Ruang Hampa

1112 Kata
Menjauhi masalah dan hidup tanpa mepedulikan hal lain, selain kebutuhan sendiri, terkadang masih membuat hati terusik. Seperti jalan hidup seorang Clair. Apapun yang ia inginkan sangatlah mudah untuk diwujudkan, akan tetapi, bagaimana jika kegelisahannya bersumber dari hal lain. Bahkan, seluruh aset miliknya sangat mustahil untuk menepis. Menyibak selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya, lalu bangkit menuju kamar sang adik. Ia buka perlahan pintu yang menghadang langkahnya. Pagi masih sangat gelap, Silky tidak mudah bangun dengan suara pelan sekitarnya. Mengambilkan duduk di tepi ranjang tepat di samping punggung Silky. Telunjuknya yang mengarah pada punggung Silky mengeluarkan cahaya biru terang. Kedua matanya berair melihat setangkai bunga yang telah kuncup. Telunjuknya pun kian bergetar seiring setetes air mata jatuh melewati kedua pipinya. “Kakak,” panggil Silky leawat pantulan cermin. “Ya,” jawabnya lembut pun suara serak dengan Sisa lelehan air mata tak kunjung dihapus. Melihat tingkah aneh sang kakak, Silky segera bangun dari posisi berbaring miringnya. Clair pun segera menjauhkan telunjuknya. “Kakak menangis?” tegur Silky yang telah berbalik dan duduk berhadapan dengan Clair. Clair mengusap lembut kepala Silky penuh sayang, pun senyum hangat yang menenangkan “Aku selalu merasa tidak cukup untuk memberikanmu kebahagian kepadamu...” kalimat Clair menggantung. “Kakak, kau adalah satu-satunya orang paling sempurna di muka bumi. Kau tahu aku sangat kurang ajar dan brutal, tapi di matamu aku gadis paling polos tanpa dosa. Tanpa ragu, kau memberikanku seisi bumi hanya agar aku tetap tersenyum,” sahut Silky pun dengan kedua mata berkaca-kaca. “Akan ku usahakan mengimbangi setiap langkahmu menjangkau dunia. Akan ku usahakan selalu berada di sisimu,” ucap Clair sambil membingkai wajah Silky. “Kita saudara dan sedarah, kau akan selalu ada bersamaku Kak,” timpal Silky. Kakak beradik itu saling berpelukan dengan emosi haru masing-masing. Tanpa Silky ketahui, air mata Clair kembali merembes saat melihat pnggung tangan kanannya yang menunjukkan bulu halus samar, dan jantungnya pun ikut berdenyut nyeri. “Tidurlah kembali! Ini masih sangat pagi, dan kau pasti lelah dari perjalanan jauhmu,” ucap Clair sambil mengurai pelukan. “Kakak jangan lupa sarapan dahulu, sebelum berangkat,” pesan Silky sebelum Clair melangkah melewat garis pintu. Hari menjelang tengah hari. Rumah besar yang merupakan kediaman dua saudara itu selalu sunyi. Hanya para pekerja yang kerap kali memecah kesunyian hunian besar itu. Taman samping yang dihiasi bermacam bunga jenis bunga langka dan dilengkapi kolam kecil menjadi tempat kesukaan Silky berdiam diri. Entah sambil menyantap sajian atau sekedar memainkan ponsel. Sambil memainkan ponsel, Silky mulai meninggalkan taman. Ekor matanya tidak sengaja menangkap cahaya putih redup dari ujung lorong. Ia abaikan dan kembali melangkahkan kaki, namun tiga langkahnya mendorong keinginannya untuk mundur kembali. Karena rasa penasarannya lebih kuat, akhirnya ia pun kalah dan menuruti. Sambil menggigit ujung jari, dipandangi pintu coklat tua yang tampak kusam dan kuno. Kedua kakinya berjalan mondar-mandir sambil mengamati. Ukiran yang melenkung tidak jelas membuat dahi Silky mengerut, hingga kedua matanya menyipit. Tanpa sadar, ujung jarinya bermain mengikuti lengkungan pola dan berhenti pada titik tengah berbentuk putik. “Serumit ini hanya berakhir pada putik tanpa bunga,” ucap Silky. Detik berikutnya, pintu itupun memancarkan cahaya lampu di seluruh celah tanpa tersisa lalu terbuka. Kedua bola mata Silky membulat sempurna kala kegelapan yang ditangkap oleh pandangannya. Melihat sekitar yang tidak ada siapapun, lantas ia segera masuk untuk menuntaskan rasa penasarannya. Nyala obor yang spontan setelah pintu tertutup kembali, menjadi satu-satunya penerang di ruang hampa yang kini Silky tempati. Sejauh mata Silky menyapukan pandangan, hanya ada satu tangga yang melengkung ke atas dengan ujung mentok ke dinding. Tidak ada yang aneh, hanya ruangan yang salah pembuatan. Karena tidak ada apapun yang menarik, Silky memutuskan untuk keluar ruangan. Namun, pintu enggan terbuka. Mendorong, mengulang kalimat, serta mengulang sebelumnya pun tidak menunjukkan reaksi apapun, termasuk mengukir pola dengan telunjuk yang berhenti di putik. “Siapapun! Bukakan pintu!” teriak Silky. Tangan yang sedari tadi menggebrak dengan kesal pun semakin merah dan panas. Gelisah mulai merayapi diri Silky karena pintu tak kunjung menunjukkan reaksi. “Kakak! Tolong aku!” teriaknya lagi. Namun sia-sia. Entah berapa jam atau berganti hari, selama itu juga Silky tidak berhenti berteriak, hingga suaranya serak. Ia pun memutuskan untuk menyimpan tenaganya, karena sang kakak pasti akan menemukan dirinya. Itulah keyakinan pada diri Silky. Tanpa dia sadari bahwa ruangan yang dihuni tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Duduk di tangga paling ujung dengan menyandarkan kepala pada pembatas, wajah Silky telah menunjukkan keputusasaan. Kenyataannya, rasa lapar dan haus mulai menyerah tubuh mungilnya. Rintihan pelan yang disertai air mata membuat Silky semakin terjebak di ruangan hampa. Baru disadari larangan sang kakak untuk tidak memasuki ruangan ini, dan kini hanya sisa penyesalan. Usai tertidur cukup lama di tempat sama, Silky mengedarkan pandangan dan ia tahu ini bukan lagi mimpi. Berdiri lalu menghampiri pintu, ia tatap tajam sembari mengatur napas. “Ku perintahkan kau! Buka!” ucap Silky lantang pun dengan kedua mata yang menyala. Detik berikutnya, sebelah dadanya mendadak nyeri dan membuatnya jongkok karena nyeri aneh yang menyerang spontan. Lalu, tembok yang menjadi ujung tangga perlahan mengeluarkan lingkaran hitam dengan setitik cahaya biru terang. Melihat celah itu, segera Silky meraih satu-satunya obor untuk menberinya penerang. Langkah pastinya menaiki tangga tanpa ragu menuju lingkaran. Semakin dekat, hisapan kuat menarik tubuhnya masuk. Kegelapan yang menyelimuti membuat kedua kelopak mata tertutup rapat, namun masih dirasakan obor yang ia genggam erat. ** Sejuk dingin yang menyentuh jemari, menyadarkan Silky dari mimpi kosong. Perlahan kedua kelopak mulai terbuka, menyesuaikan cahaya samar dari obor yang masih di pegang. Gelap dan sunyi mengelilingi sekitar, lalu mengalihkan pandangan ke atas. Langit biru gelap yang terhalang ujung pohon membuatnya ragu untuk menafsirkan waktu. Berisik aliran air mengambil kewarasannya kembali. Meletakkan obor lalu bergegas menuju pancuran yang mengalirkan sumber mata air. Ia tuntaskan dahaga hingga puas, lalu membuka seluruh pakaian untuk membasuh tubuhnya. Sekitar yang masih gelap, ia yakini tidak ada orang lain yang akan mengintipnya. Berteman obor, ia ikuti tanah yang membujur membentuk jalan. Beberapa kali ia dengar ada yang jatuh, namun ia abaikan. Sampai, satu buah mirip apel jatuh menghantam kepalanya. Sempat ia mengumpat, lalu kedua bola matanya berbinar. Buru-buru ia ambil dan melahapnya, urusan keracunan pikir nanti. Setidaknya ia mati setelah kenyang. Lapar yang menyerang, menghabiskan lima buah apel. Ya, apel. Hanya bentuknya seperti hati. Mengantongi beberapa untuk dibawa selama belum menemukan jalan keluar. Asik menikmati buah liar yang didapatkam sepanjang jalan, tiba-tiba sebuah tombak menyerang Silky hingga mengenai sebagian helai rambutnya yang tergerai. Apel yang sedang di pegang jatuh begitu saja dengan tatapan kosong penuh keterkejutan. Tangan yang masih mengudara pun ikut bergetar, namun takut untuk bergerak meski sedikit saja. Sedangkan tombak tadi menembus pohon yang berada di belakang Silky. Bola mata yang bisa bergulir, melirik beberapa helai miliknya yang terpotong dan jatuh di tanah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN