Malam itu, kediaman utama keluarga Dirgantara terasa lebih dingin dari biasanya. Arsitektur bergaya kolonial yang megah itu seolah ikut mengintimidasi langkah Winona yang kian berat. Genggaman tangan Ragahdo terasa begitu erat, tapi tubuh Winona tetap tidak bisa berhenti gemetar. Beberapa pelayan menyambut di pintu depan, membungkuk hormat sebelum mengarahkan mereka menuju ruang makan formal yang luas. Di sana, empat orang penguasa keluarga Dirgantara sudah duduk menanti. Yudistira, sang kakek, duduk di kursi utama dengan tatapan tajam yang seolah sanggup menguliti siapa pun. Di sampingnya ada Helena, sang nenek yang meski sudah berumur tetap terlihat elegan dengan aura kebangsawanan Belanda yang kental. Lalu ada Kalandra, sang ayah, pria berdarah Indonesia-Belanda itu memiliki tatapa

