“Udah.” “Mmm, Guse gak mau nengok?” Aku menatap Mas Gino dengan sorot mata penuh permintaan maaf. “Maaf, Mas. Tapi aku belum bisa legowo. Apalagi yang dia lakukan benar-benar mencoreng harga diriku. Maaf. Mungkin lain kali, gak sekarang.” “Tapi. Gus. Hana ... Hana mencari Gus terus. Memanggil-manggil nama guse. Tolong, tolong temui Hana, Gus. Sebentar saja.” Aku menggeleng. “Maaf, Mas. Aku belum bisa. Kapan-kapan ya?” “Hana butuh dukungan Gus. Hana—” “Itu tugas kalian bukan aku. Aku minta maaf, tapi aku gak ada rasa sama Hana. Dan Mas lihat itu.” Aku menunjuk Nada. Mas Gino pun menoleh ke arah Nada. “Sosok seperti itu yang kuharapkan, bukan Hana. Jadi maaf.” Mas Gino menunduk sedih. Ada sebagian dari hatiku yang merasa tak enak. Tapi aku harus tegas. Pesan Mas Azzam, kita boleh me

