Musim berganti, kemarau berujung lagi musim penghujan. Mereka lompat dari satu pesta panen ke pesta panen berikutnya dan berikutnya dan berikutnya...
Pesta panen akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Banyak rumah-rumah sudah menggantungkan pita-pita warna-warni. Sementara adik-adik panti asuhan selalu menggantung pita pada pohon ek di belakang bangunan utama, mereka menyebut pohon itu sebagai pohon harapan. Itu adalah sebuah tradisi yang ditinggalkan kakek Didi, kata kakek sebelum mereka menggantung pita di pohon ek, mereka harus membuat harapan terlebih dahulu.
Hari itu Lana terlihat sangat tegang, dia memanggil Billi. Billi menyebrangi halaman menuju bangunan utama. Masuk lewat pintu belakang ke ruangan Lana. Alicia melihat Sakina "Ada apa ?" alisnya terangkat
"Mungkin surat dari dewan anak lagi" gumam Sakina sedih "Kudengar banyak donatur kita yang mengundurkan diri"
Dahi Alicia mengkerut, bertanya-tanya apakah hal itu sangat buruk ?
"Meski begitu mereka mengantarakan beberapa anak dari perbatasan ke tempat ini" Sakina merasa tidak adil dengan apa yang dilakukan Dewan Anak di Kota. Mereka bertindak seenaknya pada panti asuhan ini "Di sini Lembah Rawa. Bukan pertabasan ! Semua aturan disini di atur oleh Sang Juru Kunci dan semua menggunakan restu Pualam" Sakina berdecak "Menurutmu, anak yang tidak diresntui pualam ketika lahir apakah bisa tinggal di sini ?" Sakina berdecak lagi "Kamu tahu apa yang mereka bilang. Semua tempat itu sama" Sakina memonyongkan bibirnya menirukan cara dewan anak bicara.
Sakina ikut berdecak "Itulah mereka, seharusnya dulu panti ini dibiarkan kepengurusannya melewati kakek Didi saja. Para Tetua desa mengambil alih dan mengalihkannya lagi pada Dewan Kota. ...... selalu menyebalkan" Sakina membantu Alicia menggantung buah persik "Siapa yang memberimu persik sebanyak ini ?" Sakina sadar persik-persik itu lebih banyak dari biasanya
"Bibi Diah" Karena Alicia selalu mambantu bibi Diah mengurus kebun tehnya.
Tok...Tok...
Billi mengetuk pintu kayu yang terbuka, kepalanya bersender pada pintu kayu "Adik adik, Lana sedang pusing. Akhirnya dia membutuhkan bantuan kita. Kali ini dia mengajak kita berdiskusi"
Alicia melirih Sakina, Sakina mengisaratkan tatapan yang seolah berkata "Apa kubilang"
Mereka berkumpul untuk membahas sebuah surat yang mengatakan bahwa mereka diberikan kebebasan untuk memiliki donatur
"Kalau seperti ini kita tidak perlu mengirim data keuangan kita ke Dewan Kota kan ?" tanya Sakina menggebu-gebu merasa marah dengan orang-orang di Kota yang berlaku seenaknya saja
"Iya itu bisa kita lakukan, aku harus meyakinkan mereka bahwa panti asuhan ini masih layak untuk terus beroperasi. Kita butuh mereka, adik-adik butuh orang tua. Kita semua pernah seperti mereka merasa bahagia menunggu kedatangan orang tua asuh. Membayangkan kehidupan baru di keluarga yang baru" Lana menghela nafas "Aku tidak ingin mengahcnurkan impian mereka"
"Kalau begini jangan biarkan mereka mengirimi kita anak-anak terus" Sakina duduk dengan kasar di sofa ruangan Lana "Mereka sangat tidak adil pada kita Lana !"
"Jadi adik-adik. Lana bilang keuangan Panti mulai memburuk. Dua bulan lagi kalau kondisinya masih seperti ini, dua bulan lagi mungkin adik-adik kita akan kelaparan lagi"
Lana menunduk lemah, sekana wajahnya larut di dalma pakaian gelapanya "Aku akan sebisaku menemukan donatur donatur lagi" Dia terduduk lesu, matanya memnadang jauh "Dulu semasa masih ada kakek, aku merasa bisa melakukan semuanya.." Suaranya mendadak terhenti "Tapi ternyata Tidak !" air mantanya mengurai, masih ada luka luka kehilangan yang tidak bisa terangkat hanya karena menangis dalam diam "Semuanya berantakkan sejak dia pergi, kakek, akupikir dia tidak melakukan apapun. Aku pikir akulah yang bekerja, membawa nama kakek saja sudah sangat mudah, tapi kini semua orang pergi meninggalkan kita semenjak kakek tidak ada" suara paraunya menguras kembali luka yang sama yang mereka rasakan.
Billi mendekati adiknya. Memeluk Lana dengan hangat. Lana memeluk erat-erat pinggang Billi. Bili menunduk mengecup puncuk kepala adiknya.
Alicia berbalik tidak ingin memperlihatkan air matany
"Aku tidak bisa apa-apa tanpa kakek" suara parau Lana, Lana yang tidak pernah menangis itu. Membuat Alicia semakin merasa sedih. Air matanya terus mengalir. Dia melihat pohon ek di luar sana. Satu satunya pohon yang daunnya akan terus hijau tidak peduli musim berganti.
"Kita harus bekerja" Alicia mengapus air matanya, beralih melihat kakak-akakaknya dengan penuh ketegarannya "Aku akan meminta pekerjaan kembali di rumah Ny. Lyan"
"Alicia benar, kita mungkin bisa mengumpulkan uang. Sementara Lana fokus pada mencari donatur, kita bisa mengumpulkan uang. Untuk membantu" ujar Sakina penuh semangat "Aku juga bisa minta bantuan adik-adik untuk menjahit"
Billi mengangguk, melepaskan tangan Lana yang masih memeluk pinggangnya. Dia menyentuh kepala Lana dengan lembut "Kamu lihat, Lana kamu tidak pernah sendiri. Jangan berpikir begitu, kita satu Tim" Billi mengangkat jempol bangga pada adik-adiknya "Mulai sekarang katakan jika kamu butuh bantuan dari kami. Lana, perlu kamu tahu sampai akhir kita akan terus sama-sama. Kita akan saling mengandalkan satu sama lain, kalau tidak ada kita siapa lagi ?" Billi menelan ludah yang terasa pahit "Kita harus saling memiliki" Billi merentangkan tangannya.
Alicia dan Sakina mendekat. Merekapun saling berepulakn.
Kita akan selalu saling memiliki. Alicia berbeisik kecil di hatinya.
***
Ketika sudah larut malam Alicia kembali mengetuk ruang kerja Lana. Dia kasian melihat kakaknya yang terus bekerja meski waktu sudah menunjukkan untuk beristirahat.
"Masok" Jawaban suara dingin Lana
Alicia membuka pintu kayu yang berderit setiap kali terbuka. Lana sedang di meja kerjanya, di bawah penerangan seadanya dari lampu minyak sederhana buatan Bili.
Lana, meletakan kaca matanya yang bulat. Menggeser sempoanya menjauh. mengumpulkan suarat-surat yang di tekuninya ke sisi meja dan menutupnya dengan selembar papyrus kosong. Dia tidak ingin Alicia melihat isi surat-surat itu, karena beberapa diantaranya masih tentang perjodohannya yang terus gagal. Lana dan Billi tidak putus asa mencarikan suami untuk Alicia.
"Kamu belum tidur ?" tanya Lana pada adik bungsunya
"Aku yang seharusnya bertanya padamu Lana. Untuk apa terus melihat papyrus-papyrus itu, dia bukan peria tampan yang bisa membuatmu merona" Alicia meletakkan kopi jahe hangat untuk kakaknya dan juga pie apel yang dibuatnya siang tadi
Lana terkekeh "Kamu sudah seperti perawat tua yang merindukan seorang laki-laki"
Alicia menggeleng menolak tuduhan Lana "Tidak aku tidak begitu" setelah meletakkan pie dan kopi di atas meja Alicia kembali keluar "Tunggu" Katanya.
Tidak lama dia dengan membawa kotak kayu berisi kepingan logam dan beberapa emas "Ini tabunganku Lana, semoga mencukupi kita untuk beberapa bulan kedepan" dia meletakkan tabungan itu di atas meja Lana.
Lana melihat tabungan itu, menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mendesah keras. Dia tidak mengubris kotak tersebut. Dia malah berdiri berjalan ke dekat jendela yang terbuka. Memandang ke luar lapangan berbatu yang mengelilingi pohon ek di mana adik-adik mereka suka bermain "Masalahnya bukan cuma tentang uang Alicia ! Ketika panti ini tidak mendapatkan donatur, maka Dewan Kota akan menarik kembali surat pengukuhan panti ini. Tanpa surat pengukuhan tempat ini tidak lain adalah penampungan anak yatim piatu biasa "
"Dan kita tidak lain hanya orang dewasa yang menampung anak yatim dengan uang sendiri" Lana mendesah keras, nafasnya membentuk sebuah embun di jendela kaca "Mereka bisa mengambil adik-adik seenaknya. Mereka bisa mengirim mereka kemanapun untuk bekerja. Adik-adik kita tidak akan pernah punya cita-cita lagi, mereka tidak akan bertemu dengan orang tua asuh mereka" Lana kembali melihat adiknya, kali ini tatapan penuh kesungguhan "Tahu apa yang kurasakan Alicia ?"
Alicia menggeleng "Aku seperti memberikan mimpi pada mereka, dan menjadi satu-satunya orang yang menghancurkan mimpi itu"
Alicia menengadah menatap langit-langit yang sudah banyak sarang laba-labanya. Dia mengigit bibir berusaha tidak menangis. Alicia merasa tidak becus mengurus semuanya. Terasa ada yang terenggut mendengar apa yang dikatakan Lana. Tapi Lana benar tenang anak-anak panti, Alicia sendiri tumbuh dengan memupuk mimpi seperti itu di panti ini.
Lana menyentuh kaca jendela ruang kerjanya, terasa dingin karena udara lembah rawa yang tidak pernah terasa hangat di malam hari "Aku ingin menyemai mimpi anak-anak itu, aku ingin mereka mencapainya, memijakkan kaki di tempat yang mereka inginkan" dia mengetuk ngetuk jendela seperti burung yang mematuk jendela di pagi hari "Billi pernah bilang padaku. Kita tidak punya hak untuk menghentikkan seorang anak dengan cita citanya sebesar dunia. Aku ingin mendorong mereka.." Lana mengusap-usap jendela bagai benda paling berharga, embun terurai menjadi air yang menetes "Sejujurnya, dulu aku tidak memahami kakek, setiap kali dia memintaku untuk bersurat mengerjakan sesuatu aku selalu bertanya, kenapa ? lalu kini aku mengerti. Dia membuka jalan untuk setiap mimpi anak-anak itu. Aku ingin jadi seperti dia Alicia, aku ingin membawa kemuliaan si tua itu"
Alicia menghela nafas "Aku percaya padamu Lana, selalu. Kami selalu bertompang pada dirimu" Alicia mengetuk ngetuk kotak tabungannya "Terserah mau kamu apakan benda ini. Aku, Billi dan Sakina akan terus berada di belakangmu dan mendorongmu"
Alicia pun berbalik, bermaksud meninggalkan Lana.
Sebelum gadis itu membuka pintu, Lana berkata "Kamu harus menikah Alicia !"
Sudah lama sekali setelah kejadian perjanjian dengan para tetua itu, kini kembali dia mendengar kakak-akakaknya memintanya untuk menikah. Alicia memejamkan matanya tidak sanggup lagi mendengar "menikah...menikah...menikah..."
Alicia menoleh, alisnya terangakat terlihat dingin. Seperti bukan dirinya "Kau ingin Billi mati ?" tanyanya dengan pedih "Tidak akan pernah ada pesta pernikahan di panti ini. Sudah sampai sini saja.."
Alicia keluar.
Meski mendapat tatapan paling dingin dari Alicia tidak menyurutkan niat Lana untuk mencarikan jodoh buat Alicia. Ini adalah perintah Billi, baginya perintah Billi seperti titah Raja.