Pesawat yang membawa Ragahdo dan Winona mendarat di Jakarta. Hiruk pikuk ibu kota yang bising dan lembap menyambut kepulangan mereka, sangat kontras dengan udara salah satu pesisir Italia yang sejuk dan romantis. Namun, bagi Ragahdo, Jakarta kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang kini ia genggam erat di sampingnya. Sepanjang perjalanan dari bandara, Ragahdo tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Winona. Mobil mewah itu membelah kemacetan, bukan menuju ke apartemen mewah Ragahdo, bukan pula menuju ke kontrakan Winona, mobil itu berbelok menuju sebuah kawasan perumahan kelas menengah ke atas yang sangat familiar bagi Winona. "Loh, Bang? Kita ke sini?" Winona menoleh bingung saat gerbang rumah modern minimalis berlantai dua itu terbuka otomatis. Itu adalah rumah mereka dulu. R

