Salman dan aku duduk di taman rumah sakit Hospi Hospital. Hujan sudah berhenti sejak sejam yang lalu. Sekarang sudah pukul 12 malam dan sepertinya aku harus menginap. Aku sudah meminta pa Muin untuk pulang dan membawa koper-koperku yang tadi aku bawa setelah aku sampai. Biar bagaimanapun, pa Muin juga pasti kelelahan karna seharian berkerja mengantar keluargaku yang lainnya.
Memang tak semua anggota keluargaku diantar olehnya. Biasanya, pa Muin hanya terfokus dengan kedua orang tuaku. Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak jika harus memforsir tenaganya sampai larut malam begini. Lelaki itu juga memerlukan istirahat yang cukup untuk mengerjakan tugasnya esok hari. Walupun mungkin agak remeh. Tapi tanpa pa Muin, keluargaku akan sedikit kewalahan karna tak ada yang bisa membagi waktu sebaik lelaki berusia 40 tahunan itu.
Salman dan aku masih saling terdiam sampai 5 menit pertama kami duduk di kursi taman di Hospi Hospital. Tak ada satupun kata-kata yang terucap dan kami hanya saling terdiam tanpa berbicara sedikitpun. Kami duduk berdampingan dengan fikiran kami masing-masing. Suara deheman yang dikeluarkan oleh Salman akhirnya membuat lamunanku buyar seketika dan akhirnya aku menoleh pada lelaki yang kini berada di sampingku itu.
“Aku tau, kamu itu pasti sedang memikirkan tentang permintaan Ratih yang tadi dia ucapkan.” Salman memulai pembicaraan dan lelaki itu mencoba menghadap ke arahku.
Aku mengangguk. Aku bingung harus mengatakan apa. Dari 10 tahun lebih aku, Ratih dan mas Salman bersahabat permintaan inilah yang paling tidak pernah terfikirkan olehku untuk keluar dari mulut Ratih. Salman dan Ratih yang aku tau begitu saling mencintai dan sangat serasi. Mereka bahkan tak pernah berpisah walau hanya satu hari. Ke manapun Salman pergi, Ratih juga pasti akan ada di sana. Karna Salman sendiri memang adalah seorang pengusaha real estate yang sering sekali pergi keluar kota untuk mengontrol beberapa lahan proyeknya.
“Aku tau, kamu memang tidak ingin menikah setelah Irvan meninggalkanmu. Aku atas nama Ratih meminta maaf karna mungkin ini menyinggungmu, Va. Tapi aku dan Ratih tidak ingin memaksamu, Va. Jika memang kamu ingin menolaknya dan keberatan dengan permintaan wanitaku. Kamu berhak menolaknya.” Ucap Salman yang merasa tidak enak dengan sahabatnya sendiri.
“Aku harus fikirkan masak-masak sebelum aku memberikan jawabanku padanya, Mas. Lagipula kalian itu pasti akan bersama selamanya. Aku yakin jika Ratih akan secepatnya sembuh. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya.” Aku berusaha menghiburnya.
“Va, kemungkinan Ratih untuk sembuh itu sangat tipis sekali. Mungkin hanya 1 : 1 juta orang yang akan sembuh. Kanker yang deritanya sudah memasuki stadium akhir dan hanya sebuah mukjizat yang dapat menyembuhkannya.” Jelas Salman dan memberi tahukan keadaan yang sebenarnya.
Kalimat inilah yang tidak pernah Salman ucapkan padaku. Karna lelaki ini juga punya pengharapan sepertiku. Ia begitu yakin kalau Ratih akan sembuh. Tapi nyatanya, malah semakin parah hingga memasuki tahap terparahnya. Air mataku jatuh begitu saja mendengar lelaki itu mengungkapkan segalanya.
“Aku mohon Va. Jangan buat aku dan Ratih menunggu. Aku punya feeling yang tak baik jika kamu berlama-lama menjawab permintaan Ratih, Va. Aku tau, alasan sebenarnya kenapa sampai ia memintaku menikah denganmu, tadi.”
Aku tak menjawabnya. Aku hanya mencoba memfokuskan apa yang ingin ia ucapkan.
“Karna dia tau kamu bisa menggantikannya dan kamu bisa melakukannya dengan baik. Karna dia juga tau dan mengenal kamu selama puluhan tahun dan kamu adalah sahabat kami yang terbaik. Aku tau, jika mungkin wanita lain, Ratih pasti tidak akan seyakin ini untuk melapaskanku untuk menikah lagi. Aku tau, Va. Mungkin berat untukmu untuk menjawabnya. Tapi aku mohon sekali lagi padamu. Tolong fikirkanlah lagi. Aku janji akan belajar mencintaimu, aku juga janji akan memberikan yang terbaik untukmu dan Ratih secara adil.” Salman kini bersimpuh di hadapanku.
“Mas, jangan seperti ini. Ayo bangun!” Ucapku dan memintanya untuk berdiri atau minimal berpindah ke sebelahku.
“Aku tak yakin jika wanita lain mampu menggantikan Ratih seperti kamu begitu menyayangi Aleta. Aku yakin juga kalau Aleta pasti akan menyayangimu, karna kamu begitu dekat dengannya seperti Ratih dekat dengannya. Aku mohon, menikahlah denganku, Va ….” Ucap Salman dengan nada memohonnya masih bersimpuh di hadapanku.
“Bangunlah, Mas. Kamu bukan anak remaja lagi yang melamar kekasihnya dengan cara bersimpuh seperti ini. Kita sudah tua.” Ucapku sambil menarik lengan lelaki itu untuk berdiri.
Aku juga tak tenang dan malah mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Memastikan aku tidak menjadi bahan tontonan untuk di sekitar kami. Setelah mengucapkan itu, akhirnya Salman mau kembali lagi duduk di sebelahku.
“Aku mohon, Va.” Mas Salman mulai menitikkan air matanya.
Lelaki itu begitu penuh harap dengan jawabanku. Salman juga mulai memberanikan diri menyentuh tanganku yang sedari tadi aku genggam sendiri karna gugup dan juga dinginnya malam ini menerpa kulitku.
“Tapi, Mas … sebelum aku menjawab permintaanmu dan Ratih. Ada yang perlu aku beritahukan padamu tentang diriku yang tidak pernah aku ceritakan pada kalian berdua.” Ucapku dengan nada sedikit ragu.
“Apa, Va. Katakanlah,” Salman menatapku dengan intens.
“Jika kelak kita menikah seperti apa yang diminta oleh Ratih tadi, tolong kamu jangan pernah mengharapkanku untuk bisa memberikanmu keturunan.” Ucapku dengan nada yang penuh kehati-hatian.
“Apa kamu tidak mau melakukan hubungan intim setelah kita menikah?” Salman mengerutkan dahinya.
“Bu-bukan seperti itu Mas, bukan seperti itu. Lagipula aku pasti yang akan berdosa jika aku menolak permintaan suamiku untuk melayani. Tapi maksudku …” aku menggigit bibir bawahku.
Aku benar-benar ragu harus menyampaikan keadaanku yang sebenarnya. Aku juga takut jika mas Salman mengharapkan lebih setelah kami berdua menikah nantinya. Biarlah aku ungkapkan segalanya sekarang sebelum aku mengambil jawaban yang pasti untuk hubungan kami berdua nantinya. Aku juga tak ingin mengecewakan mas Salman dan Ratih tentunya.
“Lalu, ada apa Va?” tanya Salman yang masih mengerutkan dahinya.
Terlihat jelas jika lelaki itu sangat penasaran dengan apa yang ingin aku sampaikan.
“Aku mandul, Mas. Itu salah satu aku dan Irvan tidak jadi menikah.” Ucapku akhirnya memberanikan diri untuk memberitahukan kenyataan pahit yang tidak pernah ku bagi kepada dua sahabatku ini.
“APA?!” mas Salman terlihat terkejut dengan apa yang ku ucapkan barusan.
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Wajahnya sedikit memerah karna dirinya sedang menahan emosinya.
“Mas, aku minta maaf. Jika ini membuatmu terkejut. Tapi satu hal yang perlu kamu tau. Aku dan mas Irvan memang sepakat untuk tidak menikah hanya karna persoalan ini. Itulah sebabnya sampai sekarang ini aku tidak ingin menikah dengan siapapun. Bahkan untuk dekat saja aku tidak akan pernah melakukannya.” Jelasku.
“Jadi lelaki brengs*k itu meninggalkanmu karna keadaanmu?” Salman mengumpat mantan kekasihku sekaligus lelaki yang masih sangat aku cintai itu.
Aku mengangguk sambil menunduk dalam.
“Va, aku sungguh tidak keberatan dengan apapun keadaanmu. Toh, sudah ada Aleta. Aku mohon, jika kamu setuju. Belajarlah untuk mencintaiku dengan tulus dan cintai juga sayangi Aleta. Aku tau kamu orang yang sangat baik, Va.” Salman menggenggam lagi tanganku dan membawa fokusku kembali padanya. “Tolong fikirkan kali ini, Va. Aku janji akan membuatmu jatuh cinta padaku dan melupakan lelaki bernama Irvan yang pernah sangat menyakitimu.” Lelaki itu kini meraih bahuku dan memelukku dari samping.
Hal yang sudah lama sekali tidak pernah ku dapatkan dari seorang pasangan. Aku begitu nyaman bersama dengan Salman. Entah karna dulu aku juga pernah menyukainya semasa kuliah atau memang aku terbawa suasana hingga aku merasakan kenyamanan yang luar biasa pada lelaki ini.
/ / / / / /
Sebulan kemudian setelah aku menyatakan bersedia menjadi istri kedua mas Salman. Ratih menghembuskan nafas terakhirnya. Aku, Salman dan Aleta sangat sedih melepaskan kepergiannya. Aleta masih tak tau tentang perjanjian yang kami sepakati bertiga sebelum ibunya meninggal. Sesuai perjanjian, aku menikah dengan mas Salman 2 bulan setelahnya. Bukan pernikahan yang mewah, hanya ada ijab kabul dan pesta kecil-kecilan di halaman belakang kedua orang tuaku setelahnya. Aku memang tak menginginkan terlalu menghabiskan uang suamiku. Aku juga hanya menginginkan pesta kebun sebagai tema pernikahanku dan aku hanya mengundang sedikit kerabat.
Pertama kali begitu aku menyampaikan keinginanku untuk menikah dengan Salman pada orang tuaku, mereka terkejut. Bahkan mereka menyangka jika aku sudah lama diam-diam memiliki hubungan dengan Salman. Tapi aku memberikan pengertian dan akhirnya mereka mau mengerti. Hingga akhirnya mas Salman dan keluarganya datang ke rumahku dan melamarku secara resmi. Di situ, Aleta baru mengetahui jika wanita yang ingin dinikahi papahnya setelah mamahnya meninggal adalah aku. Tante yang baru ia temui selama hampir mungkin 1 bulan setelah kepulanganku dari Jerman.
Aleta memang mengenalku dan beberapa kali melakukan sambungan video call saat aku masih di Jerman. Kami berdua cukup dekat, layaknya seorang tante dengan keponakannya. Salman dan Ratih juga sering mengirimkan foto bahkan video tumbuh kembang gadis kecil kebanggaan dua sahabatku itu. Aleta begitu marah ketika mengetahui akulah yang akan menjadi ibu sambungnya dan menggantikan posisi mamahnya. Walaupun sebenarnya ia tidak tau apa yang mendasari ini semua. Ratih sendirilah yang memilihku untuk menjadi ibu sambungnya. Aku tau kekhawatirannya tentang siapa yang akan menemani gadis remajanya itu. Tapi sungguh, aku harus memiliki tenaga ekstra untuk menghadapi gadis ini.
Aleta begitu membenciku setelah itu. Ia bahkan selalu menganggapku sebagai orang asing yang merebut ayahnya. Ia juga berpendapat jika aku berperilaku baik hanya untuk mengambil hatinya kemudian memisahkan dirinya dengan papahnya. Sungguh yang difikiran Aleta ini tak ada benarnya sama sekali. Aku benar-benar tak pernah menginginkan hubungan seperti pada dongeng si Bawang Merah Bawang Putih atau juga dongeng Cinderella. Aku begitu mencintainya dan sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Padahal, aku begitu bahagia ketika Aleta begitu ketergantungan padaku ketika mamahnya meninggal.
Bahkan aku beberapa kali menemaninya tidur hingga menginap di kamarnya. Aku mencoba medorongnya untuk tetap semangat walaupun sudah kehilangan mamahnya, wanita yang telah melahirkannya. Menghadirkan dirinya ke dunia. Tapi, mungkin hatinya begitu patah karna aku sudah mengecewakannya. Walaupun aku mendapatkan perlakuan seperti itu dari anak sambungku, tapi mas Salman selalu menyemangatiku untuk tidak menyerah. Lelaki itu juga begitu sabar dengan segala perlakuan Aleta padanya yang ikut-ikutan membenci papahnya sendiri. Padahal seharusnya tidak demikian dan bukan itu yang aku harapkan. Walaupun setiap keputusan pasti akan ada resikonya. Tapi harus aku bisa hadapi. Untuk hubunganku sendiri dengan mas Salman, semuanya berjalan dengan baik. Kami bahkan berusaha dengan keras untuk mencintai satu sama lainnya dan tidak ingin berpisah.
Eva flashback off.
/ / / / / /