Florencia baru saja mengganti gaunnya menjadi lebih santai namun tetap mempesona. Mengenakan sebuah dress rajut krem yang pas membingkai lekuk tubuhnya. Rambutnya disisir rapi ke samping, dan sedikit pewarna bibir ditambahkan untuk memberi rona. Tidak terlalu mencolok. Hanya cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya sulit berpaling. Saat jam menunjukkan pukul 12.43 siang, suara mobil berhenti di halaman depan menggema lembut di antara sela angin. Florencia tidak buru-buru keluar. Ia menunggu. Lima menit kemudian, suara ketukan lembut terdengar di pintu samping, bukan di pintu utama. Pintu yang hanya digunakan oleh orang-orang yang tahu caranya masuk tanpa ingin terlihat. Florencia berjalan ke arah pintu, membuka perlahan. Di baliknya, berdiri seorang pria dengan kemeja abu terbuka

