Bertemu Pertama Kali (Flashback)

1942 Kata
Eleanor terus mengikuti langkah Hanna yang berjalan di depannya. Ia juga turut mendengarkan apa saja yang tengah Hanna jelaskan saat ini, mengenai seluk beluk mansion, tugas-tugas para pelayan, dan masih banyak lagi. Tapi mau dijelaskan sebanyak apapun saat ini tidak akan bisa membuat Eleanor mengingat semuanya. Semua ini benar-benar hal baru untuk puan itu. “Kau lihat pintu yang di sebelah sana?” tanya Hanna, seraya menunjuk ke arah yang ia maksud. Saat Eleanor menganggukkan kepalanya, Hanna kembali melanjutkan. “Pintu itu terhubung dengan taman kecil. Biasanya, tuan Kenzo akan menikmati waktu sorenya dengan duduk di sana sambil membaca majalah. Dari taman pun kita bisa langsung menuju ke area belakang, tempat dimana hewan-hewan peliharaan tuan Kenzo berada. Tempatnya luas sekali. Coba tebak, hewan apa saja yang tuan Kenzo pelihara?” “Aku... tidak tahu.” “Ck! Astaga, coba tebak dulu. Kenapa langsung menjawab tidak tahu?” sahut Hanna, agak syok, sebab baru kali ini ia bertemu dengan orang yang langsung menyerah saja dalam menjawab. “Aku benar-benar tidak tahu ada hewan apa saja yang dipelihara di sini. Jadi, percuma saja kan jika aku menjawabnya? Karena sudah pasti akan salah.” “Huh! Tebak saja dulu, Eli—eh—Ele—” “Eleanor!” seru Eleanor, mengoreksi. “Ya, Eleanor, tebak saja dulu!" ujar Hanna. “Coba tebak. Jangan seperti orang pasrah begitu. Atau kau ini memang orangnya terlalu pasrah begini dan mudah menyerah?" “Kucing?” tebak Eleanor, memilih untuk mengabaikan ucapan Hanna mengenai kata pasrah dan menyerah. Hanna tertawa begitu mendengar tebakan dari Eleanor. Tentu saja hal tersebut membuat Eleanor langsung terdiam. Apa yang salah dengan tebakannya barusan? “Astaga yang benar saja, Eleanor! Kau pikir orang seperti tuan Kenzo itu kelihatan menyukai kucing? Maksudku, dari perawakannya saja sudah kelihatan jika dia bukan orang yang lemah lembut. Mana ada tuan Kenzo menyukai kucing? Apalagi sampai memeliharanya?” Eleanor mengedikkan kedua bahunya. “Aku bahkan belum bertemu langsung dengan orang yang kau sebut dengan tuan itu. Aku... baru juga sampai di tempat ini." “Tuan Kenzo," ujar Hanna memperjelas ucapannya. Bahkan tatapannya juga seketika berubah menjadi lebih tegas. “Orang yang aku panggil tuan itu adalah tuanmu juga mulai hari ini. Jadi, mulai dari sekarang, tolong dijaga ucapanmu, Eleanor. Kau akan mendapatkan masalah jika sampai bicara sembarangan di depan tuan Kenzo. Aku memperingatimu,” Eleanor tak menyahut, pun tidak mengabaikan juga ucapan Hanna. Ia jadi semakin penasaran dengan pria yang bernama Kenzo tersebut. Memang sih, ia sudah melihat rupanya seperti apa melalui foto pernikahannya dengan sang istri di ruang tamu tadi. Tapi dari situ saja tidak bisa dipastikan seperti apa orangnya yang sebenarnya. Eleanor penasaran, mengapa orang-orang yang ada di mansion ini sepertinya sangat berhati-hati sekali, dan juga takut pada pria tersebut? Semenyeramkan apa pria itu? Sampai semua pelayan harus patuh dan selalu berhati-hati dalam bicara maupun bersikap di hadapannya? “Ah sudahlah, kau ternyata tidak semenyenangkan itu untuk diajak bermain tebak-tebakan. Jadi lebih baik, langsung aku tunjukkan saja. Ayo!” Hanna berjalan lebih dulu, namun ia merasa jika tidak ada yang mengikutinya di belakang. Karena itulah, Hanna dengan cepat berhenti dan menoleh ke belakang, benar dugaannya. Eleanor tidak mengikutinya, tapi justru berdiri mematung di tempatnya sambil melamun. Hanna mendengus, sedikit kesal pada anak baru tersebut. Dengan cepat Hanna berjalan kembali mendekatinya, menarik lengannya, sampai kesadaran puan itu kembali begitu cepat. “Ayo! Jangan berdiri saja di tempat!” ujar Hanna. Ia masih memegangi pergelangan tangan Eleanor, takut-takut jika puan itu tidak mengikutinya lagi. “Kau ini apa memang memiliki hobi berdiam diri dan melamun ya?” Eleanor menggeleng. Ia menarik tangannya sedikit lebih keras, hingga Hanna akhirnya memilih untuk melepaskannya. “Aku bisa sendiri. Tidak perlu kau pegangi begitu,” ujar Eleanor, protes. “Kau jalan lebih dulu saja. Aku akan mengikutimu dari belakang,” “Aku bukan pelayanmu, dan kau di sini bukanlah tamu. Jadi, untuk apa aku mengikuti ucapanmu? Jalan saja bersampingan denganku apa susahnya? Sekalian agar lebih enak saat sedang mengobrol. Lagi pula, kau ini butuh teman di sini. Jadi tolong bersikap baik-baik pada semua orang, terutama denganku.” “Maaf,” sahut Eleanor. “Ya sudahlah, ayo jalan!” ujar Hanna. Melihat Eleanor masih sedikit ragu untuk melangkah, Hanna kembali bicara. “Ayo!” Eleanor baru melangkah, berjalan berdampingan dengan Hanna yang saat ini justru diam. Eleanor juga tidak berminat untuk mengajukan tanya, sebab sepanjang yang ia lihat saat ini tidak ada yang membuatnya penasaran. Tiba di tempat yang dimaksud oleh Hanna, Eleanor tampak begitu takjub. Mansion ini saja sudah begitu megahnya, ditambah dengan lahan di belakangnya yang benar-benar luas. Entah berapa luasnya, yang jelas Eleanor dibuat terkejut. Bukan hanya taman kecilnya yang terlihat menakjubkan, tapi juga lapangan yang digunakan untuk area berkuda. “Gideon!” Eleanor buru-buru menoleh saat mendengar Hanna memanggil seseorang. Ia perhatikan benar-benar pria yang saat ini mendekat ke arah mereka, yang mana sebelumnya tengah memberi makan kuda-kuda yang ada di dalam kandang. “Selamat pagi, Hanna!” sapa pria itu tersenyum. Lalu kemudian pandangannya tertuju pada Eleanor yang sejak tadi hanya diam di sebelah Hanna. “Dan... siapa dia, Hanna?” “Ah, ini Eleanor. Dia pelayan baru di sini.” “Pelayan baru?” ulang Gideon. “Aku baru melihatnya hari ini,” “Jelaslah, dia saja baru datang satu jam yang lalu.” sahut Hanna, dan Gideon terlihat terkejut mendengarnya. “Nah, Eleanor, Gideon ini yang mengurus semua hewan-hewan peliharaan tuan Kenzo. Seperti yang kau lihat, ada beberapa kuda, burung, singa—” “S—singa?!” seru Eleanor menyela, karena saking terkejutnya. Hanna menepuk jidat. “Astaga, dari sini memang tidak terlihat singanya. Bodoh sekali aku, maaf! Maaf! Kandang singanya ada di sebelah sana, paling ujung!” “Benar-benar singa?” tanya Eleanor, sedikit meragukan ucapan Hanna barusan. Karena di pikirannya, mana ada orang yang memiliki hewan peliharaan seseram itu? Singa? Ya, singa. Mana mungkin? Hanna mengangguk tanpa ragu. “Yang benar—” “Benar,” Gideon menyela. Pria itu terlihat menyakinkan Eleanor yang saat ini menatapnya. “Itu benar-benar singa. Kau ingin melihatnya?” Eleanor tidak menjawab, tapi justru menoleh ke arah Hanna, seolah meminta persetujuan. Karena itulah, Hanna menghela napas. “Sudah sana, lihat saja jika kau penasaran." ujarnya pada Eleanor. Kemudian ia gantian menoleh ke arah Gideon, “Deon, ajak Eleanor melihat Handsome, agar dia percaya.” Eleanor mengernyitkan dahinya bingung. “Handsome? Siapa yang kau maksud dengan handsome?” “Singa milik tuan Kenzo itu namanya Handsome,” Oh, Eleanor cukup terkejut mendengarnya. Singa diberi nama Handsome? Wow! “Sudah ya, kau berkeliling di sini dulu bersama dengan Gideon. Aku tunggu di taman,” “Tapi—” “Ayo, Eleanor!” seru Gideon menginterupsi. “Biarkan Hanna beristirahat sebentar di sana. Dari pagi buta, dia belum beristirahat sama sekali sepertinya.” Tidak ada yang bisa Eleanor lakukan selain mengikuti langkah Gideon. Sebab Hanna saja sudah pergi menuju taman. Tidak enak juga jika ia menolak ajakan pria itu untuk melihat singa peliharaan sang tuan. Diam-diam Gideon memperhatikan Eleanor yang terus saja diam, sepanjang keduanya berjalan bersama menuju ke kandang singa. Oleh karena itu, Gideon akhirnya berinisiatif untuk kembali mengajak bicara puan itu lebih dulu. Sebab dapat ia pastikan jika Eleanor tidak akan mungkin mengajaknya bicara lebih dulu. “Apa aku boleh berkata jujur?” tanya Gideon tiba-tiba. Eleanor lekas menoleh dengan raut wajah yang sangat bingung. “Kenapa? Apa terlalu mengejutkan ya karena aku tiba-tiba ingin bicara jujur padamu? Kau pasti bingung.” Eleanor mengangguk. “Jika boleh jujur, iya. Aku benar-benar bingung karena tiba-tiba bicara seperti itu.” Gideon tersenyum canggung. “Maaf Eleanor, jika aku membuatmu terkejut dan bingung. Tapi aku hanya ingin mengatakan jika namamu cantik. Eleanor, nama yang cantik.” Kini, Eleanor semakin dibuat bingung. Tidak menjawab tidak enak, menjawab pun dia bingung harus membalasnya apa. “Terimakasih.” Hanya itu yang keluar dari mulut Eleanor. Itu pun tanpa menatap lawan bicaranya. Jangan lupa, ini pertama kalinya ia berinteraksi lama dengan pria asing yang baru saja ia kenal. Gideon sadar jika suasananya mendadak jadi canggung setelah ia memuji nama puan itu. Beruntungnya, kandang singa milik sang tuan sudah terlihat. Karena itulah, ada bahan bagi Gideon untuk kembali mengajak Eleanor bicara. “Itu kandang singanya!” tunjuk Gideon. Pandangan Eleanor dengan cepat tertuju pada kandang singa yang ada di depan sana. Kandang si Handsome! Baru hendak mendekat, singa tersebut mengaum dengan keras. Eleanor sampai terkejut dan reflek bersembunyi di belakang tubuh Gideon. “Eleanor, jangan takut. Handsome ada di dalam kandang. Dia tidak akan menyakitimu." Eleanor sedikit demi sedikit beralih ke samping Gideon kembali. “Tapi dia seperti ingin menerkamku..." Gideon tertawa kecil. Ketakutan wanita ini sedikit membuatnya gemas. “Dia memang suka seperti itu jika baru pertama kali melihat orang asing. Anggap saja, itu ucapan selamat datang dan salam perkenalan darinya.” Eleanor sontak menoleh dengan tatapan tak percaya. “Mana ada salam perkenalan yang menakutkan begitu?” Lagi-lagi Gideon tersenyum. “Lihatlah, Handsome sangat gagah dan tampan, bukan?” “Iya tapi—” “Eleanor!” Sang pemilik nama menoleh ke belakang dengan cepat, begitu juga dengan Gideon. Keduanya sama-sama berbalik badan saat Hanna berlari mendekat. “Ada apa Hanna? Kenapa lari-larian begitu?” tanya Gideon. “Kau bilang ingin duduk-duduk saja di taman. Kenapa menyusul?” “Deon, aku harus membawa Eleanor kembali ke mansion. Nyonya Florencia ingin bicara dengan Eleanor. Dan sepertinya, ada tuan Kenzo juga.” “H—ha? Tuan Kenzo? Bukankah tuan Kenzo sudah pergi tadi?” “Iya tadinya! Tapi entah kenapa tiba-tiba kembali lagi." “Kau yakin jika tuan Kenzo kembali?" tanya Gideon memastikan. Hanna sedikit ragu, namun ia mengangguk. “Sepertinya iya. Karena katanya, ada mobil tuan di halaman depan.” jawabnya. Kemudian, pandangan Hanna kembali tertuju pada Eleanor. “Ayo Eleanor, aku temani menemui Nyonya Florencia.” Eleanor mengangguk dan lekas meninggalkan tempat tersebut. Jujur saja, jantung Eleanor saat ini sedang berdebar tidak karuan. Dia belum menyiapkan mental sama sekali, saat nanti bertemu face to face dengan orang yang sudah menghutangi sang ayah. Apalagi datangnya ia di mansion ini karena perjanjian antar keduanya (sang ayah dan juga tuan Kenzo). “Kenapa kau? Takut ya?” Eleanor segera menggeleng. “Tidak, bukan takut. Hanya bingung saja harus bagaimana nanti." Hanna terkekeh. “Halah! Jujur saja padaku, tidak usah berbohong. Aku tau jika kau ini memang sedang takut. Debaran jantungmu sampai ke telingaku!” Astaga, malu sekali Eleanor saat ini. Ekspresi Hanna tiba-tiba saja langsung berubah, saat di depan mereka saat ini muncul sang tuan dan nyonya. Eleanor pun cukup terkejut. Ini kali pertama ia bertemu dengan sang tuan. Tatapan dingin dari pria yang bernama Kenzo Roderick Veit itu benar-benar membuat nyali Eleanor menciut. Eleanor sampai bingung harus bagaimana. “Hanna, kau bisa lanjutkan pekerjaanmu yang lain. Terimakasih sudah mengantar Eleanor kemari,” ujar Florencia, lembut sekali. Hanna dengan cepat mengangguk, dan sempat melirik ke arah Eleanor sebelum akhirnya ia meninggalkannya bersama dengan sang tuan dan nyonya. “Sayang, ini Eleanor. Anak dari Antonio. Dan Eleanor, ini Kenzo, tuanmu!” ujar Florencia. Kenzo maju beberapa langkah mendekat ke arah Eleanor yang terus menunduk ke bawah. Hal itu sangat tidak disukai oleh Kenzo. “Ada orang yang sedang bicara denganmu, dan kau terus menunduk? Florencia sedang mengajakmu bicara. Sopankah bersikap begitu?” Oh, Kenzo dibuat emosi sekarang, sebab Eleanor masih betah menunduk saat ini. “Sayang, sudah. Jangan galak-galak begitu padanya. Aku tidak masalah—” “Tidak masalah tidak masalah! Jelas ini masalah, Florencia! Kau membiarkannya bersikap tidak sopan begitu? Apa dia tuli? Sampai sekarang tidak mengangkat wajahnya sedikit pun. Dan apa dia bisu? Jika benar, sialan juga Antonio, mengirim anaknya yang cacat—” “Maaf!” seru Eleanor mengangkat wajahnya. “Maaf, Tuan Kenzo...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN