Hal Sederhana yang Mulai Terasa

752 Kata
Kantin kampus, siang hari Kantin kampus siang itu penuh. Suara obrolan saling bertabrakan, kursi yang digeser menimbulkan bunyi berisik, dan aroma makanan bercampur jadi satu. Biasanya suasana seperti ini membuatku ingin cepat pergi. Tapi hari ini… aku hanya duduk diam di meja pojok. Di depanku ada sepiring nasi dan lauk yang belum tersentuh. Sendok di tanganku hanya berputar-putar di atas piring tanpa tujuan. Pikiranku terlalu ramai untuk sekadar makan. “Nggak dimakan?” Aku mendongak. Arga sudah berdiri di samping mejaku, membawa dua gelas minuman dingin. Keringat tipis terlihat di dahinya, mungkin karena cuaca panas atau karena dia baru saja berjalan cepat. “Kamu dari tadi merhatiin?” tanyaku, sedikit heran. Dia menarik kursi di depanku tanpa menunggu izin, lalu duduk santai. “Lumayan,” jawabnya ringan. “Kamu kelihatan kayak lagi perang sama pikiran sendiri.” Aku menghela napas pelan. “Lagi nggak lapar.” Dia menggeser satu gelas ke arahku. “Minum aja dulu. Biar nggak kelihatan makin stres.” Aku menatap gelas itu beberapa detik. Es di dalamnya masih berbunyi pelan saat disentuh. Tanpa banyak pikir, aku akhirnya mengambilnya. “Kenapa kamu peduli?” tanyaku tiba-tiba. Pertanyaan itu keluar begitu saja. Dia terdiam sejenak, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Karena aku mau,” jawabnya sederhana. Aku mengernyit. “Sesimpel itu?” “Iya,” dia tersenyum kecil. “Nggak semua hal harus punya alasan rumit, kan?” Aku tidak langsung menjawab. Tapi ada sesuatu dari caranya bicara… yang terasa tulus. “Kamu selalu sendiri ya di sini?” tanyanya lagi sambil melihat sekeliling. Aku mengangkat bahu. “Udah biasa.” “Biasa bukan berarti harus terus begitu.” Aku menatapnya. “Kalau bukan begitu, harus gimana?” Dia berpikir sebentar. “Ya… mulai terbiasa sama yang lain.” Aku tertawa kecil, tapi tanpa suara. “Kayak kamu?” Dia mengangguk santai. “Kalau kamu nggak keberatan.” Aku menatapnya beberapa detik. Biasanya, aku akan langsung menolak. Biasanya, aku akan memilih pergi. Tapi hari ini… aku tetap duduk di sini. Dan itu aneh. Beberapa menit berlalu. Kami tidak banyak bicara. Dia sibuk dengan minumannya, aku masih memainkan sendok di piring. Tapi suasananya tidak canggung. Tidak seperti biasanya saat aku duduk dengan orang lain. “Aku boleh jujur?” tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk pelan. “Kamu kelihatan capek.” Aku terdiam. Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa… terasa langsung mengenai sesuatu di dalam. “Aku baik-baik aja,” jawabku cepat. Dia tidak langsung membalas. Hanya menatapku. Seolah tahu… itu bukan jawaban sebenarnya. “Terserah kamu mau cerita atau nggak,” katanya akhirnya. “Aku nggak maksa.” Aku menunduk. Jari-jariku menggenggam gelas sedikit lebih erat. Sudah lama… tidak ada yang bilang seperti itu. Biasanya orang akan terus bertanya. Memaksa. Atau malah tidak peduli sama sekali. Tapi dia… berbeda. “Kalau aku cerita, emang kamu bisa bantu?” tanyaku pelan. Dia mengangkat bahu. “Mungkin nggak.” Aku mengerutkan kening. “Terus buat apa?” Dia tersenyum kecil “Tapi setidaknya kamu nggak sendirian.” Aku terdiam. Kalimat itu… sederhana. Tapi terasa hangat. Aku akhirnya mengambil satu suapan kecil dari piringku. Dia memperhatikan, lalu tersenyum. “Nah, gitu dong. Aku menatapnya. “Jangan merasa menang dulu.” Dia tertawa. “Minimal aku berhasil bikin kamu makan.” Aku menggeleng pelan. Tapi tanpa sadar… aku ikut tersenyum sedikit. Kantin masih ramai. Suara orang-orang masih sama. Tapi entah kenapa… hari ini terasa berbeda. Tidak seberisik biasanya. Tidak seberat biasanya. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama… aku tidak merasa benar-benar sendirian. Saat aku berdiri untuk pergi, dia ikut berdiri. “Mau ke mana?” tanyanya. “Kelas.” “Kita bareng?” Aku ragu sebentar. Lalu mengangguk kecil. “Iya.” Kami berjalan berdampingan di lorong kampus. Tidak banyak bicara. Tapi langkah kami terasa seirama. Dan untuk pertama kalinya… aku tidak merasa perlu menjauh. Di tengah perjalanan, dia berkata pelan— “Nara.” “Iya?” “Kalau kamu capek… bilang aja, ya.” Langkahku sedikit melambat. Aku tidak langsung menjawab. Karena aku tidak tahu harus bilang apa. Sudah terlalu lama aku menyimpan semuanya sendiri. Sudah terlalu lama aku terbiasa kuat. “Iya,” jawabku akhirnya pelan. Mungkin bukan jawaban yang jujur. Tapi cukup untuk sekarang. Hari itu berakhir seperti biasa. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada perubahan drastis. Tapi ada satu hal yang berbeda— Aku mulai menyadari sesuatu. Bahwa kadang… hal kecil seperti seseorang yang mau duduk di samping kita, mendengarkan tanpa memaksa, dan tetap tinggal tanpa alasan jelas… bisa terasa jauh lebih berarti daripada yang selama ini aku pikirkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN