Bab 7. Jandaku Pergi Membawa Candu

1425 Kata
Lantai eksekutif PT Cahaya Gumilang terasa jauh lebih dingin daripada Divisi Marketing, tapi bagi Winona, suhu di sana terasa membara karena tatapan satu orang. Begitu dia melangkah keluar dari lift di penghujung jam kerja, kakinya terasa lemas. Wanita itu menggerutu pelan, merutuki nasibnya yang berubah drastis dalam hitungan jam. "Sekretaris CEO apanya? Tugasku ternyata cuma jadi pengasuh bayi raksasa!" desisnya sambil mengeratkan pegangan pada tas bahunya. Bayangan kejadian di dalam ruangan Ragahdo tadi berputar seperti kaset rusak. Ragahdo benar-benar memanfaatkan "kartu as" miliknya. Pernikahan mereka setahun lalu memang dilakukan secara sangat privat di sebuah villa yang lokasinya terpencil. Tidak ada media yang mencium, tidak ada pesta mewah. Publik hanya tahu sang taipan muda sudah menikah, tapi identitas sang istri tetap menjadi misteri paling dijaga. Bahkan, setelah mereka bercerai tiga bulan lalu, publik hanya tahu Ragahdo berubah status menjadi duda tanpa pernah melihat wajah mantan istrinya. Dan kerahasiaan itulah yang kini menjadi jerat bagi Winona. Jika identitasnya terbongkar, sebagai mantan istri "setahun" sang CEO, ketenangannya akan sirna selamanya. Setelah sesi menjahit kancing yang m***m, Winona benar-benar dipaksa melayani Ragahdo. Dia harus menyuapi pria itu sarapan karena alasan tangan yang "pegal", lalu memijat punggung lebar itu setelah rapat jajaran direksi selesai. Puncaknya adalah setelah makan siang, saat Ragahdo dengan santainya menginstruksikan Winona untuk duduk di sofa ruangannya. "Duduk, Winona. Jangan banyak protes," perintah Ragahdo saat itu. Begitu Winona duduk, Ragahdo tanpa aba-aba merebahkan tubuh tingginya di sofa, menjadikan paha Winona sebagai bantal. Winona sempat ingin memberontak, tapi Ragahdo hanya melirik ponselnya yang ada di meja sambil bergumam, "Satu klik, dan foto pernikahan kita akan jadi wallpaper di komputer semua orang di kantor ini." Winona hanya bisa mematung, menahan napas saat mencium aroma rambut Ragahdo yang berada sangat dekat dengan perutnya. Jemarinya yang bergetar dipaksa untuk tidak bergerak, sementara Ragahdo tampak tidur sangat nyenyak seolah paha Winona adalah tempat paling nyaman di dunia. Langkah Winona yang cepat menuju halte bus terhenti saat sebuah sedan mewah hitam metalik berhenti tepat di sampingnya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah tampan Ragahdo. "Masuk, Winona!" "Nggak, aku mau naik bis. Jangan ganggu aku lagi, ini sudah bukan jam kerja dan kita ada di luar kantor!" jawab Winona ketus. Ragahdo menghela napas panjang, tangannya merogoh saku jas dan mengeluarkan ponselnya. Dia mengarahkan layar ke arah Winona dengan jempol yang menggantung di atas tombol send. "Kalau kamu nggak masuk, aku sebar foto pernikahan kita sekarang juga!" Winona mendengus kasar, wajahnya memerah karena menahan amuk. Dia menghentakkan kakinya ke aspal, lalu menarik pintu mobil dengan kasar hingga menimbulkan suara dentuman keras. Janda cantik itu masuk dan membanting pintu itu kembali. "Kamu benar-benar licik!" "Aku hanya memanfaatkan peluang yang ada," sahut Ragahdo santai sambil memutar kemudi. "Aku akan mengantarmu pulang." "Rumahku ada di ja—" "Aku sudah tahu. Diamlah!" potong Ragahdo cepat, lalu menginjak pedal gas. "Kok bisa tahu? Kamu mata-matain aku, ya?" Winona menatap Ragahdo yang sedang mengemudi dengan perasaan berkecamuk. Ragahdo melirik Winona sekilas melalui spion tengah. "Iya." "Apa?! Jangan bilang kamu pasang CCTV di kontrakan aku!" Ragahdo terkekeh, sebuah tawa yang terdengar sangat maskulin sekaligus menjengkelkan. "Pengennya sih gitu, tapi belum terealisasikan saja. Kalaupun pasang, aku mau pasang CCTV di kamar kamu, biar aku bisa lihat kamu pas lagi ganti baju." "m***m! Dasar gila!" "Iya, aku memang sudah gila. Tergila-gila sama jandaku," jawab Ragahdo tanpa keraguan sedikit pun. "Ragahdo!" Winona memekik frustrasi. "Apa, Sayang? Mau minta tubuhku lagi seperti malam itu?" "Nggak! Aku udah nggak sudi!" Winona membuang muka, mencoba menyembunyikan wajahnya yang semerah strawberry. Begitu sampai di depan kontrakan Winona yang sempit, mobil mewah itu berhenti. Winona segera keluar tanpa berkata apa-apa, berharap pria itu segera pergi dari hidupnya. Namun, suara pintu mobil yang tertutup di belakangnya membuatnya tersentak. Ragahdo ternyata ikut keluar dan mengekorinya menuju pintu kayu kontrakan yang catnya mulai mengelupas. "Kamu mau ngapain, sih?" Winona berbalik dengan wajah galak. "Mau mampir minta makan," jawab Ragahdo enteng. "Kamu ...? Kamu kan orang super kaya yang biasanya makan di restoran berbintang. Masak kamu mau minta makan di tempat sepit begini sama aku yang miskin pula?!" Ragahdo mengangguk mantap. Matanya menatap Winona dengan tatapan yang tiba-tiba berubah sendu. "Aku kangen masakan kamu, Win. Please ... izinin aku makan di sini, ya?" Winona memejamkan mata sambil menghela napas panjang. Dia merasa pertahanannya mulai runtuh. Tanpa menjawab, dia merogoh tasnya, mengambil kunci, dan membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, Ragahdo nyelonong masuk tanpa permisi. Dia langsung menduduki sofa mungil di ruang tamu yang merangkap ruang tengah itu. "Win, tolong buka sepatuku, dong!" ucap Ragahdo dengan nada memerintah yang sangat familiar. Winona terdiam sejenak. Namun, seperti ada memori otot yang tersimpan selama setahun pernikahan, tubuhnya bergerak secara refleks. Dia mendekati Ragahdo, bersimpuh di lantai di depan kaki pria itu, dan mulai melepaskan ikatan tali sepatu pantofel mahal tersebut. "Win, aku mau minum teh panas." Winona hanya mengangguk patuh. Dia bangkit, melangkah ke dapur kecilnya. Tak lama kemudian, dia kembali dengan secangkir teh panas yang aromanya menenangkan. "Terimakasih, Win." Ragahdo tersenyum menerima teh itu. "Sebentar lagi Adam akan datang ke sini. Dia bawa bahan-bahan buat masak sup iga, tempe goreng, sama sambel tomat. Tolong masakin itu buat aku, ya!" "Ya. Sebentar aku ganti baju dulu," jawab Winona pasrah. Dia tahu berdebat hanya akan membuang energi. "Aku boleh ngintip nggak, Win?" goda Ragahdo saat Winona berjalan menuju kamar. "Ragahdo! Jaga batasanmu!" bentak Winona sebelum membanting pintu kamarnya. Ragahdo tertawa, dia mengangkat tangan seolah menyerah. "Iya, iya ... oke. Aku nggak akan ngintip. Aku akan duduk manis di sini." Beberapa menit kemudian, ketukan di pintu terdengar. Adam, sekretaris setia Ragahdo, masuk membawa dua kantong plastik besar berisi bahan makanan segar. "Ini belanjaannya, Bu Winona," ucap Adam sopan saat Winona keluar dari kamar dengan daster rumahan yang sederhana tapi terlihat menawan di mata Ragahdo. "Panggil saya Winona saja, Bang Adam. Kita di luar kantor." Belum sempat Adam menjawab, suara Ragahdo sudah menginterupsi dari sofa. "Nggak bisa! Adam harus tetap manggil kamu 'Bu'. Statusmu tetap di atas bagi dia." "Dasar!" Winona memutar bola matanya malas. Dia menyambar kantong plastik itu dan masuk ke dapur. Selama hampir satu jam, suara denting wajan dan aroma rempah-rempah yang menggugah selera memenuhi ruangan sempit itu. Winona bekerja dengan cekatan, menata sup iga yang berkuah bening dan kaya rasa, tempe goreng yang garing, serta sambal tomat yang merah merona di meja makan kayu kecil. "Makanan sudah siap!" Ragahdo segera memasukkan ponselnya ke saku, dia berdiri dengan semangat, dan menghampiri meja makan. "Ambilin makanannya dong, Win! Seperti dulu." Winona menuruti tanpa bicara. Dia mengisi piring Ragahdo dengan nasi putih hangat, menyiramnya dengan kuah sup yang mengepul, lalu menambahkan sayuran dan beberapa iga yang empuk, tempe, dan sesendok besar sambal. "Terima kasih. Ayo kamu juga makan!" Winona mengangguk, dia duduk berhadapan dengan Ragahdo di meja yang sempit itu. Suasana mendadak menjadi sangat intim. Hanya ada mereka berdua. Ragahdo makan dengan sangat lahap, seolah sup iga buatan Winona adalah makanan paling enak yang pernah dia rasakan setelah berbulan-bulan hanya memakan masakan koki hotel. Winona mencuri pandang ke arah Ragahdo. Wajah pria itu tampak lebih rileks, gurat-gurat lelahnya sedikit memudar. "Apa kamu sedang bertengkar dengan tunanganmu?" Ragahdo berhenti mengunyah sejenak. "Ya." "Owh ... pantesan kamu ke sini," gumam Winona sambil menyuap nasinya. Ada rasa pahit yang tidak berasal dari makanan di lidahnya. Ragahdo menatap Winona tajam. "Bukan karena itu. Aku ke sini karena aku memang ingin di sini. Bersamamu." Winona tidak menjawab, dia memilih fokus pada piringnya, sambil membatin, "Bohong! Dasar buaya!" Setelah makanan di piringnya habis, Ragahdo menegak air putih, lalu dia berkata, kali ini wajahnya tampak serius. "Aku boleh tidur di sini, kan?" Winona yang sedang merapikan meja makan hampir menjatuhkan piring. "Nggak boleh! Di sini hanya ada satu kamar, Ragahdo!" "Kan kita bisa tidur bareng di kamar kamu. Lagian kita sudah pernah melakukan yang lebih dari sekadar tidur bareng, kan?" goda Ragahdo dengan senyum nakal. "Nggak bisa! Kita udah bukan suami istri. Pergi sana!" Ragahdo mendengus kesal. "Ya udah deh, aku tidur di sofa saja." Winona spontan tertawa, sebuah tawa renyah yang membuat Ragahdo terpana. "Badanmu bakal pegal-pegal nanti kalau tidur di sofa murahan. Belum lagi di sini nggak ada AC, kamu bakal kepanasan plus dikeroyok nyamuk kontrakan yang ganas-ganas. Udahlah, pulang aja sana!" Ragahdo menatap Winona lama, ada binar di matanya yang sulit diartikan. "Owh, nyamuknya ganas kayak orang yang tinggal di sini, ya? Duh jadi ingat adegan gigit-gigitan kita kita 3 bulan yang lalu. Yakin nih, Win ... kamu nggak mau ulangin adegan itu lagi?" "RAGAHDO! PULANG SEKARANG!" Ragahdo tertawa terbahak-bahak saat dia melihat wajah Winona yang memerah sempurna, tapi di dalam hatinya, dia bersumpah tidak akan pernah membiarkan wanita itu lepas lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN