Sakina, Lana dan Billi membahas apa yang telah terjadi di Balai Desa. Billi memang sengaja berbicara pada Sakina dan Lana tanpa adanya Alicia. Karena Alicia sudah memutuskan untuk tidak menikah seperti kakak kakaknya.
Mereka sedang berada di ruang kerja Lana, menjauh dari kamar kakek Didi dan Alicia. Billi sudah menyampaikan semua yang terjadi di Balai Desa tanpa di kurangi atau dilebihkan, bahkan dia meluapkan kemarahan dan rasa tidak adil yang dibawanya dari sana pada kedua saudarinya.
"Aku ingin membunuh mereka semua" Ulangnya untuk ke sekian kalinya
"Billi, dari perjanjian itu. Nyawamulah yang jadi taruhannya" Sakina mengingatkan, sambil mengusap ujung matanya. Sakina tidak bisa menahan air matanya "Janganlah gegabah ! Aku tahu kamu sangat menyayangi Alicia. Ingin Alicia tidak berakhir seperti kita. Akupun menginginkan hal yang sama untuknya.." Sakina bersungguh-sungguh. Rasanya kalau Alicia terluka maka sayatannya akan dua kali ditubuh Sakina "Tapi akupun tak mau kehilangan kamu"
Lana mengenggam erat tangan Sakina, tahu persis apa yang dirasakannya sebagai seorang kakak dan sebagai seorang yatim yang tak pernah diberikan kesempatan untuk memilih.
Jendela di ruang kerja Lana berbentuk lengkung, bekaca jernih berpaku-paku cantik membelit dengan lembut membingkai jendela. Pemandangan yang terlihat dari kamar Lana adalah halaman belakang panti dimana adik-adik sering bermain. Ada pohon ek besar disana yang dikelilingi dengan meja dan kursi kayu. Adik-adik suka menyimpan sisa makan siang merka dan kembali memakannya di sana. Kaca dari jendela lana tidak terlihat dari luar jadi adik-adik yang bemain di luar sana tidak bisa melihat apa yang lana lakukan di dalam ruangannya.
"Kabut sudah menebal, daun-daun sudah menguning" Billi bergumam, memeberi tahu bahwa tanda-tanda musim gugur segera tiba.
"Kau benar banyak sekali surat dari penduduk desa. Mereka ingin kita membantu mereka berpanen, aku sudah melai membagi kelompok adik-adik "
Sering seperti itu. Penduduk suka meminta bantuan dari anak-anak panti. Jadi sejak kecil mereka sudah terlatih untuk mengerjakan apa saja. Ada yang membantu memanen apel, jagung, menjemur, biji-bijian, memetik teh, bahkan menjaring ikan dan berdagang di pasar. Anak-anak panti sudah terbiasa seperti itu sejak kecil. Harapan kakek Didi, dari membantu penduduk desa anak-anak panti bisa belajar hidup mandiri, hingga suatu hari ketika mereka dewasa di tempat yang asing mereka memiliki keterampilan yang dibawanya dari Lembah Rawa.
Dari membantu penduduk desa anak-anak panti bisa menabung sejak kecil, memperoleh kepingan logam mereka sendiri. Kalau mereka membatu pada keluarga yang baik hatinya, mereka akan pulang degan kepingan logam atau makanan sisa yang banyak yang akan mereka bagikan pada saudara-sadaura mereka. Kadang-kadang sekarung gandum diberikan pada mereka, dan itu cukup untuk persediaan selama musim kemarau.
"Pesta panen sebentar lagi, kita harus mulai mempersiapkan bukan ? Akan banyak pesta pernikahan setelahnya, akan banyak jamuan makan, akan banyak orang tua asuh yang datang, seperti itu setiap tahunnya.." Gumam Lana
"Alicia harus menikah sebelum itu" Billi bersidekap melihat kabut yang semakin tebal menutupi pohon ek.
"Kau gila" bisik Sakina, suaranya agak lebih mara dari sebelumnya. Terlihat dari matanya yang sejernih air sungai di bawah terjunan "SUDAH KUKATAKAN AKU JUGA TIDAK MAU KEHILANGAN KAMU" teriak Sakina.
Lana mengelus lengan Sakina, membuatnya sedikit lebih tenang. Sakina menghela nafas mencoba menenangkan emosinya "Tidak ada bedanya dengan kamu bunuh diri" gumamnya letih.
Setelah Sakina lebih tenang Lana kembali ke tempat duduknya, dia tidak mau ikut emeosional seperti Sakina. Sakina memang mudah menangis, si perasa yang sedih setiap kali salah satu dari mereka diperlakukan tidak adil. Lana Membuka-buka nama yang di beri kakeknya untuk dikirimi surat perjodohan.
"Apa kamu melihat surat yang di kirimkan untuk kakek ?"
Lana menggeleng "Pada amplop sudah tertera nama kakek. Aku tidak pernah membuka surat yang ditunjukkan untuk beliau, aku akan merusak stempel lilin pada amplop dan kakek tidak menyukai hal itu" jawab Lana dingin
"Aku rasa alasan Damar menolak Alicia karena dia seorang Chang"
Lana mengangguk setuju dengan Billi "Aku rasa juga begitu, kakek selalu menyembunyikan banyak hal dari kita"
Billi berjalan masih berdiri di depan jendela, dia menautkan tangannya di belakang tubuhnya "Kamu tahu tentang ayah Alicia ?" suara Billi sedingin malam di luar jendela sana.
"Kenapa kamu menanyakannya ?" Sakina sudah bisa menguasai kesedihannya atas kemalangan Alicia
"Karena mungkin dia punya solusi"
Lana terkekeh "Kalau aku melihatnya sebagai sebuah takdir saja Billi, beginilah takdir Alicia. Karena kita bertakdir tak selebar semesta raya ini maka terima saja, nasib sebagai anak yatim piatu" Lana selalu skeptis tentang hidup dengan dua penggal nama. Apalagi nama yang hanya dipinjam dari seorang laki-laki.
Billi melihat Lana, menggeleng benar-benar merasa tidak setuju "Lana kita sedang memenjarakan seorang gadis yang semestinya bisa lebih besar dari semesta ini, jangan bicara tentang takidir. Kau sendiri selalu lari dari takdirmu !"
Mata Lana berkilat. DIa menelingkan kepala, merasa terganggu dengan ucapan Billi.
"Kamu dan aku bertanggung jawab untuk membuat Alicia menikah dan berketurunan, mati dengan dua penggal nama. Karena kamu berutang banyak hal padaku Lana. Dan karena aku menyayangi Alicia. Tidak peduli kalau pada akhirnya aku yang mati" Billi menatap Lana lekat-lekat, dia tetap pada keinginannya "Alicia harus menikah" dia menekan kata-kata itu, dia harap bisa memaku itu di kepala dua saudarinya "Itulah keingannku sebelum mati"
"Billi..." Sakina memanggil Billi dengan keputu asaan, tapi keyakinan Billi membuat Sakina berkigidik. Ada sorot mata marah, ada kilatan yakin, ada Billi yang tidak dikenali Sakina detik itu...
Kenapa dia seteguh itu ingin mengorbankan nyawanya untuk Alicia ?
***
Dari balik pintu Alicia meremas jantungnya, dia merasakan kepedihan di sana. Tadi dia bermaksud ingin bicara pada kakak-kakaknya tapi ruapanya dia terlambat, mereka semua sedang berdiskusi prihal masa depannya.
Dia kembali mempertaruhkan kehidupan seseorang demi kehidupannya sendiri. Ingin rasanya dia mengirimi Ny. Lyan sepotong papyrus, dan mengutuknya karena mengganti nama Alicia waktu itu. Alicia seharusnya mati.
"Aku seharusnya Mati.." bisiknya ketika berjalan pergi, menyusuri lorong gelap di bangunan utama panti asuhan menuju kamarnya yang merupakan bangunan terpisah, berada sebangunan dengan istal, kamar Sakina dan Kamar Billi.
Billi tidak akan mati, dia menanamkan itu pada dirinya.
***