Maaf!” Eleanor mengangkat wajahnya. “Maaf, Tuan Kenzo...”
Untuk pertama kalinya, pandangan Eleanor dan Kenzo bertemu. Kedua mata puan itu terlihat begitu sendu, namun bersinar. Sedangkan Kenzo, tatapannya tetap saja tajam sejak awal ia melihat Eleanor.
“Bukannya saya tidak mau menjawab, tapi saya pikir, jika saya langsung memotong ucapan Nyonya Florencia ataupun Tuan, itu lebih tidak sopan. Apalagi jika menatap kedua mata Anda ataupun Nyonya secara terang-terangan begini.” lanjut Eleanor, kemudian menunduk kembali.
Florencia berpikir hal yang sama, dan setuju dengan ucapan Eleanor barusan. Tapi sepertinya, berbeda dengan Kenzo yang justru terlihat tidak setuju dengan kalimat terakhir Eleanor.
“Jadi menurutmu, menjawab ucapanku dengan kepala yang menunduk itu sopan? Kau pikir aku ini ada di bawah?”
“Sekali lagi, saya minta maaf, Tuan...” ujar Eleanor.
Sumpah demi Tuhan, Kenzo tidak pernah sampai se-emosi ini pada pelayannya. Perempuan satu ini benar-benar berbeda. Kelihatannya saja polos dan lembut, tapi ternyata bisa menyahut juga. Bahkan terkesan membantah?
Padahal, beberapa menit yang lalu sang istri mengatakan jika anak Antonio ini lebih banyak diam sejak awal datang. Tapi kenapa mendadak jadi berani menjawabnya begini?!
“Kau—”
“Sayang sudah!” seru Florencia menyela dengan cepat. Ia bahkan menahan lengan Kenzo yang hendak menunjuk wajah Eleanor.
Florencia harus gerak cepat seperti demikian, sebab tak mau jika sampai puan itu takut dengan sikap Kenzo. Apalagi ini hari pertamanya di tempat ini. Jika tidak dicegah, bisa-bisa Eleanor kena mental dan tidak betah berada di tempat ini.
“Jangan galak-galak padanya. Dia baru di sini, dan aku tidak masalah sama sekali jika dia tidak menjawab tadi. Toh aku hanya memperkenalkanmu padanya, bukan memberinya pertanyaan. Lagi pula, benar dengan apa yang dia katakan.” lanjut Florencia, membela Eleanor.
Kenzo melirik tajam ke arah Florencia yang secara terang-terangan membela anak dari Antonio tersebut. Siapa yang tidak semakin kesal sekarang?
“Terserahlah sekarang. Bela saja orang yang tidak punya sopan santun sepertinya!” sahut Kenzo, menatap tidak suka pada Eleanor saat ini.
“Sayang...” tegur Florencia lembut. “Jangan—”
“Beri dia tugas sekarang, Florencia. Dia harus mulai bekerja hari ini!” seru Kenzo menyela ucapan sang istri.
“Hari ini? Kenzo, yang benar saja? Dia baru saja tiba di sini. Kasihan jika dia harus langsung bekerja. Biarkan dia mulai bekerja besok sa—”
“Dia bukan tamu, Florencia!” sela Kenzo galak. “Dia itu dibawa kemari sebagai jaminan! Untuk bekerja di sini selagi Antonio belum bisa melunasi hutang-hutangnya. Dia bukan tamu yang harus dijamu dan dipersilahkan untuk beristirahat lama-lama!”
Florencia nampak menarik napas dan memilih untuk mengangguk mengiyakan ucapan Kenzo. Walau sebenarnya ia tidak setuju jika harus memberi Eleanor pekerjaan sekarang juga.
“Beri dia tugas!” ujar Kenzo sekali lagi, sebelum akhirnya melangkah pergi dari sana.
Florencia sontak menghela nafas kembali. Setiap bentakan Kenzo benar-benar bisa memicu penyakit jantung sepertinya.
“Maaf untuk ucapan Kenzo yang kasar ya, Eleanor. Aku tau kau pasti sangat terkejut mendengarnya nada bicaranya yang tinggi dan keras. Ini hari pertamamu di sini, tapi Kenzo justru segalak ini padamu.”
Eleanor mengangguk. “Tidak masalah, Nyonya Florencia. Jangan minta maaf untuk sesuatu yang bukan menjadi kesalahan Anda. Saya memaklumi sikap tuan terhadap saya. Walau sejujurnya memang benar jika saya sangat terkejut dengan sikap tuan Kenzo. Benar-benar galak.”
“Hm, dulu dia tidak begitu sebenarnya. Ini mungkin karena terlalu banyak pekerjaan di kantor yang membuatnya seperti itu. Tapi tenang saja, Eleanor, tidak seterusnya dia galak begitu. Yang terpenting jangan diambil hati perkataannya.”
Eleanor hanya bisa tersenyum saat menanggapinya. Bagaimana bisa tidak perlu di ambil hati setiap perkataannya? Memakluminya saja sudah sangat luar biasa. Tapi tidak perlu ambil hati dari setiap ucapannya? Tidak mungkin. Yang namanya manusia, pastilah ada kalanya Eleanor akan sering mengeluh dan mencaci-maki tuannya itu di belakang. Eleanor manusia bisa yang juga dapat merasakan muak dan juga emosi.
“Ya sudah, segera ganti pakaianmu dengan seragam pelayan. Lalu setelah itu, tolong bersihkan lantai ruang tamu. Tadi, aku tidak sengaja menumpahkan minuman. Belum sempat dibersihkan karena suamiku keburu datang. Jadi, benar-benar tidak kepikiran memanggil pelayan untuk membersihkannya. Nah karena itu, pekerjaan pertama untukmu saat ini membersihkan ruang tamu saja. Mengerti, Eleanor?”
Eleanor mengangguk mengerti. Cara bicara sang nyonya yang begitu halus membuatnya tenang. Rasanya mungkin akan jauh lebih nyaman jika hanya ada sang nyonya saja. Sudah dapat dipastikan jika seluruh pelayan ataupun pekerja lainnya yang ada di sini akan betah. Memiliki majikan yang tidak banyak bicara, baik hati, dan lemah lembut tentu saja menjadi impian setiap pelayan seperti mereka di seluruh dunia.
“Kalau begitu, kau bisa pergi untuk mengganti pakaianmu dahulu. Cepat ya, dan segera bersihkan lantai ruang tamu. Takut Kenzo semakin marah jika tidak melihatmu bekerja.”
“Baik, Nyonya. Saya akan cepat." sahut Eleanor.
Florencia tersenyum tipis, lalu menyentuh pundak Eleanor. “Semangat ya, Eleanor. Aku yakin ini tidak akan lama. Ayahmu pasti akan segera datang untuk melunasi hutang-hutangnya pada suamiku. Agar kau tidak kesulitan begini lagi."
Eleanor lantas menjawab. “Terimakasih untuk perhatiannya, Nyonya Florencia.”
+++
Eleanor dengan cepat membersihkan lantai ruang tamu yang begitu kotor. Fokusnya hanya untuk membersihkan lantai, walau sebenarnya ia agak sedikit terganggu dengan tatapan yang diberikan oleh seseorang yang tengah duduk di sofa ruang tamu saat ini. Dan Eleanor berpikir jika orang tersebut adalah tamu. Entah tamunya sang nyonya atau sang tuan, ia tidak tau sama sekali.
“Kenzo masih mencari dokumennya,”
Eleanor diam-diam melirik, saat mendengar suara sang nyonya. Dapat Eleanor lihat jika Florencia tengah mendekat ke arah pria tersebut.
“Ya, biarkan saja. Aku juga tidak sedang buru-buru."
“Kau memang tidak sedang buru-buru. Tapi karenamu, Kenzo sampai harus kembali pulang untuk mencari dokumennya."
Pria itu tertawa. “Ya bagus jika dia kembali. Toh jika tidak ada dokumennya, yang paling rugi besar adalah suamimu.”
“Kau ingin minum apa, Oscar?” tanya Florencia, sebab saat ini belum ada minuman yang tersaji di depannya.
“Kopi saja seperti biasanya.” jawab pria itu.
Florencia lantas mengangguk. Ia dengan cepat menoleh ke arah Eleanor yang sedang sibuk membersihkan lantai.
“Eleanor!" panggilnya, dan sang pemilik nama begitu cepat menoleh. “Tolong pergi ke dapur dan katakan pada Bibi Norah untuk membuatkan kopi panas. Jika sudah, tolong bawa kemari ya.”
“Baik, Nyonya.”
Florencia tersenyum. Ia tampak masih memperhatikan Eleanor yang tengah berjalan menuju dapur. Hingga suara deheman seorang pria membuatnya menoleh. Kenzo sudah ada di sana.
“Sudah ketemu dokumennya sayang?” tanya Florencia lembut, namun Kenzo tak menjawabnya. Dan tentu saja, Oscar memperhatikan hal tersebut.
Sungguh, Florencia rasanya sudah kebal dengan sikap suaminya ini. Selalu saja membuatnya sakit hati dan malu karena sengaja diabaikan.
Baru juga Florencia ingin duduk bergabung dengan mereka, Kenzo tiba-tiba saja menatapnya dingin.
“Mau apa kau di sini?" tanya Kenzo dingin. “Pergilah. Biarkan aku berdua saja dengan Oscar. Ada yang ingin aku bahas dengannya.”
“Memang membahas apa sampai aku tidak boleh berada di sini, sayang? Serahasia itu kah?”
“Bisa tidak kau langsung pergi saja tanpa banyak bertanya?” sahut balik Kenzo.
Maka tidak ada yang dapat Florencia lakukan saat ini. Ia akhirnya mengalah dan pergi dari sana. Meninggalkan sang kakak beradik itu berada di ruangan yang sama.
Ya, Oscar adalah kakak Kenzo. Lebih tepatnya, kakak angkatnya. Sebab kedua orang tua Kenzo—Morgan Roderick Veit & Anneliese Leece, mengadopsi Oscar sejak pria itu berusia 10 tahun.
Hitungannya memang sudah terlalu besar untuk mendapatkan seorang kakak angkat. Tapi saat itu, Kenzo senang-senang saja mendapatkan saudara. Sebab ia merupakan anak tunggal. Jadi, Kenzo sangat senang memiliki seorang kakak saat itu.
“Jangan terlalu keras pada istri sendiri, Kenzo.” peringat Oscar baik-baik. Tapi tatapan Kenzo padanya sangatlah tidak sesuai dengan ekspektasi. “Kasihan Florencia jika harus mengertimu selalu. Dia punya hati, dan batas kesabaran."
“Tidak perlu mengurusi urusan orang lain, Oscar. Apalagi ini mengenai bagaimana caraku bersikap pada Florencia. Akan lebih baik, kau urus istrimu sendiri saja.”
Oscar tertawa sumbang. Adiknya ini memang benar-benar selalu tidak bisa bersikap santai jika dengannya. Entah apa yang terjadi, sampai membuat Kenzo sedingin itu. Benar-benar berubah. Atau memang gen sang ayah sangatlah melekat di diri Kenzo sekarang?
“Kau ini selalu saja seperti ini jika dinasehati yang baik. Jangan—”
“Bisa fokus pada hal yang seharusnya akan kita bahas saja?” sela pria itu dengan tatapan tegas.
Tapi tepat saat Kenzo berhenti bicara, Eleanor muncul sambil membawa sebuah nampan berisi minuman untuk Oscar.
Pria itu—Oscar, terus memperhatikan Eleanor. Ia benar-benar baru melihatnya. Seorang pelayan yang jauh dari kata pelayan. Visualnya terlalu sempurna. Bentuk tubuhnya juga sangat idaman bagi kaum perempuan. Rasanya, Oscar tidak percaya jika ada pelayan yang secantik dan seseksi itu.
“Silahkan Tuan, ini kopinya." ujar Eleanor. Dari posisinya yang bersimpuh ke berdiri, Eleanor melirik ke arah Kenzo melalui ekor matanya. Tapi dengan cepat ia berdiri dan berpamitan pergi kembali ke dapur.
Kenzo yang sadar jika Oscar terus memperhatikan anak dari Antonio itu sontak berdehem dengan tatapan tak senang.
“Terlalu kentara ya jika aku memperhatikannya?" tanya Oscar. “Dari mana kau dapatkan pelayan seperti itu? Cantik, seksi, sempurna. Kelihatan menggoda dengan seragamnya itu.”
“Dia anaknya Antonio,” ujar Kenzo.
“Oh, Antonio? Aku baru tau jika dia punya anak seperti itu? Untuk apa anaknya—oh, dia menjadikan anaknya sendiri sebagai jaminan?"
“Ya,” jawab Kenzo, sudah mulai malas.
“Kenapa malah kau jadikan pelayan?”
“Lalu harus aku jadikan apa dia?!" sahut Kenzo mulai emosi. “Sudah bagus jadi pelayan, bukan ku jadikan makanan singa ku!”
“Astaga Kenzo, kau ini payah sekali. Barang sebagus itu kau jadikan pelayan. Kenapa tidak kau jadikan simpanan saja? Seksi dan menggairahkan begitu jika dilihat.”
“Kau pikir—”
“Siapa tau kau bosan merasakan tubuh istrimu? Bisalah, sesekali mencoba sensasi yang lainnya. Sayang jika dianggurkan begitu.” sela Oscar.
Ucapannya sangat menyebalkan di pendengaran Kenzo.
“Ambil saja jika kau mau!” ketus Kenzo.