Terbiasa Ada

506 Kata
Lorong kampus, pagi hari Pagi itu terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Lorong kampus belum terlalu ramai, hanya beberapa mahasiswa yang berjalan cepat sambil membawa buku. Aku berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar kelas yang sebenarnya tidak benar-benar aku baca. Mataku bergerak mengikuti tulisan, tapi pikiranku tidak ada di sana. Tanpa sadar, aku sedang menunggu sesuatu atau seseorang meskipun aku tidak mau mengakuinya. Aku menarik napas pelan, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kebiasaan baru yang tidak berarti apa-apa. Tapi tetap saja, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah-olah, pagi ini tidak akan lengkap tanpa melihat satu orang tertentu. Dan itu… membuatku sedikit tidak nyaman dengan diriku sendiri. “Kamu nyari sesuatu?” suara itu datang dari belakang, tenang dan familiar. Aku langsung menoleh. Arga berdiri di sana dengan ekspresi santai, kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. Seperti biasa, dia terlihat seolah tidak membawa beban apa pun. Berbeda denganku. “Enggak,” jawabku cepat, mungkin terlalu cepat. Dia mendekat beberapa langkah, menatapku sedikit lebih dalam. “Serius? Dari tadi kamu kelihatan fokus banget di situ.” Aku mengalihkan pandangan, berpura-pura membaca lagi. “Cuma lihat-lihat.” Dia tertawa kecil, pelan. “Aku kira kamu nyariin aku.” Jantungku berdetak lebih cepat. Aku tidak langsung menjawab. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti sesuatu yang tidak bisa aku abaikan begitu saja. Aku menoleh lagi, menatapnya sebentar. “Kenapa harus kamu?” tanyaku, mencoba terdengar biasa. Dia mengangkat bahu. “Nggak tahu. Pengen aja ketemu kamu.” Aku terdiam. Kalimat itu tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat pikiranku kacau. Aku mencoba mencari nada bercanda di suaranya, tapi tidak menemukannya. “Kamu selalu ngomong kayak gitu ke semua orang?” tanyaku lagi, sedikit lebih pelan. Dia menggeleng. “Enggak. Cuma ke kamu.” Aku menghela napas pelan, menunduk sedikit. Rasanya aneh ada bagian dari diriku yang ingin mempercayai itu, tapi ada juga yang langsung menolak. Terlalu sering berharap hanya untuk kecewa membuatku sulit menerima hal sederhana seperti ini. “Kelas kamu sekarang?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan. “Ada,” jawabku singkat. “Bareng?” tawarnya. Aku ragu sejenak. Ini hal kecil. Sangat kecil. Tapi tetap saja terasa seperti keputusan besar. Akhirnya aku mengangguk pelan. “Iya.” Kami berjalan berdampingan di lorong yang mulai ramai. Tidak banyak bicara. Tapi anehnya, suasana tidak terasa canggung. Langkah kami perlahan menyesuaikan satu sama lain, tanpa perlu diatur. Di tengah jalan, dia kembali membuka suara. “Kalau aku tiba-tiba nggak ada, kamu bakal nyariin nggak?” Aku berhenti melangkah. Menoleh ke arahnya. Pertanyaan itu terasa tiba-tiba. “Kenapa nanya begitu?” tanyaku. Dia tersenyum kecil. “Cuma pengen tahu.” Aku terdiam beberapa detik. Banyak jawaban yang muncul di kepalaku, tapi tidak ada yang benar-benar keluar. Pada akhirnya, aku hanya mengangkat bahu. “Enggak tahu.” Dia mengangguk pelan, seolah mengerti. “Jawaban jujur. Aku kembali berjalan, tapi pikiranku tertinggal di pertanyaan itu. Karena jauh di dalam hati, aku tahu jawabannya mungkin bukan itu. Dan justru itu yang membuatku takut. Mungkin… aku akan mencarinya. Dan mungkin… aku mulai terbiasa dengan keberadaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN