Sebagaimana H-satu sebelum hari panen seluruh desa sibuk, tidak terkecuali desa para nelayan air tawan, meski tidak punya tanah untuk memanen mereka turut merayakan hari panen. Hari panen adalah hari besar bagi seluruh peduduk Lembah Rawa.
Pergantian musim bukan cuma dirasakan oleh petani dan pemelik kebun tapi juga para nelayan, pedangan, penempa besi, penambang belerang. Perubahan musim mempengaruhi pendapatan seluruh penduduk desa, ada yang lebih banyak mendapatkan kepingan logam ada juga yang lebih sedikit. Sang juru Kunci mengajak semuanya berkumpul untuk sama-sama merasakan kasih sayang Lembah Rawa, sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah diberikan lembah pada mereka semua.
"Aku tidak suka pasar di hari panen" Gumam Sakina. Dia terus terusan menarik jubahnya yang kepanjangan karena terinjak-injak kaki orang. Beberapa orang membawa hewan masuk ke dalam pasar, itu menyebalkan sekali ketika kondisi pasar padat seperti sekarang "Mana Billi, aku memintanya lebih dulu pergi ke pasar untuk dibelikan ikan segar dia malah hilang" Leher jenjang Sakina menengok ke gang sempit di mana wanita wanita penghibur menawarkan jasa mereka tidak peduli siang atau malam "Jangan-jangan dia disana" katanya curiga.
Alicia mendorong bahu kakaknya "Kita harus cepat"
Lalu langkah Alicia tertahan. Melihat teman-temannya yang bekerja di rumah tuan Hasan, ada Lucia juga. Lucia biasanya tidak pernah pergi ke pasar. Biasanya mereka memesan sendiri dari para pedagang dalam jumlah sangat banyak untuk kebutuhan kastil. Alicia tidak lagi melihat Lake, dia mendengar dari Billi bahwa laki-laki itu dan saudarinya sudah pindah ke Perbatasan.
"Kenapa ?" Sakina melihat ke arah pandangan Alicia "Oh orang-orang kastil. Sedang apa mereka ? Kenapa mesti ke pasar ? Mereka kan bisa mendatangkan apa saja tanpa harus susah-susah ke pasar seperti kita"
Mata Alicia bertemu pandang dengan Lucia, perempuan tua bangka itu langsung membuang muka
"Dia kenapa ?" Sakina hampir teriak melihat eksperesi membuang muka Lucia. Dia mau menonjok si perawan tua itu, enak saja membuang muka pada adiknya.
"Sudahlah ayo" Alicia mendorong Sakina agar mereka menjauh dari para pekerja kastil yang kesasar di pasar rakyat.
"Aduh" Sakina terlalu cerewet dan terus-terusan mengeluh "BIBI ayolah jangan menghalangi kami jalan !" keluhanya pada seorang perempuan yang menghalangi jalan mereka.
"Minggir-minggir" Alicia menghela nafas lega ketika Billi menyelamatkan mereka. Ya Billi sudah terbiasa hidup di pasar. Sehari hari dia memang bekerja sebagai buruh angkut kadang-kadang membantu Paman Bena membuat tapal kuda.
"Mana Palma, PALMA BERIKAN BUAHNYA PADA ADIKKU" teriakan Billi membahana "Permisi bibi bibi sungguh kalian berjalan sambil memamerkan pinggul yang tidak ada apa-apanya" Dia hampir mendorong seorang wanita paruh baya. Bahu besar Billi mengusik wanita wanita lemah yang berjalan sambil melihat-lihat.
"Kurang ajar kau yatim" Teriak seorang ibu
Seperti baisa, Kakak Alicia itu tidak pernah peduli. Alicia hanya menggeleng-geleng.
Billi menggeret lengan Alicia "Diam disini !" Perintah Billi pada Alicia. Lalu dia beralih pada seorang pedagang biji-bijian "Kuba, timbang dulu pesananku !" Perintah Billi sengit "Gandumku sudah dilembutkan ? Aku memintnay dari pagi Kuba !" Suara Billi terdengar sangat kesal, tapi wajahnya terlihat biasa saja.
Alicia pikir mungkin kehidupan di pasar memang seperti itu. Harus berteriak-teriak agar didengar "Sabar Billi" Alicia melihat Billi dengan mata awas. Dia ingin memancing perkelahian atau bagaimana ?
"Dasar preman pasar !" Kuba menghela nafas, sudah biasa dengan tingkah Billi "Tunggu Alicia, beri aku waktu lima belas menit. Aku menimbang milik Orang-orang kastil dulu. Mereka bilang akan ada pesta besar di rumah Tn. Hasan. Semua pedagang dibuat sibuk karena pesta mendadak itu. Banyak orang tidak kebagian gandum di hari panen ini"
Billi melihat Alicia "Pesta apa ?" Tanya Billi penasaran
"Mereka bilang Tuan Muda yang sudah dua belas tahun tidak pulang ke rumahnya, akhirnya pulang dengan seorang putri. Mungkin Tuan Muda akan menikah"
Teg !
Alicia tidak merasakan kakinya berpijak lagi di bumi. Entah seharusnya dia senang atau merasa sedih. Dia sendiri bingung. Malik sudah dua belas tahun hilang, tanpa kabar. Bukannya dia menuntut ingin dikabari, hanya saja...
Cerita yang didengar Alicia tentang Malik tidak pernah sama, seperti sebuah karangan berlebihan dari satu mulut ke mulut yang lain. Mungkin tidak patas baginya untuk khawatir, tapi itulah yang terjadi. Alicia bertahun-tahun hanya mampu menuliskan surat tanpa alamat dengan tujuan Malik. K. Surat yang kini empat gulungan jumlahnya, dia tuliskan hampir setiap malam untuk Malik.
Degup jantungnya tidak bisa berbohong. Matanya jadi panas, ingin menangis. Sekuat tenaga dia berusaha baik-baik saja. Apalagi Billi menyadari perubahan mimik wajahnya. Alicia merasakan rangkulan tangan Billi di bahunya.
"Aku tidak apa-apa Billi" bisiknya, suaranya parau. Jelas ! bahwa dia kenapa-napa...
"Aku melarangmu menemuinya. Dia akan membuatmu makin sedih" bisik Billi pada Alicia
Alicia menghela nafas, dia tidak mau menangis.
"Aku beli ampas kedelai dulu" ditepuknya punggung Alicia "Jangan menemuinya !"
Jangan menemuinya. Memang kenapa kalau Alicia menemui Malik ? Lalu terdengar lagi suara Billi "Kamu akan sedih"
***
Mereka sedang membuat makanan dengan ampas kedelai dicampur gula merah yang sangat enak. Harees, disajikan khusus pada Malam Panen. Alicia menyaring ampas kedelai dan mulai mengolahnya sementara Sakina membuat Qiuhaw, makanan dengan tepung sebagai kulitnya dan berisikan ikan air tawar segar. Haress dan Qiuhaw biasanya dimakan berdampingan.
"Alicia setelah itu bantu aku membuat Qiuhaw ini. MARINI, KESIA" teriak Sakina pada dua adik adik yang suka mmebantunya memasak "Kemana sih dua bocah itu" Qiuhaw memang agak lebih rumit proses pembuatannya, karena harus di cetak satu persatu, lalu kemudian di-isi dengan ikan.
Lana keluar dari ruangannya. Meletakkan sebuah surat "Malikmu akan bertunangan dengan seorang putri, Nona. Alicia" Tanpa memedulikan reaksi Alicia, Lana duduk di bangku panjang di dekat Sakina "Jangan ganggu adik-adik Sakina mereka sedang bermain inikan hari panen. Sungguh dirimu..." Lana berdesah merasa kesal dengan Sakina. Dia membantu Sakina membuat Qiuhaw.
Sakina menarik surat itu dan membacanya
Untuk : Lana, Panti Asuhan Lembah Rawa
Berikut undangan untuk menyambut kedatangan anak kami
Malik Kuswardi bersama kekasihnya Putri Zenha
"Putri Zenha ?" Sakina belum mengetahui bahwa Malik membawa pulang seorang putri bersamanya "Nama yang terdengar sangat indah" bibir Sakina mengerucut, mempelajari surat itu "Jadi kamu pergi dengan siapa ?" tanyanya pada Lana.
Di balik tungku api, telinga Alicia mendengarkan kakak-kakaknya dengan baik. Kini dia tahu nama kekasih hati Malik. Zenha. Pada akhirnya semua orang bisa memiliki masa depan, tambatan hati, tidak terkecuali bocah kecil yang dulu dirawatnya. Sedangkan dirinya,, cukup begini saja. Dia mengaduk ampas tahu yang mulai berbuih di dalam kuali besar.
"Di sana banyak orang-orang penting" Gumam Lana "Tulisan putri pada surat itu, cukup menggaris bawahi bahwa tamu yang datang dalam pesta itu pastinya bukan orang sembarangan" Dia terlihat berpikir sambil tangannya mengisi ampas Qiuhaw dengan ikan "Masalahnya aku tidak menyukai Keluarga mereka" wajahnya berkedut "Mungkin salah satu dari kalian mau menggantikanku untuk mencari donatur di pesta itu ?" Lana melirik kedua adiknya bergantian. Tidak mendapat reaksi apa-apa dari Alicia dan Sakina, Lana terkekeh "Aku bercanda, Sakina akan sibuk seharian hari ini dan kamu..." Lana mneunjuk Alicia dengan tangan penuh tepung "Billi akan memarahiku habis-habisan kalau kembali mengirimu ke rumah itu"
Alicia tidak mengerti kenapa Billi harus marah ? Sejujurnya Alicia sangat ingin bertemu dengan Malik. Sakina melihat kekecewaan di dalam mata Alicia "Kamu sangat merindukannya ?" tuduh Sakina
Alicia menggeleng, menyembunyikan perasaannya sendiri
"Apa kamu mencintainya Alicia ? kamu terlihat seperti seorang kekasih" Sakina tidak bisa tidak mengungkapkan apa yang dilihatnya dari Alicia.
"Kamu bicara apa sih Sakina" Alicia tidak suka dengan tuduhan Sakina "Aku ini sudah hampir-hampir menjadi bibinya" Alicia menggeleng-geleng. Pipinya bersemu karena malu. dia semakin tertunduk-tunduk mengaduk Harees yang hampir jadi.
Sakina menggeleng-geleng "Kamu terlalu lugu Alicia"
Lana berdecak, dia tersenyum miring.
***