Slalu Ada, Tapi Tidak Pernah Dipilih

623 Kata
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku pulang lebih larut, langkahku pelan menyusuri jalan yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan menyala redup, angin malam terasa dingin menyentuh kulit. Tapi yang lebih dingin… entah kenapa, ada di dalam diri sendiri. Aku berhenti sebentar di depan rumah, menatap pintu yang tertutup. Tidak ada yang benar-benar menungguku di dalam. Aku sudah tahu itu. Dan tetap saja… rasanya tidak pernah terbiasa. Ponselku bergetar. Dari Lila. Nar, kamu udah sampai rumah? Aku menatap layar itu beberapa detik. Lucu. Baru saja dia pergi tanpa mendengarkan satu kalimat pun dariku. Sekarang dia bertanya. Udah. Balasanku singkat. Beberapa detik kemudian, chat lain masuk. Maaf ya tadi buru-buru. Aku lagi banyak banget pikiran. Aku menarik napas pelan. Jari-jariku sempat berhenti di atas layar. Lalu akhirnya aku mengetik. Iya, nggak apa-apa. Selalu begitu. Aku selalu bilang tidak apa-apa. Padahal… ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku katakan. Aku masuk ke dalam rumah. Sepi. Lampu ruang tamu masih menyala, tapi tidak ada siapa pun di sana. Televisi mati. Suasana terasa lebih kosong dari biasanya. Aku berjalan ke kamar, menjatuhkan tubuh ke atas ranjang tanpa mengganti pakaian. Lelah. Bukan cuma fisik. Ponselku kembali bergetar. Telepon masuk. Dari Lila. Aku menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat. “Halo?” “Nara…” suaranya terdengar lebih tenang sekarang. “Kamu nggak marah, kan?” Aku terdiam sejenak. Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa, jawabannya terasa berat. “Enggak,” kataku akhirnya. “Kamu baik banget, serius deh,” lanjutnya cepat. “Kalau bukan kamu, aku nggak tahu harus cerita ke siapa.” Aku tersenyum kecil, meski dia tidak bisa melihat. “Iya.” Hening beberapa detik. “Aku capek banget, Nar,” katanya lagi. “Rasanya kayak nggak ada yang ngerti aku.” Kalimat itu menggantung di udara. Dan tanpa sadar, aku menatap kosong ke langit-langit kamar. Tidak ada yang ngerti aku. Lucu. Aku hampir mengatakan hal yang sama. “Tapi kamu kuat kok,” lanjut Lila. “Aku aja kalau jadi kamu, mungkin udah nggak sanggup.” Aku mengerutkan kening sedikit. Kalimat itu… terdengar seperti pujian. Tapi entah kenapa, tidak terasa seperti itu. “Kuat?” aku mengulang pelan. “Iya lah. Kamu tuh selalu kelihatan baik-baik aja. Nggak pernah cerita masalah. Kayak… hidupmu aman-aman aja gitu.” Aku terdiam. Tangan kiriku mengepal pelan di atas kasur. Jadi selama ini… itu yang dia lihat? Aku ingin tertawa. Atau mungkin… menangis. “Aku juga—” aku mulai bicara. “Tapi ya udah deh,” potong Lila cepat. “Yang penting aku lega habis cerita ke kamu.” Kalimatku terhenti. Lagi. Selalu seperti itu. Seolah-olah kata-kataku tidak pernah punya tempat untuk selesai. “Iya…” jawabku pelan. “Nanti kalau aku butuh lagi, aku hubungi kamu ya,” katanya santai. Aku memejamkan mata. “Iya.” Satu kata lagi. Selalu satu kata. “Ya udah ya, aku mau istirahat. Makasih banget, Nar.” Telepon terputus. Kamar kembali sunyi. Aku masih memejamkan mata, mencoba memahami sesuatu yang sebenarnya sudah lama aku rasakan. Perlahan, aku duduk. Menatap ponsel yang kini gelap. Kadang aku berpikir… Aku ini apa, sih? Teman? Atau cuma tempat singgah? Aku selalu ada. Selalu mendengarkan. Selalu mengerti. Tapi kenapa… tidak pernah benar-benar dipilih untuk tinggal? Aku menghela napas panjang. Dada terasa sesak, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Mungkin karena sudah terlalu sering. Atau mungkin… aku sudah terlalu terbiasa. Aku bangkit dari tempat tidur, berjalan ke depan cermin. Menatap diriku sendiri. Wajah yang terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang salah. Tapi entah kenapa… rasanya tetap tidak cukup. Aku tersenyum kecil pada bayanganku sendiri. Senyum yang terasa asing. “Gapapa,” gumamku pelan. Seperti biasa. Aku mematikan lampu kamar, lalu berbaring kembali. Gelap. Sunyi. Dan di tengah semua itu, satu pikiran kembali muncul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN