Awal yang Terasa Rumah

503 Kata
Aku tidak selalu seperti ini. Dingin. Diam. Terbiasa sendiri. Ada waktu di mana aku pernah merasa… cukup. Dan itu dimulai dari hal yang sederhana. Hari itu hujan. Langit gelap sejak siang, dan saat aku keluar dari gedung kampus, air sudah turun tanpa ampun. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, beberapa membuka payung, sisanya hanya pasrah. Aku berdiri di dekat pintu, memeluk tas di d**a. Tidak membawa payung. Seperti biasa. Aku menghela napas pelan, menatap jalanan yang mulai dipenuhi genangan air. Mungkin aku harus menunggu. Atau… nekat saja. Aku baru saja melangkah satu langkah ke depan ketika tiba-tiba seseorang berhenti di sampingku. “Eh, mau kehujanan juga?” Aku menoleh. Seorang cowok berdiri di sana, memegang payung hitam. Rambutnya sedikit basah di ujung, sepertinya dia baru saja datang. Aku mengerutkan kening sedikit. “Enggak juga,” jawabku singkat. Dia tersenyum kecil. “Kalau gitu… mau nebeng?” Aku menatapnya beberapa detik. Orang asing. Tiba-tiba menawarkan bantuan. Harusnya aku menolak. Tapi entah kenapa… aku tidak langsung mengatakan tidak. “Ke arah mana?” tanyaku hati-hati. “Depan gerbang, terus ke kanan,” jawabnya santai. Aku terdiam. Itu arah yang sama. Dia mengangkat payungnya sedikit. “Bareng aja. Daripada nunggu hujan reda, bisa lama.” Aku ragu. Tapi hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dan aku… lelah menunggu. “Yaudah,” kataku akhirnya pelan. Kami mulai berjalan berdampingan di bawah satu payung yang sama. Jaraknya tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatku sadar… ini pertama kalinya aku berjalan dengan seseorang seperti ini. Tanpa alasan jelas. Tanpa hubungan apa pun. Hanya… kebetulan. “Nama kamu siapa?” tanyanya tiba-tiba. Aku sempat diam. “Nara.” “Nara…” dia mengulang pelan, seolah memastikan. “Aku Arga.” Aku mengangguk kecil. “Hmm.” Hening beberapa saat. Hanya suara hujan yang jatuh di atas payung. “Aku sering lihat kamu di kampus,” katanya lagi. Aku menoleh cepat. “Hah?” “Iya. Kamu yang selalu duduk di pojok, kan?” lanjutnya santai. Aku terdiam. Ternyata… ada yang memperhatikan. “Aku kira kamu tipe yang susah diajak ngobrol,” tambahnya sambil tersenyum. Aku mengalihkan pandangan. “Mungkin.” Dia tertawa kecil. “Tapi ternyata nggak juga.” Aku tidak menjawab. Tapi entah kenapa, suasananya tidak canggung. Tidak seperti biasanya. Kami sampai di depan gerbang kampus. Hujan masih turun, tapi lebih pelan. Aku berhenti melangkah. “Udah sampai,” kataku. “Iya.” Aku ragu sejenak. “Thanks, ya.” Dia mengangguk. “Iya. Hati-hati.” Aku berbalik, mulai melangkah menjauh. Tapi sebelum itu— “Nara.” Aku berhenti, lalu menoleh. “Iya?” Dia tersenyum. “Besok… jangan lupa bawa payung.” Aku terdiam sejenak. Lalu tanpa sadar, aku tersenyum kecil. “Iya.” Hari itu seharusnya biasa saja. Hanya hujan. Hanya pertemuan singkat. Tapi entah kenapa… rasanya berbeda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang melihatku. Bukan sebagai tempat cerita. Bukan sebagai seseorang yang harus kuat. Tapi… sebagai aku. Dan tanpa aku sadari, itu adalah awal dari sesuatu yang nantinya akan sulit untuk aku lupakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN