Setelah keluar dari ruang kerja Kenzo dan kembali ke lantai bawah, Eleanor baru saja hendak menuju kamarnya ketika tangan kecil dan cepat menarik lengan bajunya dari arah samping. “Hanna?” bisiknya terkejut, nyaris kehilangan keseimbangan karena tarikan itu. “Shhh! Ikut aku sebentar. Ayo,” ucap Hanna setengah berbisik namun penuh semangat. Gadis itu tidak memberi ruang bagi Eleanor untuk bertanya. Ditariknya pelayan yang lebih tua itu menuju dapur kecil yang biasa dipakai staf untuk menyeduh minuman malam-malam. Langkah mereka ringan, menyusuri koridor remang yang hanya diterangi lampu dinding, hingga mereka tiba di dapur. Hanna langsung membuka lemari kecil dan mengambil dua potong biskuit sisa sore tadi. “Duduk, duduk. Aku ingin cerita sesuatu padamu,” katanya sambil menepuk bangku k

