Dinding kontrakan yang tipis itu seolah ikut bergetar seiring dengan degup jantung Winona yang tak karuan. Dia meringkuk di atas kasur tipisnya sambil, memeluk guling erat-erat.
Kata-kata Ragahdo di ruang kerja tadi masih terngiang jelas, berputar-putar seperti kaset rusak yang menyiksa batinnya.
"Gara-gara malam itu, aku jadi jatuh cinta dan kecanduan sama tubuh kamu!"
"Nggak, itu pasti bohong!" bisik Winona pada kegelapan malam. "Dia cuma mau aku jadi boneka penurut lagi. Dia mau aku jadi Winona yang dulu, yang bisa dia injak-injak perasaannya hanya dengan satu tatapan dingin."
Winona memejamkan mata, tapi yang muncul justru fragmen ingatan tiga bulan lalu. Malam yang seharusnya menjadi titik akhir. Namun ternyata menjadi awal dari jeratan yang jauh lebih rumit.
***
Malam itu, di kamar utama tiga bulan yang lalu, Winona mengira segalanya akan selesai dalam satu babak. Dia mengira Ragahdo hanya akan melakukannya sebagai syarat administratif untuk melepaskan status perawannya.
Namun, perhitungan Winona meleset total.
Setelah putaran pertama yang terasa menyakitkan sekaligus melegakan, Winona meringkas di bawah selimut dan memejamkan mata. Namun, belum sempat dia sampai ke alam mimpi, sepasang lengan kekar kembali melingkari pinggangnya.
Ragahdo menariknya kembali ke tengah ranjang dengan kekuatan yang tak terbendung.
Pria itu, yang selama setahun bersikap seolah menyentuh Winona adalah sebuah kutukan, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang haus. Dia mengukung tubuh Winona kembali, menatapnya dengan mata yang menggelap oleh gairah yang tak terjelaskan.
"Ayo kita lakukan lagi, Winona!" bisiknya malam itu, suaranya parau, jauh dari kesan dingin yang biasa pria itu tunjukkan.
Malam itu berubah menjadi maraton gairah yang liar. Ragahdo seolah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Mereka bercinta lagi, dan lagi. Dari gaya yang paling lembut hingga eksplorasi yang membuat Winona berkali-kali kehilangan napas.
Ragahdo mengeksplorasi setiap inci kulit Winona seolah-olah dia baru saja menemukan peta harta karun yang selama ini ia abaikan.
Sementara Winona hanya bisa pasrah, tenggelam dalam sensasi fisik yang memabukkan sekaligus menghancurkan hatinya. Dia memberikan segalanya — jiwa dan raganya — kepada pria yang bahkan tidak mencintainya.
Dan mereka baru berhenti saat semburat fajar mulai mengintip dari balik tirai, meninggalkan Winona dalam keadaan lelah dan hancur secara emosional namun 'terisi' secara fisik.
***
"Argh! Memalukan!" Winona tiba-tiba berteriak, menutup wajahnya dengan bantal.
Wanita itu berguling ke kanan dan ke kiri, mencoba mengusir bayangan bagaimana jemari Ragahdo menelusuri tubuhnya malam itu. "Waktu itu aku emang bodoh! Seharusnya aku nggak minta syarat konyol itu!"
Lalu, Winona melepaskan bantal dari wajahnya, menghela napas panjang dan berat. Dia harus menghadapi kenyataan pahit. Esok, dia bukan lagi staf marketing biasa. Dia akan menjadi sekretaris pribadi Ragahdo Dirgantara — sang mantan suami yang tadi mengaku 'candu' padanya.
"Jangan sampai ... jangan sampai aku jatuh cinta lagi sama dia. Cukup setahun aku jadi orang bodoh!"
***
Pagi harinya, suasana di kubikel Winona terasa berbeda. Dia membereskan barang-barangnya ke dalam sebuah kardus. Sementara Melody dan Julian berdiri di sampingnya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan — perpaduan antara iri, kagum, dan rasa kehilangan.
"Benar kan, kata aku?" Julian tiba-tiba nyeletuk. "Pasti Pak Ragahdo tertarik sama Winona karena dia janda. When duda meet janda. Ih ... pasti bakal seru dan hot deh ceritanya di lantai teratas nanti."
"Sembarangan kamu, Bang!" balas Winona sambil melotot, tangannya sibuk memasukkan stapler dan buku catatan ke kardus.
Melody berpura-pura terisak, dia mengusap air mata palsu di pipinya dengan dramatis. "Sering-seringlah main ke sini ya, Win! Aku sedih banget kehilangan bestie macam kamu. Tapi bener kata Bang Jul, dari sekian banyak orang di kantor ini yang punya gelar sarjana sekretaris, bahkan yang lebih senior darimu, kenapa cuma kamu yang dipilih? Pasti Pak Ragahdo jatuh cinta pada pandangan pertama pas lihat kamu di lobi kemarin."
Plak!
Winona memukul lengan Melody dengan tumpukan dokumen tipis. "Sialan kamu! Ini itu musibah bagi aku, bukan anugerah!"
Melody dan Julian malah adu tos, menertawakan wajah merah padam Winona.
"Tapi bener kata Melody. Kamu harus sering-sering turun ke sini," Julian menambahkan, kali ini suaranya sedikit lebih serius. "Jangan mepet terus sama Pak Hot Duda itu. Pokoknya curi-curi waktu lah pas beliau lagi sibuk. Lantai atas itu dingin, Win. Kamu butuh kehangatan kami di sini."
Winona tersenyum tulus, ada rasa haru yang sedikit mengobati kegelisahannya. "Iya, aku pasti bakal sering mampir di sini dang ngerumpi sama kalian."
Dia kemudian mengangkat kardus berisi barang-barangnya. "Aku pamit ya, Bang Jul, Mel. Doakan aku selamat di sana."
"Selamat dari pekerjaan, atau selamat dari godaan Pak Bos?" teriak Julian saat Winona mulai berjalan menjauh.
Winona tidak menjawab, dia hanya mengangkat tangan tanpa menoleh. Langkah kakinya terasa berat saat memasuki lift. Dan saat pintu lift tertutup, dia menarik napas dalam-dalam.
Ting!
Lantai eksekutif menyambutnya dengan kemewahan yang sunyi. Begitu dia keluar, dia bisa langsung melihat dua meja sekretaris yang letaknya tepat di depan pintu ruangan besar sang CEO.
Dan di sana, di ambang pintu ruang CEO itu, Ragahdo berdiri. Pria itu tidak memakai jas, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan kesan maskulin yang begitu kuat. Dia melirik jam tangan mahalnya, lalu menatap Winona dengan senyum kemenangan.
"Kamu terlambat satu menit, Sekretaris Winona," ucap Ragahdo dengan nada yang dibuat-buat tegas, tapi matanya berkilat jahil. "Masuk ke ruangan saya sekarang. Ada 'tugas pertama' yang harus kamu selesaikan."
Winona menelan ludah. Tugas pertama? Firasatnya mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan jadwal rapat atau dokumen perusahaan.
"Baik, Pak." Winona menguatkan pegangannya pada kardus di pelukannya.
"Letakkan barang-barangmu di meja! lalu masuk. Sekarang!" Ragahdo menunjuk meja sekretaris.
Setelah menaruh kardusnya dengan kasar di meja, Winona masuk ke ruangan luas itu. Dan begitu pintu tertutup, suasana terasa mencekam baginya. Sementara Ragahdo berjalan santai menuju meja kerjanya, duduk di kursi kebesarannya, dan menatap Winona yang berdiri kaku di tengah ruangan.
"Apa tugas pertama saya, Pak? Menyusun jadwal rapat? Atau merapikan laporan keuangan?"
Ragahdo terdiam sejenak, dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi peralatan jahit darurat. Dia kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Winona. "Kancing kemeja saya longgar. Cepat perbaiki sekarang!" ucapnya sambil menunjuk kancing kedua dari atas kemeja putihnya.
Winona melongo. "Apa? Pak, Anda serius? Kenapa Anda nggak beli kemeja baru aja sih! Kan uang Anda banyak."
"Saya nggak ada waktu buat beli yang baru. Sebentar lagi ada rapat penting. Kamu tahu, kan ...? Tugas sekretaris adalah memastikan penampilan bosnya sempurna sebelum rapat. Dan sekarang, saya ingin kamu yang memperbaiki kancing bajuku."
Winona mendengus, tapi dia mengambil kotak jahit itu. "Lepas kemeja Anda, saya akan menjahitnya di meja."
"Tidak. Mendekatkah padaku, Winona! Jahitlah saat saya memakainya. Saya tidak punya waktu untuk buka-pasang baju," dusta Ragahdo, padahal rapat pentingnya masih beberapa jam lagi.
Winona menggigit bibir bawahnya. Dia terpaksa mendekat. Sangat dekat. Dia harus berdiri tepat di depan Ragahdo hingga dia bisa merasakan embusan napas pria itu di puncak kepalanya.
Aroma parfum woody yang bercampur dengan aroma tubuh maskulin Ragahdo mulai mengacaukan fokusnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Winona mulai memasukkan benang ke lubang jarum. Ragahdo justru sengaja memajukan tubuhnya, membuat d**a bidangnya nyaris bersentuhan dengan dahi Winona.
"Tanganmu gemetar. Apa kamu masih cinta sama saya?" Suara Ragahdo terdengar rendah dan serak.
"Saya cuma lapar, karena belum sarapan," dusta Winona ketus. Dia mulai menusukkan jarum ke kain kemeja Ragahdo.
Setiap kali jemari halus Winona tidak sengaja menyentuh kulit dadanya yang hangat, Ragahdo merasakan sengatan listrik yang menyenangkan. Dia menunduk, menatap leher jenjang Winona dan helai rambut halus yang jatuh di sana. Keinginan untuk merengkuh wanita ini kembali sangatlah besar.
"Aw!" Winona memekik kecil. Karena terlalu gugup, ujung jarinya tertusuk jarum hingga mengeluarkan darah.
Refleks, Ragahdo menarik tangan Winona. Tanpa peringatan, dia memasukkan jari telunjuk Winona yang terluka ke dalam mulutnya — mengisap darah.
Mata Winona membelalak. Tubuhnya membeku beberapa detik sampai akhirnya dia tersadar dan berteriak, "Pak! Apa-apaan!"
Mulut Ragahdo melepaskan jari Winona, tapi tetap menggenggam tangan Winona. Matanya menatap wanita itu dengan intensitas yang mematikan. "Darahmu manis. Sama seperti pemiliknya."
Winona segera menarik tangannya dengan kasar. Wajahnya merah padam. "Anda gila, ya? Ini pelecehan di tempat kerja!"
"Pelecehan? Saya cuma mengobati sekretaris saya yang ceroboh," sahut Ragahdo santai sambil menyeringai. "Lanjutkan jahitannya. Setelah itu, tugas kedua, kamu harus menyuapi saya sarapan karena tangan saya 'pegal' setelah menandatangani banyak dokumen tadi pagi."
"Ragahdo! Kamu benar-benar..." Winona kehabisan kata-kata.
"Ingat foto pernikahan kita, Sayang!" potong Ragahdo dengan nada mengancam yang manis. "Cepat selesaikan kancingnya, atau aku akan menyuruhmu melakukan tugas yang lebih 'intim' dari sekadar menjahit kancing."