PESTA PANEN

1321 Kata
Tidak ada yang berdiam diri di rumah ketika Pesta panen berlangsung. Pesta panen tahun ini sangat meriah, kain-kain berwarna warni menggantung di langit-langit. membentang dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Di Balai desa sudah di sesaki oleh pedangan manisan dan jajanan. Ada yang berdagang jagung dan sirup apel yang enak sekali. Sejak kecil Alicia tidak pernah menyia-nyiakan uangnya untuk makanan-makanan itu. Tidak dengan adik adiknya, mereka langsung kabur ketika sampai ke Balai desa. "Anak-anak itu" Sakina mengedarkan pandangan, anak-anak itu sudah menghilang ke segala penjuru. Senang jadi anak kecil, perasaan bahagia mereka sangatlah mahal harganya. Pesta panen akan diakhiri di danau, Juru Kunci akan memimpin upacaranya. Semua orang telah menggunakan pakaian berwarna putih, mereka juga dilarang menggunakan alas kaki dan membawa satu lentera kecil yang nantinya akan di arung ke danau. "Kamu tidak mencari wanita Billi ?" Alicia melihat ke sekelilingnya di pemenuhi pemuda dan pemudi. Ada kumpulan pemuda yang mencoba merayu segerombolan gadis desa yang terkikik. Billi melihat mereka dengan jijik. Lana mendorong lengan Billi "Salah satu dari mereka menyita perhatianmu Tuan ?" Lana tersenyum mengejek "Ah" Billi mendesah muak Billi sudah tidak memikirkan soal menikah, mungkin juga tidak pernah memikirkannya. Lana memahami "Ya sudah aku harus menemui Tn. Kinar dulu. Dia menjanjikan sesuatu padaku.." "Apakah mungkin kamu akan dijadikan istrinya ?" tanya Billi berbalik mencurigai Lana. Lana terkekeh "Tentu tidak, orang secerdas Tn. Kinar tidak memedulikan pernikahan" Alicia memalingkan wajah, teringat sepuluh tahun lalu ketika palu diketuk, atas takdirnya yang malang "Aku akan mengawasi adik-adik" Ujarnya meninggalkan kakak-kakaknya, tidak suka membahas Tn. Kinar dan para tetua lainnya. Alicia masih membenci mereka. Alicia duduk di sebuah undakan, dimana dia bisa memperhatikan adik-adiknya dari sana. Adik-adik perempuannya menggunakan pita yang sama berwarna kuning sedangkan anak laki-laki dilikarkan kain di leher mereka berwarna senada, hanya untuk mempermudah Alicia dan kakak-kakaknya mengawasi anak-anak itu. Alicia duduk seorang diri, pandangannya menatap lurus pada seorang penyanyi yang akan memulai menyanyikan lagu Hari Panen dengan suara melengking diiringi kecapi dan seruling. Alicia senang bernyanyi, dia juga yakin suaranya bagus tapi dia tidak berani berdiri di hadapan orang banyak seperti yang dilakukan gadis penyanyi itu. Malik menimbulkan trauma ketika kecil dia pernah membekam suara Alicia, dan mengatakan Alicia tidak boleh bernyanyi, Alicia tidak boleh mendapatkan perhatian dari banyak orang. Gadis penyanyi itu menggunakan pakaian putih, gaun yang tebal dan mengembang seperti gaun orang-orang Kota. Rambutnya ditata sedikit teruntai meliuk-liuk dan menggunakan mainan rambut banyak sekali, pipinya ditaburi warna merah yang berlebihan. Lihatkah kau bintang yang kita sapa Diam membisu tak menjawabmu Mereka berbinar selayaknya harapan kita pada suatu pagi musim panas Dimana benih benih bertumbuh kecambah mengukir tawamu Alicia hafal lagunya, dia berbisik pelan mengikuti gadis itu bernyanyi. Badannya kekiri dan kekanan mengikuti irama lagu. Tidak lama Sakina datang bergabung dengannya. Sementara dari kejauahn Billi masih siaga tidak jauh dari adik-adik panti. "Lihat Billi, apa yang dibawanya ?" Bisik Sakina melihat kayu panjang yang berbentuk seperti cambuk "Dia pasti mencemasi si brendalan Katala, Anala dan Kenelu" Alicia terkekeh, tiga bocah itu memang juara dalam membuat masalah. Billi akan cepat tua karena tiga bocah itu. Tapi juga akan sangat kehilangan kalau ada orang tua asuh yang mengambil mereka. Karena tiga bocah itulah Billi tidak pernah lagi mengungkit-ungkit soal perjodohan ALicia. "Ini adalah upacara panen Anala pertama kali kan ?" Alicia mengingat-ngingat tahun kemarin Anala belum bersama mereka "Dia pasti sangat senang" "Iya" Anala datang dari Kota, dipindahkan dari panti asuhan Kota karena tidak cocok dengan teman-temannya. Di sini justru anak itu terlihat ceria bergabung dengan dua anak paling bengal Katala dan Kenelu. Lana datang dari bangunan Balai Desa keluar bersama laki-laki yang masih diingat wajahnya dengan baik oleh Alicia. Laki-laki yang mempertaruhkan nyawa Billi dalam sebuah perjanjian. Kinar melihat Alicia, dia sedikit tersenyum memalingkan wajah sebelum pergi. Lana menghampiri adik-adiknya "Kemari, Juru Kunci sudah datang. Kumpulkan adik-adik" Upacara segera dilakukan untuk itu anak-anak harus dikumpulkan. Alicia mengumpulkan adik-adik sementara Lana dan Sakina menyiapkan lentera terapung yang akan mereka larung bersama kelopak kelopak mawar. Sang Juru Kunci tiba, dengan gonggongan anjing menandai kedatangannya. Alicia mengamankan adik-adik meminta mereka untuk tidak berisik karena upacara sudah akan dimulai. Para penduduk sudah memegang lentera masing-masing. Alicia juga. Alicia menaruh telunjuknya di bibirnya sendiri. Meminta Katala untuk tidak bicara. Dia Mengisyaratkan agar adik-adik untuk menyanyikan lagu panen, seperti yang dinyanyikan gadis penyanyi. Juru kunci melemparkan api abadi ke dalam tumpukan kayu yang disediakan di tengah-tengah halaman balai desa. Nyala api itu membumbung tinggi ke atas langit. Menerangi semua tempat, Balai desa seketika terlihan menguning dan membiru selayaknya warna api abadi. di pimpin Sang Juru Kunci, mereka semua bernyanyi menyanyika lagu panen, satu persatu orang-orang menyulut api itu dengan lentera minyak sederhana. Alicia dan Billi membantu adik-adik menyalakan lentera kecil mereka. Juru kunci membimbing mereka dengan asap merah yang tercipta dari cawan tembaga di tangannya menuju ke danau. Sesi terakhir mereka adalah melarungkan lentera terapung ke danau. Sambil terus bernyanyi. Sampai di danau Juru Kunci sudah berdiri di ujung dermaga sosoknya kecil menggunakan gaun berwarna putih. Dia mengangkat tangannya. Semua orang seketika terdiam. Juru Kunci Menyanyikan lagu lembah suaranya kelam mendayu dayu, merintih dan memohon. Lirih... Momen itu menimbulkan haru, beberapa orang saling berpelukan, dan beberapa menitikkan air mata. Mereka merasa haru karena pencapain yang telah dilakukan selama satu tahun ini. Setelah lagu berkahir Juru Kunci diam sejenak. Dia berdoa untuk semuanya lalu melarung kelopak kelopak mawar yang bersinar, dia mengsiaratkan pada tetua desa untuk melarung lentera mereka ke air. Empat tetua desa mengikuti Juru Kunci. Lalu di ikuti dengan penduduk lainnya. Mereka menangis, mereka berdoa pada danau, mereka berharap sambil saling berpelukan di tepi danau. Alicia dan saudara saudaranya ikut melarung lentera mereka, kontras dengan keharuan orang dewasa anak-anak justru sangat bahagia melihat lentera mereka terombang-ambing di atas air danau. Lentera-lentera itu keliatan sangat indah. Kaki Alicia yang telanjang tersapu ombak kecil di tepian danau. Billie merangkulnya. Sakina menggenggam tangannya "Aku menyayangi kalian" Kata Billi, dia mengecup puncuk kepala Alicia dan mencium dahi Lana di sebelahnya. Juru Kunci Pergi... Pula. Sang Abid mulai memberikan serbuk merah pada setiap orang untuk membasuh wajah orang yang di sayangi dengan bubuk merah itu. Pula menangkap mata Alicia "Basuh pada yang tersayang, agar berumur panjang dan melihat ribuan musim berikutnya" ujar Pula pada setiap orang agar mengambil bubuk merah di kuali emas yang besar yang dia peluk sambil berjalan. Penduduk mengambil bubuk itu, mereka saling membasuh dan berdoa sama seperti doa Pula. Lana membasuh Billi dan berdoa agar kakaknya berumur panjang dan bisa melihan ribuan musim yang berganti di lembah itu. Billi membasuh Sakina dan Alicia lalu ke adik-adiknya yang lain. Gaun putih mereka kini berlumuran warna merah. Ketika mneunggu giliran untuk membasuh Lana, Alicia terdiam melihat satu orang di antara kerumunan menggunakan pakaian yang berebeda. Berpakaian hitam seperti gagak. Alicia mematung sejenak. "Kutunggu ketika Juru Kunci Membagikan Bubuk Merahnya" Tawaran limpa puluh keping emas akan terlewat. Lalu bagaimana kalau Alicia mengabaikannya saja. Alicia dapat melihat cengirannya dari dalam kegelapan. Tidak ada satupun orang yang melihatnya kecuali Alicia. Yang lain sedang sibuk saling berpelukan dan membasuh dengan serbuk merah. "Alicia" Sakina menyadarkan Alicia "Kamu kenapa ?" Alicia menggeleng mencoba mengabaikannya. Manusia berpakaian hitam di tengah-tengah warna putih, berambut kelam seperti gagak. Iya dia seperti gagak yang sedang memperhatikan mangsanya. Wajahnya beku dan suram. Tidak lama, Malik berbalik pergi meninggalkan tempat itu. "Alicia ?" Sakina kembali memanggilnya, karena Alicia satu satunya orang yang belum membasuh bubuk merah pada Sakina, Lana dan adik adik. Alicia melepaskan genggaman tangannya yang memegang bubuk merah, hingga bubuk itu berguguran di tanah sebagian tersapu ombak danau. Mereka belum bicara banyak, Malik yang dikenalnya bukan Malik si pencuri yang mencuri dari kedua orang tuanya. Apa yang membuat Malik berubah ? Apa yang diinginkan Malik ? Alicia bisa menangani Malik, dia selalu bisa bicara dari hati ke hati dengan Malik. Pada dasarnya dia anak yang manis. Dia harus menemui Malik. "Aku pergi dulu Sakina" dia mengelus pundah Sakina. Dia menaikkan roknya dan pergi. Tidak menoleh, berlari kecil menaiki jalan setapak menuju pemakaman. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN