MPL - Chapter 11

1969 Kata
             Nit nit nit nit ….                 Ceklek,                 Suara tombol door lock ditekan oleh seseorang. Keiza langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat sosok lelaki yang dirindukannya tengah berjalan ke arahnya. Air matanya langsung menetes begitu saja. Lelaki yang baru sebulan menjadi duda itu kini tengah berjalan ke arahnya. Merentangkan tangannya minta isyarat jika lelaki tampan itu meminta untuk dipeluk. Dipta membuat Keiza langsung menghambur ke dalam pelukan lelaki itu.                       Dipta Mahendra, lelaki asli Indonesia yang selalu menjadi incaran setiap kaum hawa. Di usianya yang menginjak hampir 40 tahun, lelaki itu masih memiliki tubuh yang bagus dan wajahnya yang terlihat seperti lelaki berusia 20 tahunan. Walaupun sebagai aktor yang diperlihatkan perawakannya yang rupawan, jadi sudah pasti lelaki itu juga melakukan perawatan untuk tubuh dan wajahnya agar selalu terlihat menarik dalam setiap karakter yang ia perankan di tv. Lelaki yang sudah memiliki 2 anak namun tetap masih terlihat bugar layaknya seorang bujangan. “Daddy dari mana saja?” Keiza langsung memeluk lelaki itu dan menangis dalam pelukannya. “Jangan menangis, memangnya kamu anak kecil?” ucap lelaki itu yang kini malah tersenyum dan mengeratkan pelukannya.                 Keiza tak menjawabnya, ia masih terus saja menangis setelah mendapatkan pelukan dari lelaki yang sudah sempat menghilang hampir seminggu ini tidak ada kabar. Lelaki yang terdengar frustasi karna begitu merindukan Keiza yang sudah membuatnya nyaman. Walaupun awalnya lelaki itu hanya sebatas mengagumi Keiza yang baik dan juga periang, tapi lama kelamaan gadis itu membuatnya semakin jatuh cinta dan memberikan kenyamanan sendiri. Mungkin terdengar salah, tapi Dipta begitu mendapatkan kenyamanan yang tidak ia dapatkan dari istrinya sendiri. “Maafin aku ya, Kei. Aku egois dan ga memikirkan perasaanmu.” Ucap lelaki itu dengan tampang serius dan menyesal.                 Matanya bahkan sudah berkaca-kaca menahan tangis dan rasa rindunya begitu membuncah. “Aku sudah maafin Daddy, asal Daddy jangan menghilang lagi!” Keiza memukul pelan punggung lelaki yang kini masih di dalam pelukannya.                 Dipta mengangguk dan mencium pucuk kepala Keiza. “Aku kesepian ga ada Daddy, maafin Keiza yang masih belum bisa jadi wanita dewasa seperti yang Daddy selalu inginkan.” Keiza masih menangis. “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dan kesepian lagi, Kei. Aku janji. Aku juga tidak perlu wanita dewasa seperti yang kamu ucapkan barusan. Aku hanya ingin kamu yang sekarang, Kei. Babyku yang selalu aku rindukan.” Dipta langsung meraup bibir Keiza yang begitu ia rindukan.                 Dipta begitu merindukan gadis ini. Gadis yang selalu ia rindukan dan ingin temui. Keiza adalah gadis yang membuatnya merasakan cinta yang lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Walaupun masih suka meledak-ledak, tapi ia amat nyaman dan sangat menyayangi Keiza. Umur Dipta memang tidak muda lagi, tapi ia merasa seperti abg yang baru mengenal cinta jika sudah di hadapkan dengan Keiza.   / / / / / /                    Nafas mereka saling memburu dan kini masih saling berpagutan. Bahkan sepertinya mereka sedang tidak ingin melepaskan satu sama lainnya walaupun baru 2 jam bertemu lagi. Sepasang sejoli ini masih ingin melanjutkan lagi kegiatan yang begitu menyenangkan ini untuk mereka. Ditambah lagi mereka berdua saling merindukan karna sang lelaki sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan sang gadis. Kini mereka sudah sama-sama berkomitmen untuk saling menghubungi satu sama lainnya dan saling jujur terhadap segala sesuatu yang mereka rasakan.                 Mata sang gadis masih terus menampakkan kebahagiaannya karna ia bisa melihat lagi sosok lelaki yang begitu ia kagumi dan sayangi kini sudah berjanji takkan meninggalkannya seperti kemarin. Mereka bahkan saling berjanji untuk setia dan meminta sang gadis mau dibawa ke pelaminan setelah dirinya menyelesaikan kuliahnya. Gadis itu juga dijanjikan akan bertemu dengan keluarga sang lelaki dan diperkenalkan oleh kedua anaknya tentunya.   “Terima kasih,” ucap gadis itu sambil mencium kilas bibir kekasihnya. “Untuk apa Sayang?” tanya lelaki yang masih betah di atasnya. “Segalanya, aku mau Dad ….” Kalimatnya terpotong karna sang lelaki yang masih betah di atasnya itu protes dengan tatapan matanya.                 Mereka baru saja berjanji untuk mengganti nama panggilan mereka dengan Sayang atau Honey. Tak lagi dengan Daddy dan Baby seperti yang mereka selalu ucapkan. “Maaf, maksud aku Honey.“ Keiza buru-buru meralatnya agar lelaki itu tak jadi merajuk.                 Ia benar-benar tak tau lagi harus berbuat apa jika ia ditinggalkan oleh lelaki itu lagi. Sudah cukup kemarin-kemarin itu Keiza merasa diabaikan oleh Dipta hanya karna dirinya membutuhkan waktu untuk berfikir tentang hubungan mereka. Ia sekarang sudah kembali lagi ke dalam pelukan Keiza dan sudah yakin dengan segala kekurangan dan kelebihan yang Keiza miliki untuk menjadi pendampingnya. Dipta awalnya begitu marah dengan perceraian yang terjadi dengan istrinya. Lebih tepatnya karna ia ketahuan dengan Keiza tengah bersama.                 Mungkin terdengar egois, tapi Dipta juga tak ingin imagenya hancur karna istrinya mengetahui jika ia berselingkuh dengan gadis yang usianya lebih muda darinya. Dipta juga tak ingin kehilangan istri dan anak-anaknya. Egois memang, tapi Dipta yang memulai semua api yang sudah berkobar di dalam rumah tangganya dan membuat ia harus rela hak asuh anaknya diambil oleh sang mantan istri, juga kehilangan wanita yang sudah menemaninya selama 8 tahun itu pergi dari kehidupannya. Lelaki tampan itu sebenarnya juga mencintai istrinya. Hanya saja, hubungannya dengan Keiza begitu menyenangkan sehingga membuat dirinya lupa dengan istrinya dan menempatkan Keiza di dalam hatinya yang terdalam.                 Walaupun sampai mereka bercerai sang mantan istri tak buka suara siapa nama wanita yang menjadi selingkuhan Dipta, juga Keiza dan Dipta yang tak pernah ketahuan tentang kedekatan mereka membuat Dipta sedikit berterimakasih pada sang wanita yang dulu pernah sangat ia cintai itu.     “Ya, Sayang. Ada apa?” tanya lelaki itu kini berpindah posisi dengan berbaring di samping gadisnya dan meminta gadisnya itu naik ke atas pangkuannya. “Mulai sekarang aku mau kamu pulang ke sini kalau lagi ga ada shooting.” Pinta Keiza masih mengulas senyuman di wajahnya.                 Sejak lelaki itu memberikan janji-janjinya, Keiza begitu bahagia dan seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya hingga membuat dirinya tak melepas senyumannya.   “Iya Sayang. Ini aku pulang kan? Aku janji ga akan ke mana-mana. Selain ke pelukan gadis nakal ini,” ucapnya sambil mencolek hidung gadisnya yang masih berada di pangkuannya.                 Kieza terkekeh mendengar ucapan Dipta. Tak ada kata lain selain, bahagia yang bisa ia ucapkan sekarang ini. Keiza begitu mencintai lelaki di hadapannya itu. “Faster Sayang,” pinta Dipta sambil merengkuh bibir merah muda yang masih sangat ia rindukan itu.                 Keiza mengikuti perintah Dipta hingga akhirnya mereka berdua mencapai klimaksnya masing-masing. Mereka kemudian saling berpagutan lagi dan Keiza kemudian turun dari pangkuan sang lelaki. Gadis itu kini merebahkan tubuhnya di samping Dipta dan memeluknya. “Kamu tau ga kemarin tuh pas gak ada kamu, aku rasanya pengen banget samperin kamu.” Kata Keiza memulai ceritanya. “Kenapa ga kamu samperin?” tanya Dipta yang kini terfokus padanya. “Aku takut dicuekin kamu,” ucap Keiza yang kini meraih bajunya dan mulai memakainya.                 Dipta tersenyum dan membelai kulit punggung Keiza yang masih belum tertutup sempurna. “Geliiii ….” Protes gadis itu yang kemudian menoleh pada Dipta yang malah semakin jahil dengan menggoda gadis itu lagi.                 Keiza menyingkirkan tangan kekar nan putih itu dari punggungnya dan berusaha untuk terlepas. “Oh, kamu udah berani kabur ya sekarang.” Dipta malah mengejar gadisnya yang kini berlari kecil menuju walk in closet di kamarnya.                 Gadis itu malah tertawa-tawa dan sesekali meledeknya. Hingga akhirnya ada aksi kejar-kejaran malam ini. Begitu tertangkap, Dipta langsung meraup lagi bibir Keiza dan mereka mulai berpagutan lagi. Tak hanya sampai di situ, Dipta juga mengangkat tubuh Keiza ke atas ranjangnya lagi sambil tak melepaskan pagutan mereka berdua. “Mulai berani ngeledek aku, ya kamu.” Protes Dipta yang sedikit melambatkan ritme ciumannya dan mulai bermain lembut.                 Keiza hanya terkekeh dan pasrah saja menerima ciuman berturut-turut yang Dipta berikan padanya. Karna memang itulah yang membuat dirinya rindu setengah mati pada lelaki yang sudah merebut hatinya.   / / / / / /   “Saya tau kalau kamu tidak suka dengan saya, Aleta. Saya tau itu,” ujar wanita dengan dress hitam tanpa lengan yang kini berdiri di depan Aleta. “Lalu kalau anda sudah tau, untuk apa ke sini menemui saya?” Aleta memandang wanita yang sudah menjadi istri papahnya itu dengan pandangan sengitnya. “Saya hanya ingin bicara dengan kamu sebagai wanita yang sama-sama mencintai mas Salman.” Ujarnya memberitahukan maksud dan tujuannya datang ke apartemen milik anak kandung dari suaminya. “Ga usah basa-basi. Cepat katakan apa yang anda ingin bicarakan!” sentak Aleta.   “Mas Salman sudah memberitahukannya semua pada saya tadi. Apa yang terjadi dengan kalian berdua di sini. Saya sangat sedih mendengar pertengkaran yang terjadi dengan kalian.”                 Eva terdiam sebentar dan memandang Aleta dengan wajah bersalahnya. “Saya minta maaf karna selama ini selalu menjadi penyebab pertengkaran kalian, saya sungguh meminta maaf kalau kamu tidak suka dengan keberadaan saya diantara kamu dan papah kamu. Asal kamu tau, Aleta. Saya tidak pernah berniat untuk menjadi penghalang untuk hubungan kamu dengan papah kamu. Saya rasa sudah saatnya saya memberitahukannya pada kamu tentang semua yang terjadi. Saya tidak ingin semuanya semakin berlarut-larut dan membuat hubungan antara saya dan kamu ataupun kamu dengan papahmu semakin memburuk. Saya menyayangi kalian berdua dan sudah saatnya saya harus mengatakan ini padamu. Yang perlu kamu tau, papahmu itu begitu mencintai dan menyayangimu. Saya harap setelah ini kamu fikirkan lagi tentang sikapmu pada papahmu.” Ucap Eva dengan nada penuh kelembutan.                 Aleta masih tak berbicara apapun. Ia mencoba menggali apa yang sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Eva tentang fakta yang sepertinya belum ia ketahui selama ini. Aleta juga mulai mengendurkan ekspresi mukanya dan malah terlihat melipat tangannya di depan daadaanya sambil duduk menyandar di sofa ruang keluarga.   / / / / / /     “Aku minta maaf, Sienna. Aku sungguh meminta maaf, padamu.” Arik masih berusaha untuk menarik perhatian Sienna dan mendapatkan maaf dari gadisnya itu.                 Sienna menarik tangannya dan menyeka air matanya yang masih tak kunjung berhenti. “Aku janji akan melakukan apapun asal kamu percaya lagi padaku,” ucap Arik sekali lagi. “Entahlah, Rik. Aku bingung harus menjawab apa dan melakukan apa sekarang ini.” Sienna berucap sambil mengulas senyum tipisnya.                 Senyuman itu begitu menyayat hati lelaki yang kini duduk bersimpuh di depan Sienna. Arik tau, Sienna melakukan itu hanya menyiksa dirinya dan membuatnya semakin merasa bersalah. “Kalau kamu tidak keberatan, aku akan mengajak Keiza bertemu besok.” Usul Arik sambil mengelus pipi gadisnya.   “Kamu atur saja,” Sienna kemudian melangkah meninggalkan Arik yang hanya bisa menatap kekasihnya itu pergi begitu saja.                 Yang bisa ia lakukan sekarang adalah ia harus mengikuti segala keinginan kekasihnya. Bahkan jika mungkin Sienna memintanya untuk menemui mereka sekarang, ia pasti akan melakukannya. Karna ia tak ingin kehilangan kekasihnya itu. “Tunggu Sienna, kamu mau ke mana?” tanya Arik yang akhirnya mendahului jalan gadisnya. “Entahlah,” ucap gadis itu acuh. “Aku mohon jangan seperti ini, Sienna. Berikan aku kesempatan untuk membuktikannya. Aku minta maaf jika seharusnya aku tidak membohongimu. Aku juga minta maaf karna seharusnya aku tidak mengatakan kejujuran untukmu. Tapi jika aku berbohong dan menutupi semuanya. Aku malah semakin merasa bersalah padamu, Sayang. Aku mohon percayalah padaku, Sienna.” Arik berjalan menghadap Sienna, sehingga terlihat jika lelaki itu sedang berjalan dengan cara mundur.                 Sienna berhenti sejenak dengan langkahnya. Arikpun mengikutinya, hingga mereka saling bersitatap.   “Rik, itu terlalu menyakitkan untukku. Aku mohon mengertilah dan aku juga berterimakasih karna kamu memang mau mengatakan semua yang kamu lakukan padaku. Tapi apa yang kamu katakan, aku masih belum bisa terima semua kejujuranmu. Aku sungguh tak bisa mendengar semua kelakuanmu di belakangku. Aku ….” Sienna tak berhasil melanjutkan kata-katanya.                 Ia masih terlalu sakit hati dengan semuanya. “Jangan kamu ucapkan kata-kata putus, Sienna! Aku tidak mau!” pinta Arik dengan nada mengancam.                 Sienna memang tidak loyal untuk menyebutkan kata-kata untuk berpisah. Ia sudah terlalu sayang dengan lelaki di hadapannya ini. Tapi, dorongan untuk mengatakan jika ia ingin mengakhiri hubungan ini terlalu kuat.   / / / / / /   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN