Bagaimana rasanya hidup terisolasi dan jauh dari keramaian?
Eleanor Roosevelt, sudah merasakannya. Dia anak tunggal dari keluarga yang cukup berada. Apapun yang Eleanor butuhkan memang selalu terpenuhi. Akan tetapi, hidupnya dari kecil sampai di usianya yang ke 25 tahun ini benar-benar seperti berada di dalam sangkar.
Eleanor seperti seekor burung yang terpenjara di dalam sangkarnya. Diberi makan, diberi minum, mendapatkan pendidikan (Home Schooling), dan apa pun yang dia inginkan selalu terpenuhi.
Hanya saja, dia terlalu banyak mendapatkan batasan. Batasan yang begitu besar untuk mengenal dunia luar.
“Eleanor, turunlah ke bawah. Ayahmu memanggil!” seru seorang wanita muda, yang lebih tepatnya adalah ibu tiri Eleanor. Ya, Ayah Eleanor sudah menikah lagi, setelah Daisy —ibu kandung Eleanor meninggal lima tahun yang lalu.
Tanpa adanya perasaan curiga, Eleanor mengangguk dan segera turun ke lantai satu, mengikuti sang ibu tiri dari belakang.
Sejujurnya, sangat jarang sekali sang ayah ingin mengajaknya bicara. Sebab hampir tiap hari, mereka tak pernah bertemu. Hanya sesekali saat sarapan pagi. Itu pun fokusnya hanya untuk menyantap sarapan, bukan mengobrol untuk sekedar basa-basi.
Gadis bersurai panjang itu langsung menghadap sang ayah yang sedang duduk di sofa panjang saat ini. Entah mengapa, perasaan tidak enak mulai menyelimuti Eleanor, sebab tatapan yang diberikan oleh sang ayah nampak berbeda. Pun ibu tirinya juga terlihat sangat berbeda hari ini.
“Ayah memanggilku? Ada apa?”
“Ayah tidak mau berbasa-basi dan tidak akan menutupi apapun lagi darimu. Jadi, ayah sebenarnya punya hutang yang belum terbayar pada keluarga Roderick. Keadaan kita juga sedang tidak baik-baik saja.”
“Bangkrut,” sahut Marie —ibu tiri Eleanor, memperjelas maksud ucapan dari Antonio Roseevelt.
“Ya, bangkrut. Jadi, ayah terpaksa menjadikanmu sebagai jaminan pada mereka, Tuan Kenzo Roderick Veit.”
“A—apa? Jaminan? Ayah, yang benar saja?! Bagaimana bisa Ayah mengorbankan aku pada mereka? Memangnya sebanyak apa hutang-hutang Ayah?”
“Rumah ini dijual pun tidak akan ada seperempatnya.” jawab Antonio gamblang. Hutangnya memang terlalu banyak dan Antonio sama sekali belum memiliki cukup uang untuk membayar. Dia dilanda kebangkrutan. Semua usahanya hancur, gagal total dalam kerjasamanya dengan perusahaan lain. Maka tidak ada pilihan lain selain menjaminkan Eleanor, daripada dia harus ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.
“Ayah—”
“Sayangnya kau tidak bisa menolak, Eleanor. Ini sudah menjadi perintahku. Setidaknya kau harus menjadi anak yang berguna. Sejak dulu, ayah selalu memenuhi semua kebutuhanmu. Mulai dari pendidikan, fasilitas, dan segalanya. Sekarang, saatnya kau berbakti pada ayah. Menurut pada ayah jika kau memang benar-benar anak yang berguna!” ujar Antonio yang semakin membuat Eleanor bungkam.
Sejak dulu, Eleanor tidak pernah bisa mengatakan tidak. Dia selalu pasrah dan penurut. Apapun yang dikatakan oleh Antonio, maka sudah seperti perintah baginya.
Eleanor tidak pernah punya kesempatan untuk membuka suara. Atau lebih tepatnya tidak pernah diizinkan untuk menyuarakan apa isi hatinya.
“Eleanor, tolong bantu ayahmu dengan menurut. Kau hanya dijadikan jaminan saja, bukan dijual pada mereka. Tenang, ayahmu pasti akan segera membawamu kembali jika sudah berhasil melunasi seluruh hutang-hutangnya pada keluarga Roderick.” ujar Marie yang justru mendapatkan tatapan tak biasa dari Antonio. Hanya saja, Marie tidak peduli akan hal tersebut.
“Jangan memasang wajah seperti itu padaku, Eleanor. Percuma,” lanjut Marie. “Ayahmu dan Tuan Kenzo sudah melakukan kesepakatan bersama, jika kau dijadikan jaminan. Selama kau berada di sana, kau akan menjadi pelayannya. Bekerjalah dengan baik Eleanor, jangan sampai membuat masalah.”
Meskipun Eleanor bak putri di rumahnya sendiri, sedikit-sedikit dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Setidaknya berkat sedikit keuletannya dalam mengerjakan pekerjaan rumah bisa dimanfaatkan.
“Sudah, kembali ke kamar dan kemasi pakaianmu. Besok, ayah akan mengantarmu ke kediaman keluarga Roderick.”
Mendengar itu, Eleanor langsung melenggang pergi ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun pada sang ayah.
Mau memelas sampai menangis pun pasti akan percuma saja, sebab keputusan yang sudah ayahnya buat tidak akan bisa dibantah.
Eleanor merasa jika sejak dulu tidak ada yang menyayanginya selain sang ibu. Bahkan tidak ada yang bisa mengerti perasaannya, kecuali sang ibu.
Beberapa kali Eleanor merasa ingin menyerah karena hidup di rumah bagus serba berkecukupan, tapi diselimuti sepi. Tidak punya teman bercerita sama sekali. Dia benar-benar seperti orang yang anti sosial. Bahkan dia tidak mengenal siapa saja tetangganya. Jangankan tetangga, teman-teman sang ayah yang selalu mampir ke rumah pun, Eleanor tidak mengenalnya. Dia selalu mendekam di dalam kamar dan tidak boleh keluar jika ada tamu.
Entah apa alasannya, tapi Eleanor benar-benar bagaikan burung yang terperangkap. Sialnya, dia tidak punya keberanian untuk melawan.
Setiap kali berniat untuk membantah pun, selalu saja sang ayah akan membahas soal jasanya yang sudah menggunung. Dan Eleanor harus membalas budi untuk semuanya.
Eleanor mengemasi semua pakaiannya. Tidak semua juga sebenarnya, hanya sebagian saja. Tidak lupa juga dia membawa ponsel, buku diary dan juga liontin peninggalan dari Daisy.
Setiap kali merindukan sang ibu, Eleanor pasti akan memandangi liontin tersebut sampai matanya terasa lelah. Sedangkan buku diary, Eleanor selalu mencurahkan segala isi hatinya dengan menulis di sana.
Karena tak punya teman satu pun, maka dia hanya bisa menceritakan segala keluh kesahnya pada sebuah tulisan. Dan Eleanor yakin, selama dia berada di kediaman Kenzo Roderick Veit nanti, buku diary nya akan sangat sering digunakan. Sebab Eleanor percaya kalau dia akan kerap menulis di sana.
“Bisakah aku menjalani ini semua nantinya?”
Eleanor menghela napas pelan. Lalu pandangannya tertuju pada jendela kamarnya yang terbuka. Eleanor memandang keluar dan menemukan ribuan bintang sedang menampakkan diri di atas langit.
Bibirnya membentuk sebuah lengkungan indah saat tak sengaja menemukan bintang yang paling bersinar di antara ribuan bintang lainnya. Eleanor menganggap jika itulah perwujudan sang ibu yang hadir di kala hatinya sedang resah.
Eleanor merasa sedikit tenang, meski tidak terlalu berpengaruh.
+++
Pagi di kediaman Kenzo Roderick Veit tetap sama seperti biasanya. Keadaan selalu hening setiap kali Kenzo dan istrinya sedang menikmati sarapan bersama.
Florencia Lyndie —istri Kenzo, meletakkan garpunya setelah menghabiskan makanannya. Dia menoleh ke arah Kenzo yang tengah meneguk minumannya.
“Sayang, mau tambah sandwich-nya tidak?” tanya Florencia dengan begitu lembut. Parasnya yang ayu, sikap dan nada bicaranya yang sangat lembut adalah kombinasi yang pas, sempurna.
“Tidak, kau pikir makan dua potong tidak membuatku kenyang?”
“Ya sudah, aku kan cuma bertanya, sayang.” balas Florencia dengan nada bicara yang tetap melembut, meski sahutan dari sang suami begitu galak.
Florencia sudah terbiasa dengan sikap Kenzo yang sekarang. Begitu galak, dingin, dan irit bicara. Benar-benar tidak sehangat dulu sebelum mereka memutuskan untuk menikah.
“Kau tau Antonio kan?” tanya Kenzo memastikan dan Florencia segera menganggukkan kepalanya mengerti. “Dia akan datang ke sini membawa anaknya yang akan dijadikan jaminan. Jika sudah datang, beri langsung pekerjaan untuknya.”
“Iya, aku tau. Tapi biarkan dia istirahat dulu saja nanti ya? Kasihan kalau disuruh langsung bekerja.”
“Terserah, aku tidak peduli. Yang terpenting, beri dia tugas yang berat. Aku tidak mau sampai rugi.”
“Sayang...”
“Kau mengerti atau tidak?”
Florencia mengerucut saat Kenzo kembali dalam mode galak. “Iya-iya aku mengerti, sayang. Jangan galak-galak terus...”
Kenzo mengalihkan wajah tak peduli. Seperti itu, setiap harinya. Kenzo cenderung tidak peduli dengan apa pun yang Florencia katakan. Bahkan saat Florencia bersikap manja saja, Kenzo sama sekali tidak peka dan cenderung mengabaikan.
Beruntungnya, Florencia selalu paham betul dengan sikap Kenzo. Ya meskipun pria itu benar-benar berubah 180°. Benar-benar seperti bukan Kenzo yang dia kenal sebelumnya.
Dulu sebelum menikah, Kenzo selalu bersikap manis. Penuh perhatian, pengertian, dan baik. Benar-benar tipikal pria idaman para perempuan. Florencia selalu merasa bersyukur karena pria itu memilihnya. Hanya saja, entah mengapa sikap pria itu mendadak berubah. Sangat dingin, irit bicara, dan galak.
Tapi apa pun itu, Florencia selalu berusaha untuk tetap memaklumi dan memahami sang suami. Sebab jika sudah menikah, maka memang dia harus siap menerima segalanya. Yang terpenting, perasaan Kenzo akan tetap untuknya. Benar kan?
“Aku pulang terlambat hari ini. Jadi, tidak perlu menungguku untuk makan malam nanti.” ujar Kenzo seraya bangkit dari tempat duduknya.
“Kenapa pulang terlambat? Memangnya sudah pasti?”
“Bisakah kau tinggal mengiyakan saja ucapanku, Florencia? Kenapa suka sekali menimpali dan bertanya balik?”
Florencia menghela napas pelan. Sabar, hanya itu yang bisa dilakukan Florencia sekarang. Ah, bukan. Melainkan setiap harinya seperti ini. Kenzo sangat sensitif sekali sekarang.
“Maaf. Maaf sayang, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sudah ya? Jangan galak-galak begini terus, istrinya takut.”
“Kau yang memancingku,” sahut Kenzo yang tidak akan pernah mau disalahkan.
Dan Florencia lagi-lagi mengangguk untuk mengalah. Dia lantas bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekat ke arah Kenzo, lalu mengambil alih tas kerjanya.
“Biar aku saja yang bawakan ya sayang.”
“Tidak usah—Florencia,”
“Kenzo, aku mohon. Sesekali istrinya mau temani sampai ke teras depan, ya?” nada bicaranya sedikit dibuat manja, sembari merangkul lengan Kenzo.
Pria itu sontak melirik ke arah tangan Florencia yang sudah melingkar indah pada lengannya dengan tatapan setengah sinis. “Ck! Terserah.”
Florencia tersenyum begitu Kenzo membiarkannya menemani sampai ke teras depan. Wanita itu sedikit berjinjit untuk membubuhkan beberapa kecupan pada wajah Kenzo. Tidak lupa mengecup bibirnya juga.
Meski Kenzo tidak merespon sama sekali, Florencia tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“Ini tasnya, sayang. Hati-hati ya. Jangan lupa kabari aku jika sudah sampai kantor,"
Lagi-lagi Kenzo tidak merespon dan hal itu sudah biasa bagi Florencia. Memang dia di sini yang harus paling mengerti dan mengalah dari Kenzo.
“Hans, tolong jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." pesan Florencia, pada personal assisten Kenzo.
“Ya, Baik, Nyonya Florencia.”
Florencia masih berdiri di sana. Melambaikan tangan dan tersenyum ke arah sang suami, meskipun lambaian tangannya tidak dibalas sama sekali.
Florencia berniat untuk kembali masuk ke dalam, setelah mobil yang membawa suaminya itu meninggalkan halaman mansion. Namun, suara klakson mobil yang baru memasuki halaman mansion membuat Florencia mengurungkan niatnya untuk kembali masuk dan memilih untuk tetap berdiri di sana.
Matanya mulai memindai seseorang yang baru saja keluar dari mobil tersebut dengan setelan kemeja yang begitu rapi.
“Ah, kau rupanya!” seru Florencia saat seseorang itu berjalan mendekat ke arahnya. “Kenzo baru saja berangkat. Ada apa, Lucas?”
“Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan suamimu sebenarnya.”
“Kau tidak mengabari Kenzo sebelumnya ya?” tanya Florencia dan pria itu mengangguk. “Hm, pantas saja. Coba kau memberitahunya sejak semalam, pasti Kenzo akan menunggumu. Memangnya mau membicarakan apa?”
“Biasa, soal pekerjaan. Tapi ya sudahlah, aku akan menyusulnya ke kantor. Flo—”
“Kau sudah sarapan? Mau sarapan dulu? Biar Bibi Norah membuatkanmu sandwich sebentar.”
“Boleh memangnya?”
“Bolehlah, memangnya siapa yang tidak memperbolehkanmu sarapan di sini?”
“Aku takut suamimu cemburu,” jawab Lucas bercanda, dan Florencia sontak terkekeh pelan begitu mendengarnya.
“Ada-ada saja. Itu tidak mungkin,” balas Florencia santai.
Lucas merupakan sahabat Kenzo sejak kecil. Dan sejak Florencia menjalin hubungan dengan Kenzo, dia juga turut mengenal Lucas. Jadi, mereka sudah seperti teman sendiri.
“Ayo Lucas, masuk!”