"Tadinya ku pikir kamu tidak akan datang" Malik duduk di salah satu nisan. Dia menoleh, matanya terlihat kuning dari kejauhan namun cahaya kuning itu menyebar dalam warna coklat ketika Alicia semakin dekat.
Malik menyesap rokoknya kuat-kuat sebelum membuang benda itu ke tanah pemakaman.
"Kamu duduk di pusara kakekku"
Malik melihat ke pusara yang dia duduki, dia mengedikkan bahu merasa tidak bersalah "Cuma batu" katanya sambil lalu, mendekati Alicia.
"Kamu cemas ? mencemaskanku ?"
"Tentu. Aku membutuhkanmu untuk sebuah pekerjaan"
Alicia berjalan lebih dekat, seharusnya dia tidak melakukan itu karena bau maskulin Malik seperti bukan Malik. Alicia sedang berusaha memahami kenapa Malik bisa tumbuh diluar dugaannya, seperti ini ? Seharusnya dia masih jadi anak kecil yang tinggi badannya tidak jauh dari Alicia. Semua orang pasti salah berekspektasi tentang anak ini. Begitupun Alicia...
"Apa yang terjadi Malik ?" Kenapa suara Alicia bergetar. Perasaan yang sama seperti tadi sore kembali muncul. Malik kini punya aura yang tidak bisa dijelaskan Alicia "Kenapa kamu jadi seperti ini ?" Alicia berdaham "Kenapa kamu mencuri ?"
Malik tersenyum miring. Malik memandang Alicia merendahkan, dia mendominasi "Aku tidak mencuri Alicia, aku mengambil milik orang tuaku" Malik melihat si cebol lurus lurus, jujur. Dia terlalu cantik untuk tidak di lihat secara utuh.
"Dan kenapa kamu belum menikah ? Apa kamu menunggu anak yang kamu asuh berubah dewasa untuk menarik perhatiannya ?" Wajah meremahkan Malik, selalu sukses menjadikan Alicia bukan lagi manusia melainkan sampah paling buruk.
Yang menjadikan hal itu baik, justru karena sampah tidak harus menjawab pertanyaan manusia. Mereka melayang terbawa, pergi.
Alicia mengaitkan tangannya menekan nekan jarinya. Malik melihat tangan mungil Alicia, dan tahu kebiasaan kecilnya ketika dia cemas atau gelisah. Alicia selalu memegang kedua tangannya erat satu sama lain, terlalu keras sehingga Malik cemas dia akan mematahkan jari-jarinya sendiri.
"Kamu menunggu aku Alicia ?" suara Malik melembut seperti sehelai kapas lembut yang jatuh di kulit Alicia
Malik dia Malik, Alicia berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa peria yang sedang berdiri itu adalah Malik. Alicia menunduk melihat tangannya yang gelisah, mereka berwarna merah, masih ada bubuk merah ditangannya.
Alicia mengangkat wajah dan ternyata Malik sedikit membungkuk untuk menatap pori-porinya atau ronanya lebih jelas.
"Kamu menungguku Alicia ?" Malik mengulang pertanyaannya
Senyum kecil Alicia, yang teringat oleh Malik bukan jenis senyum seperti ini. Senyum Alicia dewasa ini, seperti senyum kelelahan seseorang yang terus gagal tapi masih harus tersenyum untuk menghargai orang lain. Malik melihat kelelahan di satu titik di mata yang selalu ceria dengan ribuan angan-angan kecil, yang tak pernah dicapainya. Kemana perginya angan-anganmu Alicia ? Angan angan di matamu ?
Di sini..., Alicia bilang begitu, ketika dia menyentuh wajah Malik dengan tangan merahnya
"Semoga Kamu selalu diberikan kesehatan untuk bisa melihat ribuan musim berganti" Alicia menatap lurus-lurus ke dalam mata coklat Malik, meyakinkan dirinya bahwa semua sudah berubah dan dia tidak apa-apa dengan semua yang berubah itu "Aku sangat beryukur bisa melihatmu lagi" Alicia tersenyum manis
Jantung Malik terpompa, mata kecil Alicia, oh detik itu dia sadar bahwa jantungnya masih mengalami gangguan ketika berdekatan dengan gadis ini.
Alicia menjauh, melepaskan tangannya dari pipi Malik. Kini keberaniannya sudah terkumpul untuk menjawab pertanyaan Malik "Aku tidak menikah Malik ! Begitu yang mereka bilang kan ? Buku haram jadah yang berjudul Dataran" Alicia berjalan menjauh menabrak salah satu nisan. Mengusapnya lembut seakan telah menyenggol kepala manusia "Ya aku menunggumu. menghawatirkanmu adalah kebiasaan lama yang belum hilang"
Malik masih berdiri di sana memperhatikan gadis itu menjauh. Seharusnya Alicia jadi kriput saja, botak dan tidak mempesona lagi. Kenapa wajahnya masih seperti gadis remaja ? Darah Chang terkutuk !
"Aku tidak butuh lima puluh keping emasmu, kamu bisa mencari orang lain" Alicia berdiri cukup jauh
Malik menggeleng "Tidak ada orang lain" bisiknya
"Kalau begitu kamu gagal"
"Dan mereka akan membunuhmu...." bisik Malik dengan suara pelan ketika tubuh kecil Alicia berbalik pergi "Kamu pikir aku peduli Alicia ? Meski wajahmu...bedebah" Malik memaki dirinya sendiri
Dia berlari menyusul Alicia. Malik berlari. Padahal, dia bisa saja tidak melakukan itu. Malik berlari untuk Alicia. Malik menarik lengan Alicia, Alicia tersentak wajah kagetnya menyabarkan warna merah ke pipi dan hidungnya "Kamu harus ikut aku !"
Alicia menggeleng. Dia tidak kemana mana ! "Aku tidak bisa"
Malik mencengkram kuat lengan Alicia hingga dahinya berkedut "Angkasa, itu nama orang yang akan menembak kepalamu kalau tahu ada gadis Chang di lembah ini. Surat penangkapanmu akan segera di rilis Dewan Kota, mereka akan membunuhmu"
"Kenapa ?"
Malik tidak percaya, Alicia masih bebal seperti dulu
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak menikah dan beranak, aku sudah membuat perjanjian dengan para tetua"
"Karena wajahmu akan mencegah seseorang menjadi ratu" Malik melepaskan tangannya. Dia tidak percaya dia harus memberi tahu hal itu pada Alicia. Negosiasi seperti ini adalah yang terburuk.
"Mulai sekarang kamu bisa menghitung setiap tarikan nafasmu. Karena mungkin sebentar lagi biji Rivolver akan bersarang di kepalamu"
Rivolver ? Ratu ? Alicia bingung, dia tidak ada hubunganya dengan orang-orang Kota. Apalagi calon ratu "Kalau aku pergi dari lembah Billi akan mati, itu perjanjianku dengan para tetua"
Malik memejamkan mata sejenak, menggeram penuh kekesalan. Alicia menghawatirkan sesuatu yang sama sekali tidak penting. Dengan penuh amarah Malik kembali menarik tangan Alicia. Karena tidak mengontrol kekuatannya, tubuh kecil Alicia menabrak tubuhnya. Momentum itu menimbulkan detak jantung berlebihan keduanya. Amarah, emosi yang menyelimuti mereka seperti puzzle yang terlepas, berhamburan.
Dari jarak sedekat itu, nafas mereka beradu menyapu kulit satu dengan yang lain.
Alicia masih melihat sisa bubuk merah di wajah Malik. Mata runcing Malik sangat indah, dan ternyata anting di alis Malik bertujuan untuk menutupi sebuah luka di dahinya. Mata Alicia berjalan dan menemukan luka lain di balik sebuah tato di lehernya.
Kehidupan macam apa yang dijalani si manja ini di luar sana ? Yang bisa dilihat Alicia adalah jejak kekerasan yang tertinggal di tubuh Malik.
"Malik kamu pernah merasa di ujung tanduk, tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan dirimu sendiri ?"
Malik terdiam "Jangan tanyakan itu padaku. Aku seringkali menyurangi maut..." Malik menyentuh bibir Alicia. Dia tidak bisa menahan diri, debaran jantungnya menuntunnya untuk menyentuh bibir pink Alicia. Dan tidak ada yang bisa diutarakan selian rasa lembut dibibirnya.
Alicia tidak bereaksi untuk beberapa detik. Dia seakan mempersilahkan Malik, tapi sebenarnya otaknya sedang memproses. Apa ini mimpi ?
Lalu ciuman Malik semakin menuntut, membimbimng Alicia untuk membuka mulutnya. Saat itula kepala Alicia bekerja.
Ini nyata ! Dia sungguh-sungguh mencium Malik !
ALicia mendorong Malik
Mata Alicia melotot
Malik terkekeh begitu puas mengerjai Alicia.
Alicia menyentuh bibirnya. Itu ciuman pertamanya, dan orang bilang sangat berarti. Alicia menggeleng-geleng, dia menolak semua yang telah terjadi. Dia ingin kembali ke beberapa detik yang lalu dan mengambil ciuman pertamanya lagi. Sehingga ciuman itu tidak diberikannya pada Malik.
Alicia berbalik pergi..., tidak tahan lagi berdiri di depan Malik.
Tawa Malik berlahan memelan, dia terdiam di tengah kegelapan pemakaman. Dia menyadari kesalahan yang dibuatnya. Dia membangkitkan perasaan yang dia pikir sudah lama mati.
Zenha pernah berkata padanya "Cinta itu adalah ilusi, rasa sakitnyalah yang nyata"
Dulu Malik melepaskan Alicia dengan sebatang lili, kini dia kembali dengan sebuah ciuman. ciuman yang tidak akan bisa hilang dari kepala Malik. Bibir, Pink, Mata, helaannya, bau nafasnya...
Alicia sempurna, cantik melebihi lembah ini.
"Sial..sial..." Dia mengerang
Perasaan seperti ini akan mempersulit pekerjaannya. Malik sedang berada di atas awan. Dia tidak ingin jatuh karena permasalahan hati.
***