sedikit berlari sambil memegangi luka yang ada disudut bibirnya. Entah secara sengaja atau tidak, ternyata ada yang menabraknya dengan tiba-tiba. "Akhh!" pekik Keano sakit. "Eh sori, sori. Keano?! Wajah lo kenapa?" Alea menyentuh luka diwajah Keano dengan pelan. "Biasa anak cowok, kalau nggak bonyok ya nggak laki." jawab Keano diiringi dengan kekehannya. Alea menjitak Keano pelan, "Awwhh." Dia mengaduh sakit. "Sukurin, yaudah sini ikut gue!" tanpa menunggu persetujuan Keano justru Alea malah langsung menarik lengan cowo itu. Keano tersenyum ketika melihat tingkah gadis itu. *** Ternyata Alea membawa Keano ke UKS, mungkin gadis itu prihatin saat melihat luka yang ada diwajah Keano. Alea menyuruh Keano duduk dan dia berjalan mencari plaster, dan baskom beserta alat kompresnya. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Alea pun berjalan mendekati Keano. Dia duduk disebelah laki-laki itu dengan santai, sebenarnya jantung Alea itu berdetak dengan ritme yang tidak seharusnya jantung bekerja dengan normal tapi dia hanya cuek saja. "Kenapa berantem?" tanya Alea sambil membersihkan luka yang ada diwajah Keano. Keano yang sejak tadi menatap Alea yang tengah membersihkan lukanya itu kemudian dia tersadar dari lamunannya, "Bukan apa-apa." Jawab Keano dingin. Dia berusaha menghilangkan perasaannya untuk Alea, ya walaupun susah tapi Keano akan berusaha melakukannya. Bukannya dia sudah tidak mencintai Alea, tapi dia tidak ingin membuat Alea terbebani dengan perasaannya. Gue nggak suka lo yang gini Ke, Alea menatap sedih Keano. Matanya menatap cowok itu dengan sedikit berkaca-kaca. Menyadari akan perubahan wajah Alea, Keano merasa bersalah tapi dia berusaha untuk tidak menyadari akan hal itu. "Lo udah selesai ngebersihin luka guekan? Kalau gitu gue pergi." Keano berjalan melewati Alea begitu saja. Seperti ada yang kurang Keano berhenti sejenak dan menatap perempuan itu, "Oh iya, makasih udah mau bantuin gue." Kata Keano. Alea langsung berteriak, dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Karena semakin dia pendam maka semakin sakit yang ia rasakan. Sudah cukup dia melihat Keano yang menjauh darinya dan Keano yang selalu bersama dengan seorang perempuan yang tidak dia kenal, dan Alea melihat bahwa Keano terlalu akrab dengan perempuan itu. "Gue cinta sama lo, jadi tolong jangan jauhin gue Keano." Kata Alea saat Keano hendak pergi. Keano diam mematung di tempatnya tadi, dia masih mencerna tentang apa yang barusan diucapkan oleh perempuan yang sebenarnya juga masih dia cintai itu. Tapi kemudian Keano menggelengkan kepalanya. Tidak, ini tidak mungkin. Mana ada seorang Alea dengan berterus terang mengenai perasaanya kepada orang lain? Oh, atau mungkin Alea merasa bersalah kepadanya? Come on, kalau itu masalahnya Keano tidak mau! Dia tidak mau memaksakan perasaan gadis itu untuk mencintainya. Karena lebih baik Keano tersakiti tapi dia bisa melihat Alea tertawa bahagia, walaupun itu bukan dengannya. Sungguh miris bukan? Keano berbalik badan, kini dia menatap Alea langsung ke dalam mata gadis itu. Dia mencari-cari kebohongan yang ada dimata Alea. Tapi nihil, justru Keano melihat ketulusan dimata itu. Nggak! Bisa aja Alea cuma kasihan sama lo. Trus dia berusaha nyenengin lo? Batin Keano. "Sori Alea, tapi kalau lo punya rasa bersalah jangan giniin gue. Gue udah cukup tahu kalau lo nggak ada rasa apa pun sama gue. Jadi jangan bikin harapan? Oke baby?" Keano berusaha tertawa, ya walaupun dia paksakan. Alea menggeleng, air matanya menetes ketika mendengar jawaban dari cowok itu. Keano pun berbalik badan dan hendak pergi tapi Alea buru-buru berlari mengejarnya. Tanpa disangka-sangka Alea langsung menubrukkan badannya ke punggung Keano. Dia memeluk lelaki itu dari belakang. "Gue emang beneran udah jatuh cinta sama lo Ke, jadi gue mohon elo jangan malah menghindari gue." Pinta Alea sambil memeluk tubuh Keano. Parfum milik laki-laki itu sampai tercium diindra penciuman Alea, dia merasakan nyaman saat itu juga. Rasanya dia malah ingin berlama-lama dengan laki-laki itu. Keano tersenyum miring atas apa yang baru saja dia dengar langsung dari mulut gadis itu, perempuan itu mencintainya dan menginginkannya. Kemudian dia melepaskan pelukan perempuan itu dan berbalik badan menjadi menatap Alea lagi dengan lembut. Yah, Keano rasanya ingin berteriak kencang dan memberitahu hal tersebut kesatu sekolah. Tapi dia tahu, itu terlalu Alay! "Apa yang lo omongin barusan itu serius? Apabila enggak lo bisa pergi, kalau iya sini---" Keano merentangkan tangkan tangannya memberi akses agar Alea memeluknya kembali. "Ih apaan sih! Modus lo." Alea berbicara dengan wajah yang seperti kepiting rebus. Keano terkekeh, "Jadi kita jadian??" tanyanya berusaha memastikan. Agar dia tidak kegeeran. "Yapsss." jawab Alea singkat. Keano tersenyum kemudian dia mengajak Alea keluar dari UKS dengan merangkul pundak Alea santai. Alea tidak melarang, justru dia malah senang. Entah kenapa perasaanya tiba-tiba mencair kepada laki-laki itu. Memang, pesona seorang Keano Alkenzo Aditama itu tidak ada yang bisa menolak, that's right?   * * * "Nanti pulang sekolah gue jemput ke kelas." Setelah mengucapkan hal tersebut Keano dengan seenaknya melenggang pergi begitu saja dari hadapan Alea yang menatap cengo cowok yang kini berstatus pacarnya tersebut. Memikirkan status-nya membuat Alea senyum-senyum sendiri dan sesekali terkekeh. "Kok bisa sih gue pacaran sama dia?" Alea bertanya pada dirinya sendiri sambil geleng-geleng kepala. "Kenapa lo Al geleng-geleng kepala sendiri? Lo pusing atau gimana?" Tere yang tadi tengah duduk-duduk santai di kurisnya dia mendadak menghampiri Alea yang datang bersamaan dengan cowok yang tidak pernah Alea tanggapi itu. "Bisa nggak sih nggak usah ngagetin!" ucap Alea dengan ketus. Tere malah nyengir kuda ke arah Alea. "Hehe maaf. Eh lo kenapa deh? Perasaan mata lo kayak orang habis nangis gitu? Tapi wajah lo kok kek seneng banget kayak orang ketiban duren sih?" tanya Tere bingung. Alea menoyor kepala sahabatnya itu dengan pelan, "Ketiban duren tuh sakit ogeb. Malah seneng, gila lu." Alea kemudia berjalan melewati Tere dengan begitu saja. Tere melongo sambil terus memandangi punggung Alea yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri sekarang. "IH ALEA! GUE SERIUS!" teriak Tere keras kearah Alea. Gadis itu justru terkekeh. *** "Ke lo nggak kesambet setan sekolahkan?" tanya Anta bingung, karena dia sejak tadi mengamati kecerahan diwajah laki-laki itu yang sedikit memar akibat perkelahian antara dirinya dengan Gara beberapa waktu lalu. "Mulut lo harus gue lakban!" Keano mendelik ke arah Anta. "Eh ya jangan dong!" refleks Anta memegangi mulutnya akibat ucapan Keano. Karena disisi lain Keano memang memegang sebuah lakban. "Makanya lo diem, kepo amat jadi cowok," ucap Keano. Anta menegakkan badannya, "Gue tuh care sama lo, diperhatiin guenya malah lo giniin. Sakit tahu nggak!" omel Anta sambil memegangi dadanya, layaknya orang terkena serangan jantung. Keano memutar kedua bola matanya malas karena menanggapi segala celoteh panjang lebar milik sahabatnya itu. Dengan tersenyum misterius Keano kemudian menatap Anta intens. Anta yang mendapat tatapan seperti itu malah bergidik ngeri, apakah jangan-jangan Keano suka terhadap dirinya? "Ke, lo nggak anu kan?" tanya Anta sedikit was-was dan agak menjaga jarak dengan laki-laki itu. Tanpa menjawab pertanyaan Anta, Keano justru lebih mendekatkan tubuhnya ke arah sahabatnya. Tanpa diduga, Anta mengeluarkan keringat dingin, dia gemeteran sendiri menatap cowok bar-bar itu. Iya gue tahu gue jomblo tapi jangan gini amat yatuhan. Batin Anta. "Gue udah resmi sama Alea." Ucap Keano berbisik tepat ditelinga sahabatnya dan setelah itu Keano ngancir pergi meninggalkan sahabatnya dengan wajah cengo sekaligus bodonya itu. "HAHAHA wajah lo gitu amat sih?? Anjirr!" teriak Keano. Anta mengerjab-ngerkabkan matanya beberapa kali akibat apa yang barusan dia dengar sekaligus dia rasakan. Otaknya masih mencerna semuanya. "WIHH LO UDAH JADIAN SAMA ALEA?! PJ WOI JANGAN LUPA!!" teriak Anta tak kalah kerasnya sehingga didengar oleh teman-teman satu kelasnya. Anta tersenyum kikuk, "Sori hehe." Anta akhirnya bisa bernafas lega karena sahabatnya bukan seorang penyuka sesama jenis. "Hampir aja gue mati mendadak." gumam Anta. *** Jam telah menunjukkan pukul 2 lebih 15 menit, itu berarti menandakan semua murid akan pulang. Berbeda dengan murid-murid yang lain, kalau murid teladan itu pasti masih akan berkemas-kemas. Tapi jangan ditanya lagi soal Keano, cowok itu dengan santainya sudah stay di depan kelas Alea dengan menaikkan sebelah kakinya ke dinding untuk ia bertumpu. Sesekali Keano melihat ke samping kiri dan kanan untuk memastikan apakah orang yang dia tunggu sudah keluar atau belum. Tidak lama kemudian seseorang yang sejak tadi dia tunggu akhirnya datang juga, tapi dia tidak melihat Keano justru malah melewatinya begitu saja. Keano hanya menatapnya dengan geleng-geleng kepala. "Cewek," goda Keano dengan memanggil Alea diselingi dengan siulan. Sontak Alea menoleh, "Gue bukan burung! Jangan disiul-siulin!" Alea mengrucutkan bibirnya. Keano terkekeh sembari mencubit kedua pipi gadis itu dengan gemas, "Udah iya gue minta maaf, yaudah yuk. Keburu sore," ajak Keano dengan menggandeng tangan Alea lembut. Mereka berdua berhasil menyita seluruh perhatian semua murid yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka. Tidak jarang banyak yang bertanya-tanya akan kedekatan Keano dan Alea. Apakah mereka sudah resmi berpacaran atau belum? Tapi Keano hanya diam sambil terus menggandeng tangan Alea menuju ke parkiran. Sampainya di depan motor ninja hitam milik Keano, Alea menatap laki-laki itu bingung. Sebenarnya dia mau membawanya kemana? "Lo mau ngajak gue kemana Ke?" tanya Alea bingung. Keano memakai helm fullfacenya dan tanpa banyak bicara dia menarik tangan Alea agar perempuan itu duduk diboncengannya. Alea menerima dengan pasrah dan sedikit tidak ikhlas, dia merasa dikacangi oleh lelaki itu. Keano melajukan motornya keluar dari area sekolah dan mengarahkannya kesuatu tempat. Keano menatap Alea dari arah kaca spionnya, gadis itu sepertinya tengah berpikir keras akan apa yang tengah terjadi sekarang. Keano terkekeh, dia membuka kaca helmnya dan memiringkan kepalanya. "Kalau lo takut jatuh, pegangan dipinggang gue. Tapi jangan berpikiran kalau gue cari kesempatan ya." ucap Keano. Padahal sih iya. "Lo modus ya?" selidik Alea. "Apaan? Enggaklah. Kalau lo mau aman ya pegangan sama gue." Balas Keano dengan sedikit menambah kecepatan laju motornya. "Keano pelan-pelan!" tegur Alea. "Duh Al, lo ngerasa nggak sih? Ini motor apa? Kalau motor gue dipakai lambat tuh dipundak sama lengan gue bakal pegel-pegel dan berasa lo nggak naik kendaraan, tapi lagi naik keong!" jawab Keano dengan alasan yang sedikit melenceng. Tapi memang dasarnya Alea anaknya percayaan ya dia akhirnya mau-mau saja, "Iya oke. Gue pegangan!" balas Alea judes. Keano tersenyum menang, ingin sekali dia tertawa keras akan kepolosan pacarnya, bisa-bisanya dia dibohongi. Eh? Tapi kalau Alea mudah dibohongi? Nanti ada yang memanfaatkan bisa matilah dia! Tapi itung-itung sekali-sekali aja, kapan lagi punya pacar yang nurut banget? Pikir Keano dengan terkekeh geli. "Ke nanti kalau pulang jangan sore-sore ya?" ucap Alea. "Iya sayangkuhh." "Najis deh," "Bodo, yang penting kita pacaran!" Sampainya di tempat yang dituju, Keano memberhentikan motornya dan langsung melepaskan helm yang ia pakai. Dia sedikit membenarkan tata letak rambutnya. Alea langsung turun dari motor ninja milik cowok itu dan malah menatap Keano seakan seperti meminta penjelasan. "Ini kita di mana sih? Jangan bilang kalau lo mau nyulik gue?!" pikiran Alea langsung negatif ketika dia tahu bahwa Keano membawanya kearea yang sepi. "Nyulik lo? Haha lo tuh terlalu manis buat gue cincang," jawab Keano dengan mencolek dagu Alea. Alea langsung membulatkan matanya kaget, "Apasih colek-colek?! Dikira gue sabun colek apa?!" celoteh Alea sambil manyun-manyun. "Udah jangan manyun-manyun, ntar gue khilaf berabe." Peringat Keano kepada Alea. Gadis itu mendelik kaget, sedangkan Keano tertawa saat melihat perubahan wajah dari kekasihnya itu. "Gak lucu sumpah." "Siapa yang lagi ngelawak sih? Kan tadi cuma ngingetin kamu." Keano membela dirinya. Sedangkan Alea melenggang pergi. "Lucu banget masyaallah," ucap Keano. *** Keano duduk disalah satu bangku taman, dia duduk didekat Alea yang tengah menatap luas area taman tersebut. Matanya termanjakan oleh pemandangan dihadapannya sekarang. "Kok lo bisa tahu kalau di Bandung ada tempat kayak gini sih?" tanya Alea takjub sekaligus salut kepada cowok yang berada di sampingnya sekarang. Pasalnya Keano masih berstatus murid baru atau pendatang baru yang pindah dari kota hiru pikuk seperti Jakarta. Keano terkekeh sembari merenggangkan lengannya disandaran kursi taman, "Kan ada google maps hehe," jawab Keano seadanya. Alea melotot ke arahnya seketika Keano langsung menatap gadis itu serius. "Becanda sayang, gue tahu tempat ini karena gue pernah lewat daerah sini." jawab jujur. Alea menganggukkan kepalanya pertanda dia mengerti dan paham. "Oh iya, gue mau nanya sama lo." ucap Alea serius. Keano menoleh, "Nanya apa?" "Kenapa lo bisa suka sama gue?" tanya Alea langsung. "Enggak tahu." Alea melotot tajam, "Tapi yang jelas gue selalu pengen lindungin lo, yang jelas ketika gue ada disamping lo perasaan gue aneh, jantung gue kayak habis marathon." Jawab Keano setelah mendapati wajah Alea yang masam. Tapi seketika wajah perempuan itu setelah mendengar jawaban Keano justru menyunggingkan senyumnya. "Tapi kenapa? Kenapa nggak kak Tasya? Gue kan cuek dan nggak suka sama lo, dulu." Jawab Alea. "Mau banyak cewek yang deketin gue, tapi kalau hati dan perasaan gue milih lo, ya gue bisa apa kalau bukan merjuangin lo?" tanya Keano balik. Alea tersenyum akan jawaban Keano yang berhasil membuatnya menghangat. "Lo nggak capek dulu gue hindarin mulu?" tanya Alea lagi. "Enggak. Dan sekarang akhirnya gue bisa dapetin lo, semua usaha dan perjuangan gue terbayarkan. Hampir aja gue ngelepasin lo. Karena gue ngerasa sia-sia, ketika merjuangin orang yang sedang merjuangin orang lain." Tutur Keano. Alea tersenyum ketika mendengar jawaban demi jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan kepada Keano, rasanya ada sebuah kebahagian tersendiri ketika dia seperti orang special di dalam hidup laki-laki itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN