MPL - Chapter 14

2010 Kata
              Aleta tak kuasa menahan tangisnya. Jadi tante yang selama ini ia anggap merebut papahnya darinya dan mamahnya adalah seseorang yang tidak pernah salah sama sekali. Eva juga ikut menangis melihat kerapuhan yang ditunjukkan Aleta padanya saat ini. Eva ingin sekali memeluknya. Tapi ia mati-matian mengurungkannya. Eva takut jika ia akan ditolak lagi oleh Aleta.   “Maafkan saya jika saya telah menghancurkan hati kamu, Aleta. Saya hanya ingin yang terbaik untuk kamu seperti yang mamah kamu sudah titipkan pada saya. Walaupun memang saya juga terkejut dengan perubahan status antara saya, papahmu dan juga kamu. Tapi saya berusaha untuk menyesuaikan diri, Aleta. Yang saya tidak mengerti, kenapa kamu masih saja terus membenci saya.” Eva menyeka air matanya yang sudah terjatuh sejak ia menceritakan bagian sahabatnya memintanya untuk menikah dengan suaminya. “Saya bukan hanya menyayangi mamahmu yang telah menjadi sahabat saya selama bertahun-tahun. Tapi juga saya menyayangi kamu seperti anak saya sendiri. Walaupun saya tidak akan pernah memberikan keturunan pada mas Salman, papahmu. Saya sungguh amat bahagia karna saya punya kamu, Aleta. Tapi, ternyata kedekatan kita berangsur berubah semenjak saya dilamar oleh papahmu. Bahkan kamu malah membenci saya dengan segala daya upaya yang kamu ingin lakukan. Sampai kamu rela pergi meninggalkan papahmu hingga ke Jakarta. Saya sungguh minta maaf Aleta …. Saya minta maaf karna kamu jadi salah faham dan sampai pergi menjauh dari papahmu. Ini semua karna saya.” Eva kini bersimpuh di depan Aleta dan memegang tangan Aleta yang tergenggam erat.                 Ada nada penuh kekecewaan di sana. Karna harapannya bersama dengan Aleta memiliki hubungan yang baik malah jadi tidak sesuai dengan keadaannya. “Tapi kenapa kalian tidak memberitahukan dan menjelaskan padaku?” tanya Aleta dengan nada masih terdengar kesal. “Karna bukan kapasitasnya saya untuk menjelaskan sebenarnya. Seharusnya saya dan papahmu yang memberitahukan hal ini. Bukan saya sendiri. Tapi sungguh, saya sudah tidak kuat lagi dengan perlakuanmu pada saya dan bahkan kamu berprilaku sudah sangat keterlaluan pada papahmu sendiri. Untuk saya mungkin ini suatu hukuman karna saya sudah mengecewakan kamu. Mungkin juga tanpa sadar, saya sudah mengambil perhatian papahmu dari kamu, Aleta. Tapi tidak papahmu, Aleta. Papahmu tidak bersalah, dia juga sakit ditinggalkan oleh mamahmu. Papahmu juga sedih dan ia ingin ada kamu yang menemaninya di saat sedih. Tapi kamu tidak ada, Aleta. Kamu sibuk memendam sedihmu sendiri.” Jelas Eva masih dengan air matanya yang sudah menganak sungai. “Kalau setelah mendengar penjelasan ini kamu masih bersikap sama dengan sebelumnya pada papahmu. Saya tidak tau lagi harus bicara apa lagi padamu, Aleta. Saya juga tidak ingin memaksamu untuk mempercayai saya. Tapi ketahuilah, papahmu begitu merindukanmu.” Eva kemudian berdiri dan membuang pandangannya ke arah lain.                 Ia menyeka semua air mata yang membasahi pipinya. Aleta tak menjawabnya. Ia masih sibuk mencerna setiap kata-kata yang Eva jelaskan padanya. Bahkan sepertinya, Aleta tau jika perempuan yang selama ini ia benci itu tidaklah mengarang cerita. Ia bahkan bisa tau, bahwa air mata yang Eva teteskan adalah air mata ketulusan dan kejujuran tentang fakta yang selama ini ia tidak benar-benar tau.   “Kamu tidak perlu khawatir dan takut jika saya akan mengambil harta yang papahmu punya. Demi Tuhan, saya tidak menginginkan itu semua. Kamu berhak atas itu semua dan saya tidak akan memintanya sepeserpun. Toh saya juga tidak mungkin memberikan papahmu anak, jadi saya sama sekali tidak berhak atas seluruh kekayaan yang papah kamu punya. Jadi semakin kuat pula kedudukanmu. Kamu tidak akan pernah merasa terganti atau tergeser dengan adanya anak yang saya lahirkan. Sampai kapanpu, saya tidak akan pernah memberikan papahmu anak. Papahmu akan jadi papahmu selamanya, Leta. Tidak akan berubah sampai kapanpun. Bahkan ia menyayangi kamu dengan segenap perasaannya.” Kata Eva melanjutkan lagi yang seharusnya ia ceritakan.                 Eva menyeka air matanya lagi dan berusaha untuk tidak menampilkan kesedihan. Ia tak ingin membuat Aleta juga menjadi punya banyak beban fikiran. Walaupun ia tidak yakin jika ini tangisannya akan membuat Aleta berfikir.   “Semoga kamu dan papahmu bisa segera mendapatkan hubungan yang lebih baik dari sekarang ini, Leta. Saya hanya bisa berdoa kalian bisa akur lagi seperti sedia kala. Kalau kamu memang tidak mau memiliki hubungan baik dengan saya. Tidak masalah, mungkin saya hanya harus lebih banyak berdoa agar Tuhan bisa melembutkan hati kamu untuk bisa menerima saya sebagai pendamping papahmu dan sahabat mamahmu yang selalu menyayangimu.” Eva tersenyum tipis dan mengelus bahu Aleta. “Saya pamit, jaga diri kamu baik-baik dan jangan kecewakan papahmu.” Ucapnya masih dengan senyuman di wajahnya.                 Wanita itu kemudian meraih tas branded warna hitamnya dan segera pergi dari unit milik Aleta. Aleta masih bergeming di tempatnya. Walupun masih ada tetesan air mata di pipinya. Ada rasa iba sedikit di dalam hati Aleta pada wanita yang sudah mendampingi papahnya itu. Ia bahkan tidak tau jika kenyataannya akan sepahit ini. Jadi bukan Eva yang menyodorkan dirinya bahkan memiliki hubungan sebelum ini dengan papahnya. Papahnya bukan juga pengkhianat seperti yang dulu pernah ia bilang. Aleta salah besar karna telah menganggapnya demikian.   / / / / / /                   Daanya sudah dibawa pulang oleh kakanya dan kaka iparnya. Dante kini sendirian lagi di unit apartemen yang menjadi tempatnya berteduh selama ini. Setelah kepergian anaknya itu, Dante memilih mengambil minuman dan membawanya ke balkon di unitnya untuk dinikmati. Hanya menikmati awan siang hari dari ketinggian dan merasakan semilir angin yang bertiup mengenai tubuhnya. Perpisahan dengan Daanya tadi membuat dirinya sedikit sedih. Pasalnya gadis kecil itu tak mau lepas dari dirinya. Mungkin waktu yang diberikan Dante selama ini memang kurang untuknya. Namun, setelah diiming-imingi untuk membeli ice cream di mall nanti, Daanya baru mau ikut bersama dengan Deliza dan Chris.                 Untuk mengubur rasa sedihnya Dante menggulir layar ponselnya dan melihat beberapa postingan  teman-temannya di akun Instagramnya. Lelaki itu senang sekali melihat foto yang baru saja di post oleh mahasiswi kesayangannya dan gadis yang begitu ia sukai. Walaupun di foto itu Sienna tidak sendirian, tapi Dante begitu senang karna melihat gadis cantik itu di halaman Instagramnya. Tanpa sadar Dante tersenyum memandang foto Sienna dan sambil sedikit mengelus pipinya. Ia membayangkan seperti sedang berada di depan gadisnya itu dan melakukannya.                 Tiba-tiba ketika ia sedang menghayal sedang mengelus pipi gadisnya, sebuah panggilan telpon dari seseorang masuk begitu saja ke ponselnya. Dante langsung berfikir untuk menjawabnya atau tidak. Karna id penelponnya itu bu Angelia. Setelah panggilan telponnya yang pertama tidak ia jawab. Akhirnya bu Angelia menelpon lagi untuk yang kedua kalinya. Dante langsung menjawab telponnya untuk membuat wanita itu tidak salah faham. Ya, mungkin saja ada yang penting fikirnya. Jadi ia buru-buru menjawabnya. “Ya,” jawab Dante begitu sambungan telponnya tersambung dengan temannya sesama dosen. “Maaf mengganggu, Pa Dante. Bapa ada di apartemen?” tanya bu Angelia dengan nada suara khas dirinya yang manja. “Ada Bu, ada apa ya?” tanya Dante kemudian. “Apa ada rencana mau pergi hari ini?” tanya wanita cantik itu lagi. “Ada, Bu. Kebetulan saya memang mau ke luar.” Ucapnya dengan kejujuran. “Aduh sayang sekali. Tadinya saya mau mengajak Bapa keluar sambil menikmati sore hari yang indah ini,” ucap wanita itu yang terdengar kecewa. “Mohon maaf tapi sepertinya saya tidak bisa lagi untuk memenuhi undangan Ibu.” Ucap Dante kemudian.                 Lelaki itu bahkan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Walaupun bu Angelia tidak bisa melihatnya.  Ia benar-benar tidak enak dengan teman sejawatnya itu. “Baiklah tidak masalah, saya bisa memaklumi kegiatan Bapa yang super duper sibuk ini. Mudah-mudahan saya bisa kapan-kapan memiliki waktu berdua dengan Bapa untuk membicarakan hati kita.” Ucapnya dengan nada sedikit dibuat tidak sekecewa kedengarannya. “Sekali lagi saya mohon maaf Bu, saya jadi merasa tidak enak dengan Ibu karna selalu saja tidak memiliki waktu yang tepat untuk mengobrol,” ucap lelaki bertato itu dengan nada tidak enaknya.   “Oh tidak apa-apa Pa. Kalau begitu, sampai bertemu di kampus ya Pa. Saya harap kita bisa mengobrol.” Angelia kemudian menutup sambungan telponnya.                 Dante kemudian mengantungi lagi ponselnya. Ia kemudian menandaskan gelasnya yang masih berisi cairan mineral. Lelaki itu kemudian sedikit tersenyum karna selalu saja punya alasan untuk menolak temannya yang begitu mengaguminya. Walaupun tidak selalu ditolak dengan sengaja, tapi sayangnya wanita itu tidak mengajaknya bertemu di saat yang tepat.   / / / / / /                   Lelaki berkemeja abu-abu dengan denim berwarna biru dongker itu kini sudah duduk rapih di tempatnya. Ia sudah siap dengan kencannya yang sudah ditentukan oleh kakanya dengan seorang wanita yang pernah menjadi sahabatnya ketika di Universitas. Freada, ia bukanlah wanita lain. Wanita itu sudah mencintai Dante sejak lelaki itu masih berstatus sebagai kekasih Viola.                 Viola juga mengetahui itu. Tapi wanita itu tak pernah merasa cemburu pada Freada, wanita itu lebih akrab disapa dengan nama Frea. Wanita cantik asli Indonesia yang memiliki mata cantik dengan iris mata yang coklat membuat wanita itu semakin terlihat mewakili wajah wanita Indonesia. Hidung yang tidak terlalu lancip namun tidak terlalu pesek yang membuatnya semakin enak dipandang. Semua struktur wajahnya begitu pas. Hingga membuat wanita itu digilai para lelaki-lelaki tampan dan juga mapan tentunya. Namun sayang, tak pernah ada yang bisa menggantikan posisi Dante di dalam hatinya. Walaupun sesungguhnya ia tau jika Dante sudah memiliki tambatan hati.   “Apa sudah lama menungguku?” tanya wanita dengan dress di atas lutut dengan belahan dadaa yang rendah, kini menyapa Dante.                 Dante yang tadinya masih duduk santai sambil memainkan ponselnya kini mendongak dan melihat ke sumber suara. “Hi,” sapa Dante begitu ia melihat sahabatnya itu kini tengah berdiri.                 Dante langsung melayangkan cupika-cupiki ke arah pipi mulus yang selalu membuat lelaki itu mencubitnya ketika dulu mereka masih sama-sama dekat. Frea menerimanya dengan senang hati. Perubahan dalam diri Frea begitu kentara, Dante bahkan sampai dibuat terpesona sejenak dengan penampilan wanita itu. Lelaki itu langsung menarikkan kursi dan mempersilahkan Frea untuk duduk di hadapannya. Frea menurut. “Aku kangen sama kamu, Dan.” Ucap Frea begitu mereka saling berhadapan.                 Kalimat itu begitu saja meluncur dari bibirnya.  Frea bahkan tak ragu mengucapkan kata rindunya pada lelaki itu duluan. Dante tak menjawabnya, ia takut jika jawabannya malah membuat wanita di depannya ini malah berharap banyak padanya. “Kita pesen makanan dan minuman dulu ya.” Ucap lelaki bertato itu kemudian melayangkan sedikit senyuman tipis.                 Ia mengangkat tangannya pada seorang gadis dengan pakaian hitam putih dan juga mengenakan celemek di bagian depannya. Gadis itu langsung mengetahui apa yang dimaksud dengan kode yang Dante berikan dengan meminta buku menu yang ada. Frea dan Dante menerima suguhan buku menu dari gadis berambut panjang itu dan membaca satu persatu isinya. Setelah mereka berdua menemukan apa yang akan mereka santap sambil mengobrol, gadis pelayaan resto itu kemudian mencatat semua pesanan mereka dan membawa buku menunya lagi. “Kamu apa kabar, Dan?” tanya Frea setelah tinggal mereka berdua di meja sambil duduk berhadapan. “I’m good thanks.” Dante tersenyum menanggapi pertanyaan Frea. “Sepertinya kamu masih terlalu menjaga jarak denganku Dan, aku minta maaf.” Frea memajukan tubuhnya. “Aku rasa semuanya sudah jelas, kamu tidak salah apapun. Jadi tidak seharusnya kamu meminta maaf padaku.” Lelaki bertato itu menceritakannya lagi.                 Frea tersenyum mendengar jawaban lelaki di depannya itu. “Kamu lucu,” ucap Frea setelah dirinya sedikit meredakan tawanya. “Aku tidak sedang melucu, Frea.” Dante protes. “Lalu, kalau memang aku tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa kamu malah menjauhiku?” tanya wanita itu dengan tatapan sedikit kecewa.                 Wajahnya bahkan berubah mendung. “Saat itu ada Viola, aku dan Viola sudah memiliki hubungan dan setelah itu bahkan kami menikah. Jika aku tetap dekat denganmu, aku akan menyakiti perasaannya, Frea. Aku tidak mau itu. Aku begitu mencintainya.” Jelas Dante pada Frea secara terang-terangan.                 Yang sepertinya, pertanyaan itu sudah ribuan kali ia jawab dan seharusnya tidak ditanyakan lagi. Karna, Frea sudah tau jawabannya apa. “Tapi saat itu aku juga membutuhkanmu, Dan!” ucap Frea kali ini. Nafasnya tersengal, menahan marahnya. “Tapi Viola lebih membutuhkanku!” Dante berucap dengan nada penuh penegasan.                 Frea membuang tatapannya ke arah lain. Frea tau jika bicara dengan Dante tentang Viola, ia pasti akan kalah dan dirinya takkan berarti apa-apa. Dante juga tau, Frea pasti sebentar lagi akan menangis. Karna, ia membuang tatapannya ke arah lain dan tak mau melihat padanya yang berada di depannya.   / / / / / /
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN