Hilir angin yang beberapa kali menyapa, serta kesunyian yang masih menaungi Silky, seolah isyarat bahwa tidak ada yang menyadari keberadaannya. Ia segera mengemasi beberapa apel yang masih tersisa untuk kabur dari tempat. Arah samping kanannya yang menjadi pilihan hati untuk dijelajh. Ia tahu, bahwa dirinya buta wilayah hutan mana yang sedang di pijak, tapi berdiam diri dan menunggu seekor hewan buas memakan dagingnya itu jauh lebih bodoh.
Seperti pelari hebat yang telah tahu garis bujur pohon dilaluinya. Dalam otaknya hanya ingin berlari sekencang mungkin dan berharap siapapun tidak ada yng mengikuti. Tapi apalah daya, ditengah ribuan langkah miliknya semakin ringan dan mengambang. Pandangannya semakin mengimbangi tinggi pohon hingga mencapai atas puncak pohon tertinggi. Walaupun tahu sudah tidak beres, kedua kakinya masih setia berayun. Berpikir jika berhenti, ia akan jatuh. Lagi, semakin kencang menggerakkan kaki berlari meski telah melayang, karena posisinya tidak lagi di atas pepohonan. Melainkan di atas hamparan tebing yang runcing ke atas. Teriakan, umpatan, serta jeritan yang hampir menyamai petir mengudara.
Tubuh yang melayang dalam sekejap dibanting ke atas rumput hijau. Rasa panik dan takut yang belum usai, harus dikejutkan dengan benturan keras yang hampir mematahkan tulang punggungnya.
“Makhluk anehnya sudah ditemukan, Pangeran,” ucap seorang, dan alunan seruling itupun berhenti.
Pangeran yang sedang duduk di atas batu tepi tebing segera menyimpan serulingnya, lalu berdiri dan berbalik menghampiri Silky yang masih meringis mengusap bokongnya.
Uluran tangan besar milik Pangeran mengalihkan kesadaran Silky. Ia pandang telapak tangan itu lalu merambat ke lengan hingga wajah seorang pria tampan berambut biru setengah putih. Tatapan tajam menusuk terasa mengerikan bagi Silky, pun ragu menerima uluran tangan itu.
Diarkis Anosia Zoa, Pangeran negeri Evdemo Asteri. Pangeran yang memiliki ketampanan unik dan menjadi incaran para putri bangsawan. Terkenal tenang dan tidak ramah.
“Pangeran suka rela berjongkok dan mengulurkan tangan untukmu. Gadis liar yang tidak sopan,” seru pria berjubah biru yang berada di belakang.
Silky menelengkan kepala ke samping untuk melihat siapa yang mengumpat dirinya. “Diam kau! Cerewet!” maki Silky.
“Namaku Niu. Bukan cerewet,” koreksinya.
“Memangnya siapa yang ingin tahu nama jelekmu,” sahut Silky sambil berdiri.
Uluran tangan Diarkis yang masih mengambang di udara diabaikan oleh Silky. Hanya angin kosong yang menyambut tangan pria nomer satu di negeri, dan hanya Silky seorang yang berani mengabaikan uluran tangan Pangeran. Namun, Diarkis malah tersenyum tipis tanpa ada yang menyadari.
Niu mengangkat telunjuk mengarah kepada Silky dengan wajah serta tatapan marah. “Kau sangat pantas di hukum!” serunya.
Silky tertawa remeh. “Kau pikir, aku takut mati? Tidak.” Tegasnya.
“Hukuman tingkat tiga saja mampu meremukkan seluruh tulangmu,” ancam Niu.
Dengan santainya Silky melipat tangan di depan tubuhnya, tanpa mengalihan tatapan pada Niu. “Terdengar seru. Aku sangat tidak sabar ingin berkunjung ke surga yang katanya sangat indah,” timpal Silky.
Jawaban Silky berhasil membakar amarah dalam diri Niu. Pria itu seketika berubah wujud menjadi burung hantu berukuran besar dengan kedua sayap yang dikepakkan gagah. Dengan polosnya, kepala Silky mendongak mengikuti tingginya wujud Niu, sampai beberapa helai jatuh pada jawab wajahnya. Tiga helai bulu yang tidak pernah Silky sangka akan mudah dicabut, membuat si pemilik berteriak seiring kembalinya wujud menjadi manusia.
“Apa bulu ini laku dijual?” tanya Silky pada Diarkis
“Tiga ribu batu emas perhelai,” jawab Diarkis.
Oke. Kali ini Silky mulai berpikir keras dengan ‘batu emas’. Ia sadar jika saat ini dirinya berada di negeri dongeng, atau mungkin negeri terdahulu. Isi kepala Silky terus berputar menafsirkan keberadaannya.
“Batu emas?” ulang Silky untuk memastikan.
“Seperti ini,” tunjuk Diarkis setelah merogoh dari saku jubah.
Silky mengambil satu pecahan lalu mengangkat ke udara. Ia bolak balikkan, lalu diterawang, digigit, lalu dikembalikan lagi ke telapak tangan Diarkis.
“Ini alat pembayaran?” tanya Silky ragu dan diangguki oleh Diarkis.
Mengalihkan tatapan misterius pada tiga helai bulu Niu. Buru-buru ia masukkan ke dalam balik hoodienya.
“Jangan berani menjualnya!” peringat Niu.
Silky memiringkan kepala. “Sudah pasti ku jual.” Silky mengungkap keinginannya. Tersenyum misterius pada Niu.
Melihat Diarkis yang berbalik meninggalkan mereka, Niu buru-buru mengikuti dari belakang. Begitupun Silky yang terpaksa mengikuti, karena ia tidak tahu tempat seperti apa yang dipijak saat ini.
Kedua bola mata Silky melotot saat melihat tangga melingkar di depannya. Segera melangkah cepat pun menepis Niu dan menarik sedikit jubah Diarkis untuk berpegangan.
“Kau takut?” tanya Diarkis.
“Tentu. Bagaimana bisa? Kau mengajakku uji nyali seperti ini,” jawab Silky sembari mengatur napas berulang kali.
“Bukankah tadi kau mengatakan ingin segera ke surga,” sindir Niu dari belakang.
“Setelah mencekikmu!” sahut Silky ketus.
Silky mendekatkan wajah ke punggung Diarkis. “Sebelum menumbalkan diriku, berikan aku makanan yang enak. Em, sepotong daging panggang yang lezat,” bisik Silky.
“Hm.”
Diarkis hampir saja menyemburkan tawa. Gadis kecil yang ditemukan ini sangat berbeda, suaranya yang berani tapi terdengar polos dan lucu menggelitiki pendengaran. Bahkan, ketampanan yang selalu diagungkan setiap putri bangsawan seperti tidak ada harganya.
“Berhenti!” seru Silky cepat. Pun menarik jubah Diarkis, sontak membuat Diarkis mau tidak mau mengurungkan langkahnya.
Dua pasang mata terpaku polos melihat tingkah Silky. Gadis itu benar-benar lupa dimana dia berada dan dengan siapa dia berdiri.
“Manis sekali!” serunya heboh. Duduklah ia di undakan tangga sembari mengupas tuntas jeruk.
“Pohon ini melayang tapi bisa hidup?” herannya sambil mengintip ke bawah.
“Siapa yang mengatakan melayang? Akar pohon ini tetap tertimbun tanah,” sahut Niu.
“Apa buah itu benar enak?” imbuh Niu. Ikut berjongkok di samping Silky.
Silky menatap Niu dengan mata berkedip dua kali. “Kau tidak tahu atau tidak pernah makan?”
“Pohon ini cuma satu dan hanya dipelihara di taman pribadi Pangeran,” jelas Niu.
“Ini jeruk. Sangat manis. Bahkan, lebih manis dari pohon jeruk di kebunku,” ungkap Silky. Lalu menyodorkan satu yang telah dibersihkan.
“Benar. Ini sangat lezat. Mengapa aku tidak tahu jika ini bisa dimakan?” ucap Niu. Bertanya sendiri.
Diarkis yang menyaksikan pun ikut penasaran. Lantas ia memetik satu dan mengupasnya. Bola matanya yang tenang mendadak memancarkan binar bahagia, meski tipis.
“Niu, kau harus menanam benda ini lebih banyak!” perintah Diarkis.
Silky dan Niu menatap pria berwibawa itu dengan diam. Bahkan, Diarkis lebih rakus dari mereka berdua. Jadilah mereka duduk berjam-jam hanya menunggu Diarkis selesai menikmati jeruk hingga puas.
“Tempat apa ini?” tanya Silky pada Niu.
“Taman. Kau buta?” sahut Niu.
“Bukan itu,”
“Negeri Evdemo Asteri,” jawabnya.