“Saya juga bukannya dengan sengaja ingin menggantikan posisi ibu kamu. Saya sungguh mencintai papahmu dengan segenap perasaan saya. Saya juga tidak ingin kalian terus bertengkar karna tidak menginginkan keberadaan saya. Saya sungguh menyayangimu, Aleta. Walaupun saya bukan ibu kandungmu. Tapi saya ingin kamu menjadi seperti anak kandung saya dan kita saling menyayangi. Hanya itu saja harapan saya. Berbagai cara sudah saya lakukan untuk dekat denganmu, Aleta. Tapi sampai saat ini, hubungan kita tidak juga membaik. Malah saya merasa hubungan kita semakin memburuk. Bahkan semakin parah dengan kamu pindah ke Jakarta dan memilih untuk tinggal di sini sendiri. Beberapa kali kamu tidak pulang ke Palembang untuk menemui papahmu. Papahmu begitu merindukanmu, Aleta. Dia ingin kamu bersama dengannya, Aleta. Usia papahmu bahkan sudah tidak muda lagi, Leta. Jangan kamu seperti ini. Saya juga yakin, mamah kamu juga tidak suka jika anaknya menjadi pembangkang seperti sekarang ini.” Air matanya sudah mulai turun membasahi pipinya.
Aleta tak menjawab celotehan wanita cantik yang sudah hampir 5 tahun ini menjadi ibu sambungnya. Aleta masih memandang wanita itu dengan tatapan sengitnya. Ia bahkan tak suka jika wanita itu membawa-bawa mamanya di dalam kalimatnya.
“Jangan bawa-bawa mamah saya dalam pembicaraan ini. Dia juga pasti tidak suka karna anda sudah dengan berani-beraninya merebut papah saya.” Ucap Aleta dengan nada tak suka.
“Leta, yang perlu kamu tau. Mamahmu lah yang meminta saya untuk menikah dengan mas Salman, papahmu. Ia juga yang meminta saya untuk menjaga dan menyayangi kamu seperti anaknya sendiri. Saya menikah dengan mas Salman atas permintaannya, Aleta. Demi Tuhan saya tidak berbohong.” Jelas singkat Eva dengan derai air matanya.
Eva sudah tidak kuat lagi dipersalahkan atas segala yang dikatakan oleh Aleta barusan. Aleta bahkan tak tau apa yang terjadi. Aleta membeliakkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tapi di dalam hatinya ia tak boleh percaya begitu saja. Ini semua pasti kebohongannya perempuan ini saja agar menarik hatinya untuk mau berdamai dan membuat papahnya menang.
“Awalnya kami tidak saling menyayangi. Saya dan mas Salman adalah teman waktu kami masih kuliah dulu. Ratih, alm. mamahmu dan papahmu kami bertiga bersahabat. Saya ….” Eva memulai ceritanya.
/ / / / / /
Eva flashback ON.
Aku baru saja menginjakkan kakiku di Bandara. Aku memang pulang ke Indonesia lagi sejak berdiam dan merenungi nasibku di Jerman. Sejak lelaki yang ku sayangi meninggalkanku beberapa tahun lalu. Setelah kami bersepakat untuk menikah namun sayangnya rencana pernikahan yang sudah kami susun rapih hanyalah tinggal rencana. Aku gagal menikah dengannya dan akhirnya dikirim kedua orang tuaku ke Jerman untuk mengikuti kaka sulungku yang berkerja di Jerman. Ia memiliki beberapa bisnis perhotelan dan aku diminta untuk memegang salah satu cabangnya. Jadilah, aku langsung mengiyakan permintaan kedua orang tuaku untuk melupakan sedikit kekecewaanku.
Alasan aku dengan calon suamiku berpisah sebelum adanya pernikahan, karna aku divonis tidak bisa memiliki anak oleh seorang dokter yang memeriksa keadaanku. Padahal, undangan pernikahan kami sudah disebar. Aku memang tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi juga denganku. Merasakan sakitnya batal menikah hanya karna keinginan orang tua si lelaki yang tiba-tiba tak merestui hubungan kami. Tapi, jika mengingat hal itu, aku mengerti dengan keputusan mereka. Orang tua mana yang akan merestui hubungan anaknya dengan seorang gadis yang takkan pernah bisa memberikan keturunan untuk keluarga mereka. Bukankah tujuan seorang menikah juga salah satunya untuk memiliki keturunan kan. Lagipula keluarga lelaki yang ku cintai itu adalah lelaki yang level sosialnya masih di atas keluargaku. Jadi untuk meneruskan keturunan sudah pasti adalah tujuan mereka ingin menikahkan anaknya.
Pemeriksaan itu sengaja aku lakukan agar membuat aku dan lelaki yang ku cintai takkan kecewa di kemudian hari. Pemeriksaan sebelum pernikahan itu juga orang tuanya lah yang menginginkannya. Jadi aku menurut saja. Saat itu aku merasa jika diriku sehat-sehat saja. Tapi ternyata ada yang tidak baik di hari itu. Ternyata kondisi rahimku tidak memungkin untukku memiliki anak. Dengan berat hati kedua orang tua kami resmi membatalkan pernikahan kami di hari yang sama ketika dokter memberitahukan kenyataan pahit selama hidupku. Aku hanya bisa menunduk dalam sambil berucap jika aku takkan menikah dengan lelaki manapun setelah itu di depan mas Irvan, lelaki yang berjanji akan mencintaiku selamanya.
Aku sedang dalam perjalanan pulang, ketika semua memori yang terjadi beberapa tahun lalu itu berputar di dalam otakku. Selama di Jerman bahkan aku tak pernah memikirkan untuk dekat dengan seorang lelaki yang mungkin akan bisa membahagiakanku. Tapi, aku lebih memilih jalan untuk tidak melakukannya. Padahal, kedua orang tuaku juga sudah berpesan untuk mencoba membuka hatiku untuk lelaki selain mas Irvan untuk masuk ke dalam hatiku.
Aku mencoba belajar untuk menerima alasan mas Irvan meninggalkanku. Katanya ia ingin menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Dan aku mencoba untuk mengikhlaskannya. 3 bulan kemudian aku akhirnya mendengar mas Irvan menikah dengan wanita lain. Wanita yang selama ini tidak aku sukai namun aku kenal. Wanita yang selalu mengejarnya sejak kami sama-sama duduk di bangku SMA. Aku lagi-lagi meneteskan air mata jika mengingat perihnya luka yang sudah terlanjur ia goreskan. Padahal selama ini kami selalu menjadi pasangan favorite dan kami selalu saling menyayangi.
Aku menyeka air mata yang baru saja menetes ketika dering suara ponselku terdengar. Aku merogoh tas branded yang aku pakai dan melihat siapa yang menelponku.
“Va, kamu di mana?” tanya lelaki yang baru saja terhubung denganku melalui sambungan telpon.
“Aku lagi di jalan, Mas. Ada apa?” tanyaku pada lelaki yang selalu aku panggil dengan sebutan Mas.
Dia adalah suami dari sahabatku. Umurnya memang lebih tua 3 tahun dariku dan kami saling berkabar tentang segala sesuatu menyangkut Ratih, sahabatku. Kami bertiga juga memang saling bersahabat setelah Ratih dan Salman memiliki hubungan sejak zaman kuliah dulu. Salman memang senior kami di kampus. Sejak saat itu kami bersahabat.
“Bisa kamu segera datang ke Hospi Hospital? Ratih mendadak masuk ruang ICU.” Kata mas Salman yang terdengar panik.
“Astaga, Ba-baiklah aku akan segera ke sana.” Ucapku sambil menutup sambungan telpon.
Lalu, aku mentitahkan kepada supir keluarga yang mengantarku untuk berputar dan mengantarku pergi ke Hospi Hospital menemui sahabatku, Ratih.
/ / / / / /
Udara malam ini begitu dingin karna sedang turun rintikan air hujan yang memberikan suasana lain. Sudah hampir tak ada lagi rintikan air hujan, selama berbulan-bulan karna cuaca akhir-akhir ini semakin tidak menentu. Aku mengeratkan sweaterku yang sedikit terbuka karna aku terlalu banyak bergerak. Begitu sampai di rumah sakit, aku langsung membawa tubuhku berlari karna ingin segera sampai untuk bertemu dengan sahabatku.
Mas Salman duduk di ruang tunggu ICU sambil menundukkan kepalanya. Hanya ada ia di sana sendirian. Jadi aku bisa langsung menebak jika itu mas Salman yang sedang menunggu kabar dari dokter. Aku langsung menghampiri mas Salman dengan nafas yang masih belum beraturan karna aku habis berlari.
“Mas, gimana Ratih?” tanyaku begitu duduk di sampingnya.
“Keadaannya memburuk, Va.” Hanya itu yang bisa aku dengar dari bibirnya.
Dan ketika mengatakan hal itu, pandangannya beralih menatapku. Matanya berkaca-kaca karna menahan tangis. Aku tau lelaki itu pasti sedih karna wanita yang begitu dicintainya sedang berada di dalam dan aku yakin dalam keadaan tidak berdaya. Aku membekap sendiri mulutku yang terbuka akibat kabar yang baru saja ia ucapkan. Beda dengan mas Salman, aku langsung meluruhkan air mata yang sudah berdesakan ingin keluar dari ujung mataku. Sudah lama kami tidak bertemu, tapi malah kami bertemu dengan kondisi penyakit Ratih yang malah semakin memburuk.
“Keluarga Nyonya Ratih Frananda.” Seorang suster datang menghampiri kami yang sedang duduk bersisihan.
“Ya kami Sus,” ucap mas Salman yang langsung berdiri dari tempatnya duduk.
“Maaf Pa, Bu. Anda diminta masuk ke ruang dokter. Dokter ingin berbicara tentang kondisi Nyonya Ratih dengan Bapa atau Ibu.” Jelas singkat suster tadi.
“Baik,” kami langsung diantar menuju ruang dokter yang tak jauh dari ruang tunggu yang tadi kami tempati.
/ / / / / /
Ratih sudah mulai siuman. Aku diminta mas Salman untuk menemui istrinya yang menjadi sahabatku sejak lama. Ratih memejamkan matanya ketika aku datang bersama mas Salman ke ruang yang menjadi tempatnya beristirahat. Selang infus menempel di tangan sebelah kirinya dan beberapa selang yang jujur saja aku tak mengerti apa fungsinya.
“Va, kamu datang?” ujar Ratih tersenyum manis sambil membuka matanya perlahan karna mendengar derap langkah orang yang datang.
“Iya, ini aku, Ratih. Aku seneng sekali melihatmu.” Ucapku jujur karna sudah terlalu lama tak bertemu langsung dengan sahabatku itu sejak kepindahanku ke Jerman.
“Aku kangen banget sama kamu, Va.” Ratih mulai menangis bahagia karna bisa bertemu lagi denganku.
Biasanya kami hanya bisa bertatap muka melalui sambungan video call pada aplikasi chatting berlogo S berwarna biru. Melihat sahabatku menangis, aku jadi ikut terharu dan menciumi tangannya. Aku begitu dekat dengan wanita ini, aku rindu pada sahabatku ini. Jadi aku tau jika ia sedang merasakan sesuatu. Bahkan ia sempat merintih tapi aku tak tau dibagian mana sakitnya.
“Va, aku memintamu untuk datang bukan karna aku ingin melihatmu sedih karna melihat keadaanku saat ini. Jika boleh aku meminta, aku ingin kamu mendengarkan permintaanku yang terakhir.” Ucap Ratih dengan senyuman manis khas dirinya yang ikut mengembang.
“Jangan bilang ini permintaan terakhir Sayang. Kamu tidak boleh bicara seperti itu.” Mas Salman protes dengan ucapan sang istri.
“Aku mohon Mas, jangan hentikan kalimat yang ingin aku sampaikan.” Ratih sedikit merajuk dengan kalimatnya walaupun ada senyuman tetap di wajahnya.
Aku tak ikut protes karna aku tak ingin membuat sahabatku itu marah padaku.
“Va, aku ingin dan aku mohon untuk dengarkan ucapanku. Aku harap kamu mau setuju denganku.”
Aku hanya bisa menatap wajahnya, aku sungguh tak berani mengeluarkan kata-kata dari bibirku. Jantungku pun berdegup dengan kencangnya. Aku khawatir mas Salman dan Ratih bisa mendengar suara jantungku yang seperti tak bisa lagi diam di tempatnya.
“Va, aku hanya ingin minta tolong untuk kamu menjaga anak kesayanganku, putriku satu-satunya. Keponakanmu. Tolong cintai dan sayangi dia seperti aku menyayangi dia. Aku percayakan dia bersama denganmu dan Mas Salman.” Ratih terdiam sebentar, menarik nafasnya yang terasa sesak.
“Aku akan menjaganya, Ratih. Kamu tidak perlu khawatir dengan itu.” Ucapku berjanji pada sahabatku itu dan mengelus lengan atasnya.
“Terima kasih, Va.” Ia tersenyum lagi mendengar ucapanku. “Dan yang kedua adalah aku ingin kalian berdua saling menjaga dan menyayangi.” Ucapnya lagi.
“Ratih, kami saling menjaga dan menyayangi. Kamu tau itu, kita kan bersahabat.” Jawabku dengan nada penuh keyakinan.
Ratih menggeleng. Aku jadi mengernyitkan dahiku dan menatap mas Salman yang berdiri di belakangku.
“Bukan itu maksudku, Va. Aku ingin kalian menjadi suami istri yang sah dan kalian berdua menjadi orang tua untuk Aleta. Orang tua yang sempurna. Seperti yang selalu aku inginkan.” Kata Ratih lagi, kali ini air matanya semakin menganak sungai.
DEG ….
Jantungku benar-benar seperti mencelos keluar. Ratih baru saja memintaku untuk menikah dengan suaminya. Oh tidak mungkin, Salman memang laki-laki sempurna untuk dijadikan suami. Aku memang pernah mengaguminya, tapi hanya sebatas ketika lelaki itu belum memiliki Ratih sebagai kekasihnya. Tapi lelaki sempurtna ini jelas bukan untuk suamiku. Aku bahkan takkan pernah bisa memberikan keturunan untuk lelaki manapun. Aku tak ingin mengecewakannya. Bahkan mereka berdua saja yang notabene adalah sahabatku, orang terdekatku selain keluargaku tidak tau apa yang menjadi alasan kedua orang tua kami membatalkan pernikahanku dengan mas Irvan waktu itu.
“Tapi Tih, aku ….” Kata-kataku tercekat aku tak sanggup memberitahukannya sekarang.
Aku takut malah menjadi beban fikiran untuk Ratih. Mas Salman memegang pundakku dan memberikan kode jika aku harus berhenti melanjutkan kata-kataku.
“Kita bicarakan ini nanti ya. Aku dan Eva harus bicara dulu. Pernikahan itu bukanlah hal yang mudah, Ratih. Kamu tau itu.” Salman mengingatkan Ratih.
“Baiklah, aku tidak akan mendesak kalian. Tapi, aku ingin kalian bicarakan secepatnya ya. Aku ingin jawaban kalian sesegera mungkin.” Ucap Ratih dengan nada memohon dan juga mendesak.
Mas Salman hanya mengangguk. Sedangkan aku tidak bisa memberikan jawaban apapun. Aku masih terkejut dengan permintaan Ratih yang kedua.
/ / / / / /