Bab 8. Jandaku Pergi Membawa Candu

1103 Kata
"Eh ...?" Winona terkejut saat keluar dari lift, matanya membelalak lebar. Di depan meja sekretaris, Ragahdo berdiri tegak dengan setelan jas. Di sampingnya, terdapat dua buah koper berukuran besar. "Akhirnya kamu datang juga." Pria itu tersenyum lebar — senyum yang bagi Winona adalah pertanda bahaya. Dia mendorong dua koper ke arah Winona. "Masing-masing bawa satu, ayo ikut aku!" Winona mengerjap bingung, memegangi gagang koper yang terasa berat. "Eh ... kita mau ke mana, Pak?" Tangan bebas Ragahdo menyambar pergelangan tangan Winona, menariknya kembali menuju lift VIP. "Perjalanan bisnis." "Eh ...? Kok sama saya? Bang Adam mana?" Winona mencoba menahan langkahnya, tapi kekuatan Ragahdo tak tertandingi. "Kan kamu juga sekretarisku. Adam aku kasih cuti. Jadi cuma kita berdua aja yang pergi." "Memangnya kita mau perjalanan bisnis ke mana, Pak? Kok jadwalnya belum dikasihkan ke saya? Saya bahkan tidak membawa baju ganti!" Winona mulai panik. Ragahdo menatap Winona dengan tatapan intens. "Kamu tidak perlu jadwal. Di dalam koper itu ada baju-baju kamu kok. Intinya diamlah, jadilah penurut dan ikutlah aku kemanapun kita pergi." Winona hanya bisa pasrah saat mobil membawa mereka ke Bandara Soekarno-Hatta. Matanya semakin membelalak saat melihat mereka masuk ke deretan penerbangan Internasional. Bukan Singapura atau Malaysia, tapi gerbang keberangkatan menuju Eropa. Mereka akan ke Italia. Begitu duduk di kabin Business Class yang mewah, Winona menoleh ke arah Ragahdo yang sedang sibuk menyesuaikan posisi duduknya. "Berapa hari kita ke Italia, Pak?" "Kamu maunya berapa hari?" Ragahdo balik bertanya, suaranya terdengar santai seolah mereka hanya pergi piknik ke Bogor. "Gimana kalau selamanya aja kita berdua ada di sana?" "Kok Anda malah tanya saya? Kan Anda yang tahu jadwalnya berapa hari kita mau ke sana!" Winona mendengus kesal. "Kalau mau selamanya ke sana, seharusnya Anda mengajak tunangan Anda!" Ragahdo tertawa, tawa yang terdengar sangat lepas dan sedikit mengejek. "Aku kan pergi mengajak istri sahku." "Kita sudah bercerai, Pak! Jangan bilang seperti itu!" Winona memalingkan wajah, merasa wahahnya mulai memanas. "Kita be—" Kalimat Ragahdo terputus saat seorang pramugari cantik datang memberikan instruksi pra-penerbangan dan menawarkan minuman. Ragahdo hanya memesan segelas champagne, sementara Winona lebih memilih air mineral untuk menenangkan tenggorokannya yang mendadak kering. Pesawat akhirnya take off. Deru mesin turbin yang kuat menggetarkan kabin sesaat sebelum tubuh pesawat yang megah itu mengangkat beban dari landasan, menembus lapisan atmosfer bawah, dan membelah hamparan awan menuju benua biru. Di ketinggian ribuan kaki, dunia di bawah sana tampak mengecil, seolah segala kerumitan hidup Winona di Jakarta ikut memudar bersama garis pantai yang semakin menjauh. Winona menyandarkan kepala pada jendela pesawat yang dingin, matanya terpaku pada gumpalan awan putih yang menyerupai pulau-pulau kapas. Cahaya matahari memantul pada sayap pesawat, menciptakan kilau perak yang menyilaukan. Di balik keheningan itu, badai dalam kepalanya justru menderu lebih kencang daripada mesin pesawat. Wanita itu bisa merasakan kehadiran Ragahdo di sampingnya. Meski pria itu tidak lagi menggodanya, dan tampak sibuk dengan tabletnya. Namun, aroma parfum woody-nya tetap menginvasi ruang pribadi Winona, seolah-olah kursi kelas bisnis yang luas ini pun belum cukup untuk menjauhkan mereka. "Ragahdo ... apa sih yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" batin Winona getir. "Mengapa sekarang? Mengapa saat aku sudah hampir berhasil melupakan rasa sakit itu, kamu justru mendekatiku?" Perjalanan udara dari Jakarta (CGK) menuju Roma (FCO) memakan waktu kurang lebih 14 hingga 15 jam jika termasuk transit. Karena mereka berangkat pukul 08.00 pagi waktu Jakarta, dan Italia memiliki perbedaan waktu 6 jam lebih lambat (WIB-6), maka mereka diperkirakan mendarat di Bandara Fiumicino, Roma, pada pukul 17.00 sore waktu setempat. Selama belasan jam itu, Winona lebih banyak pura-pura tertidur. Dia takut jika dia membuka mata dan menoleh, dia akan kembali tenggelam dalam pesona mata cokelat gelap milik Ragahdo yang selalu menatapnya seolah dia adalah mangsa yang takkan pernah diepaskan. *** Matahari sore yang berwarna keemasan menyambut mereka saat keluar dari bandara. Udara musim gugur yang sejuk menyapu wajah Winona, membuatnya sedikit menggigil karena dia hanya memakai blazer kantor murahan yang tipis. Sebuah mobil limosin hitam sudah menunggu di lobi kedatangan. Seorang sopir pria — orang asli Italia — yang rapi membungkuk hormat dan mengambil alih koper mereka. "Pak, ini perjalanan bisnis apa?" tanya Winona saat mereka sudah duduk di dalam mobil. Ragahdo menyandarkan punggungnya, menatap bangunan-bangunan kuno berasitektur Romawi yang mulai terlihat di sepanjang jalan. "Ada pameran tekstil terbesar di Milan beberapa hari lagi. Tapi sebelum ke sana, aku ingin stay di Roma dulu. Ada sesuatu yang ingin aku 'ambil' di sini." "Apa?" Ragahdo menoleh ke arah Winona ada senyum misterius di wajahnya. Alih-alih menjawab, dia justru menggenggam tangan Winona di atas jok kulit mobil. "Jangan pegang-pegang!" seru Winona buru-buru menarik tangannya. Ragahdo tidak marah. Dia justru terkekeh rendah, suara tawanya tenggelam di balik kedapnya kabin mobil limosin yang mewah. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan Winona bergelut dengan rasa kesalnya sendiri. Mobil terus melaju membelah jalanan kota Roma yang menawan. Winona mencoba mengabaikan kehadiran Ragahdo dengan melemparkan pandangannya ke luar, menatap deretan kafe pinggir jalan yang mulai menyalakan lampu-lampu gantungnya. Orang-orang lokal tampak asyik menyesap espresso atau menikmati gelato di bawah langit sore yang mulai meredup. Sesekali mobil berguncang pelan saat melewati jalanan berbatu kuno — cobblestone. Setiap guncangan itu membuat bahu Winona tanpa sengaja bersentuhan dengan lengan kekar Ragahdo. Winona bergeser hingga mepet ke pintu mobil, tapi Ragahdo justru sengaja merentangkan tangannya di atas sandaran kursi di belakang kepala Winona, seolah-olah sedang merangkul wanita itu tanpa menyentuhnya. "Roma selalu indah saat senja," gumam Ragahdo tiba-tiba, suaranya terdengar berat dan dalam. "Dulu, saat Mamaku bertanya padamu tentang, negara mana yang ingin kamu kunjungi untuk bulan madu bersamaku. Kamu menjawab Italia, kan?" Winona menelan ludah, dadanya mendadak terasa sesak. “Iya, dan itu tidak pernah terjadi karena Anda tidak mencintai saya. Ditambah lagi, Anda sibuk bermain-main dengan wanita lain. Anda juga menganggap saya tidak pantas pergi ke luar negeri karena saya orang desa, bukan?” Rahang Ragahdo mengeras mendengar sindiran itu, tapi dia memilih untuk tidak membalas. Suasana di dalam mobil mendadak menjadi sangat sunyi dan tegang, hanya terdengar suara ban mobil yang bergesekan dengan jalanan batu. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya limosin itu melambat, memasuki area pelataran sebuah bangunan megah bergaya neoklasik yang sangat artistik. "Turunlah, kita sudah sampai!" perintah Ragahdo saat mobil berhenti. Winona terpaku melihat kemegahan di depannya. Namun, keterpakuannya berubah menjadi keterkejutan saat mereka sampai di meja resepsionis dan Ragahdo hanya menyebutkan satu nama pesanan. "Hanya satu kamar, Pak?" bisik Winona dengan suara tertahan. Ragahdo meliriknya sekilas sambil menerima kunci kamar. "Ruang Presidential Suite. Ruangannya sangat luas dan ranjangnya ada dua. Kamu bebas memilih nanti." Winona menelan ludah. Dia tahu, di negeri impiannya ini, jeratan Ragahdo akan terasa berkali-kali lipat lebih menyesakkan. Ah, tidak maksudnya, kata-kata yang tepat itu mungkin ... lebih menggoda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN