Siang itu, awan mendung menggantung di atas gedung perkantoran milik keluarga Roderick. Keadaan kota seperti terjebak dalam suasana resah, dan di lantai tertinggi gedung itu, suasana jauh lebih tegang dibanding udara di luar sana. Kenzo berdiri di balik jendela kaca besar ruangannya, tangan diselipkan ke dalam saku celana, sementara sorot matanya nampak dingin menatap lalu lintas padat di bawah sana. Namun pikirannya tidak berada di jalanan. Pikirannya tertuju pada sosok tertentu, yaitu Oscar. Tanpa berpaling dari jendela, ia berkata pelan, “Hans.” Hans, yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, segera merespons. “Ya, Tuan.” “Panggil Oscar. Suruh dia ke ruanganku sekarang juga.” Hans mengangguk. “Segera, Tuan.” Tak butuh lebih dari sepuluh menit hingga suara langkah kaki terdengar da

