Awal Kedatangan (Flashback)

1906 Kata
Florencia selalu membicarakan banyak hal jika sedang bersama Lucas. Bahkan di saat berada di meja makan seperti ini pun, mereka masih terus berbincang. Sama sekali tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Lucas yang menikmati sandwich dan segelas jus, sedangkan Florencia yang menikmati potongan buah apel. Meski dalam mulut mereka masih penuh dan terus mengunyah, sama sekali tidak membuat keduanya memiliki niat untuk berhenti bicara. “Itu benar-benar luar biasa, Flo. Idemu bagus. Kau tidak ingin merealisasikannya?” Ekspresi wajah Florencia langsung berubah seketika. Namun beberapa detik kemudian menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Sebenarnya ingin... tapi aku membutuhkan izin dari Kenzo. Kau tau sendiri kan dia bagaimana? Aku tidak boleh sembarangan memutuskan sesuatu,” Florencia tau betul dimana posisinya. Dia sebagai istri memang harus membutuhkan izin dari sang suami jika ingin melakukan sesuatu. Apalagi jika perihal sesuatu yang besar. Seperti contohnya membuka usaha sendiri. “Ya, kau benar. Apalagi kau sendiri juga belum punya pengalaman sama sekali di bidang fashion. Atau kau mau dengar saran dariku?” “Apa?” “Bagaimana jika membuka usaha sebuah cafe atau restoran? Kau kan pandai memasak, bahkan kau bisa memasukkan semua roti dan kue andalanmu, Flo. Sungguh, kue buatanmu sangat lezat. Aku jamin, jika kau membuka restoran atau cafe, pasti akan sangat ramai. Percaya padaku,” “Hm, begitukah? Tapi Kenzo bilang, kue buatanku biasa saja rasanya.” Florencia menundukkan sedikit kepalanya. Dia bahkan meletakkan garpunya, karena tiba-tiba saja kehilangan selera untuk menikmati buah apel tersebut. “Enak, Flo. Kau seperti tidak mengenal Kenzo saja. Suamimu itu kan memang gengsinya tingkat tinggi. Aku bahkan pernah memergokinya menghabiskan kue tart buatanmu.” Florencia sontak mengangkat wajahnya. Senyuman langsung mengembang begitu saja, setelah mendengar ucapan dari Lucas. “Benarkah? Kau tidak bohong?” tanya Florencia memastikan kembali. Di saat Lucas mengangguk, maka Florencia kembali tersenyum lebar. “Syukurlah. Aku senang mengetahuinya,” “Jadi, bagaimana? Tertarik dengan saran dariku? Atau masih ingin berkecimpung ke dunia fashion?” “Menurutmu bagaimana? Aku sebenarnya sangat ingin membuka butik atau klinik kecantikan. Tapi saran darimu juga bagus. Aku jadi bingung,” Florencia benar-benar sedang dilanda kebingungan saat ini. Pasalnya, dia akhir-akhir ini begitu mencintai dunia fashion. Dia bahkan sering menghadiri acara fashion show untuk memanjakan kedua matanya. Florencia juga senang sekali melakukan mix and match pakaian hingga terlihat fashionable saat dipakai. Selain itu, dia juga sangat tergugah untuk memiliki usaha klinik kecantikan. Itu karena dia sangat senang merawat diri. Bahkan dia bisa berjam-jam melakukan perawatan wajah serta tubuh. Setidaknya jika punya sendiri, dia tidak perlu repot-repot booking tempat perawatan. Meski di mansion pun tersedia juga ruangan semacam salon perawatan, tapi tidak selengkap yang ada di luar. Lagi pula, Florencia suka bosan jika melakukan perawatan di rumah. Lebih senang jika melakukannya di luar, sekaligus mencari udara segar. Namun, saran dari Lucas juga sangat bagus. Apalagi dia pandai dalam membuat macam-macam kue dan juga pintar memasak. Bisa saja dia membuat bisnis toko roti dan semua roti andalannya bisa dia jual. Atau bisa juga cafe maupun restoran sekalian. Dari semua itu, terlebih dahulu dia harus mendapatkan izin dari Kenzo. Karena jika tidak mendapatkan izin dari sang suami, sudah dapat dipastikan jika apa yang dia inginkan tidak akan pernah bisa terealisasikan. “Jangan bingung begitu, Flo. Pikirkan dulu baik-baik kau inginnya apa. Baru setelah itu, diskusikan semuanya dengan Kenzo. Nanti akan aku bantu jika Kenzo sudah menyetujui.” “Semoga saja dia menyetujui apa yang menjadi keinginanku.” Florencia pasrah saja dengan keputusan yang nantinya akan diberikan oleh Kenzo. Belum juga membahasnya dengan sang suami, tapi Florencia sudah berpikir yang tidak-tidak. Takut sekali jika Kenzo tidak menyetujui ataupun tidak mendukungnya. Sementara itu di ruang tamu mansion yang begitu luas tersebut, berdiri seorang gadis dengan surai panjang yang sengaja diikat sederhana ke belakang. Gadis polos yang sebelumnya tidak pernah singgah di tempat orang lain, kini menapakkan kakinya di kediaman orang lain untuk dijadikan sebagai pelayan, selama menjadi jaminan. Ya, gadis itu adalah Eleanor Roosevelt. Eleanor berdiri kaku menunggu sang nyonya datang menemuinya. Sebelumnya, kedatangan Eleanor disambut oleh seorang wanita tua dengan pakaian pelayan. Sangat ramah dan juga murah senyum. Eleanor menebak jika wanita tua itu adalah pelayan senior di tempat tersebut. Lama menunggu, Eleanor melirik ke arah dinding yang terdapat sebuah bingkai foto yang sangat besar di sana. Sebuah foto keluarga. Puan itu mengamatinya dengan lamat. Potret dua orang yang tengah duduk itu, Eleanor tebak adalah orang tua dari dua orang laki-laki yang berdiri di samping kanan dan kirinya. Lalu tak jauh dari sana, terdapat bingkai foto pernikahan dari salah seorang pria yang potretnya ada di dalam foto keluarga sebelumnya. “Itu Tuan Muda Kenzo dan istrinya, Nyonya Florencia.” Eleanor segera menoleh ketika mendengar suara seseorang. Wanita tua tadi, kembali lagi. “Sebentar ya, Nyonya Florencia sedang sarapan di dalam.” ujarnya dan Eleanor hanya mengangguk pelan. “jangan takut, siapa namamu Nak?” “Eleanor,” Wanita tua itu tersenyum hangat. “Baiklah Eleanor, aku Norah. Panggil saja Bibi Norah, ya?” Eleanor membalas senyuman Norah, tepat ketika wanita itu menyentuh pundaknya. Ada perasaan nyaman yang menyambangi. Meski tidak terlalu membuat Eleanor merasa lega. Dia tetap saja masih takut. “Bibi Norah?” Panggilan lembut dari seseorang membuat Eleanor maupun Norah menoleh ke sumber suara. Florencia berjalan mendekat bersamaan dengan Lucas yang ada di sampingnya. “Karena kau sedang ada tamu, jadi lebih baik aku pergi sekarang, Flo.” Florencia segera menoleh ke samping dan menyahut, “langsung pergi menemui Kenzo?” “Ya, Flo. Aku pergi ya, terimakasih untuk sarapannya.” Florencia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sementara Norah sedikit menunduk dan membalas senyuman Lucas yang mengarah padanya. Beda dengan Eleanor yang tidak tau siapa itu dan dia hanya terus menatap lantai, enggan meliriknya. “Kau Eleanor? Putri dari Tuan Antonio kan?” tanya Florencia yang mana membuat Eleanor langsung mengangkat wajahnya untuk menatap Florencia yang super lembut dan ramah. Eleanor mengangguk dan menjawab, “i—iya, saya putri dari Antonio, Nyonya Florencia.” “Jangan takut, Eleanor. Untuk hari ini, kau bisa beristirahat dulu atau berkeliling mansion untuk pengenalan diri agar tidak salah ruangan nantinya jika mendapatkan tugas. Biar Bibi Norah yang akan mengantarmu ke kamar.” ujar Florencia. Lalu kemudian dia menoleh ke arah Norah, “Bi, bagaimana? Kamar untuk Eleanor sudah disiapkan kan?” “Sudah, Nyonya. Tuan meminta saya menyiapkan kamar bawah dekat ruang baca untuk ditempati Eleanor.” Florencia sedikit terkejut begitu mendengarnya. Pasalnya, kamar-kamar khusus untuk para pelayan ada di bangunan belakang mansion. Yang hanya berjarak beberapa meter. “Ya sudah kalau begitu, Bi. Antarkan Eleanor ke kamarnya sekarang, agar dia bisa beristirahat. Atau jika mau berkeliling, tolong minta bantuan pada siapa saja yang sedang tidak ada pekerjaan untuk menemani Eleanor berkeliling. Jangan Bibi sendiri, nanti jika ketahuan Kenzo, Bibi bisa kena omelan nanti.” Norah paham apa maksudnya. Dia memang yang paling senior di sana. Bahkan Norah sudah mengabdi pada keluarga Roderick sejak Kenzo masih kecil. Sampai sekarang, dia tetap mengabdikan diri, dan Norah benar-benar sangat dihormati oleh Kenzo. Maka dari itu, tugas Norah pun di sana hanya memasak dan menyiapkan makanan di meja makan. Jika sampai Norah melakukan hal selain itu dan Kenzo mengetahuinya, maka Norah yang akan mendapatkan omelan. Kenzo hanya tidak mau jika Norah kelelahan. Semua orang yang ada di sana sudah tau semuanya. Termasuk Florencia yang juga turut menghormati Norah sebagaimana suaminya yang selalu menghormati Norah seperti ibunya sendiri. “Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya akan mengantar Eleanor ke kamarnya sekarang.” “Iya,” sahut Florencia lembut. Lalu tatapannya tertuju ke arah Eleanor yang masih terlihat takut-takut. Florencia lantas tersenyum lembut dan menyentuh pundak Eleanor, “jangan takut, Eleanor. Semua orang di sini baik. Semoga betah ya,” Eleanor mengangguk ragu, tapi dia menjawab, “Ya, Nyonya Florencia.” Meski Florencia mengatakan jangan takut, tetap saja Eleanor merasa takut. Apalagi saat melihat foto yang terpajang tadi di dinding, rasanya seperti dia sedang diawasi. Tapi Florencia cukup senang, sebab Florencia begitu baik dan lembut sekali saat bicara. Bahkan diam-diam Eleanor mengagumi kecantikan Florencia. Benar-benar definisi perempuan yang sempurna. Cantik parasnya, begitu pun sikapnya yang sangat ramah. “Permisi, Nyonya.” +++ Eleanor terus mengikuti langkah Norah dari belakang. Namun matanya terus menoleh ke kanan dan ke kiri, takjub dengan seisi mansion yang masih berisikan banyaknya barang-barang antik. Pun setiap ruangan yang dilewati juga sangat luas. Beberapa ruangan tampak tertutup rapat, dan itu sangat menarik perhatian Eleanor. Dia juga merasakan kesunyian di mansion sebesar itu. Meskipun dia dengar ada banyak pelayan yang bekerja, tetap saja tempat itu terasa sepi. Atau memang tidak ada yang berani bersuara? “Ada apa, Eleanor? Kau ingin menanyakan sesuatu? Tampaknya kau sangat ingin mengetahui sesuatu.” Norah bersuara lebih dulu, begitu langkahnya sedikit diperlambat untuk menyamakan langkah dengan Anne. “Ah itu, kenapa sepi sekali?” tanya Eleanor tanpa keraguan. Dan hal itu membuat Norah tersenyum lembut. “Semua pelayan sedang mengerjakan tugasnya masing-masing di jam-jam pagi seperti ini. Mansion utama memang terbilang sepi, karena Tuan Kenzo sangat menyukai ketenangan. Tidak suka suara berisik, jadi sebisa mungkin jika berada di sekitaran Mansion utama, harus menjaga lisan. Jangan bicara atau bercanda terlalu keras.” “Termasuk saat Tuan tidak ada di rumah juga?” Norah tersenyum tipis dan lekas mengangguk, “tentu, Eleanor.” Eleanor mengangguk paham. Jika suasananya sepi begini, rasanya memang tenang. Tapi tidak bisa dipungkiri juga suasananya terasa sedikit mencekam? Entahlah. Terkadang memang pikiran Eleanor sedikit berbeda dengan orang lain. Tapi jika boleh jujur, Eleanor memang suka ketenangan. Mungkin juga karena sudah terbiasa menyendiri, jadi ini adalah pilihan yang baik untuknya. Apalagi letak kamarnya. “Nah, ini kamarmu, Eleanor. Simpan semua pakaianmu ke dalam lemari itu.” ujar Norah sembari menunjuk ke arah lemari yang berada di sudut. Tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Muat untuk menyimpan semua pakaian yang Eleanor bawa. “Selagi kau membereskan pakaian, aku tinggal ya. Aku akan meminta Hanna untuk menyiapkan seragam pelayan untukmu nanti. Sudah lihat tadi kan, jika semua pelayan mengenakan seragam yang sama?” Puan itu lekas mengangguk. “Ya sudah, aku tinggal sebentar.” “Iya, Bibi Norah. Terimakasih sudah mengantarku kemari.” Norah tidak menyahut. Dia hanya tersenyum sembari menepuk pelan pundak Eleanor sebelum akhirnya keluar dari kamar tersebut. Eleanor menyeret kopernya menuju lemari pakaian yang dibuat dari kayu asli dengan kualitas yang sangat bagus. Kamar yang disediakan untuk seorang pelayan bisa dibilang sangat lumayan karena terlihat nyaman. Sebelum merapikan pakaiannya ke dalam lemari, Eleanor mendekat ke arah tempat tidurnya terlebih dahulu. Dia mendudukkan diri di kasur yang tidak begitu besar. Hanya cukup untuknya tidur saja. Tidak terlalu empuk juga, tapi Eleanor sudah merasa bersyukur. Setidaknya, dia punya tempat yang nyaman untuk beristirahat nantinya setelah mengerjakan banyak pekerjaan rumah nantinya. Meski Eleanor tidak tau tugas apa yang akan dia dapatkan nantinya. Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Seseorang masuk dengan membawa sebuah seragam pelayan, yang ia yakini untuknya. “Kau yang bernama Eleanor?” tanya orang tersebut, dan Eleanor mengangguk mengiyakan. Gadis itu sontak tersenyum, lalu menyodorkan seragam pelayan yang ia bawa pada Eleanor. “Ini seragammu. Pakai ini besok. Bibi Norah bilang, kau akan mulai bekerja besok saja.” Eleanor kembali mengangguk dan menerima seragam tersebut. “Oh ya, kenalkan, aku Hanna!” seru gadis itu memperkenalkan diri. “Eleanor,” ujar Eleanor singkat. “Kau belum merapikan pakaianmu ke dalam lemari? Kalau begitu, rapikan dulu semuanya. Setelah itu, ikut aku berkeliling mansion. Bibi Norah menyuruhku untuk mengajakmu berkeliling, agar tahu seluk-beluk mansion ini. Jadi, kau tidak akan bingung nantinya.” Lagi, Eleanor hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN