BOCAH PENCURI

1286 Kata
"Hai perawan tua" Seadainya lidahnya berubah lebih baik, itu akan menjadi kesempurnaan bagi Malik. Karena dia tumbuh dengan baik. Alicia sedang melakukan penyangakalan. Dia menyangkal bahwa laki-laki yang dia lihatnya itu bukan laki-laki tergagah yang pernah dia liat seumur hidupnya. Malik seperti seekor gagak, dengan kegagahan dan misteri di belakangnya. Sorot matan Malik bisa meleburkan Alicia menjadi berkeping-keping, dia sulit bergerak, dia sulit bernafas. Alicia harus mengakui bahwa Malik tumbuh jadi seorang pria. Bukan pria-i seperti yang dia bayangkan, bukan laki-laki berkaca mata dan bertubuh lemah. Bukan ! Dia keliatan lebih liar. Apakah seorang putri kerajaan akan menerima laki-laki bertato ? hingga ke leher-leher dengan tampilan seperti anak jalanan ? Daripada seorang pangeran Malik lebih terlihat seperti pembangkang. Setau Alicia anting digunakan di telinga tapi dia menusuk alisnya dengan benda itu. Itulah kenapa Alicia mengira Malik seperti pembangkang, karena dia menggunakan suatu benda tidak pada tempatnya. Anting digunakan ditelinga dan untuk perempuan, bukan ditusuk di alis dan digunakan oleh seorang peria yang menyerupai gagak. Malik mengangkat bahu "Kau masih punya mulut untuk menyapaku, hai perawan tua !" Malik merokoh sesuatu di kantongnya mengeluarkan sebuah kotak besi. Mengambil sebatang rokok "Disini basah dan dingin, menjijikkan aku ingat betapa haramnya tempat ini" Dia mengambil pemantik bergambar gagak yang menyemburkan api dari mulutnya. Lalu dia menyesap rokoknya sampai pipinya tersedot kedalam. Dia menghembuskan asap dari hidung dan mulutnya. Melihat Alicia yang masih terdiam, dia merasa geram. Bukan Malik namanya kalau dia setenang air. Dia membuang rokok yang baru di hisap. Berjalan dengan langkah lebar ke arah Alicia "Hai sialan, Chang" Alicia mengernyit takut, matanya membelalak. Seandainya iblis tidak setampan Malik. Mungkin dia sudah lari bersembunyi. Tapi matanya tidak mengerjap "Kamu belum menyapaku !" dia menyentuh dagu mungil Alicia dengan mulut gagak di pemantiknya. Alicia membayangkan kalau Malik akan menarik pelatuk pematik itu dan api akan keluar dari mulut si gagak membakar dagunya. "Ke...M.." Malik tersenyum miring menyukai ketakutan di wajah semua orang yang berurusan dengannya. Dia mendorong dagu Alicia dengan pemantiknya. Hingga Alicia memalingkan wajah. Alicia menyentuh dagunya yang ditekan pemantik itu, Malik kasar "Malik kamu.." "Aku ?" Alicia menggeleng. Dia menelan ludah, yang terasa membara di tenggorkannya tidak mampu mengutarakan sejujurnya apa yang dia rasakan "Senang melihatmu kembali Malik" "Senang bertemu denganmu juga Alicia" Dia menautkan tangan di belakang tubuhnya dan mencondongkan wajahnya dekat Alicia. Alicia mundur kebelakang "Aku cuma ingin menyapamu" untuk apa benda itu ada di alis Malik, dan kenapa wajahnya semakin memdekat terlihat seperti orang lain. Dia kini jauh lebih tinggi daripada Alicia. Dia membungkuk "Kau.." dia mengibaskan rambut Alicia ke belakang bahunya. Nafas Alicia tercekat, keliatan dari lehernya yang menegang "Kau tidak berubah Alicia" dia terkekeh, nafasnya berbau tembakau menyapu wajah Alicia Alica memberanikan diri mendorong bahu Malik menjauh. Dia sekeras batu. Tapi Malik cukup tahu, Alicia terganggu dengan jarak sedekat itu. Dia mundur, cengirannya membuat Alica merinding "Kamu berubah Malik" Suara Alicia bergetar Lagian kenapa dia bisa berada di sini ? sementara dirumahnya mereka sedang berpesta menyambut kedatangannya dan sang putri. Calon pangeran mana yang bertingkah seperti preman ? Alisnya terangkat,. Jujur benda di alis Malik membuat Alicia terus mengarahkan pandanganya kesana "Ya banyak hal berubah" "Ibumu pasti bahagia melihatmu kembali" Alicia berdaham "Akupun sama.." "Kamu bahgia ? Jangan bermulut busuk seperti orang-orang Alicia, aku bisa melihat ketakutan di matamu" dia menggosok tengkuknya, mengalihkan pandagannya. Malik menyisiri rambut pendeknya kebelakang "Aku mau mengajakmu bekerja sama. Ku dengar panti ini tidak bisa mendapatkan pendonor" Alicia terdiam "Aku bisa menjadi donatur, aku bisa memberikanmu lima puluh keping emas setiap tahun, kalau kamu mau bekerja denganku" Ternyata Malik mendatanginya untuk sebuah tujuan "Alicia aku tidak suka membuang-buang waktuku yang berharga hanya untuk menemui manusia tak diinginkan sepertimu" Ah, Malik menyisiri luka di hatinya. Perasaan Alicia sungguh pedih.Kata-katanya kejam, Alicia sampai mengigit bibir bawahnya. Menahan air mata yang sudah sampai di pelupuk. Malik memalingkan wajah dan meringis. Sialan. Bisiknya dalam hati. Dia gentar, dan itu jarang terjadi. "Intinya aku kemari menawarimu pekerjaan" Malik melipat tangan "Jika kamu tertarik pergilah ke pemakaman setelah Sang Juru Kunci memberikan bubuk merah" Dia meneleng, melihat wajah Alicia baik-baik "Kamu akan bernilai jutaan kuwait buatku" dia mengangguk-angguk seperti burung pematuk "Pekerjaan yang akan kuberikan tidak sesulit yang diberikan Lucia padamu, aku janji" Malik berjalan menjauh seperti gayanya malam itu ketika tidak kembali belasan tahun yang lalu. Alicia masih belum percaya dengan apa yang terjadi, tiba-tiba melihat Malik ada di sini menawari lima pulih emas untuknya, Untuk sebuah pekerjaan. Bisakah perbincangan mereka sedikit lebih normal. Alicia bahkan lupa kalau dia memiliki bertumpuk-tumpuk surat untuk Malik. Melihat perubahan Malik, Alicia mengurungkan niatnya untuk memberikan surat-surat itu. "Temui aku !" dia mengedipkan mata, dia memberikan senyuman manis dengan dua lesung pipi. Malikpun pergi. Alicia roboh terjatuh tidak bisa menyangga dirinya. Dia memegangi jantungnya, degup kencang masih terasa di sana. Terpompa sampai pening dikepalanya. Pandangannya mengabur karena air mata yang tertumpah. Dia kembali Dia jadi semakin aneh Dia seperti iblis Dia... Seorang adik berlari mendekatinya "Kakak kamu tidak apa-apa... kakak..." Alicia masih tidak mampu berkata-kata *** "Demi..." Hampir saja Billi mengucapkan sumpah paling terlarang. Sakina menutup mulutnya dengan kasar. Dia melarang Billi berkata-kata "Karena sudah gila !" Billi menepus tangan Sakina dan bangun dari tempar duduknya, dia berjalan mondar mandir bergaya seperti detektif pasar "Kira kira kenapa Lana ?" Pada akhirnya Lana juga yang ditanya Ada yang berbeda dari otak Billi, dia tidak pernah menemukan jalan keluar. Tidak peduli bertumpuk tumpuk buku yang dia baca. Lana rasa tidak satu katapun tersangkut di kepalanya "Dia mencuri dari ibunya sendiri itulah masalahnya" Lana meruncingkan pandangannya "Dan perempuan bernama Zenha itu bukanlah seorang putri" Lana tergelak merasa berhasil mempermalukan Ny. Lyan tanpa harus membuang kotoran ke wajahnya "Aku sangat suka Malik, dia...haha..." Lana tertawa kencang sekali, Sakina dan Billi bingung. Mereka pikir Lana tidak bisa tertawa "Lana tidak ada satupun disini yang menyukai si pembuat onar itu, bahkan orang tuanya tidak akan pernah lagi mengharapkan dia pulang" Lana masih tergelak "Dia lucu Billi sungguh. Coba saja kamu melihat wajah Ny. Lyan ketika seorang dari kota datang dan berkata bahwa mereka menyebarkan undangan palsu karena tidak ada satupun putri di semesta ini bernama Zenha..." "Semua orang sudah berkumpul Alicia" Sakina bercerita dengan menggebu-gebu, "kami sudah mengincar orang-orang kaya untuk berkenalan demi panti ini. Malik dan Zenha tunangannya itu tidak muncul" Sakina berdesah sedih "Aku kecewa sekali, aku ingin melihat Malik" Lana tergelak semakin besar saja suara tawanya "Ini pesta paling memalukan yang pernah kudatangi, wajah Ny. Lyan. Tuan Hasan seribu tahun lebih tua rupanya ketika marah dengan anak badungnya. Astaga Malik...Malik,," Lana melihat Sakina "Biar kutebak saja pasti dia berwajah seperti peria tampan Kota yang bermulut manis dan berjanji dengan penuh kebohongan. Astaga..., aku muak membayangkan laki-laki seperti itu, yang baunya semerbak bau-bauan menyengat..ueeek... Alicia beruntungnya kamu terbebas dari banci seperti Malik. Ah Sudah, laki-laki lembah dua ribu kali lebih baik dari pada manusia seperti itu" Lana bangkit dari duduknya dan masih tergelak "Dia mencuri dari mami dan papinya.., Malik malik.." Alicia masih berwajah suram "Apa yang dicurinya ?" Alicia berdaham mengenali suaranya yang terdengar berbeda Sakina menelik wajah Alicia, dahinya berkedut. Pikirnya, Alicia cuma kecewa saja karena tidak diizinkan ikut bersama mereka. Sakina menggeleng "entah apa yang dicurinya, ku rasa barang itu senilai dengan perkebunan Tn. Hasan, hingga wajah kedua orang tuanya jadi seperti monster" Sakina mengelus lengan Alicia "Kamu pasti kecewa.." Alicia tersenyum kecut, menunduk melihat tangannya yang saling terpaut karena gelisah. Dia memutuskan untuk tidak memberi tahu kakak-kakaknya tentang pertemuannya dengan Malik. Walaupun, Alicia sangat ingin menjabarkan seperti apa bentuk Malik. Lana salah ! Dia tidak seperti pangeran tampan dengan berjuta kebohongan. Dia bermulut kasar dan bertampang seperti berandalan. Terngiang suara berat Malik di telinga Alicia "Nanti Malam di Pemakaman, setelah Juru Kunci menaburkan bubuk merahnya" Nafas alicia tersengal. Apa harus menemuinya lagi ? Alicia takut ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN