"Kita jalan-jalan dulu ya, Sayang." Ragahdo memutar kemudi, membawa mobil mereka menyusuri jalanan berkelok di sepanjang tebing. Setelah ketegangan di apotek mereda, dia ingin menghapus sisa kegelisahan di wajah istrinya dengan keindahan kota. Mereka berhenti di sebuah kawasan kota tua yang dipenuhi oleh bangunan bergaya Baroque dengan pot-pot bunga bougainvillea yang menjuntai di setiap balkon. Udara terasa sejuk, membawa aroma garam laut yang bercampur dengan wangi adonan roti dari bakery lokal. Ragahdo menggandeng tangan Winona erat, seolah-olah borgol kini telah berpindah ke hati mereka. Mereka mampir ke sebuah kafe kecil di pinggir jalan berbatu. Di sana, Ragahdo memesan dua porsi gelato — rasa lemon sorbet untuk Winona dan pistachio untuknya — serta sepotong tiramisu yang lembut.

