Bab 5. Jandaku Pergi Membawa Candu

1132 Kata
Pagi itu, PT Cahaya Gumilang — khususnya di divisi marketing tampak seperti sarang lebah yang terusik. Kesibukan rutin di divisi itu mendadak berubah menjadi kesunyian yang mencekam saat pintu lift berdenting, menampakkan sosok pria dengan langkah kaki yang berat dan berwibawa. "Selamat pagi, semua." Suara bariton itu tidak keras, akan tetapi cukup untuk membuat seluruh napas di ruangan itu tertahan. Serentak, para karyawan berdiri dan membungkuk hormat, seolah pria itu adalah seorang raja yang baru saja memasuki wilayah kekuasaannya. "Selamat pagi, Pak Ragahdo," sahut mereka hampir berbarengan. Di kubikelnya, Winona merasa dunianya seolah menyempit. Jantungnya berdentum kencang, nano-nano rasanya — ada rasa takut, marah, dan sisa-sisa trauma yang masih berdenyut. Dia menunduk, berharap bisa menyatu dengan meja kerjanya agar tidak terlihat. Namun, suara pantofel itu berhenti tepat di depannya. Aroma parfum woody yang sangat wanita itu kenali — dan kini dia benci — menyesaki paru-parunya. “Saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang sama untuk seluruh divisi," ucap Ragahdo datar, tapi matanya tetap tertuju pada puncak kepala Winona. "Di divisi ini, siapa yang memiliki latar belakang pendidikan di jurusan Sekretaris?” Andreas, sang kepala divisi marketing, segera mendekati Ragahdo dengan sikap penuh pengabdian. "Winona, Pak. Tapi dia termasuk karyawan baru karena baru bekerja di sini tiga bulan yang lalu." "Mana yang namanya Winona?" tanya Ragahdo, pura-pura tidak tahu. Winona tetap diam. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tahu ini adalah perangkap yang sengaja di buat Ragahdo. Dia bisa merasakan tatapan tajam sang mantan suami yang seolah ingin menembus tempurung kepalanya. Melody, yang duduk di samping Winona dan merasa kasihan karena mengira temannya itu hanya sedang gugup parah, tiba-tiba meraih tangan Winona dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Ini yang namanya Winona, Pak!" Winona tersentak, hampir saja dia menggeram kesal pada Melody. Lalu, dia buru-buru menurunkan tangannya. Ragahdo melangkah maju, tubuhnya yang jangkung hampir menempel ke kubikel Winona, menciptakan bayangan besar yang mengurung wanita itu. "Owh, kamu." Mau tidak mau, Winona mendongak. Dia menatap wajah tampan yang kini tampak begitu angkuh itu dengan sorot mata yang dingin. "Ya, saya." Ragahdo menyunggingkan senyum ramah — sebuah senyum yang bagi orang lain mungkin menawan, akan tetapi bagi Winona terasa seperti seringai predator. "Ayo ikut saya ke ruangan saya, Winona!" "Sekarang?" "Ya, sekarang." "Tapi pekerjaan saya masih banyak, Pak." Suasana mendadak kaku. Andreas segera mendekati Ragahdo lagi dengan wajah pucat. "Astaga, Winona! Duh, maafkan dia ya, Pak. Dia itu memang orangnya jujur, suka ceplas-ceplos." Andreas lalu menatap Winona dengan tatapan mengancam. "Lakukan perintah Pak Ragahdo, Winona!" "Baik, Pak." Winona mengangguk pasrah. Ia berdiri dan berjalan di belakang Ragahdo, mengikuti pria itu menuju lift VIP. Saat mereka sampai di depan lift, Ragahdo memberikan kode singkat dengan gerakan tangan kepada sekretarisnya agar tidak ikut naik. Pintu lift pun tertutup, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara dua orang yang pernah berbagi napas di ranjang yang sama itu. Ragahdo sengaja bergeser, mempersempit jarak di antara mereka. Sementara Winona refleks bergeser hingga punggungnya mentok ke dinding lift yang dingin. "Sekarang kamu jijik sama saya, ya?" tanya Ragahdo tiba-tiba. "Iya, Pak," jawab Winona tanpa ragu dan tanpa ada rasa takut atau hormat sedikit pun. Ragahdo terkekeh, tapi ada nada tidak suka dalam tawa itu. "Bisa-bisanya kamu menjawab seperti itu di hadapan bos kamu! Memangnya kamu tidak takut dipecat?" "Owh, Anda tidak perlu memecat saya, Pak. Tadi saya sudah memberikan surat pengunduran diri ke Pak Andreas," sahut Winona telak, dia tersenyum smirk. Senyum di bibir Ragahdo memudar. Lift terbuka, dan dia melangkah keluar menuju ruangannya yang luas, diikuti oleh Winona yang terus mengekor seperti tawanan. "Masuklah dulu, Winona!" perintahnya saat sampai di pintu ruangan kerja CEO yang mewah. Begitu Winona masuk, Ragahdo menutup pintu dan ... klik. Dia mengunci pintu itu dari dalam, lalu memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya. Mata Winona membelalak lebar. "Pak, apa-apaan Anda? Kenapa Anda mengunci saya di ruangan Anda?" "Suka-suka saya, lah. Saya kan bos kamu." "Pak!" "Apa?" "Buka pintunya!" seru Winona mulai panik. "Nggak mau!" jawab Ragahdo santai sambil berjalan ke mejanya dan menyandarkan tubuhnya di meja. "Kalau kamu pengen saya buka pintunya, kamu harus cium saya dulu!" "s**t!" umpat Winona spontan. Ragahdo tertegun sejenak, lalu kembali menyeringai. "Owh, ternyata kamu bisa mengumpat juga, ya?" "Bisa banget." "Kenapa pas jadi istriku dulu kamu nggak pernah mengumpat di depanku?" "Ya karena Anda dulu suami saya. Kata ibu saya, seorang istri itu harus nurut dan lemah lembut di hadapan suami. Tapi sekarang? Kita bukan siapa-siapa," jawab Winona dengan tatapan tajam. Ragahdo tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat puas. "Kalau begitu, gimana kalau kita nikah lagi?" "Pak! Cukup basa-basinya!" bentak Winona mulai geram. "Sekarang katakan, kenapa Anda menyuruh saya ke sini?" "Jadilah sekretarisku!" "Nggak mau." Winona menggeleng. "Kan saya sebentar lagi mau resign." Ragahdo menegakkan tubuhnya, lalu melangkah mendekati Winona hingga wanita itu terdesak ke pintu. "Aku akan menyuruh HRD buat nggak men-ACC pengunduran diri kamu. Terus aku akan menyuruh mereka menuntutmu membayar denda karena melanggar kontrak." "Nggak apa-apa bayar denda. Saya bisa bayar!" tantang Winona berusaha menyembunyikan rasa takutnya. "Bayar pakai apa? Memangnya kamu punya uang? Uang nafkahku saja kamu kembalikan semua ke rekening aku, rumah juga kamu tinggalkan begitu saja tanpa membawa apa-apa selain baju yang menempel di tubuh kamu waktu itu." "Saya punya uang, kok." "Kalau saya kasih perintah dendanya seratus juta, kamu tetap bisa bayar?" Ragahdo menatap meremehkan. "Mau jual apa kamu? Kamu aja sekarang cuma tinggal di kontrakan reot yang sempit." Winona berdecih, matanya berkilat penuh amarah. "Saya bisa jual tubuh saya!" Kalimat itu membuat rahang Ragahdo mengeras. Dia mencengkeram bahu Winona, menatapnya dengan pandangan yang menghujam. "Kamu sudah nggak perawan, Winona. Mana laku seratus juta. Tapi kalau kamu memang ingin menjual tubuhmu, sini, aku saja yang membelinya!" "Ragahdo!" bentak Winona, dia menepis tangan Ragahdo. "Yang sopan, Winona! Sekarang lagi jam kerja dan kita lagi berada di kantor. Ingat, aku adalah pemilik kantor ini," ucap Ragahdo kembali dingin. "Tapi saya nggak mau jadi sekretaris Anda!" Air mata mulai menggenang di sudut matanya karena merasa frustasi. "Harus mau! Kalau kamu menolak, aku bakal sebar foto pernikahan kita. Biar semua orang di kantor ini tahu kalau kamu adalah jandaku!" Winona menelan ludah, suaranya mendadak tercekat. "Ja—jangan, Pak!" "Owh, jadi itu ya ketakutan kamu? Kenapa sih? Padahal bagus kalau orang-orang tahu kamu jandaku, kamu bisa flexing, loh." "Flexing apaan!" balas Winona tersenyum getir. "Itu adalah hal yang sangat memalukan bagi saya. Itu aib saya!" "Memalukan apanya?" Ragahdo terkekeh pelan. "Padahal kamu yang dulu menyodorkan diri ke aku buat tidur bareng sama kamu, loh." Winona memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menghalau memori malam terakhir yang kini terasa seperti duri dalam dagingnya. "Bisa nggak jangan diingat-ingat lagi?" Ragahdo menundukkan kepalanya, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Winona meremang tepat di telinganya. "Nggak bisa, Winona ... soalnya gara-gara malam itu, aku jadi jatuh cinta dan kecanduan sama tubuh kamu!" Winona tersentak, dia membuka matanya dan menatap Ragahdo dengan ekspresi tidak percaya. "Apa?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN