Ragahdo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Benda berbahan logam perak yang mengkilap terkena pantulan cahaya. Sebuah borgol. "Syaratnya, tangan kita harus terus menyatu. Aku akan memborgol tangan kirimu ke tangan kananku," ujar Ragahdo santai sembari meletakkan benda itu di atas meja marmer. "Kamu gila!" rutuk Winona seketika. "Aku bukan b***k! Aku ini manusia bebas!" Ragahdo mengangkat bahu, seolah keberatan Winona hanyalah angin lalu. "Kalau nggak mau ya sudah, kita bisa seharian di rumah ini sambil nonton film. Tapi filmnya harus aku yang pilih." "Kamu mau nonton film apa emangnya?" tanya Winona dengan nada curiga. Ragahdo menyeringai nakal. "Karena kita lagi di Italia, aku mau nonton filmnya Massimo. Gimana? Mau praktik adegan di kapal tanpa perlu ke kapalnya langsung?"

