"Ah ... Abang." Desah Winona pecah saat Ragahdo menguasai seluruh indranya. Setelah sarapan pagi yang seharusnya tenang, gairah itu kembali meledak. Ragahdo seolah tidak pernah merasa cukup, seakan ingin menebus setiap detik yang hilang selama tiga bulan perpisahan mereka. "Abang ...! ah ...." Di sofa ruang TV yang menghadap ke panorama tebing Positano, napas mereka kembali berkejaran. "Argh ... Winona!" Ragahdo mengerang, mencapai puncaknya dengan menyebut nama wanita itu seolah-olah itu adalah mantra suci. Dia menarik diri perlahan, duduk bersandar di sofa sembari berusaha mengatur napasnya yang menderu. Setelah melepaskan pengaman dan merapikan celananya, dia menarik Winona ke dalam dekapan hangatnya. Winona sendiri sibuk merapikan dress-nya yang berantakan, lalu menyandarkan tub

