BILAH BELATI UNTUK BILLI

1290 Kata
Lake, Alicia bertemu peria itu sembunyi dari kakak-kakaknya. Di dermaga. Setelah mengayuh rakit darisebrang tempat tinggalnya. Dia melihat Lake dengan Broker, kuda milik Malik. "Aku sedang membawa Broker jalan-jalan. Dia belum pernah menyebrang dengan rakit, dan aku khawatir seseorang mencurinya kalau aku tinggalkan disini" Jelas Lake, karena mata Alicia tertuju pada Broker sebelum menatap dirinya. Lake merokoh kantongnya dan mengeluarkan potongan papyrus "Ini alamat Tn. Malik" Alicia mengambilnya, membaca alamat dengan itu hati terasa seperti dipeluk. Akhirnya. Alicia seperti menemukan semangat hidupnya lagi. Paling tidak dia punya seorang bocah egois, bocah sombong, yang selalu mengenali kehadirannya, bocah yang menghinanya tapi juga bocah yang menatap mata Alicia ketikadia bicara. Dia menginginkan keegoisan, sergahan, kemarahan malik, kembali padanya. Lake tersenyum melihat cahaya di mata Alicia, dia melihat sepercik kebahagiaan yang rasanya ingin dimiliki dan ingin dibawa pulang, lalu laki-laki itu mengingat bahwa yang dimilikinya hanya sebuah kandang kuda untuk tinggal "Kamu terlihat senang sekali.." Lake ikut tersenyum melihat senyum Alicia "Kamu sangat merindukan tuan muda rupanya" Alicia mengangguk "Dia sangat baik padaku" Lake terkekeh, bisa-bisanya Alicia mengatakan bocah tengik yang selalu membuatnya menangis baik padanya "Dia selalu membuatmu menangis" "Tapi kamu tidak tahu bagaimana caranya membuat aku tersenyum kan ? " Dia tersenyum pada Lake, itu senyum pertama Alicia hari itu. Setleah beberapa malam lalu dia terguncang pada kenyataan yang membuatnya mengurung diri di dalam kamar dan hanya melihat hamparan pohon jagung yang menguning. Seperti ada sebuah lagu di belakang alicia yang bernyanyi merdu, senyumnya seperti melodi halus, seperit angin sejuk yang menyesap lalu menyusap di bulu-bulu halus lengan Lake "Alicia.." suara laki-laki itu menjadiserak, menahan perasaannya sendiri "Kamu tahu kalau kamu cantik ?" Senyum Alicia hilang, matanya melebar, merasa aneh dengan pertanyaan Lake "Kamu cantik sekali" Semu di wajah Alicia semakin melipat gandakan segala kecantikanya, seperti penyedap yang dibubuhkkan ke dalam kaldu puyam yang hambar. Dan kini Lake sedang menyesapnya "Bolehkah aku membawa pulang dirimu ?" untuk tinggal di kandang kuda ? "Kamu bicara apa Lake ?" Alicia tidak pernah merasa tidak paham , dan berada jauh dari sebuah percakapan. Kali ini dia merasa tidak memahami Lake. "Maukah kamu menikah denganku ?" Lake berdaham, ketegangan menggantung di antara mereka. Tangan Alicia meremas secarik alamat Malik. Kakinya melangkah mundur karena terus-terang lamaran Lake mengguncangnya. Lake bukan peria buruk, bukan ! Bahkan Alicia merasa dia sudah tidak pantas mengharapkan seorang pangeran tampan untuk menyelamatkan hidupnya. Lake adalah peria hangat, yang kadang-kadang berperangai begitu ceria, dia seperti terik siang, seperti musim panas yang hangat. Seperti cahaya matahari yang mengguyur wajah di pagi hari. Jantung Alicia berdegup. Lake ? Lake tersenyum canggung, melihat kakinya, karena merasa malu akan keterus terangannya. Berbicara jujur, membicarakan perasaannya pada seorang perempuan, dimana semua perasaaan itu tertumpah, membuatnya tegang sekaligus malu "Aku sudah lama menyukaimu, tapi kamu tahulah. Aku cuma penjaga kandang, aku tidak punya apapun, aku menumpang hidup di rumah Tuan Tanah. Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Karena aku tahu, kamu sangat cantik.." pelan-pelan dia kembali menegakkan kepalanya "Aku yakin kecantikanmu akan membuatmu jatuh pada pangkuan peria kaya raya, peria yang lebih layak" Alicia menggeleng, tenggorokannya tercekat "Lake.." panggilnya Senyum canggung Lake, sungguh hangat. Hangat sekali. Wajahnya ketika mengatakan itu sudah sanggup memeluk Alicia dari keterasingan. Seandainya dia tidak mengingat "Billi akan mati" mungkin detik itu dia akan mengangguk pada Lake. "Kamu layak mendapatkan yang lebih baik dari aku, aku tahu. Aku tahu, kamu pasti sudah punya pilihan karena katanya kamu akan menikah " Lake menganal Billi karena kakaknya itu sering menghabiskan waktu di lapak Paman Bena, si pembuat tapal kuda. Lake tahu banyak hal tentang Alicia dari Billi "Tapi itu bukan berarti aku harus menyerah kan ? aku tidak mau mendiamkan perasaan yang begitu hebat setiap kali melihatmu. Aku ingin kamu juga tahu perasaanku kepadamu. Alicia aku memang tidak memiliki apa-apa bahkan mungkin tidak bisa dibandingkan dengan calon suamimu, tapi kalau kamu butuh pelukan Alicia, aku punya itu, kalau kamu butuh seseorang, kamu bisa mengandalkanku" "Lake aku.." Alicia menelan ludah yang terasa menggumpal-gumpal hingga sulit masuk ketenggorkannya, dia melihat Lake. Matanya berkaca-kaca karena sedih "Lake tidak pernah ada calon suami. Aku tidak akan menikah. Selamanya..." Kata selamanya terasa begitu menyakitkan, seperti bilah yang memotong-motong hati Alicia menjadi berkeping-keping. Ini Kali pertamanya dia menyampaikan pada seseorang bahwa dia tidak akan menikah. Lake mengerjap seakan itu hal paling buruk yang pernah didengarnya. "Aku sakit" itulah kebohongan yang bisa dia sampaikan "Aku tidak bisa berketuruana, aku.... aku tidak bisa" Alicia memaksa sebuah senyum penuh ketegaran. Dia tahu dia tidak boleh kelihatan sedih dan bodoh dalam menerangkan penolakan atas niat yang sangat tulus, baik dari seorang laki-laki yang baik "Seribu kata takkan bisa menjelaskaan betapa berterima kasihnya aku atas kebaikan hatimu selama ini, mengagumiku yang tidak sempurna ini" Dia mengehela nafas terasa berat "Lake, kamu sangat baik. Baik sekali, yakinilah bahwa tidak semua perempuan membutuhkan harta dari seorang laki-laki untuk bersandar, pahamilah kalau terkadang mereka cuma butuh seseorang untuk diandalkan. Kamu suatu hari akan jadi laki-laki baik, ayah yang baik, kamu akan memiliki keluarga sehangat dirimu" Lake tidak bisa berkata-kata "Alicia.." panggilnya sedih, seakan dia masih punya kesempatan, seakan dia masih bisa membuka hati Alicia. "Terimakasih" Kata Alicia sunguh sungguh. Dia mengangkat tudung jubahnya menutupi rumbut lurusnya lalu berbalik kembali ke dermaga untuk menyebrang ke Pantinya. Seandainya patah hati ada bunyinya mungkin semua penduduk lembah akan mendengar dentuman keras dari hati Lake yang pecah. Alicia dengan pundah yang tegar berjalan menyusuri dermaga ke rakitnya. Jubahnya melayang-layang terkenda angin. "Alicia" Bisik Lake sangat sedih dengan keputusan Alicia. Dia tidak menikah ? itu sangat menyakitkan bagi seorang perempuan. Tapi dia sekuat karang. *** Hari itu Alicia sengaja menjauhkan dirinya dari kaka-kakaknya, dia sibuk membantu bibi Diah di kebun apelnya. Memilih aple terbaik sampai yang terburuk untuk dijual ke Kota. Dia tidak banyak bicara, bercerita seperti biasanya. Diah tahu anak itu sedang ada masalah. Dia membiarkan saja, dia sudah sering membantu Diah. sejak kecil, Alicia sangat rajin mengurusi kebun apel miliknya. Pernah Diah bertanya kenapa Alicia, kenapa dia sangat suka dikebun apel, saat itu Alicia menjawab karenadia suka dengan bau buah apel yang mulai masak. Dia suka bau rumput yang tumbuh di bawah pohon-pohon apel. Seandainya dia bukan gadis Chang, pasti Diah sudah menjodohkannya dengan anak semata wayangnya Ibrani. Tapi Ibrani kini tengah menuntun nasibnya menjadi seorang pelayar. Meninggalkan kedua orang tuanya. Setelah dari kebun apel bibi Diah, dia memutuskan untuk membantu paman Roya untuk mengupas jagung. Ada Billi juga mmebantu di kebun Paman Roya. Dia membantu Paman Roya dan beberapa kerabatnya untuk memangkas pohon-pohon jagung. Alicia terus menatap kakaknya. Billi memiliki pundak yang lebar, kulitnya yang berwarna coklat berkerlap dibawah kilau cahaya siang "Alicia" panggil istri paman Roya, Bibi Widia mengingatkan Alicia untuk terus bekerja "Ada apa, kamu terus melihat Billi ?" Alicia tersenyum singkat menggelengkan kepalanya "Tidak bibi" "Meski Billi terlihat tidak peduli pada apapun di dunia ini, dia sangta peduli pada adik-adiknya apalagi kamu. Ketika kamu sakit dia akan mengetuk semua pintu rumah warga meminta bantuan kami untuk menyembuhkanmu" Alicia teringat "Waktu itu aku hanya menstruasi" Waktu itu Billi sangat panik karena Alicia tidak bisa bergerak akibat kram perut "Dia khawatir karena dulu aku pernah sakit, perutku membengkak" Bibi Widia mengangguk, tangan mereka bergerak mengupas jagung-jagung memisahkan jenis-jenisnya "Bahkan kakak kandung sekalipun belum tentu sebaik itu pada adik kandungnya" Bibi Widia menghela, mengingat hubunganya dengan saudaranya yang tidak pernah akur. "Kamu, Lana dan Sakina begitu beruntung punya Billi bersama kalian. Lihat bahu besarnya bisa menjaga kalian dari penjahat jenis manapun" Lalu bibi Widia terkekeh, menertawi diirnya sendiri yang salah fokus pada pundak besar Billi. Tawa bibi Widia seakan menjauh pecah-pecah di antara panas, Alicia paham. Semua kakak kakanya membutukan Billi, satu saja tindakan bodoh Alicia akan menghancurkan Sakina, Lana dan seluruh panti. Alicia kini, seperti perisai yang diacungkan ke jantung Billi. Billi tidak boleh mati, yang boleh mati hanya dirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN