Hanya detak jarum jam tua di dinding yang terdengar samar, bercampur dengan desir angin lembut dari jendela kaca tinggi yang sebagian terbuka. Aroma cat minyak tua masih melekat di udara—aroma yang anehnya kini justru menenangkan Eleanor. Ia berdiri kaku di dekat pintu, memandangi punggung Kenzo yang membelakanginya. Pria itu berjalan pelan menyusuri dinding yang dipenuhi lukisan-lukisan mahal, tangannya menyentuh bingkai-bingkai besar seakan mencari sesuatu—atau barangkali hanya menyusun pikirannya. “Apa yang membuat Anda mengajak saya ke sini lagi, Tuan?” tanya Eleanor pelan. Kenzo tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh perlahan, matanya menusuk tajam ke arah Eleanor yang berdiri gugup di ambang pintu. “Karena hanya di ruangan ini,” ucapnya tenang, “aku bisa berpikir dengan je

