“Apa?!” Sontak aku berdiri. Aku menatap tak percaya ke arah Jamal yang kini menatapku dengan senyum jahil di bibirnya. Aku menutup mukaku, menghentak-hentakkan kedua kakiku. Lalu dengan menahan rasa malu aku berlari ke arah pintu. “Woi, Nad. Lah, kok aku ditinggal?” teriak Jamal. Aku yang terlalu malu tak mempedulikan teriakan Jamal. Di depan pintu ruang ICU, aku sibuk menenangkan debur jantungku. “Astaghfirullah, sejak kapan Jamal udah bangun? Apa—” “Nad.” “Eh, Mas Azzam. Mas Azzam dari mana.” Aku menoleh ke arah Mas Azzam yang baru datang. “Habis menemani Gino bicara sama dokter. Oh iya, menurut dokter yang menangani Jamal, kesehatan Jamal semakin baik perkembangannya. Ada kemungkinan dia bisa segera sadar dari koma.” Aku hanya bisa melongo mendengar penjelasan Mas Azzam. “Ja-j

