Kagum Dalam Diam-1

2510 Kata
Kagum Dalam Diam ???? Nada ???? Bukannya aku tak paham bahasa cintanya. Hanya saja aku sudah berjanji pada abah dan umiku jika aku akan menyelesaikan kuliahku dengan baik tanpa memikirkan percintaan terlebih dahulu. Karena itu, diam menjadi caraku untuk mengaguminya dalam hati. “Nada.” “Iya.” “Jamal tanya sama aku, perasaan kamu ke dia itu bagaimana?” “Ya gak gimana-gimana.” Kulihat senyum terukir di bibir Caca. “Kamu suka dia ya? Cuma kamu kayak banyak yang dipikirkan dan dipertimbangkan.” Aku mengembuskan napasku pelan. “Aku mau fokus, Ca. Aku pengen membahagiakan Abah sama Umi dulu.” “Itu bagus, hanya saja jangan pernah menggantungkan perasaan seseorang, Nada. Kalau gak suka kamu tolak, kalau suka beri dia kepastian.” Ah Caca, andai aku bisa kayak kamu yang dengan tegas menolak banyak cowok yang deketi kamu. Aku takut, di satu sisi aku gak mau memberi dia harapan tapi di sisi yang lain aku suka melihat dia perhatian. “Ca.” “Hem.” “Kamu suka cowok yang kayak gimana? Perasaan kamu suka nolakin cowok deh.” “Aku gak pengin pacaran. Pengennya langsung nikah tapi nantilah. Lulus juga belum. Lagian habis kuliahku selesai, aku pengen mondok. Menjalankan wasiat orang tuaku yang belum kesampaian.” “Mondok di tempatku aja di Bumiayu atau di tempat pakdheku di Purwokerto.” “Nantilah. Toh aku belum lulus.” Hening. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. “Kamu jadi mudik liburan nanti, Ca?” “Enggak. Lagian Crusmimo di waktu liburan banyak pengunjungnya. Lumayan bisa buat tambahan uang saku, buatku sama Hasan. Lagian Hasan sibuk, kan dia sekarang menjabat ketua BEM MIPA.” Kulihat Caca mengembuskan napasnya lagi. “Lagian di rumah, aku cuma jadi babu. Aku takut gak sabar lalu berubah jadi nenek sihir kalau di sana. Mending aku di sini. Hatinya bersih, dompet nambah isinya. Hehehe.” “Hahaha. Gitu ya. Kalau aku harus pulang. Aku kangen sama abah dan umiku.” “Kamu mau langsung pulang ini? Apa mau mampir-mampir?” “Gak tahu, tergantung masku nanti.” “Kirain kali ini, kamu mau pulang sendirian? Ternyata ... ckckck.” “Enggaklah, tentu dijemput masku hehehe. Aku belum berani pulang sendiri.” “Ya Allah, Nada. Udah hampir tiga tahun loh kamu kuliahnya. Ckckck.” “Iya sih. Tapi mau gimana lagi. Mumpung masku lagi ada proyek di Solo.” “Katamu masih kuliah orangnya?” “Kuliah S2 Ca, udah lulus S1 Arsitektur. Dia kadang punya pekerjaan di sela-sela kesibukannya. Eh tahu gak Ca, masku ini walau masih muda udah jadi bos tahu. Duitnya banyak. Makanya aku sama Azmi seneng banget minta jatah sama dia hihihi.” “Gak papalah. Sebelum mas kamu punya isteri dan anak. Manfaatin aja.” “Ya iyalah. Nada gitu. Hahaha.” Caca ikutan tertawa hingga pandangannya mengarah lurus ke depan dan aku pun mengikutinnya “Itu Mas kamu yang rambutnya gondrong, ‘kan?” Caca menunjuk ke arah Mas Azzam yang baru turun dari mobilnya. “Iya. Gondrong tapi ganteng, ‘kan?” sahutku. “Gak paham juga, aku kan gak pernah lihat sedetail itu.” “Ya lihatin dong, siapa tahu naksir.” “Halah, udah biasa lihat cowok ganteng.” “Tapi siapa tahu sama masku, kamu jadi klepek-klepek, jatuh cinta gitu.” “Halah.” “Hahaha, tapi kalau kalian nikah kayaknya lucu, Ca.” “Ck. Apaan sih!” sungut Caca, sementara aku hanya tertawa. Kebiasaan Caca kalau lihat cowok walau setampan apapun dia cuma meliriknya sekilas lalu udah gak peduli. Persis Mas Azzam. Aku tahu, banyak santri baik di pondoknya maupun di pondokku yang suka sama dia. Bahkan para ning pun banyak yang suka. Cuma ya itu karena masku itu cuma melirik sekilas habis itu udah, aura dingin, garang dan angkuhnya yang kelihatan, cuek lagi. Makanya banyak mbak santri dan ning-ning yang patah hati gara-gara Mas Azzam. Lama-lama banyak yang memilih mundur teratur tapi gak berlaku untuk Ning Zulaikha yang ngejar-ngejar terus sampai melakukan banyak hal tak terduga. Aku aja cuma geleng-geleng kepala. Ning kok kelakuannya gitu. “Yuk Ca, sekalian kenalan sama Mas gondrongku. Cakep loh siapa tahu jodoh.” “Gaklah. Aku pamit ya. Assalamu’alaikum.” “Ah, kamu Ca. Ya sudahlah. Wa’alaikumsalam. Hati-hati Ca.” “Iya.” Caca berlalu sedangkan aku bangkit menuju Mas Azzam. “Temenmu kok pulang?” tanyanya. “Iya. Takut kayaknya sama Mas Azzam, habis dandanan Mas kayak preman.” Mas Azzam hanya mendecih sedangkan aku memilih tutup mulut guna menahan tawa. “Ck. Ayo masuk.” “Oke.” Akupun ikut pulang ke Bumiayu bersama Mas Azzam. *** Akhirnya aku sudah semester tujuh. Saatnya melaksanakan KKN dan PPL. Khususon untuk Caca, sambil ngerjain skripsi. Haduh temenku ini, terlalu pintar. Sejak semester tiga Caca sudah mengambil beberapa mata kuliah di semester atasnya sehingga ketika semester enam dia sudah bisa mengajukan proposal skripsi. Dan sekarang ketika PPL dia sekalian bisa penelitian di Sekolah tempat dia akan melaksanakan PPL. “Kita gak satu sekolah ya, Ca?” “Ya gak papa, kan kamu bareng Meta.” “Tapi kalau ada kamu jadi tambah seru,” ucapku dengan mata sendu. “Tenang, kan masih satu daerah di Solo. Kalau kangen bisa ketemuan.” “Tapi gak kayak pas masih satu kampus. Hah ...?” Aku lemes rasanya. “Kamu sama siapa saja? Anak jurusan mana saja PPL-annya?” tanyaku. “Nih.” “Hah? Jamal.” “Iyes hahaha. Kamu mau tukeran sama aku?” goda Caca. “Ish! Gak!” Yah, padahal dalam hati aku kepengin bareng Jamal. Tapi gak mungkin dong, aku jujur sama Caca. Malu tahu. Astaga! Tiga bulan ini aku bakalan jarang ketemu sama Pangeran Kudus. Pasti nanti aku kangen nih! Ah, membayangkan saja aku jadi semakin gak semangat menjalani hari kedepannya. ***** Obat Kangen ???? Jamal ???? “Huft. Dua bulan lima belas hari. Masih lima belas hari lagi ya, Ca.” “Hem ... iya.” “Kangen, Ca.” “Hem ... iya.” “Pengen ketemu Mimmosa.” “Iya.” “Dia lagi ngapain ya?” “Iya.” “Ca!” bentakku. “Eh apa?!” Caca nampak kaget kemudian tersenyum manis ke arahku. “Aku lagi ngajakin ngomong ya Ca, malah kamu fokus ke laptop.” “Mumpung laptop kamu nganggur, dari pada gak kepakai ya aku pakai. Eman-eman.” “Ck. Ngebet amat lulus gasik, Ca. Buat apa lulus gasik kalau wisudanya mau bareng kita.” “Biar irit Mal, tahu sendirilah kondisi aku sama Hasan gimana?” “Iya juga sih.” Aku akhirnya memilih bermain dengan ponselku. Masa PPL kami sudah mendekati hari akhir jadi lumayan sibuk bikin laporan tapi ngajarnya sudah santai. Soalnya para siswa sedang melaksanakan ujian semester gasal. “Eh Ca, Hasan telepon.” “Angkat aja. Mungkin penting,” sahut Caca masih mengutak atik laptop. Akhirnya aku mengangkat telepon dari Hasan. “Ya San, gimana?” “Caca sama kamu?” Terdengar suara di seberang sana. “Iya. Kenapa?” “Bilangin cepet pulang. Eyang ngedrop dan pingsan.” Suara di sana terdengar sangat khawatir. “Oke, aku bilangin ke Caca ya?” “Oke. Kalau bisa anterin ya Mal. Aku minta tolong. Ini aku belum bisa pulang. Aku malah lagi ikut guru pendampingku ke Bandung.” “Oke. Kamu tenang aja.” Klik. Aku memutuskan sambungan setelah mengucapkan salam. “Kenapa Mal? Kayaknya serius banget?” tanya Caca. “Eyang kamu ngedrop, kamu disuruh pulang. Hasan lagi di Badung, dia gak bisa pulang.” “Astaghfirullah. Oke, aku ijin, kamu anterin ya?” “Oke. Siap-siap sana!” “Iya.” Aku dan Caca bergegas minta ijin ke pihak Sekolah untuk pulang ke Jepara. Sepanjang perjalanan Caca nampak gelisah. Aku berulangkali meminta dia sabar dan beristighfar. Sayang, sepertinya tidak berhasil. Dor. Ya Allah. Motorku sedikit oleng namun aku bisa mengendalikannya dan bisa berhenti di pinggir jalan. Aku segera mencari tahu apa yang terjadi pada motor bebekku ini. “Aduh Ca, ban motorku bocor ini.” “Ya Allah, Mal. Ini gimana? Udah tanggung banget ini. Udah setengah jalan. Mana sepi lagi udah sore. Gak mungkin ada angkot. Eyangku gimana ini?” Caca semakin gelisah bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Kami pun mendorong motor mencari tempat tambal ban terdekat. Sayang hampir setengah jam kami berjalan tak satupun yang terlihat. Saat aku dan Caca tengah mendorong motorku. Sebuah motor Honda CBR merah berhenti. “Kenapa?” tanyanya tanpa membuka helm. “Bocor Mas,” jawabku. “Tunggu.” Dia nampak tengah menghubungi seseorang dengan ponselnya. Aku mengamati gerak gerik si cowok. Ada perasaan curiga dan takut kalau dia adalah salah satu sindikat perampok. Eh tapi kok ... dilihat dari posturnya kok kayak kenal tapi siapa ya? “Bentar lagi temenku datang. Dia punya bengkel. Kalian tunggu di sini saja. Saya harus segera pergi ke Jepara ada urusan di sana.” “Iya Mas makasih,” jawabku. “Eh Mas tunggu, masnya mau ke Jepara mana?” Caca nekat bertanya. “Mayong.” “Saya ikut. Tolong saya, Mas. Nenek saya sakit dan butuh saya. Tolong Mas.” Caca sudah menangis sampai sesenggukan. Masnya tampak ragu-ragu namun keadaan Caca yang menyedihkan sepertinya membuatnya iba. “Naiklah.” Akhirnya, dia mengijinkan Caca membonceng. “Makasih, Mas. Mal, aku nunggu kamu di sana ya? Aku duluan. Makasih.” Caca langsung duduk membonceng di belakang. Mereka pun segera berlalu meninggalkan diriku seorang diri. Astaga Ca, tega bener kamu ya. Apa kamu gak takut diculik sama masnya? Gimana kalau kita ditipu? Aku mendesah, bingung antara harus nunggu atau jalan. Selang lima belas menit, ternyata sebuah mobil menghampiriku dan turunlah dua orang mas-mas. Aku sedikit takut apa aku mau dirampok ya? “Temennya Azzam ya?” “Hah Azzam? Azzam siapa? Oh ... iya hehehe.” Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. “Oke. Nan ini beneran temennya. Ayok kita langsung perbaiki.” “Oke.” Kedua mas-mas itu membantuku mengganti ban motor yang meletus dengan ban baru. Alhamdulillah berarti mas-masnya beneran baik. Berarti Caca aman. Kurang lebih setelah setengah jam akhirnya ban motorku sudah diganti. Mana gratis lagi. Duh, Mas gondrong ternyata baik. Temennya juga baik. Aku mengucapkan terima kasih pada keduanya dan setelah mentraktir mereka makan, aku segera meluncur ke rumah Caca. *** “Ca.” “Eh, Mal.” “Gimana Eyang kamu?” “Udah mendingan.” “Kenapa katanya?” “Penyakit tua Mal, katanya sih sudah kategori komplikasi.” “Sabar ya.” “Iya. Kamu kok tahu aku ke sini?” “Emangnya mau di rumah sakit mana lagi?” “Hem ... iya benar.” Hening. “Teman-teman besok ke sini. Ada Meta sama Nada juga,” ucapku sambil tersenyum. Kulihat Caca juga ikut tersenyum. “Akhirnya kamu bisa ketemu juga ya.” Celetuk Caca berusaha menggodaku. Tapi aku tahu itu wujud mengalihkan rasa sedihnya. “Iya. Kangen berat aku.” Hening. “Ca. Mas-mas yang ngantar kamu kemana?” “Ya Allah, aku usir Mal.” “Astaghfirullah, Ca. Jahat sekali kamu. Udah nolongin kamu juga.” “Habis aku takut keluarga Lik Mirna mikir macem-macem sama aku dan si cowok itu. Ya Allah, Mal. Aku jahat banget ya.” Kulihat Caca menundukkan kepalanya dan mulai menangis lagi. “Ya udah mau gimana lagi, orang udah kejadian,” hiburku. Caca masih menangis, aku hanya bisa menghiburnya dengan kata-kata, gak mungkin kan aku meluk dia, bukan muhrim. Dan Caca walau bukan santri juga tak pernah mau bersentuhan dengan lawan jenis. Tadi aja pas mbonceng aku, ada tas di tengah-tengah kami. Cuma sayang saking paniknya, Caca malah main mbonceng Mas CBR merah tanpa ada sekat sama masnya. Duh rejeki si masnya tuh. Aku bisa membayangkan adegan pas si Mas ngerem mendadak. Peluk manjah dah. Hihihi. “Mbak.” Seorang perawat datang menghampiri kami sekaligus membuyarkan lamunan anehku tentang Caca dan si Mas CBR. “Iya,” jawab Caca. “Ini ada titipan dari mas-mas rambut gondrong buat Mbak. Katanya Mbak harus makan biar bisa jagain Eyangnya.” “Oh, makasih Mbak.” Caca menerima kantong kresek dari mbak perawat. “Mbaknya tahu masnya kayak apa?” tanyaku penasaran. “Tinggi menjulang, kulit putih, rambut gondrong diikat rapi, sedikit berjambang, kesan mukanya galak nan seram tapi tampan. Hihihi.” “Sama saya tampanan siapa, Mbak?” godaku. “Mas gondrong kemana-manalah,” lalu dia pun pergi meninggalkanku yang tengah mendongkol. “Buka Ca!” perintahku. Caca membuka kresek berwarna ungu yang isinya berupa ayam penyet dua porsi. Tatapanku beralih pada kresek putih berlogo Indonesiamaret yang setelah kubuka, ternyata berisi air mineral tiga botol, roti, biskuit, cokelat wuih komplet. “Hem ... Ca. Besok-besok pas kamu ketemu sama dia kamu harus minta maaf. Kalau perlu balas kebaikannya.” “Iya. Nanti aku balas dengan menjadi makmumnya seumur hidup.” “Hahaha Ca ... Ca. Amin. Aku aminin dah siapa tahu diijabah sama Allah,” ucapku. “Eh, kamu memangnya tahu muka masnya kayak apa?” tanyaku. “Enggak.” “Ckckck. Ca, kalau jelek gimana?” “Ganteng kok. Tadi Mbak suster bilang gitu. Makanya gak papa aku jadi makmumnya.” “Kalau dia galak macam singa gimana?” “Ya gak papa. Galak di luar tapi sama aku sayang.” “Wuih. Ngarep.” “Biarin.” “Eh. Beneran gak sih dia ganteng?” “Ganteng. Kan udah dijelasin sama Mbak susternya.” “Ganteng relatif Ca. Kalau tampan itu subjektif.” “Ck. Terserah. Makan yuk.” “Ayuk.” Akhirnya kami makan dan sambil mengobrol hal lainnya. Alhamdulillah, Caca udah mendingan gak nangis-nangis lagi. *** “Nada,” teriakku. “Jamal.” “Kapan kamu sampai?” “Baru aja, sama Meta. Tapi Metanya lagi sama Caca nebus obat.” “Oh. Gimana kabar kamu?” “Baik. Kamu gimana?” tanyanya sambil menunduk. “Aku baik. PPL kamu gimana?” “Alhamdulilah lancar, kamu?” “Gak lancar.” “Kenapa?” tanyanya, kemudian menatapku penuh tanya dan kekhawatiran. “Aku sakit.” “Kamu sakit apa?” Kulihat Nada semakin khawatir. “Sakit rindu sama kamu.” Blush. Kulihat pipi Nada memerah semerah tomat. “Tapi sekarang sakitnya udah hilang.” Aku tersenyum ke arahnya. “Be-benarkah?” “Iya. Soalnya udah sembuh karena bertemu dikau sayang.” Blush. Pipi Nada berubah menjadi merah lagi. “Ternyata obat kangen itu gampang ya Nad.” “Hah? A-apa obatnya?” “Ketemu sama orangnya. Langsung lagi kayak aku yang ketemu kamu,” ucapku sambil menaik turunkan alisku. Sedangkan Nada hanya tersipu malu. “Nad.” “Iya.” “Aku kangen sama kamu, kangeeeen banget. Kamu kangen gak sama aku?” Diam. Nada hanya menjawabku dengan sebuah senyum menawan. Duh, pengin terbang rasanya. Alhamdulillah masih diberi kesehatan buat lihat calon bidadariku. Insya Allah. ***** Perpisahan ???? Nada ???? “Akhirnya kita bisa lulus bareng. Makasih ya Ca. Kamu mau ikut wisuda bareng sama kita,” ucap Meta. “Alhamdulillah. Aku juga bersyukur bisa wisuda bareng kalian,” sahut Caca. “Nad, kamu nyari siapa?” tanya Meta. “Owh. Orang tuaku,” alibiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN