Jam besar di lorong utama mansion Roderick berdentang pelan, menandakan pukul sembilan lebih sedikit. Suasana sepi menyelimuti sudut-sudut rumah megah itu, menyisakan hanya suara-suara rintik hujan halus di luar jendela dan desir angin yang menggoyangkan dedaunan. Eleanor berdiri di depan ruang cuci, tempat biasanya Bibi Norah—kepala pelayan, menata linen malam. Tangannya menggenggam erat ujung jubah tipisnya, sementara napasnya tak teratur karena jantung yang berdebar. “Bibi...” suaranya terdengar pelan, nyaris seperti bisikan. Norah menoleh dari tumpukan handuk bersih yang sedang ia lipat. Tatapan wanita paruh baya itu segera berubah cemas saat melihat wajah Eleanor yang tampak tak tenang. “Ada apa, Nak?” tanya Norah lembut. “Aku... aku ingin keluar sebentar,” kata Eleanor akhirnya,

