KINI DIA HIDUP DALAM KENANGAN

1179 Kata
Malam itu Alicia pertama kalinya menulis surat untuk Malik. Berharap dia akan membaca surat itu. Dia ingin bercerita pada Malik. Teruntuk : Malik. K. Malik bagaimanaman kabarmu ? Kamu makan dengan teratur disana ? Mulailah berteman ? Kamu tidak harus menanggapi mereka kalau kamu tidak suka dengan pembicaraan mereka, diam saja mendengarkan. Malik terkadang memang kita harus mengikuti pola lingkungan tempat kita hidup. Malik, ku harapkan kamu sehat-sehat dan bertumbuhlah dengan baik.., Aku sangat merindukanmu... Apakah dia harus meneceritakan apa yang terjadi padanya ? Alicia kembali menaruh penanya di cawan tinta. Dia terdiam. Memangku dagunya melihat lurus ke jendela yang berhadapan dengan lahan jagung. Kini hanya tanah luas yang terlihat berbatasan dengan bukit, pohon bakau dan kebun sayuran. Alicia mencoba menggambarkan wajah Malik, lesung pipinya, senyum kecutnya, dan tawanya yang dingin. Alicia tersenyum. Bunga lili yang diberikan Malik sudah mengering di samping buku-bukunya, sudah berapa lama setelah Malik pergi ? rasanya seperti ribuan tahun. Malik kamu benar soal orang-orang Chang ! Kamu tahu aku kini tidak bisa meninggalkan lembah rawa, berketurunan, dan menikah. Kalau aku melanggar perjanjian dengan para tetua desa maka Billi, kakakku akan mati. Dulu pernah ada yang bilang padaku bahwa segala sesuatu yang ada dilembah ini seimbang, tapi rupanya hal itu tidak berlaku pada seorang anak yatim piatu, apalagi dia berdarah Chang sepertiku. Aku berharap kamu selalu sehat Malik, seringlah bersuarat padaku. Aku pasti membalas semua suratmu. Aku rindu sekali, aku sering merakit sendiri dan teringat padamu... teringat tentang cerita-cerita yang kamu baca, harta karun, kapal yang mengapung ribuan tahun, pegunungan emas, dan naga yang mengeluarkan api.. Cepatlah pulang ceritakan aku lagi, Salam, Teman bermain yang dibayar, Alicia Begitu kira-kira isi surat pertama yang dikirimkan Alicia, tulisannya sangat cantik meliuk-liuk. Dia berusaha membuat surat itu tampak begitu layak untuk dibaca. Tapi pagi selanjutnya setelah dia mengirim surat itu melalui pengantar surat. keesokannya surat itu kembali padanya. Pengantar surat bernama Bayu datang untuk mengembalikan surat Alicia. Alicia memeriksa alamat yang dituju, dia yakin sudah sesuai dengan alamat yang diberikan Lake padanya. Aliciapun menanyakan pada Lana seperti apa alamat tujuan surat seharusnya ditulis, barangkali dia salah secara penulisan sehingga suratnya tidak sampai ke Anaham. Lana bilang alamat yang dutuliskan Alicia sudah benar. Anaham, tempat itu berada diperbatasan tidak jauh dari Kota. Alicia terduduk lemah menatap tugu masuk panti asuhan. Lalu kenapa suratnya selalu kembali ? Alicia tidak putus asa, dia kembali mengirim surat, tapi hasilnya selalu sama. Suratnya selalu saja kembali. Bayu untuk kesekian kalinya mengembalikan surat Alicia "Aku bersumpah tidak akan pernah mengantarkan surat beralamatkan Anaham lagi. Dan kamu jangan sekali-kali mengirim surat lagi Alicia" bentak Bayu kesal sementara memeriksa tas berisis surut-surat yang di letakkan di pinggung kudanya. Lana menghelan nafas, meremas bahu adiknya "Sudah jangan lagi kamu mengirimi dia surat, itu yang paling benar untuk saat ini. Kalau Billi tahu kamu mengirim bocah itu surat dia mungkin akan menceramahimu" Sementara Lana berbalik ke gedung utama setelah membantu Sakina dan Alicia berbisih-bersih. Sakina masih disana, dia duduk di samping Alicia. Sakina melihat wajah kecewa Alicia. Dia mendorong Alicia lembut dengan lengannya. Alicia melihat Saikna dengan kesal "Tahu tidak ?" Alicia menggeleng, bagaimana dia bisa membaca isi pikiran Sakina Sakina terkekeh "Ketika orang tuaku meninggal, aku sering mengirim surat, alamatnya kutulis ke tempat yang indah. Kalau aku sedih aku selalu bercerita, aku menceritakan hari-hari yang kulewati disini tanpa peduli mereka membacanya atau tidak, tanpa peduli apapun. Tapi perasaanku sangat lega setelah menulisnya. Aku bisa meluapkan semua perasaanku tanpa rasa takut" Sakina berbisik "Dalam suratku aku sering mengejek Billi, dan menyebutnya kakak tertolol" Alicia terkekeh "Kamu bisa melakukan itu, kamu masih bisa menyerahkannya ketika bocah tengik itu pulang untuk berlibur" Sakina tersenyum "Jangan cemas, kamu masih bisa menemui Malik. Malikkan tidak mati" Seperti orang Sakina, mereka tidak akan pernah membalas atau membaca surat-surat Sakina. *** Semakin hari kodisi kakek Didi semakin memburuk. Lana mencoba untuk mengirim surat pada Sang Juru Kunci atas saran salah seorang tetangga, dia memohon kehadiran Sang Juru Kunci untuk melihat keadaan kakek mereka. Tidak lama seekor merpati menggeret-geret kakinya yang terikat tali, tali itu mengikat sebuah papyrus berisi jawaban dari Sang Juru Kunci. Melalui suratnya juru kunci hanya mengatakan sepenggal kata. Didi adalah Abdi yang baik, dia sedang memererjuangkan ketenangannya. Jangan tinggalkan kakek kalian. Denyutnya hampir tidak terdengar "Maksutnya ?" tanya Billi hawatir. Dia tidak puas dengan jawaban Sang Juru Kunci "Dia tidak bisa kemari atau bagaimana ? Aku jemput saja dia ke tengah hutan. Bukannya kamu bilang begitu padanya Lana ? Mungkin dia kesulitan berjalan, kudengar dia buta" "Kita harus menunggunya Billi, itu maksudnya !" "Menunggu siapa ?" "Kakek Didi..." bisik Sakina dengan suara parau. Tidak ingin merelakan kakeknya. Dia memeluk lengan kakek Didi, sementara peria tua itu terus berjuang untuk menghirup udara ke tubuhnya. Semua anak panti bergiliran untuk menanyakan kakek didi, bercanda dan mengobrol dengannya. Padahal dia sudah sangat sakit, tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata. Tabib desa sudah menyerah, beliau juga mengatakan membawa kakek didi ke perbatasan malah akan memperburuk keadaanya. Dini hari kakek didi terbatuk-batuk hebat, tidak lama diapun menghembuskan nafasnya. Teriakan pilu Billi, memanggil sang kakek yang menyadarkan Alicia bahwa kakek Didi telah tiada. Di sambung suara tangis Lana, lalu Sakina yang roboh di ambang pintu. Sementara Alicia memilih menjauh, menutup mata dan telinganya. Berbisik berulang kali pada dirinya. Ini Mimpi ! Ini mimpi ! Alicia mengenal suasana dingin dan pilu itu, namanya Duka, seperti beberapa tahun lalu hanya saja kini Alicia lebih mengerti apa yang di renggut dari sebuah kepergian. Lana yang berwajah paling datar hampir-hampir tidak pernah menunjukkan emosi yang berlebihan bersimpuh mencium kaki jasat kakek tercinta. Bili berlari keluar menendang roboh tumpukan jerami di dekat kandang "AAAAAA" teriaknya Meski kakek tidak banyak melakukann aktifitas akhir-akhir ini, mereke semua tahu bahwa panti ini kehilangan tiang sandarannya. Tepatnya, mereka semua kehilangan tiang sandarannya. *** Nyonya Lyan dan keluarganya berdiri sebagai orang yang bicara tentang kakek Didi. Terkahir Lana yang mewakili anak-anak panti. Alicia berdiri di belakang semua orang. Tidak berani mengedarkan pandangannya karena hatinya masih sulit menerima kehilangan ini. Setelah acara pemakaman selesai Alicia bersimpuh di pusara kakek didi yang di kelilingi bunga mawar merah menjalar, sangat indah. Alicia menutup wajahnya dan menangis "Kakek, kami harus bagaimana kalau tidak ada kakek ? bagaimana kalau adik-adik mau sekolah ? Bagaimana kalau panti tidak bisa berjalan sebagaimana ketika kakek ada dengan kami" bisiknya. Bisikan itu di dengar oleh Sakina. Mereka saling berpelukan melepaskan kakek mereka yang tidak akan pernah kembali. Seperti yang dikatakan Juru Kunci di akhir pemakaman kakek. "Dia adalah orang lembah, dia akan kembali, mengurai menjadi indah bersama lembah ini. Jasadnya tidur selama-lamanya. Dia kini hanya hidup dalam kenangan-kenangan yang hangat" Kenangan kakek selalu hangat, dialah peria terlembut yang pernah ditemui Alicia. Dia tidak pernah berkata kasar bahkan memaki. Dia mengorbankan hidupnya untuk menjaga anak-anak, dia menyediakan rumah untuk banyak sekali yatim piatu. Kenangannya akan selalu hangat. Setelah menyeka air matanya, Alicia melihat Nyonya Lyan saling merangkul dengan suami tercinta Tn. Hasan. Ada beberapa kerabat yang katanya berasal dari perbatasan. Mata Alicia menyapu barisan pelayat yang mulai beranjak pulang, berharap menganali satu sosok yang dia rindukan. Malik. Malik tidak pulang untuk mengantarkan kakeknya di perinstirahatan yang selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN